Aku menyeret koper dan menatap masam para wajah yang tengah memperhatikanku. Mama Ayuni tampak memandang sendu. Anaknya—Inka, lebih terlihat biasa saja. Mungkin dalam hatinya, ia merasa bersyukur aku tersingkir dari rumahku sendiri. Hari begini, yang nggak berhak, memang semakin di depan.
Papi mendekatiku. Tak tampak ekspresi sedih atau pun kehilangan dari wajahnya. Tentu saja. Selamat berbahagia, Pi.
“Zal, periksa,” perintah papi, pada Zaldi asisten pribadinya.
Awalnya, aku tak begitu menghiraukan. Tapi, bagai tersengat lebah rasanya saat dengan sigap, Zaldi meraih koperku dan membongkarnya. Belum puas menikmati keterkejutan, papi sendiri menyentak ransel yang kubawa, tanpa sempat untuk dapat kucegah.
Ini … apa-apaan?
“Pi! Ini maksudnya apa, sih? Kenapa Papi menggeledah tas-ku? Papi mau apa?” Protesku, marah dan panik. Dalam sepersekian detik, nalarku dapat menyimpulkan tujuan papi melakukannya. Tidak!
“Papi cuma mau ambil ini, ini, dan ini,” jawabnya, seraya mengacungkan dompet, ponsel dan kotak perhiasanku. Papi bahkan juga menemukan buku tabungan yang telah kusembunyikan di kantung rahasian ransel. Firasatku terbukti!
“Tapi kenapa? Itu milikku, Pi!”
“Untuk sementara, bukan lagi. Papi harus benar-benar mendisiplinkanmu, Shana. Kau akan pergi tanpa ponsel, semua kartu debit dan kredit, juga perhiasan ini. Tapi jangan khawatir, papi akan membekalimu dengan sedikit uang. Kau tak akan mungkin sampai terlantar di sana. Tenang saja.”
Saat menggeledah dompet, papi menyita sejumlah kartu dan uang, dan menyisakan lima lembaran merah saja. Mataku sampai melotot melihatnya. Sial, aku kalah cerdik. Meski sempat memperhitungkan, tetap saja aku tak menyangka papi akan tega melucuti fasilitasku sebersih itu. Kejam!
“Papi tega! Kenapa nggak sekalian saja papi buang aku ke jalanan? Atau kalau muak melihatku, kenapa papi nggak biarkan aku tinggal bersama mami? Papi urus saja keluarga tersayang papi itu, tapi jangan siksa aku seperti ini!”
“Ya, papi memang muak melihatmu. Muak melihat tingkahmu yang selalu berkelok tak jelas. Namun begitu, papi tetaplah orang tuamu. Papi wajib mendidikmu menjadi lebih baik lagi. Dan itu, tidak akan bisa terwujud kalau kamu tinggal bersama mami,” cetusnya, dingin.
“Dan oh, ya. Jangan kamu kira papi nggak tahu tentang akalmu yang bermaksud kabur ke rumah mami. Ingat, Shana, papi nggak main-main. Sekali kamu berniat mengelabui papi lagi, kamu akan betul-betul papi buat menyesal, seumur hidupmu.” Ancamnya, sedikit mendirikan bulu roma. Aku hanya mampu menelan ludah dengan gelombang emosi yang saling menghantam.
Aku bisa merasakan keseriusan dari nada suaranya. Dan terus-terang, aku menjadi sedikit gentar.
Papi memang terlalu banyak bertoleransi akan sikapku, tapi aku tahu, kali ini sepertinya tidak lagi. Ia bahkan tega mengirimku ke kampung halamannya, padahal papi tahu persis, aku tak pernah mau lagi ia ajak sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu.
Kalau sudah begini, apa yang harus aku lakukan? Tanpa uang, ponsel … aku bisa apa? Bagaimana caraku menghubungi mami?
Aku memang payah dalam menghafal. Seluruh kontak di ponsel, tak ada satu pun yang aku ingat di luar kepala. Papi benar-benar serius ingin memiskinkanku, membuatku sengsara. Padahal, kesalahan fatal apa yang telah aku lakukan?
Oke, bagi sebagian besar orang, menjadi model lukis dengan pose s*****l, mungkin adalah hal tabu yang mengundang cibiran, bahkan hujatan. Tapi bagiku, tidak demikian.
Hans sendiri berlaku sangat professional dalam melakukan kerjanya. Padahal, sebagai lelaki normal, siapa yang tahan melihatku dalam pose seminim itu? Tapi, ini adalah sebuah karya. Catat, sebuah karya seni.
Disaat sebagian masyarakat menilai keindahan tubuh wanita adalah aurat, tapi para aktivis seni memiliki pandangan berbeda. Dan kita, tidak bisa memaksa menyamakan pendapat akan sesuatu hal, kan?
Kalau sudah begini, aku serasa ingin mati saja. Apa gunanya hidup, hanya untuk menjalani penderitaan? Apa yang papi inginkan dengan mengirimku ke tempat sialan itu? Selain ingin menendangku keluar dari rumah, sepertinya tak ada alasan lain lagi yang masuk akal.
Bagaimana aku bisa melewati satu jam saja di tempat itu, alih-alih enam bulan?
***
Akhirnya, aku terjebak dalam skenario papi tanpa mampu sama sekali melepaskan diri. Tak hanya sekedar menyuruh Zaldi mengantar sampai bandara, asisten papi itu bahkan mengiringiku sampai ke Makassar.
Hingga jemputan khusus yang akan membawaku datang dan memastikan aku naik ke dalam mobil, barulah Zaldi melepaskanku. Apa ini yang dinamakan terikat tanpa tali? Fisikku bebas, tapi tetap saja tak ada sesuatu pun yang bisa aku lakukan. Situasi yang benar-benar memantik kegemasan dan emosi.
Bagai mayat hidup, aku hanya menatap kosong pada pemandangan di sepanjang jalan. Ini adalah perjalanan yang cukup menguras tenaga.
Untuk sampai ke kabupaten Polewali, kampung halaman papi, butuh waktu sekitar 7 jam dari Makassar. Tanpa teman, ponsel … benar-benar sempurna. Aku seolah terperangkap dalam jasad hidup, sementara jiwaku sendiri mati.
“Kamu lapar?”
Aku mendengar sopir yang menjemputku itu berbicara. Padaku, tentu. Tapi, aku memilih tak mengacuhkan. Nggak penting juga, kan?
“Apa kamu lapar? Kita bisa berhenti untuk cari tempat makan kalau kamu mau,” tanyanya lagi, berhasil membuatku untuk sekedar meliriknya.
“Aku nggak lapar! Lagian, mau makan di mana? Aku nggak biasa makan di sembarang tempat,” ketusku, jengkel.
Rasa marah pada papi membuat mood benar-benar anjlok hingga ke titik minus. Jadi, jangan salahkan aku bila melampiaskannya pada siapa saja. Lagian, ini sopir kok lancang banget ngajak-ngajak ngomong? Pakai segala ngajak makan. Dasar modus! Nggak di kota, nggak di kampung, semua cowok memang sama saja! Kalau dia berharap bisa cari kesempatan hanya karena kami semobil, dia salah besar.
Seleraku terlalu tinggi untuk bisa wellcome dengan sembarangan lelaki. Jadi, jangan terlalu modus, atau kau akan malu sendiri.
Tapi sesungguhnya, rasa perih di perut mulai sedikit menggangguku. Aku bahkan tak sempat sarapan di rumah sebelum berangkat tadi. Bukan tak sempat, sih. Tapi tak mau. Terusir dari rumah sendiri, siapa yang masih sempat memikirkan sarapan? Nggak ada harga diri banget.
Aku meraih ransel di samping kanan dan membukanya. Seingatku, rasanya aku sempat memasukkan beberapa snack ke dalamnya. Snack kentang goreng rasa barbeque menjadi pilihanku. Sepertinya, lumayan untuk mengganjal perut.
Sayangnya, aku lupa membawa air minum. Menghabiskan setengah bungkus besar snack, membuat tenggorokan sedikit seret dan aku betul-betul membutuhkan air.
Kulirik sopir yang tengah fokus mengemudi, bergantian dengan mengamati jalanan, mencari mini market yang sejak tadi sempat tertangkap pandangan mata.
Masih di sekitar Makassar, tak sulit untuk menemukan mini market di sepanjang jalan utama provinsi. Aku baru menyadari, bahwa perkembangan pembangunan di sini, ternyata cukup pesat juga. Mini market sudah sangat menjamur, bahkan dengan jarak yang saling tak terlalu jauh.
“Aku haus. Bisa berhenti sebentar untuk membeli air?” Tanyaku, tanpa basa-basi.
Pria berperawakan tinggi tegap dengan kulit kecoklatan itu melirikku lewat spion tengah. Tatapan kami bertemu di sana sejenak.
“Baiklah,” jawabnya, datar. Tak lama, mobil mulai menepi.
“No, jangan beli di warung. Aku nggak bisa nelan air yang di beli di sembarang tempat. Cari mini market saja, ok?” Aku menolak sengit saat menyadari pria itu menghentikan mobil tepat di depan sebuah warung. Ih, dia kira, aku ini siapa?
Tanpa berkomentar, ia menurut saja. Mobil mulai bergerak lagi, meski lajunya tak sekencang tadi. Tepat di depan tempat yang kupinta, mobil pun berhenti.
Aku meraih ransel dan mencari dompet. Melihat isinya, aku sadar, aku tak bisa lagi berbuat terlalu banyak. Sial, apa yang bisa kubeli dengan uang lima ratus ribu saja? Rasa benci pada papi, seketika menyeruak lagi. Tapi mau tak mau, kukeluarkan juga selembar Soekarno- Hatta dengan perasaan berat.
“Cari yang merk Akwa, ya? Aku nggak mau kalau merk yang lain. Yang botol besar aja sekalian. Oh ya, beli sedotan bengkoknya juga,” perintahku, seraya mengulurkan lembaran merah itu padanya. Pria itu hanya menatapku sekilas dengan raut tak terbaca.
“Tidak usah, “ tolaknya, pelan.
“Eh … nggak boleh gitu. Ambil aja. Kembaliannya juga buat kamu aja. Lumayan buat beli rokok, kan?”
“Tidak usah.” Ia masih menjawab dengan kalimat yang sama. Mungkin, dia nggak cukup cakap berbahasa Indonesia hingga kalimatnya tak kreatif seperti itu.
“Kamu … punya uang?” Tanyaku, merasa segan. Berapa sih penghasilan sopir di daerah kayak gini? Ya kan?
Pria itu tak menjawab dan meloyor pergi. Aku hanya mengedikkan bahu, tak ambil peduli. Tak lama, ia kembali dengan menenteng bungkusan khas mini market berisi pesananku.
Kami melanjutkan perjalanan setelah aku selesai minum. Rasanya lelah sekali. Masih ada 6 jam lagi untuk sampai ke tujuan. Tujuan yang tak diinginkan.
Aku memilih memejamkan mata karena merasa mulai mengantuk. Mungkin, karena pengaruh lapar juga. Dan aku benar-benar tertidur hingga kusadari seseorang menepuk-nepuk lenganku.
“Bangunlah, kita sudah sampai.”
Aku terlonjak kaget dengan mata yang masih sayu. Sedikit bereaksi tak suka juga dengan caranya yang modus menyentuh lengan, meski maksudnya mungkin untuk membangunkan. Nggak usah pegang-pegang, bisa kan?
Kami berhenti di halaman sebuah rumah panggung kayu yang berwarna hitam. Sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman luas. Sepertinya, ingatanku akan rumah ini sudah hilang sama sekali. Tak ada sesuatu yang membuatku merasa tak asing.
Dua orang muncul dari dalam rumah. Seorang wanita tua, yang kukenal dengan sebutan Kanne’ puang dan seorang wanita paruh baya berusia sekitar 40-an. Keduanya menghampiriku dengan penuh senyum dan bersiap memberi pelukan selamat datang .
Meski tak merasa antusias sama sekali, aku tetap membalas pelukan itu. Kupaksakan bibir menyunggingkan senyum. Dan itu … berat.
“Aih … cantiknya cucuku. Sudah besar sekarang kamu, Nak. Masih ingat Nenek?”
“Masih,” jawabku, irit. Tak tahu harus berbasa-basi apa.
“Bagaimana di perjalanan tadi? Om mu itu tidak ngebut, kan membawa mobilnya?” Wanita yang satunya lagi menanyaiku menggunakan bahasa Indonesia dengan logat yang kaku, seraya mengarahkan dagu pada pria tadi yang kukira sopir.
Om …?