Bantuan

1566 Words
"Meninggal?" Riady bertanya tak percaya pada Bayu yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. "Ya, Pak. Setelah perusahaannya terancam bangkrut, Pak Hadi menghembuskan napas terakhirnya karena serangan jantung." Bayu lantas memberikan beberapa lembar foto ke arah Riady dengan penuh sopan santun. Foto yang kini sedang Riady amati itu terlihat sedikit buram dan sepertinya diambil dari jarak yang cukup jauh. "Putri Pak Hadi yang Bapak cari, namanya Aruna. Menurut informasi yang saya dapat, Aruna belum memiliki kekasih dan tidak dalam hubungan apa pun dengan lelaki lain." Riady mengangguk puas. Ia bahkan terlihat semringah sembari menarik sudut bibirnya dengan lebar. "Menurut kamu cantik gak, Bay?" "Ya?" Bayu membelalak lalu tak lama ia mengerjap salah tingkah. "Can—tik, Pak." "Menurut kamu, Bagas pasti suka, kan?" "Ya—mungkin," jawab Bayu sungkan. Pandangan Riady masih terus tertuju pada beberapa lembar foto yang menampilkan wajah Aruna, ia memandanginya terus menerus. Ada sosok Hadi, teman semasa mudanya dulu di wajah Aruna. Tapi sayang, ia tidak sempat bertemu dengan Hadi dan meminta anaknya secara langsung. "Saya akan menikahkan Aruna dengan Bagas." Ya, hanya ini caranya untuk membuat Bagas berubah, sekaligus membantu Aruna keluar dari masa sulitnya. *** "Papi!" Si anak kurang ajar itu akhirnya pulang juga. Tepat pukul satu malam, di saat Riady dan Shopie sedang terlelap tidur untuk mengistirahatkan tubuh mereka setelah seharian ini beraktifitas. "Den, ini udah malam." Pak Jaka, satpam keluarga yang tadi membukakannya pintu gerbang kini melangkah bahkan nyaris berlari untuk mengikuti langkah kaki Bagas yang terburu-buru masuk ke dalam rumah sambil terus berteriak kencang. "Den, aduh!" "Lo bisa diem gak sih!" sentaknya pada Pak Jaka dengan kasar yang sontak membuat lelaki tua itu merapatkan bibirnya seraya menunduk takut. Mendengus keras, Bagas lantas kembali masuk ke dalam rumah hingga berhenti di ruang tengah. "Papi!" Teriakan itu hampir membangunkan seluruh isi rumah. "Papi!" Ijah, sang asisten rumah tangga lari tergopoh-gopoh dari kamar pembantu menuju ruang tengah, dimana sumber kebisingan itu berasal. Ternyata, tak lain dan tak bukan, dari dulu hingga sekarang, hanya ada satu biang onar di dalam rumah itu. Siapa lagi kalo bukan seorang Ziedan Bagas Wijaya? Ck, tahu gitu ia pura-pura tidur saja tadi! "Den Bagas pulang?" Ijah yang masih setengah mengantuk itu bertanya penuh basa-basi meski sebenarnya ia kesal sekali telah dibangunkan dari tidur nyenyaknya di tengah malam seperti ini. "Kok malem banget, Den?" Lagi-lagi Bagas mendengus. Selain urakan dan kurang ajar, Bagas juga merupakan tipe lelaki kasar yang tidak memiliki banyak stok kesabaran. Si sumbu pendek, begitu teman-temannya memanggil. "Gue mau ketemu Papi. Panggilin buruan!" "Duh, Bapak sama Ibu udah tidur dong, Den. Ini kan tengah malam, jam satu pagi loh. Emang Den Bagas gak punya jam tangan?" sahut Ijah, setengah menyindir. Bagas langsung menggeram, tak lupa kedua bola matanya berputar kesal. "Bodo amat, lo pikir gue peduli! Pokoknya gue mau elo bangunin Papi!" ujarnya membentak, entah dimana sopan santunnya saat ini, mungkin tertinggal di kelab malam tadi. "Buruan, Jah!" bentaknya lagi. Sontak Ijah berjengit kaget seraya melompat dari tempatnya. rasa kantuk yang menyerangnya mendadak hilang. "Oke, Den, bentar. Ijah panggilin Bapak dulu kalo gitu," balasnya penuh hormat. Melihat wajah Bagas yang sudah mengeras seperti kambing yang akan dipotong untuk kurban, Ijah langsung bergerak cepat menuju anak tangga, mengikuti perintah sang anak majikan yang tak tahu diri itu. Ugh! Kalau bukan anak majikan, sudah sejak tadi ia abaikan lelaki itu. Namun, belum sempat kaki Ijah menyentuh anak tangga, tubuh menua Papi Riady yang masih terlihat tegap meski usianya sudah memasuki kepala lima, melangkah turun ke bawah. Ternyata beliau terbangun karena mendengar teriakan huru-hara dari sang anak yang gemar membuat heboh itu. "Nggak berubah kamu ya, Gas!" Wajah Papi yang mengantuk tersamarkan dengan raut kesal akibat kelakuan Bagas di pagi buta seperti ini. "Kamu kayak anak yang nggak disekolahin! Untuk apa kamu berteriak seperti itu! Kamu pikir rumah ini hutan!" Tidak takut sama sekali, Bagas malah maju ke depan, berhenti di depan Papi yang saat itu juga menyerngit saat bau alkohol tercium jelas di hidungnya. "Maksud Papi apa nyuruh Bayu ngambil apartemen sama mobil aku? Terus kartu kredit juga kenapa Papi blokir?" "Oh, jadi pulang cuma mau komplen masalah itu?" Papi bersidekap, kantuknya hilang secara mendadak karena anak durhaka itu. "Sadar salah kamu apa?" "Apa?" tanya Bagas menantang, lalu melakukan hal yang sama seperti Papi, bersidekap dengan wajah pongah. Ia merasa tidak melakukan kesalahan, jadi untuk apa merasa bersalah. Papi sempat menghela sebentar. Ingin sekali mengutuk anaknya, tapi ia tidak sampai hati melakukan itu. "Pegi ke kelab malam, mabuk-mabukan. Menurut kamu itu bukan kesalahan?" "Aku udah 27 tahun ya, Pi! Masa keluyuran tengah malem aja mesti lapor." Sementara itu, Ijah dan Pak Jaka sudah pergi dari sana. Keduanya melenggang dengan napas berembus lega. Akhirnya si biang onar sudah diatasi oleh pawangnya. "Nah, karena kamu sudah 27 tahun, harusnya sikap kamu itu dirubah! Kamu pewaris Wijaya Group, CEO Angkasa Jaya! Apa menurut kamu baik keluyuran tengah malam sambil berjoget-joget bersama wanita setengah telanjang?" Bibir Bagas mencibir. "Papi kayak gak pernah muda aja," ejeknya bersama kuluman bibir geli. "Kayak gitu kan biasa. Namanya juga anak muda!" "Kamu sudah 27 tahun, Gas! Mau jadi apa kalo terus menerus berkelakuan seperti itu?" "Mau jadi anak Papi lah." Oh, benar-benar si Bagas ini, Papi bahkan sampai mengelus dadanya mendengar jawaban anak itu. "Udah lah, jadi anak Papi itu udah paling tepat. Uangnya banyak, aku gak mau jadi apa-apa lagi selain jadi anak Papi. Lagi juga, Papi harusnya merasa beruntung punya anak kayak aku. Ganteng, pinter, berotot—" saat mengatakan itu, Bagas memberi gerakan seperti seorang binaragawan. "Semua cewek udah pasti pada ngantri buat jadi pacar aku." Papi menoyor kening anaknya dengan gemas. Entah keturunan siapa hingga sikapnya bisa seperti itu. "Kapan kamu dewasanya sih, Gas? Gimana mau punya istri kalo sikap kamu gak berubah?" "Bagas gak mau nikah, Pi, tenang aja," selorohnya, lalu menutup mulutnya yang terbuka karena menguap ngantuk. "Udah ah, besok bilangin sama Bayu balikin apartemen sama mobil aku. Sekarang aku mau tidur, udah ngantuk banget." Bagas kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Papi yang lagi-lagi hanya bisa mengelus d**a bersama gelengan kepala samar. Terlihat sekali tampang Bagas yang tidak menunjukan rasa bersalah, atau menyesal atas perbuatannya. "Semoga ada yang bisa ngerubah kamu, Gas!" *** Aruna terus berlari tidak tentu arah, menyusuri gang demi gang untuk kabur dari kejaran tiga orang pria bertubuh tambun di belakangnya. Ternyata, selain meninggalkan perusahaan yang bangkrut, Ayah juga pergi meninggalkannya dan Ibu dengan beberapa hutang yang beliau pinjam dari temannya. Burhan, pria paru baya yang sempat Aruna mintai pertolongan, tetapi dengan imbalan dirinya yang harus mau menjadi istri ketiga. Kini pria tua itu kembali mengejar dirinya karena hutang Ayah yang tak bisa ia bayar. Aruna tidak ingin dinikahi pria uzur itu, bagaimana pun caranya, ia akan membayar hutang Ayah, tapi tidak dengan cara dinikahi oleh pria yang seharusnya lebih cocok menjadi ayahnya itu. "Woi! Jangan lari lo!" Aruna sekuat tenaga menggerakan kakinya untuk terus berlari, menyusuri gang-gang sempit di sana. Anehnya meski siang hari seperti ini, tidak ada satu orang pun yang bisa membantunya. Aruna kehabisan napas, lantas saat kakinya mulai menyerah, saat tubuhnya sudah terjebak di gang buntu, Aruna tidak punya pilihan lain selain pasrah. Ia berbalik dan melihat ketiga pria itu tiba di belakangnya. "Gak bisa lari kan lo!" teriak salah satu anak buah Burhan yang juga sama-sama kehabisan napas. "Kecil-kecil lari lo cepet juga ya? Makan apaan sih." "Buruan deh bos, tangkep aja, dari pada kabur lagi dia," sahut pria satunya. Aruna memejamkan mata. Apa ini akhir dari semua pengorbananya? Apa harus menjadi istri ketiga dari seorang lelaki tua? Siapa pun, Aruna mohon tolong dirinya. Lalu, saat ketiga pria bertubuh tambun itu mendekat dan akan menangkapnya, tiba-tiba saja sebuah tendangan dari arah belakang tubuh mereka berhasil membuat ketiganya tersungkur ke tanah. "Sialan!" Aruna memekik tertahan dengan kedua telapak tangan menutupi bibirnya saat melihat ketiga orang itu tersungkur. Tak berapa lama, matanya membelalak begitu lelaki berjas hitam di depan sana memukuli ketiga pria yang tadi mengejarnya dengan membabi buta. Setelah ketiganya tergeletak tak berdaya di atas tanah, lelaki berjas hitam itu bergerak mendekati Aruna, yang seketika membuat Aruna mengambil langkah mundur ke belakang. "Kamu siapa?" ujarnya takut. "Selamat siang Bu Aruna," sapa lelaki itu dengan hormat. Loh? Aruna mendadak bingung. Matanya mengerjap-ngerjap tidak mengerti. "Saya Bayu, utusan Pak Riady Muchtar, pemilik PT. Angkasa Jaya." Semakin tidak paham, Aruna hanya menaikan sebelah alisnya ke atas. Lalu tersenyum kaku bahkan terlihat seperti cengiran. "Apa ... Ayah saya juga punya hutang sama Pak Riady?" "Bukan. Pak Riady hanya meminta saya untuk mengantarkan Bu Aruna ke tempat beliau." "Kalian mau jadiin saya istri ketiga juga?" Bayu yang terkejut segera mengibaskan keuda tangannya ke depan. "Oh, bukan, Bu. Bapak minta bertemu, karena ada yang ingin Pak Riady sampaikan." Menatap Bayu dengan curiga, Aruna tidak bisa langsung percaya begitu saja. Tapi hati kecilnya mengatakan kalau lelaki di depannya ini tidak berbohong. Bahkan tadi dia juga yang membantu Aruna. Dan satu lagi, nama Riady tidak asing di telinganya. Ayah sempat mengucapkan nama itu pada Aruna sebelum beliau meninggal. "Run, kalo terjadi sesuatu sama Ayah. Kamu cukup mencari seorang pengusaha bernama Riady. Beliau teman Ayah, dia yang akan membantu kamu. Hanya dia." Lalu Aruna kembali menutup bibirnya dengan telapak tangan. Matanya melebar sempurna. Apa mungkin Riady yang dimaksud Ayah adalah Pak Riady yang lelaki ini katakan? Kalau benar, seharusnya Aruna tidak menolak kesempatan untuk bertemu dengan lelaki itu. "Kalau Ibu tidak percaya, Ibu boleh—" "Saya percaya," sela Aruna cepat. "Saya mau bertemu dengan Pak Riady." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD