Perjodohan

1164 Words
Bagas kesal setengah mati saat ia tidak juga menemukan jawaban tentang rencana Riady dari seseorang di seberang sana. Ia mengacak rambutnya kasar, lalu mengumpat beberapa kali. Beberapa menit yang lalu, ia tidak bisa mengakses kunci apartemennya. Seingat Bagas, semalam ia sudah meminta Papi untuk mengembalikan semua aset miliknya. Tapi hanya mobil yang ia dapat, bahkan itu hanya boleh digunakan untuk pergi ke kantor. "Bilang sama gue, Papi ngerencanain apa?" cecarnya lagi dengan nada tinggi. Sedikit lipatan di dahinya menandakan ia sedang dalam emosi yang buruk. "Saya gak bisa bilang apa-apa, ini perintah Bapak langsung." Jawaban dari lelaki di seberang sana, membuat emosi Bagas semakin berkobar. Ia menggeram, sedikit mengumpat tidak terima. Bagas sangat tahu kalau Papinya saat ini sedang merencanakan sesuatu, dan ia yakin kalau lelaki yang sedang ia hubungi ini mengetahui tentang rencana itu. "Kasih tahu gue, Bay!" ucapnya melemah. "Saya hanya melakukan perintah." "Bayu ... lo tahukan, gue gak suka diatur! Gue suka kebebasan!" Bayu sedikit menghela napasnya di ujung sana. "Turutin perintah Bapak, saya yakin apa pun yang beliau rencanakan itu yang terbaik untuk Pak Bagas." Bagas mendengus kesal, meninju udara dengan kepalan tangan erat. Kenapa Bayu selalu saja mengikuti setiap perintah Papi. Kalau saja lelaki itu tidak sering membantunya, mungkin Bagas sudah memukul lelaki itu dengan penuh emosi. "Gila, ya, Bay. Sekali ini aja lo khianatin Bokap gue gak bisa apa?" "Pak Bagas tahu gimana Bapak, kan? Saya gak mau cari masalah." Bagas cukup tahu, bahkan sangat tahu. Riady memang kejam. Ia harus berhati-hati untuk itu. *** Baru beberapa jam setelah pertemuannya dengan Riady terjadi, Aruna sudah kembali dihadapkan pada masalah baru lagi. Pihak rumah sakit meminta Aruna untuk segera melunasi biaya rumah sakit Ibu. Karena angkanya yang sudah sangat membengkak. Pikiran Aruna mulai terbagi menjadi dua, ia gamang atas keputusannya. Tentu menolak tawaran Riady akan membuat dirinya makin kesulitan. Namun, jika Aruna menerima itu sama saja dengan ia mempermainkan pernikahan. Untuknya menikah itu sekali seumur hidup, memiliki pasangan yang ia cintai dan mencintainya, lalu berbagi kasih sayang dan hidup bahagia sampai maut memisahkan. Bukan karena keterpaksaan untuk sebuah tujuan. "Jadi, bisa dilunasi kapan, Bu?" Suara petugas administrasi di depannya membuat Aruna terhenyak. Ia menatap wanita itu dengan wajah memelas. "Kasih saya waktu seminggu lagi, Mbak." "Tapi ini sudah terlalu banyak, Bu." "Seminggu, Mbak, saya janji akan melunasi semuanya dalam waktu seminggu," pelas Aruna menyedihkan. Petugas wanita itu menghela napasnya pelan, lalu menutup map berisi tagihan biaya rumah sakit Ibu. "Baik, saya tunggu seminggu lagi ya, Bu." Lalu pergi dari ruangan itu, menyisahkan Aruna yang seketika menundukan kepalanya dalam. Ia terpejam sambil memijit pelipisnya pelan. Aruna merenung dalam pejaman matanya. Berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. Berpikir Aruna, berpikir. Pasti ada jalan lain selain menerima tawaran itu. Tapi, sekuat apa pun Aruna berpikir yang ia temui hanyalah jalan pintas yang telah ditawarkan oleh Riady. Sepertinya semesta pun menyetujui itu, karena saat dirinya beranjak dari sana, dan keluar dari ruangan itu. Ia disambut dengan anak buah Burhan. Oh, sial sekali dirinya. "Hai, p***n!" Aruna sontak bergerak mundur, menatap sekeliling dengan wajah ketakutan. Ia ingin meminta pertolongan, tapi takut akan terjadi keributan. "Mau lari kemana lagi lo?" Anak buah Burhan menatapnya bengis. "Bayar hutang atau gue bakalan acak-acak ruangan nyokap lo!" "Jangan!" Aruna semakin ketakutan, bahkan tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya saat ini. "Saya akan bayar, tapi jangan ganggu Ibu saya." "Ya udah mana?" "Seminggu lagi, saya janji seminggu lagi akan saya lunasi." Pria besar di depannya itu berdecih, semakin menyudutkan Aruna pada tembok di belakang tubuhnya. "Nipu aja kan lo! Emangnya elo punya uang dari mana? Udahlah, nikah sama Bos Burhan itu udah paling bagus buat lo!" "Nggak, saya gak mau! Saya pasti bayar kok. Kasih saya waktu seminggu, saya gak bohong." Ya Tuhan, sejak tadi ia tidak berhenti menjanjikan seminggu pada semua orang. Dapat uang sebanyak itu dari mana dirinya? Salah satu pria di depan sana mencengkram rahangnya membuat Aruna meringis, dan keduanya lagi berjaga-jaga di sekitar mereka. "Seminggu, kalo lo gak juga bayar hutang lo! Gue pastiin lo gak punya pilihan lain selain nikah sama Bos gue." "Kalian gak bisa maksa saya!" "Kita bisa nyulik lo, p***n!" Dibuangnya wajah Aruna ke samping, ditinggalkannya sosok itu sendirian dengan wajah pucat dan napas tersengal karena takut. Aruna seketika beringsut jatuh ke atas lantai rumah sakit. Ia menahan diri untuk tidak menangis, meski air mata itu sudah berdesakan ingin keluar. "Ayah, Aruna harus apa?" **** Suasana makan malam yang terjadi di ruang makan keluarga itu terasa begitu hening. Sesekali hanya terdengar suara dentingan yang berasal dari sendok dan garpu yang saling beradu. Semua terasa sangat damai, hingga akhirnya si biang onar datang, suasana makan malam itu mendadak heboh. "Pi! Balikin apartemen aku!" Sekonyong-konyong tanpa salam dan dengan rasa hormat pada kedua orang tuanya, Bagas berteriak nyaring. Membuat Riady yang tidak peduli, memilih sibuk pada makanan di depannya. Tapi respon berbeda ditunjukan oleh Sophie saat anak lelakinya itu datang. "Duduk dulu, Gas. Datang-datang sudah teriak kayak gitu. Emang mau urat leher kamu putus? Kalo putus, nanti gak bisa godain cewek cantik gimana?" ledek wanita tua itu yang sebenarnya tidak terlihat tua karena perawatan dan segala macam perintilan yang ada di tubuhnya. Bagas merengut, tapi tetap mengikuti ucapan sang ibu untuk duduk di meja makan. "Mau makan gak?" tawar Sophie basa basi yang Bagas balas dengan sentakan keras. "Nggak!" Lalu tatapan lelaki itu jatuh pada sang ayah yang masih sibuk memilih daging di atas piringnya. "Pi! Berhenti dulu dong makannya, aku mau ngomong nih." "Ngomong aja, Papi dengerin kok." Bagas segera berpindah, menarik kursi di sebelah Riady dan menatap Papinya lekat-lekat. "Apartemen, Pi, apartemen!" "Kenapa apartemen?" "Balikin aksesnya, aku gak bisa masuk." Riady berhenti sebentar pada makanan di depannya hanya untuk melirik sang anak yang tampak frustrasi. "Terus itu masalah buat Papi?" Oug! Itu menyakitkan sekali. Bagas sampai meraba dadanya, apakah itu berdarah atau tidak. "Pi!" rengeknya. Coba bayangkan kalau semua gadis yang pernah ia goda melihat kelakuan Bagas yang seperti ini, mungkin mereka akan melipir satu persatu. "Pi, kenapa sejahat ini sih sama anak sendiri?" "Rubah kelakuan kamu!" "Aku kenapa? Aku baik-baik aja." Hm ... tidak sadar diri memang bocah ini! Tidak ingatkah pada huru-hara yang selalu ia buat dan berhasil Riady tutupi dari media. Bagas sering mabuk-mabukan di kelab malam hingga harus ada seseorang yang menjemputnya di sana. Bagas pernah berkelahi di dalam kelab malam karena menggoda kekasih orang. Bagas juga pernah dituduh membawa obat-obatan terlarang hingga hampir seluruh media menyiarkan itu. Tapi, karena Riady memiliki uang dan kekuasaan, semuanya berlalu begitu saja hingga publik melupakan kelakuan buruk anaknya. "Udah deh, Papi balikin aja apartemen aku." Kali ini Riady benar-benar meninggalkan makanannya. Ia meneguk sedikit air putih yang ada di atas meja lalu menatap sang anak dengan sorot tajam. "Papi akan balikin." Bagas menyengir kesenangan. "Tapi kamu harus nurutin permintaan Papi." Dan cengirannya itu luntur begitu saja. "Nurutin apa, Pi?" Mami Sophie yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan obrolan ayah dan anak di depannya itu akhirnya ikut angkat suara. "Papi mau kamu nikah sama perempuan pilihan Papi." "Ha?" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD