Simpati

1198 Words
Hanni berjalan ditengah malam yang begitu sunyi. Dingin nya malam yang menusuk tulang tidak ia pedulikan lagi. Berjalan sendirian tanpa arah dan tujuan , beserta uraian air mata yang tak berhenti keluar. Wanita yang tadinya tegar dan kuat kini tidak lagi. Pancaran kekecewaan dan kesedihan yang mendalam di dalam hatinya terpancar begitu ketara. * Hiks hiks hiks... "Kalian Begitu tega mengkhianati aku, Selama ini mereka bermain di belakang ku, kau bodoh Hanni bagaimana bisa kau begitu percaya dengan mereka semua" Hiks hiks hiks ( Masih tidak percaya dengan pengkhianat sahabat dan kekasih nya) " Mulai hari ini mereka berdua bukan siapa-siapa ku lagi, aku tidak sudi melihat mereka lagi" (bertekad dan penuh kebencian) * "Jimmy ayo lah sayang kamu sampai kapan tidak mau menikah, ini lihat dulu foto-fotonya, kamu pilih salah satu yang kamu suka nak, Ini putri teman mama sayang, mereka cantik-cantik lo sayang" Berjalan mengikuti putra semata wayangnya itu sambil menyodorkan foto-foto perempuan cantik yang ada di genggaman nya. " Mereka tidak ada yang jimmy suka ma" terus berjalan keruang tamu. " Yak... (berhenti mengikuti putranya) Bisa-bisa kamu bilang tidak suka dilihat saja belum... menyebalkan" Cemberut dan mengerutu kesal Sang putra hanya tersenyum manis memperlihatkan bibir tebal dan senyuman bulan sabitnya. Sementara sang ibu hanya menghentak-hentakkan kakinya kesal dan berlalu pergi dari hadapan sang putra. * "Akkk... akkk... hahh...hhh.. Jimmy toooolong ma...ma, da...da ma..maa..ma sak..it dan ses...se..sakkk..." Sembari menyentuh d**a dan terduduk lemas di ubin yang dingin. "Mamam...,(berlari karna terkejut) mana yang sakit ma, ayuk kita kerumah sakit sekarang (panik dan berusaha mengendong tubuh sang ibu) "Tidak sayang mama tidak mau kerumah sakit sebelum kamu memilih salah satu foto perempuan ini" (Tersengal dan berkata terbata-bata) " Mama (penekanan) bisa-bisa nya mama masih membahas foto perempuan itu , MAma... (kesal) "Ayuk sayang pilih atau mama terlambat ke rumah sakit dan berakhir meninggal " berusaha terlihat dramatis. Sang anak memicingkan sedikit matanya dan berusaha mencerna situasi yang di hadapi. "Aishhj.....aiskkk. mama berhenti membuat lelucon. aishh... Jimmy ngak suka mama buat hal seperti ini dijadikan lelucon" kesalnya sang anak pada ibunya dan meninggalkan ibu dengan rawut wajah kesal. " ehhh... kok jadi marah, sayang mama minta maaf ya..." Mengejar sang anak * "Mama benar-benar keterlaluan" monoloknya sendiri dikamarnya sambil menghempaskan tubuhnya dikasur. Tok tok tok "Sayang... Sayang buka pintu nya , mama mau bicara.. sayang kamu dengar mama nak" mengetok pintu kamar putranya. "Kenapa???" Cemberut "Sayang mama minta maaf , bukan maksud mama seperti tadi mama hanya ingin kamu mau mama jodohkan," memasang wajah memelas " Iya tapi ngk gitu juga cara nya mama" " Terus gimana cara nya?? kamu nya ngak nikah-nikah, mau sampai kapan?? mama mau punya menantu, cucu yang lucu-lucu pasti seru di rumah ini kalau rame sama tawa anak kecil." membayangkan sambil tersenyum "Mama maaf kan Jimmy ya??? Jimmy belum bisa wujudkan keinginan mama, Bukan jimmy tidak mau hanya saja Jimmy sedang berusaha untuk mendapatkan perempuan yang Jimmy cintai saat ini." Menyentuh tangan sang Ibu. "Wahhh .... Benarkah (berbinar) Sayang kamu punya perempuan yang kamu cintai?? kenapa tidak bilang?? Ahh.. mama tidak butuh ini ( membuang foto-foto yang di pegangnya ke ting sampah) Mama lega ternyata putra mama bukan gay heheheh" memperlihatkan senyuman manisnya. Terkejut "Mama...wahhhh ternyata mama berpikir aku gay??? Wahhh...Mama benar-benar keterlaluan" tidak percaya dengan pikiran negatif ibunya. "Sayang bukan begitu, coba kamu fikir, setiap mama memperlihatkan foto perempuan kamu selalu bilang tidak tertarik sementara mereka cantik-cantik, mama jodohkan juga tidak mau. apalagi coba kalau mama tidak berpikir seperti itu?? Salah sendiri kenapa tidak dikenalkan pada mama dan papa" Ocehan sang ibu. " Terserah mama saja.." Kesal nya. " Sayang kenalkan dengan mama ya perempuan itu!! hmmm... hmmm..(mengoda sang anak) Dia cantik?? kerja atau kuliah??? dia tinggal dimana????" tuntutnya. "Mama...tidak tau, aku mengantuk " Menyelimuti seluruh tubuhya. "Sayang.... sayang ayo cerita...hmmm ..hmmm ... ay.." * Pagi harinya "hhhhhaa...Huffff....huffff...huffff ...., Telanglah Hanni kau tidak perlu memikirkan masalah ini, lupakan mereka , perjalanan hidup mu masih panjang, ok... ok... ok... kamu pasti bisa , (berusaha terlihat baik-baik saja dan tersenyum) selamat pagi pak.. " "Selamat pagi juga buk Hanni," Tersenyum ramah. Melangkahkan kaki kedalam gedung tinggi yang megah tersebut dengan pasti tanpa keraguan dan tidak lupa dengan senyuman indah walaupun hatinya masih terluka dan hancur. "Hanni.." "iya," menoleh setelah ia sampai di mejanya. " kau dipanggil CEO ke ruangannya!!" sahut karyawan itu. "Aahhkk... baiklah, terima kasih jesika" perempuan itu hanya menyahuti dengan senyuman. "Kenapa Hann???" Sahut salah satu teman Hanni yang bekerja juga di perusahaan itu. " Ntahlah Monik, Aku juga tidak tau, aku takut dipecat!! bagaimana ini???" Cemasnya "Kau tidak melakukan kesalahan fatalkan???" ikut cemas. Hanni hanya mengeleng. "Kalau begitu pergilah cepat sebelum kau dipecat benaran" Suruhnya. "yakkk...hasshh, Aku baru kehilangan kekasih dan sahabat apa iya juga kehilangan pekerjaan lengkaplah sudah penderitaan ku kalau begini??? " gumannya lirih sambil berjalan ke ruangan CEO. * Tok tok tok.. "Masuk.." sahutnya dari dalam " Selamat pagi pak?? Ada yang bisa saya bantu pak" tunduk dan takutnya. "Hmmm... duduklah Hanni" perintahnya. Perempuan itu hanya menangguk dan duduk di sofa yang di perintahkan oleh CEO nya tersebut dan Menundukkan kepalanya serta menautkan jari-jarinya menandakan bahwa perempuan itu sedang gusar. "Hanni projek pembuatan hotel Deluna kau serahkan ke Aska saja, Kau bereskan semua barang-barang mu dan ka..." Berbicara sambil mengerjakan berkas-berkas yang di meja kebesarannya. "Maaf kan saya pak, jangan pecat saya , saya masih butuh pekerjaan ini, saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menyelesaikan proyek hotel Deluna pak. saya mohon pak. maaaf kan saya ..." menyela dan berlutut dihadapan meja CEO nya. Terkejut atas perlakuan Hanni yang tiba-tiba " Hann...aaa...aaa..pa yang kau lakukan, aku menyuruh mu untuk membereskan barang - bara...." Menyela CEO " Pak saya mohon jangan pecat saya , saya akan melakukan apapun asalkan bapak tidak memecat saya.. saya tidak ingin hidup saya semakin hancur pak, semalam saya putus dengan kekasih saya dan sekarang jadi pengangguran juga. pak tolong kasihani saya ??...... " Celotehnya dan tak berhenti berbicara hingga tanpa sadar ia menceritakan kejadian semalam kepada CEO nya. hiks ...hiks... hiks.. dengan uraian air mata "Apa yang dia kata kan??? (binggung) apa dia berfikir aku memecatnya??" Dalam hati. CEO tersebut merasa iba dan sepersekian detik kemudian terukir senyum tipis di bibirnya. Dalam Hati CEO "wahhh.. kabar apa ini!! mereka putus??? (seakan ingin melompat kegirangan, tapi harus tetap terlihat stay cool) ahh .. apa aku manfaatkan saja situasi ini???, aahh ... tidak .. tidak... aku tidak boleh seperti itu" tersadar dari lamunannya . melihat Hanni menangis tersedu-sedu.... hiks ...hiks..hiks.. Tiba-tiba sang CEO berdiri dan merangkul bahu Hanni dan memandang kedua bola mata indah itu dengan tulus dan tangan nya terangkat untuk menghapus air mata Hanni. Hanni tersentak dengan perlakuan CEO nya tersebut, tetapi tetap diam seakan tubuhnya membeku atas perlakuan manis sang CEO dimana perlakuan itu tidak pernah ia dapatkan lagi dari sang mantan kekasih dari 1 tahun terakhir, bukannya berhenti air mata itu semakin mengalir deras. Waktu seakan berhenti berdetak ketika bola mata mereka saling bertemu, tidak ada suara diantara mereka hanya terdengar isakkan lirik dari bibir Hanni membayangkan perlakuan manis dari sang CEO. Tangan sang CEO beralih kedagu runcing sang puan dan terukir senyum manis dibibir sang CEO. Tangan itu terangkat menangkup pipi mulus Hanni dan pandangan mata sang CEO teralih kebibir sang puan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD