Pertemuan

1056 Words
"Ha?" Detik itu juga bukan hanya Bagas yang terkejut, Mami Sophie yang tidak tahu menahu tentang apa pun rencana sang suami ikut rerkejut. "Papi!" kesal Bagas. "Papi sudah memilihkan gadis yang baik untuk kamu, gadis yang pasti bisa merubah gaya hidup kamu." Meski Aruna belum menyetujui, tapi Riady yakin gadis itu akan datang padanya. "Ihh, Papi! Apa-apaan sih?" Mami ikutan protes. "Perempuan mana yang Papi pilih buat Bagas?" "Anak temen Papi, cantik dan juga pintar." Bagas meradang, menatap sang Papi dengan rahang mengetat. Jujur saja, kata-kata Riady barusan bagaikan petir di siang bolong. Ia merasa bukan anak kecil lagi yang bisa diatur begitu saja, dan calon istri? Menikah saja tidak pernah terlintas di dalam pikirannya. "Aku gak mau!" ucapnya tegas. "Terserah!" Riady menyingkirkan piring kosongnya ke depan. "Kalo kamu mau hidup miskin dan susah, Papi gak masalah." Astaga! Papinya ini benar-benar kejam. "Pi, aku kan udah pernah bilang kalo aku gak mau nikah." "Ya udah kalo gitu," sahut Riady enteng. Beliau bahkan meminum air putihnya dengan gerakan santai. "Papi berhak mencoret kamu dari daftar ahli waris, Papi juga akan mencabut semua fasilitas yang kamu dapat selama ini," ancamnya. "Kamu hanya memiliki gaji dari pekerjaan kamu, yang sebentar lagi akan digantikan." "Diganti?" "Iya, Papi juga akan memecat kamu. Papi gak butuh pemimpin yang tidak kompeten!" Mami tak kuasa untuk membuka matanya lebar-lebar. Mami tahu kalau sang suami memang sangat keras kepala, tapi ia juga tidak ingin anaknya itu jadi gelandangan kalau semua fasilitas miliknya ditarik. Bagaimana anak itu akan hidup? Jelas Mami tahu seperti apa sifat Bagas. "Papi ngancem? Silahkan, aku gak butuh itu semua! Aku bisa kok cari kerjaan lain!" Bagas lantas pergi begitu saja dari ruangan itu dan membuat Mami memucat. "Papi! ini bercanda, kan? Mami gak setuju loh kalo Papi jodohin Bagas." "Papi gak butuh persetujuan Mami!" Riady kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia tampak menghubungi seseorang di seberang sana. "Bayu ... tarik semua fasilitas yang Bagas punya, dan hapus jabatannya di perusahaan!" *** Aruna memijat telapak tangannya berulang-ulang, berusaha menghalau rasa gugup akibat duduk di dalam ruangan miliki konglomerat nomor satu, Riady Muchtar Wijaya. Tepat sehari setelah pertemuan pertama mereka, Aruna memutuskan datang untuk memenuhi permintaan pria tua itu atas tawarannya yang cukup mengejutkan sekaligus menggiurkan. Tidak tahu baik atau buruk, tepat atau keliru, yang jelas membayar hutang Ayah dan biaya rumah sakit Ibu adalah prioritasnya saat ini. Tidak peduli dengan masa depannya, mungkin Riady benar, cinta bisa datang karena terbiasa, dan yang menjadi pertanyaannya adalah, apa mungkin Aruna bisa terbiasa? "Hai, Run." Pintu ruangan itu terbuka, menampakan wajah hangat yang mulai menua. "Apa kabar?" Aruna berdiri, menjabat tangan Riady dan membalas sapaan itu dengan senyum kaku. "Baik, Pak." Jelas saja kaku, ia masih merasa ini semua seperti mimpi—atau prank yang dilakukan Riady untuknya. Sehari memang tidak cukup untuk Aruna mencerna semua permintaan bapak tua itu, tapi menunggu selama seminggu pun ia tidak bisa. "Silahkan duduk." Riady memintanya untuk kembali duduk. Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu menatapnya dengan yakin, yakin kalau Aruna akan memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginanya. "Santai aja loh, Run, kok tegang gitu mukanya. Anggap aja lagi ngomong sama Ayah kamu." Iya, anggap saja seperti itu. Ayah mertua? Mungkin sebentar lagi. "Gimana? Udah yakin mau jawab apa?" tanyanya diselingi senyum tipis Aruna meremas jari tangannya yang saling tertaut di atas dress selututnya. Beberapa kali ia menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia tatap wajah Riady dengan raut keputusasaan. "Saya gak punya pilihan lain, kan?" "Hm ... ya." "Kalau begitu Bapak sudah tahu jawabannya," ujar Aruna tanpa perlu memperjelas. Riady tersenyum lebar. "Saya senang mendengar itu." Maksudnya senang di atas penderitaan saya? "Maaf Aruna, saya tidak pernah berniat untuk memanfaatkan keadaan kamu, tapi saya juga tidak punya pilihan lain selain menjadikan kamu sebagai menantu saya." "Bisa jelaskan kenapa Bapak ingin sekali menjadikan saya menantu?" "Karena kamu Aruna." Itu bukan jawaban yang ia inginkan sama sekali. "Dan saya yakin kamu bisa menaklukan anak saya." Aruna semakin merinding. Ia sempat mencari siapa sosok anak dari Riady Muchtar. Namanya Ziedan Bagas, tapi biasa dipanggil Bagas. Penggemar kelab malam, hura-hura dan pesta. Bukan tipenya sama sekali. Tapi yang ia syukuri, Bagas bukan lelaki uzur bau tanah yang sebentar lagi akan mati. "Tapi, bagaimana dengan anak Bapak?" Belum sempat pertanyaan itu terjawab, terdengar suara gaduh dari luar ruangan, membuat keduanya menoleh pada ambang pintu yang kini sudah terbuka lebar. "Maaf, Pak, tadi—" Riady segera memberi isyarat pada sekertarisnya untuk keluar, membiarkan sosok dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah menahan emosi itu masuk ke dalam ruangannya. "Apa maksud Papi nyuruh semua perusahaan untuk nolak aku kerja di tempat mereka?" Tanpa memperdulikan apa itu sopan santun, Bagas berujar demikian, menyentak kasar pada sang ayah. "Papi mau bikin aku mati?" "Loh, tapi kamu masih hidup, kan?" balas Riady santai. "Pih!" Bagas mengusap wajahnya, menatap Riady tidak mau kalah. "Tolong jangan gini!" "Papi cuma berusaha memberikan yang terbaik buat kamu?" "Apa yang terbaik, apa?" teriakan itu secara tidak langsung membuat perempuan muda yang sedang duduk di atas sofa berjengit takut. "Aku gak mau nikah sama perempuan pilihan Papi!" Saya juga gak mau! Tanpa sadar Aruna bergumam seperti itu di tempatnya. "Papi gak minta persetujuan kamu." Lagi-lagi Bagas menggeram kesal. Kalau tidak ingat yang berada di depannya ini adalah Papinya, sudah sejak tadi Bagas mengeluarkan umpatannya. "Aku masih 27 tahun, Pi, masih muda, aku masih mau bersenang-senang. Kenapa sih, Papi harus maksa aku nikah? Lagi juga aku—" "Papi gak mau denger penolakan apa pun dari kamu." Riady memutus kalimat Bagas begitu saja, membuat anaknya itu menggeram kesal. "Berhubung kamu udah ada di sini meskipun gak Papi undang, Papi mau ngenalin kamu sama seseorang." Bagas melongo takjub. Papinya itu benar-benar keras kepala, menjengkelkan, dan tidak mau kalah, bahkan dengan anaknya sendiri. "Kenalin, ini Aruna." Masih dengan emosi yang belum hilang, Bagas menoleh pada sosok cantik dan manis yang sejak tadi hanya terdiam sembari menyaksikan pertengkaran mereka, sedang menatap ke arahnya. "Aruna, ini Bagas, anak saya." Mata mereka bertemu. Bagas menatap tajam ke arah Aruna. Kilat amarah yang tadi terpancar jelas keluar dari sorot matanya perlahan hilang, dan digantikan dengan kerjapan pelan. Aruna beranjak dari duduknya, tersenyum ke arah Bagas dengan sorot mata yang masih memandang satu sama lain. Ia menjulurkan tangannya. "Apa kabar Bagas ... saya Aruna." **** Kata Anna : Eciyee, ketemu juga mereka Komen nyookk yang rameee
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD