Penawaran

1029 Words
Aruna celingak celinguk dengan tampang bingung saat lelaki berjas hitam yang tadi mengatakan akan membawanya menemui Pak Riady masuk ke dalam sebuah ruangan besar bergaya elegan dengan jejeran rak buku yang tertata rapi di sudut ruangan, serta beberapa lukisan yang tergantung indah di tembok. Setelah memasuki gedung besar dengan logo bertuliskan Wijaya Group, sekarang Aruna tahu siapa Riady yang Ayah maksud. Beliau adalah pemilik Wijaya Group dengan nama perseroan PT. Angkasa Jaya yang kini kursi kepemimpinannya dipegang oleh sang anak. PT. Agkasa Jaya merupakan perusahaan properti terbesar dengan anak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Jangan tanya seberapa kayanya Pak Riady ini, Aruna saja rasanya tidak sanggup untuk membayangkan. "Bu Aruna." "Ya?" Aruna tersentak seraya membalikan tubuhnya menghadap Bayu yang kini sedang berdiri di tengah ruangan. "Pak Riady sebentar lagi akan tiba, saya akan menunggu di luar. Kalau ada yang Ibu butuhkan, Ibu bisa memanggil saya." Mendengar penuturan Bayu, mata Aruna berkedip beberapa kali, lalu mengangguk sebelum kemudian memamerkan senyum kakunya. "I—ya." Rasanya aneh sekali saat dirinya harus dipanggil dengan sebutan Ibu. Setelah Bayu angkat kaki dari ruangan itu, Aruna lantas duduk di atas sofa besar yang ada di sana. Kepalanya masih berputar kesana kemari mengamati ruangan luas itu. Dulu ruang kerja Ayah di perusahaan tidak seluas dan semewah ini. Lampu-lampu yang menggantung di atap pun seolah menyorot dengan kerlipan mewah. Sibuk mengamati seluruh ruangan, Aruna tersentak saat pintu di depan sana terbuka, menampilkan sosok tua dengan senyum hangat menghampirinya. Aruna buru-buru berdiri untuk menyambut lelaki itu. "Siang Pak," sapanya sopan dengan senyum manis di wajah. Lelaki paruh baya yang terlihat seumuran dengan Ayah itu tiba di depannya. "Hai. Selamat siang juga Aruna, maaf ya sudah membuat kamu menunggu lama," balas Riady, terlihat sangat kebapakan. "Ayo duduk lagi," ujarnya kemudian. Aruna kembali duduk. Tak lama seorang wanita masuk membawakan dua cangkir teh hangat untuk mereka. "Diminum, Run," tawar Riady yang dibalas anggukan kepala oleh Aruna. Setelah wanita pengantar teh itu pergi, Aruna merasakan canggung melingkupi dirinya saat ini. Meski ia tahu Pak Riady merupakan teman Ayah, tapi tetap saja Aruna merasa begitu canggung berada satu ruangan dengan lelaki tua itu. "Aruna apa kabar?" Meremat gaun terusan sebetis yang ia gunakan, Aruna lantas menjawabnya, "baik, Pak." "Maaf saya tidak datang ke pemakaman Ayah kamu, saya merasakan kesedihan yang kamu rasa. Hadi sudah saya anggap seperti saudara sendiri." Riady menegakan tubuhnya, lalu menepuk bahu Aruna pelan. "Saya turut berduka cita atas apa yang telah terjadi." Aruna mengangguk, membalas dengan senyum tipis. "Terima kasih, Pak." "Kamu pasti melewati waktu yang sangat berat." Lagi-lagi Aruna tersenyum. Terlalu berat untuk ia jelaskan. Semua serba mendadak dan terlalu tiba-tiba. Bahkan Aruna masih tidak mempercayai Ayah telah tiada. "Ayah kamu orang baik, dia pasti akan mendapatkan tempat terbaik di sana." Aruna mengamini itu dalam hati. Lantas ia menunduk seraya meremat jari tangannya untuk mengurai rasa canggung. "Aruna, mungkin saya tidak akan berbasa basi saat ini." Wajahnya yang menunduk sontak terangkat, menatap Pak Riady dengan keningnya yang mengernyit dalam. "Saya akan berbicara langsung pada intinya, mengenai kamu yang saya minta untuk menemui saya." Mendadak perasaan Aruna tidak enak. Ada apa? Mengapa Pak Riady terlihat begitu serius? Padahal beberapa detik yang lalu saat mereka membicarakan Ayah, wajah tua itu masih terlihat santai. "Runa, saya tahu kamu sedang kesulitan mencari uang untuk membayar hutang Ayah kamu dan juga biaya rumah sakit." Tanpa sadar kepala Aruna mengangguk. "Saya akan membantu kamu untuk melunasi semua itu, tapi dengan satu syarat." Oh, jangan lagi! Apa Pak Riady juga akan memintanya untuk menjadi istri kedua, ketiga, atau keempat? Astaga! Ia kira Pak Riady ini berbeda. Ck, ternyata sama saja. "Maaf, Pak, kalo syaratnya itu saya harus menjadi istri kedua Bapak, saya gak bisa," tolaknya tegas. Riady cukup terkejut mendengar sahutan itu. Namun tidak berlangsung lama. Meski memang tujuannya hampir sama, yaitu pernikahan, tapi bukan untuk dirinya. Ia masih sangat mencintai sang istri meski wanita itu terkenal sangat cerewet. "Bukan dengan saya." Aruna kembali terdiam bingung. Mungkin Riady salah berbicara? Atau sebenarnya ia yang tidak bisa memahami maksud lelaki itu. "Aruna ... saya ingin kamu menikah dengan anak saya?" "Hah?" Refleks kata itu terucap dengan jeritan keras yang mungkin bisa saja terdengar sampai keluar ruangan. "Ma—maksudnya gi—mana?" Aruna tergagap dengan tampang bodoh. "Saya tahu kamu kaget, tapi saya bukan tipe orang yang bisa berbasa-basi. Kalo kamu menerima lamaran ini, saya akan membantu kamu melunasi semua hutang Ayah dan biaya rumah sakit Ibu kamu." Aruna menggeleng. "Tu—tunggu, Pak ... ini bukan lamaran." "Memang bukan, tapi kalau kamu setuju saya akan datang untuk melamar—" "Oh, tunggu-tunggu!" Aruna memejamkan mata seraya memijat keningnya yang terasa berat. "Saya butuh bernapas sebentar, Pak." Ia lalu menyeruput tehnya dengan cepat, dan rasa panas seketika menyerang lidahnya. Oke, ia tidak bermimpi. Astaga! "Jadi niat Bapak membuat pertemuan ini hanya untuk meminta saya menikah dengan anak Bapak?" "Ya, benar sekali." Riady menjawab dengan senyum hangat, seolah permintaanya tadi bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. "Tapi kenapa?" Aruna masih mencoba untuk mencari kewarasannya. "Saya ingin kamu menikah dengan anak saya." "Kenapa saya? "Karena saya hanya ingin kamu yang menjadi menantu saya." Simple, jelas, dan tetap tidak bisa dimengerti oleh Aruna. "Saya gak kenal, saya juga gak cinta sama anak Bapak, dan begitu juga sebaliknya. Bahkan kita baru bertemu hari ini." "Cinta bisa datang karena terbiasa, mungkin dengan terbiasa hidup bersama," jawab Riady begitu santai. Oh! Ini gila, sangat gila. Aruna tidak bisa mencerna semuanya dengan baik. Tolong seseorang sadarkan dirinya. "Pak Riady, saya menghargai niat baik Bapak untuk membantu saya membayarkan semua hutang itu, tapi menikah dengan anak Bapak tentu saya akan menolaknya." Riady sedikit mencondongkan tubuhnya, mengambil cangkir teh miliknya lalu mengesap itu perlahan. "Jangan kamu jawab sekarang. Kamu boleh pikirkan itu nanti." "Mau sekarang atau pun nanti jawaban saya tetap sama!" "Kamu yakin?" Nggak. Sumpah demi apa pun, Aruna sempat tergiur saat mendengar Riady ingin membantunya membayar semua hutang Ayah. Tapi untuk menikah, ia rasa itu sudah kelewatan. Meski bukan dengan lelaki tua, tetap saja Aruna tidak bisa menikah begitu saja hanya karena uang. "Aruna, saya kasih kamu waktu seminggu. Kamu pikirkan tawaran saya baik-baik. Setelah kamu sudah yakin dengan keputusan kamu itu. Kamu bisa datang untuk memberi jawabannya kepada saya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD