Setelah panggilan telpon itu berakhir Yoga menambahkan laju mobilnya dengan tujuan agar cepat sampai di kediaman sang kekasih. Senyum manis terukir di bibir nya yang tipis. Rasa tidak sabar untuk segera bertemu sang pujaan hati.
*
Dalam keheningan malam Hanni berjalan sendirian tidak ada rasa takut lagi. Dinginnya menusuk tulang tapi tak sedikit pun di gubrisnya. Berjalan dengan tatapan kosong dengan air mata yang masih mengalir memikirkan sang mantan kekasih tiba-tiba mengakhiri hubungan tanpa sebab.
"Aku tidak bisa seperti ini, aku harus menemuinya." Bertekad dan berjalan lebih cepat mencari taksi.
*
Terlihat sepasang kekasih sedang asik b******u mesra tidak memperdulikan sekitar mereka lagi. Dinginnya angin malam tidak menusuk tulang mereka , saling memeluk untuk sekedar melepas rindu.
"Sayang sudah hentikan aku lelah" Sembari menyingkirkan wajah kekasihnya dari tubuh nya.
Sang empu tidak memperdulikan ucapan kekasihnya, Ia sibuk mencium tubuh sang kekasih setelah kegiatan ranjang nya mereka malam ini.
" Sayang hentikan, hmmmm.... bagaimana pertemuan kau dengan Hanni??" Sembari membalikkan tubuh untuk melihat wajah sang kekasih.
Mendengar itu Yoga berhenti melakukan kegiatan nya. Setelah terdiam beberapa saat memikirkan kejadian di restoran tadi.
"Sayang bisakah kau tidak membahas dia??" merasa jengkel karna mengingatkan nya dengan mantan kekasih ada rasa tidak ikhlas tersirat dihati kecilnya.
"Kenapa???, kau menyesal mengakhiri hubungan dengan nya, jika menyesal pergilah ke rumah nya dan kembali lah pada nya. Tidak perlu...." Merasa kesal
" Sayang bukan begitu maksudku, aku mencintaimu, mangkanya aku disini, kenapa kau jadi bicara melantur begini. Dengar aku tidak akan kembali pada nya kita akan menikah kan sayang , jangan membahas dia lagi yang penting sekarang hubungan ku dengan nya sudah berakhir." Berusaha menjelaskan pada sang kekasih.
" Jika begitu kenapa tidak mau menceritakan nya??" Bersikap manja dan memanyunkan bibir tebalnya.
Merangkul tubuh sang kekasih "Sayang aku tidak mau bercerita karan tidak ingin membuat mu cemburu, sekarang mari kita lupakan pembahasan wanita itu, hmmm... Sayang mari kita lanjutkan kegiatan yang tertunda..."
*
Taksi
"Tidak aku tidak bisa ketempatnya sekarang. biarkan dia berpikir jernih dulu, dia hanya emosi, iya benar ... besok semuanya pasti akan baik-baik saya, dia akan menghubungi ku lagi dan kita akan kembali bersama dan dan dan melanjutkan rencana yang sudah kita susun bersama. Iya benar seperti itu. Baiklah...Hanni tidak sekarang." Berusaha berpikir positif dan menenangkan hati nya yang begitu gusar.
"Pak putar arah ke jalan cendekia ya" sembari meraih hp pintar nya.
"Baik nona" menanggapi
"Aduuhh... Sally kau kemana??? kenapa tidak di angkat telepon ku??, Apa kau sudah tidur?? , baiklah aku langsung saja ke sana, itu lebih baik aku butuh saran darimu" Sembari menghubungi sahabatnya.
*
Ting tong ting tong
Terus terusan menekan bel apartemen temannya.
" Kemana anak ini, kenapa di saat-saat seperti ini kau susah sekali di hubungi, Aku butuh kau" Bergumam lirih.
Terbersit dibenaknya nya untuk mencoba masuk saja siapa tau sahabatnya itu tidur atau dia tidak menyadari bel rumah nya berbunyi.
"aahhhhh... baiklah itu lebih baik. iya benar , dia tidak akan marah aku sahabatnya, ini bukan pertama kalinya" memasukkan pin kedalam alat canggih itu dengan hati-hati.
"Berhasil, syukur masih pin yang lama" merasa lega.
Ketika memasuki apartemen sahabatnya itu. Serrr....serrr... Deg... Deg...
"Aa.. apa ini?? bu bu bukankah ini barang-barangnya Yoga??, tidak Hanni apa yang kau pikirkan, itu tidak mungkin berpikirlah logika mana mungkin barang-barang Yoga disini" Berusaha tersenyum walaupun pemikirannya terasa gusar.
Melambangkan kaki kearah kamar sahabatnya Deg...Deg...Deg...
"Sayang ayo lah , Aku masih mau...." Suara pria.
"Ishhhh... sayang kau ini" Suara wanita
Suara percakapan dua sejoli yang di mabuk asmara terdengar ketelinga Hanni.
Dengan berurai air mata Hanni berusaha tegar dan pergi kembali keruang tamu untuk menenangkan pikiran dan menunggu dua sejoli tersebut selesai dengan kegiatan mereka.
*
Beberapa saat kemudian
Hanni melihat jam di dinding masih berputar dan menunjukkan waktu 02.00 Wib. Waktu yang berputar terlalu lama untuk Hanni atau dua sejoli itu yang berpikir waktu seakan berhenti berdetak. Sudah sekian lama waktu bergulir sementara dua sejoli yang di tunggu masih belum keluar dari kamarnya.
Hanni masih menunggu dengan tatapan kosong dan isi pikiran nya yang riuh serta hati yang terkoyak dan tercabik-cabik.
"Apa ini Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini, Apa salah ku. Apa yang sebenarnya terjadi" gumamnya lirih.
Dengan nafas yang tersengal dan isak kan yang menjadi-jadi.
Ceklek...
"Sayang aku haus,..." Dengan manjanya dipelukkan sang kekasih
"Iya Tunggu sebentar, Aku akan ambilkan sabar ya sayang,.. Cup cup... " Sembari memboyong dan mencium bibir sang puan.
Deg ...
Jantung Hanni seperti berhenti berdetak melihat interaksi dua sejoli tersebut. Sementara dua sejoli tersebut tidak menyadari kehadiran Hanni di sana.
Ser ... Ser ...
"Apa yang kalian lakukan" Dengan lirih dan uraian air mata. tersirat kepedihan di kedua bola mata perempuan cantik itu.
Deg... deg...
Terkejut,, itu lah yang dirasakan oleh dua sejoli itu. Sembari membalikkan tubuh mereka begitu terkejut dengan keberadaan Hanni di sana. Sang Pria menurunkan Sally dari pangkuannya dan tersirat rasa bersalah dari kedua bola mata nya. Tapi bibirnya tidak mengucapkan satu kata pun. Dan sang sahabat hanya berdiri dengan wajah angkuh dan tidak berperasaan. Tidak ada pancaran rada bersalah dari sang sahabat.
"Ha ha... nni.. apa yang kau lakukan disini" berbicara terbata
"Bukan kah seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini tuan Yoga " dengan penuh penekanan.
Terdiam beberapa saat itu lah yang di rasakan Yoga sang mantan kekasih.
"A.. a... a.. aku... ak..." sulitnya untuk mengucapkan kata-kata karna ia bingung untuk menjelaskan keadaan nya saat ini.
" Apa ada yang salah Hanni?? Dia kekasih ku tentu saja dia di sini, bukankah wajar sepasang kekasih sering bersama di apartemen yang sama da..." menyela dan percaya dirinya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Menyelah "Apa kau bilang??? Kekasih??? dia kekasih ku Sally, laki-laki yang kau sebut kekasih mu ini itu kekasih ku, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ini??" Penekanan ,Tidak percaya dan jengah dengan perkataan sahabat nya tersebut.
" hahahah .... mantan kekasih lebih tepatnya Hanni, bangunlah Hanni dia kekasih ku bukan kekasih mu.. apa kau bermimpi bukankah kau sudah ditinggalkan semalam. kenapa kau menganggap kekasihku masih kekasih mu. Kau sadarlah... ( menunjuk-nunjuk d**a Hanni dengan jari lentiknya) Kenapa kau tidak terima ditinggalkan??? Sadarlah dan lihatlah dirimu, penampilan yang seperti ini...(membalikkan bola mata nya terlihat seperti perempuan yang jijik akan penampilan Hanni)
Tidak ada pria yang mau dengan perempuan yang tidak modis seperti mu dan lihat wajah ini, apakah kau tidak pernah berkaca di rumah terlalu polos Hanni . Lihat pakaian mu ini kenapa kau menutupinya dengan pakaian kebesaran dan usang ini hah ....Laki-laki sekarang lebih suka dengan wajah yang terawat dan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh dan itu semua ada pada diriku. Oleh karna itu Yoga meninggalkan mu dan berpaling padaku" Percaya dirinya dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya.
Perempuan itu tidak tersinggung dengan ucapan sahabatnya itu. Ia tersenyum remeh dan berdecak...
"Ah.... Kau benar dia (menunjuk pria yang berdiri tampan suara menyaksikan pertengkaran dua perempuan itu) bukan lagi kekasihku. Jadi tuan Yoga kenapa tidak bilang kalau kau ingin mengakhiri hubungan ini karna kau menyukai tubuhnya??" (Menunjuk Sally) dengan mata yang masih menatap mata Yoga, lantang dan penuh penegasan.
"Yak... Kau..." Selah Sally tidak terima akan penuturan Hanni.
Menunjuk Hanni tepat di depan bola matanya " Diammm (geram) apa aku salah bukan kah kau yang berkata seperti itu , pria b******n ini berpaling dari ku karna menyukai tubuhmu, (wajah Sally sudah merah padam) bukankah seperti itu nona Sally, Kau yang berkata seperti itu, aku hanya mengulang apa yang katakan. Dan satu lagi selamat atas hubungan mu. (berbalik ingin pergi) aahh... satu lagi Sally apakah kau menjual tubuh mu untuk mendapatkan kekasih sahabat mu sendiri??? aku baru tau kalau kau setidak laku itu hingga menggunakan cara murahan seperti ini, (Sally ingin menyela dengan wajah kesalnya) tunggu nona sally aku belum selesai. biarkan aku mengucapkan selamat terlebih dahulu atas hubungan kalian bukankah kalian menginginkan itu?? semat semoga kalian bahagia. Kalian cocok penghianat dengan penghianat." Melangkahkan kaki pergi dari apartemen Sally.
Tidak terima
"Yak... perempuan sialan, akan ku bunuh kau .. dasar perempuan tidak tau diri, kemari kauuu...." ( melangkahkan kaki ingin mengejar Hanni) Kesal akan kata-kata Hanni.
Menahan tangan Sally " Sally hentikan..."
"Yak... kenapa kau diam saja??? kamu tidak dengar dia menghina ku, aku tidak terima ini. Yak...kemari Ka..." ingin melangkah
" Sally diam" Berteriak dan geram.
Sally terdiam akan teriakkan Yoga. Menatap tajam wajah Yoga.
"Kau menghardikku???" Tidak percaya dan berlalu ke kamar dengan rasa kecewa karna sang pria tidak membela nya.
Melihat kepergian sang puan dengan membanting pintu kamar serta duduk di sofa dan mengusap wajahnya kasar dan sedetik kemudian melihat ke arah pintu keluar dimana Sang mantan kekasih keluar tadi, tersirat rasa bersalah dan pancaran bola mata yang tidak dapat di siratkan.
"hufttt...." helaan nafas gusar sang pria bibirnya berucap "maafkan aku Hanni maaf... maaf, Aku memang laki-laki b******k" kemudian dia meremas kasar rambutnya dan jatuhlah bulir bening itu dari kedua bola matanya .