PRIA YANG DIBUANG OLEH DUNIA
Malam itu, hujan turun seolah langit sedang berduka.
Jalanan hutan yang sepi berubah menjadi kubangan lumpur. Pepohonan bergoyang diterpa angin kencang, sementara kilat sesekali menyambar, menerangi sebuah mobil hitam yang berhenti di tengah jalan terpencil.
Pintu mobil terbuka.
Dua orang pria keluar dengan pakaian serba hitam. Salah satunya menyeret tubuh seorang pria yang sudah tak sadarkan diri, lalu menjatuhkannya begitu saja ke tanah.
Tubuh itu menghantam lumpur dengan suara berat.
Darah mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah pucatnya. Kemeja putih yang dikenakannya telah berubah merah di beberapa bagian. Napasnya begitu lemah, seolah kematian hanya tinggal menunggu waktu.
"Dia masih hidup," ujar salah satu pria.
Pria lainnya menatap tubuh itu tanpa sedikit pun rasa iba.
"Bos bilang kita harus memastikan dia tidak kembali."
"Tapi kalau dia mati di sini—"
"Memangnya siapa yang akan mencarinya?"
Keduanya terdiam sesaat.
Kemudian, pria yang lebih tinggi mengeluarkan sebuah pistol. Ia mengarahkannya ke kepala pria yang terbaring di tanah, tetapi tangannya mendadak berhenti ketika ponselnya berdering.
Ia mengangkat telepon itu.
"Ya, semuanya sudah beres."
Terdengar suara seseorang dari seberang, dingin dan tegas.
Pria itu menoleh sekilas ke arah tubuh yang berlumuran darah.
"Dimengerti. Kami akan pergi sekarang."
Telepon terputus.
Ia memasukkan pistolnya kembali ke dalam jas.
"Sudah. Kita pergi."
Mereka meninggalkan pria itu di tengah hutan, tanpa nama, tanpa pertolongan, tanpa kesempatan untuk membela diri.
Mobil hitam itu perlahan menghilang ditelan hujan.
Tak satu pun dari mereka menoleh kembali.
Mereka yakin pria itu akan mati sebelum matahari terbit.
Mereka yakin dunia tidak akan pernah mendengar namanya lagi.
Mereka salah.
Sebab, malam itu, di tempat yang bahkan tak pernah mereka anggap layak untuk diinjak, seseorang akan menemukan pria yang telah mereka buang.
Seseorang yang tidak tahu bahwa pria itu adalah monster.
Seseorang yang justru akan memeluknya seolah ia adalah manusia paling berharga di dunia.
***
Valen selalu tahu bahwa malam di desanya memiliki suara yang berbeda.
Suara jangkrik yang biasanya terdengar dari balik semak-semak kini nyaris tak terdengar. Angin berembus begitu kencang hingga membuat daun-daun bergesekan, sementara hujan menghantam atap rumah-rumah kecil di sepanjang jalan.
Wanita muda itu berdiri di ambang pintu rumahnya, mengenakan sweter tipis dan sandal sederhana.
Di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat putih. Tangan kanannya memegang keranjang kecil berisi obat-obatan dan beberapa kain bersih.
Ia baru saja pulang dari rumah tetangganya yang sedang sakit ketika hujan turun semakin deras.
"Seharusnya aku membawa payung," gumamnya sambil tersenyum kecil.
Valen berusia dua puluh empat tahun. Sejak lahir, ia tidak pernah mengenal dunia melalui penglihatannya. Baginya, dunia adalah kumpulan suara, aroma, suhu, dan sentuhan.
Ia mengenali rumahnya dari bunyi lantai kayu yang berderit di dekat pintu.
Ia mengenali jalan menuju sumur dari aroma tanah basah dan pohon melati di sebelahnya.
Dan ia mengenali orang-orang dari suara langkah mereka.
Valen memang tidak bisa melihat, tetapi ia tidak pernah menganggap dirinya sepenuhnya kehilangan dunia.
Neneknya dahulu selalu berkata, "Mata bisa melihat wajah seseorang, Nak, tetapi hati yang akan mengenali siapa dirinya."
Sayangnya, nenek itu telah meninggal dua tahun lalu.
Sejak saat itu, Valen tinggal sendirian di rumah kecil peninggalan keluarganya. Ia menjahit, membuat kerajinan tangan, dan sesekali membantu warga desa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Hidupnya sederhana.
Terkadang terlalu sederhana hingga ia harus mengurangi makan agar uangnya cukup sampai akhir bulan.
Namun, Valen tidak pernah mengeluh.
Baginya, selama ia masih bisa bernapas, mendengar hujan, dan merasakan hangatnya secangkir teh, selalu ada alasan untuk bersyukur.
Ia baru hendak menutup pintu ketika sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah suara.
Sangat pelan.
Seperti seseorang yang sedang mengerang kesakitan.
Valen mengangkat kepalanya.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Ia mendengarkan lebih saksama.
Hanya ada suara hujan.
Lalu terdengar lagi.
Sebuah tarikan napas berat, disusul suara seperti seseorang yang mencoba bergerak tetapi gagal.
Jantung Valen berdegup lebih cepat.
Ia tahu suara itu bukan suara binatang.
Ada seseorang di luar sana.
Seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Valen meraih jas hujan yang tergantung di dekat pintu, mengenakannya dengan tergesa-gesa, lalu mengambil tongkatnya.
"Permisi," panggilnya sambil melangkah keluar. "Ada orang di sana?"
Ia berjalan perlahan, meraba jalan dengan tongkat putihnya. Tanah yang licin membuatnya beberapa kali hampir terjatuh.
"Kalau Anda mendengar saya, tolong bersuara."
Tidak ada jawaban.
Valen berhenti ketika ujung tongkatnya menyentuh sesuatu yang berbeda dari tanah.
Ia menunduk sedikit, lalu mengulurkan tangannya.
Jari-jarinya menyentuh kain.
Kain yang basah.
Kemudian sesuatu yang hangat dan lengket.
Valen terdiam.
Ia mengusap jari-jarinya dengan ibu jari, mencoba mengenali cairan itu melalui sentuhan.
Darah.
"Ya Tuhan..."
Ia segera berlutut, tak peduli lumpur yang meresap ke pakaiannya.
Tangannya meraba perlahan, menemukan lengan seseorang, kemudian bahu dan wajah yang dingin.
Seorang pria.
Tubuhnya besar, pakaiannya mahal, tetapi napasnya begitu lemah.
"Tuan? Tuan, bisakah Anda mendengar saya?"
Valen menepuk pipinya dengan hati-hati.
Tidak ada jawaban.
"Tolong, bangunlah. Anda tidak boleh tidur di sini."
Ia mencoba mengangkat kepala pria itu, tetapi tubuhnya terlalu berat. Valen menggigit bibir, menahan rasa takut yang mulai menjalar ke dadanya.
Ia tidak tahu siapa pria ini.
Ia tidak tahu mengapa pria itu berada sendirian di tengah hutan dengan luka sebanyak itu.
Ia bahkan tidak tahu apakah orang yang ditemukannya merupakan korban kecelakaan atau seseorang yang sengaja disakiti.
Tetapi satu hal ia tahu.
Pria itu masih bernapas.
Dan selama masih ada napas, ia tidak boleh meninggalkannya.
"Tolong bertahan, ya?" bisik Valen. "Saya akan membawa Anda pulang."
Ia berusaha menggeser tubuh pria itu sedikit demi sedikit. Tangannya gemetar, lututnya sakit karena menghantam batu, dan hujan membuatnya sulit bernapas.
Beberapa kali ia hampir menyerah.
Namun setiap kali mendengar napas pria itu, Valen kembali berusaha.
"Sebentar lagi..."
Ia tidak tahu apakah sedang berbicara kepada pria itu atau kepada dirinya sendiri.
"Rumah saya tidak jauh. Anda bisa beristirahat di sana."
Tentu saja, pria itu tidak menjawab.
Valen akhirnya berhasil menariknya ke jalan yang lebih rata. Dengan susah payah, ia meminta bantuan seorang warga yang kebetulan mendengar panggilannya dari kejauhan.
Bersama-sama, mereka membawa pria itu ke rumah kecilnya.
Ketika tubuh pria itu akhirnya terbaring di atas tempat tidur, Valen terduduk di lantai.
Napasnya terengah-engah.
Tangannya penuh lumpur dan darah.
Tetapi ia tidak menangis karena ketakutan.
Ia menangis karena membayangkan betapa kesepiannya seseorang sampai harus terbaring sendirian di tengah hujan, tanpa seorang pun yang datang menolong.
"Siapa pun Anda..." bisiknya, mengusap air mata dengan punggung tangan. "Saya tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Anda."
Ia meraih kain bersih.
"Tetapi malam ini, Anda tidak akan sendirian."