Harapanku pupus seketika saat Papi menunjukkan tiket untuk penerbangan Jakarta-Makassar. Kupikir, papi tak serius dengan kata-katanya. Bukankah selama ini, aku sudah kebal dengan segala ancaman kala berbuat sesuatu yang tak sesuai dengan harapannya?
Tapi, kali ini tidak. Papi tak hanya menggertak. Dia menepatinya dengan wajah datar dengan gaya otoriter yang khas.
“Persiapkan barang bawaanmu saat ini juga. Tak perlu terlalu banyak, karena itu tak akan terlalu berguna di sana.”
“Papi nggak bisa seperti ini, dong. Aku nggak mau! Bagaimana dengan kuliahku?”
Papi tersenyum sinis mendengar ucapanku. Firasatku benar-benar tak enak, sungguh.
“Kuliah apa? Semua keinginanmu hanyalah nonsense! Kamu menolak jurusan yang Papi inginkan dan memilih jurusan tak berguna, Papi masih mencoba bertoleransi. Tapi apa? Kenyataan nya, itu pun masih kamu telantarkan. Kamu hanya ingin hidup bebas tanpa beban, kan? Berfoya-foya menikmati hidup tanpa mau repot memikirkan masa depan. Sekarang, Papi bebaskan kamu ….”
“Tapi ….”
“Tidak ada lagi tapi. Kamu akan pergi besok dan tinggal bersama Kanne’ puang Hamidah di sana. Biar beliau yang mengajarkanmu menjadi perempuan yang lebih baik, yang tahu arti kodrat. Papi sudah memberi kelonggaran dengan berpikir terbuka ingin menjadikanmu penerus perusahaan meski kamu adalah perempuan. Tapi sepertinya, kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan itu.”
“Papi selalu egois! Kenapa Papi harus membuatku menjalani hal yang sama sekali nggak aku inginkan?” jeritku, frustasi.
“Karena keinginanmu hanya berisi hal menyimpang yang cuma membuat malu keluarga,” cetusnya, dingin.
“Kalau aku tak mau, apa yang akan papi lakukan? Mengusirku? Mencoretku dari daftar keluarga?” Aku bahkan siap menjawab tak peduli sekali pun papi mengiyakan.
“Kamu nggak mau? Terserah, berarti kamu lebih memilih papi nikahkan dengan anak om Reinhard!”
Mataku membola. Anak om Reinhard … Sean? Iyyuh … jauh-jauhlah dari cowok semacam itu. Wacana menjodohkanku dengan Sean memang pernah digulirkan papi beberapa waktu lalu. Tapi, aku berkeras menolak. Tak sudi.
Padahal, tak ada yang salah dengan Sean. Semua kualifikasi yang diinginkan perempuan, Sean punya semua. Aku hanya merasa ilfeel dengan sikap bucinnya yang kelewat akut. Cowok ganteng, tapi nggak ada harga dirinya.
Sean selalu merepotkanku dengan perhatian dan sikap posesif yang tak pada tempatnya. Status pacar saja, bahkan belum tersemat. Tapi dia sudah memperlakukanku bak ratu yang justru malah membuatku risih.
Sean tak membuat hatiku berdebar sama sekali. Rasanya lempeng saja, tanpa sensasi yang sanggup membuatku jatuh pada virus merah jambu. Anyep. Dan itu, tidak menantang.
“Papi nggak bisa mengancamku kayak gitu, dong. Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Sean. Papi mau lihat aku bahagia atau menderita?”
“Bahagia versimu terlalu anti main-stream, Shana. Apa boleh buat. Papi harus menyadarkanmu dengan cara ini. Kecuali kamu ingin menikahi Sean, papi akan merobek tiket ini sekarang juga. Jadi, apa pilihanmu?”
Apakah berlebihan kalau aku merasa diperas? Pilihan yang papi beri, tak ada satu pun yang mudah. Atau, aku terima saja Sean?
Well … aku bisa menikahinya dan membuat komitmen untuk bercerai setelahnya. Seperti cerita yang sering k****a di platform novel online? Menikah pura-pura, berlagak hidup bahagia di depan orang, dan merencanakan perceraian dengan cantik?
Tapi … itu artinya, aku akan menjadi janda? Oh, no. Sekali pun hanya pura-pura, kalau cerai, statusnya tetap akan menjadi janda, kan?
Helloo … Shana, gadis cantik yang menjadi idaman semua pria bisa-bisanya menyandang status janda? Sepertinya … itu terlalu menjatuhkan harga diriku. Dan aku bergidik memikirkannya.
“Papi mau mengusirku berapa lama?”
“Tidak lama, cukup 6 bulan saja. Papi akan meminta Kanne’ puang untuk mendidikmu menjadi wanita sejati. Bukankah itu juga adalah bagian dari tanggung jawab papi? Hingga bila kelak kamu menikah, papi tidak akan terlalu malu pada keluarga suamimu.”
What? 6 bulan? Ingatanku melayang ke masa sepuluh tahun lalu, saat papi membawaku pulang ke kampung halamannya. Saat itu, mami tak ikut karena terlanjur janji akan shopping ke Singapur bersama tante Celline. Yeah … sebenarnya aku tahu alasan mami yang sebenarnya. Siapa yang tahan pergi ke tempat nyaris terbelakang yang jauh dari segala kemudahan dan fasilitas?
Tanpa jaringan komunikasi yang layak, tanpa mall, tanpa salon perawatan, tanpa café, tanpa … banyak! Sepanjang pemandangan mata, hanya jejeran pohon kelapa, sawah, rumah panggung, serta ternak penduduk setempat yang dibiarkan bebas melenggang. Belum lagi kualitas air yang membuat bulu kuduk bergidik. Aku bahkan menguatkan diri untuk tak sering mandi selagi di sana. Pokoknya, menyedihkan!
Lalu sekarang, aku harus berada di Campalagian selama 6 bulan? Aku bahkan kehilangan berat badan 2 kilo saat hanya 3 hari di sana karena terlalu stress. Dan sekarang … GOD! Tanpa sadar, keringat dingin membanjiri pelipisku.
“6 bulan? Itu terlalu kejam, Pi!”
“Papi bahkan berniat untuk memindahkanmu selamanya di sana. Kalau perlu, sekalian cari suami orang sana juga. Papi nggak keberatan. Bersyukurlah kamu, karena mama Ayuni mengancam akan meninggalkan papi kalau papi nekat melakukan itu!”
Kalau papi berharap aku akan terharu, dia salah besar. Justru, aku malah semakin membencinya. Benci, kenapa papi bisa begitu mudah ada dalam kendalinya. Dan apa katanya tadi? Tak keberatan bila aku mendapat jodoh orang sana? Dalam mimpimu saja, tuan!
“Mama Ayuni … mama Ayuni! Terus saja papi iklankan kebaikan perempuan itu! Percuma, Pi. Aku nggak bakal terpengaruh! Papi sudah semacam kerbau yang dicucuk hidungnya gara-gara dia. Bucin!” Aku tahu, itu kalimat yang sungguh tak pantas. Tapi, aku tetap harus mengatakannya.
“Kenapa tidak? Mama Ayuni memang sesempurna itu. Papi merasa berharga menjadi suaminya. Dia tahu persis apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang isteri. Seharusnya, kamu bisa mencontoh dia.”
Darahku menggelegak mendengarnya. Papi seakan terbuka melakukan perang urat syaraf demi membela perempuan itu. Apa dia bilang ? Sempurna? Mana ada perempuan sempurna yang merecoki rumah tangga orang lain?
“Sudahlah. Lebih baik persiapkan saja keberangkatanmu. Besok, Zaldi akan mengawalmu ke bandara.”
Oke, Shana. Kamu sudah kalah. Keputusan papi sudah final dan tak mungkin bisa digugat lagi. Ckk … biarlah.
Kalau papi mau jual, aku juga bisa beli. Alibi saja dia mengirimku untuk alasan receh semacam itu. Papi hanya ingin menyingkirkanku, aku yakin itu. Sepertinya, papi merasa aku hanyalah benalu yang mengganggu kebahagiaannya. Demi menjaga kewarasan isteri tersayangnya yang sering kurecoki, papi memilih untuk membuangku. What a good father!
Kalau itu mau papi, baiklah. Sekalian saja aku menyingkir dari kehidupannya. Lebih baik, aku kabur dan tinggal bersama mami di Surabaya. Sejak bercerai, mami memang memilih pulang ke kampung halamannya. Aku tak bisa ikut, karena papi mengerahkan segala kuasanya untuk menahanku.
Tapi, aku toh bukan anak kecil lagi. Aku sudah bisa menentukan untuk tinggal bersama siapa tanpa intervensi siapa pun.
Sayangnya, ponsel mami sedang tak bisa kuhubungi. Menelpon rumah Surabaya pun, tak ada yang mengangkat. Heran, kemana sih mami? Apa hobby pelesirannya kambuh lagi? Aku harus mengakui, untuk hal yang satu itu, mami memang kelewatan. Tak jarang, mami meninggalkan kami demi bepergian dengan sesama anggota geng sosialitanya. Inilah salah satu alasan papi mantap menceraikannya.
Tapi, aku juga tahu, kalau mami melakukan itu karena rasa kecewanya pada papi. Sikap tak acuh papi pada mami dan lebih memilih fokus pada pekerjaan, membuat mami tersisih dan mencari pelarian. Aku sendiri, juga seperti itu. Jarang mendapat suasana harmonis di rumah, aku mencarinya ke hal lain. Hal yang bisa membuatku sejenak melupakan semua kekecewaan akan semrawutnya hubungan kami.
Aku menyusun beberapa baju ke dalam traveller bag. Tak perlu banyak, karena toh mudah untuk membeli lagi. Aku juga mengumpulkan seluruh perhiasan yang tersimpan untuk berjaga-jaga. Tak lupa pula, berniat akan memindah saldo rekening bank ke rekening baru. Aku memperhitungkan, papi pasti akan memblokirnya bila tahu aku berniat kabur.
Baiklah, tuan Shirajuddin Atjo. Silahkan merasa puas dengan mengusirku seperti ini. Aku pun bisa lebih cerdas darimu.
Biarkan saja Zaldi mengawal hingga ke bandara. Di Makassar nanti, aku akan berbalik haluan ke Surabaya, ke tempat mami. Aku bahkan sudah memesan tiketnya via online. Selamat tinggal, papi ….