Syarat dan Ketentuan Berlaku

1163 Words
Di sebuah restoran yang terlihat sangat sepi itu, Bagas dan Aruna memilih untuk duduk di sudut restoran yang jarang terjangkau oleh pelanggan lainnya. Aruna terdiam, melirik ke arah Bagas sambil sesekali mengesap minumannya. Canggung, itulah yang pertama kali Aruna rasakan. Ia tidak berhenti mencengkram dress selututnya ketika Bagas menatapnya tanpa putus. Sejak mereka tiba, Bagas tidak lepas memandanginya, seolah dari tatapannya itu ia bisa menguliti Aruna. "Kenapa elo mau dinikahin sama gue?" Bagas yang pertama kali memecah keheningan itu. Ia juga mengintrupsi kegiatan Aruna yang sejak tadi tidak berhenti meremas dressnya. "Kenapa tanya gitu?" Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan Bagas kesal sekali rasanya. Ia mendengkus keras sembari mencondongkan tubuhnya ke depan. "Karena gue mau nanya!" semburnya jengkel. Aruna memberi tatapan tidak peduli. "Saya gak bisa jawab." "Kenapa?" "Karena saya gak mau jawab." Kedua mata Bagas terpejam erat. Sialan! Tidak bisa kah ia mendapatkan kedamaian dari orang-orang yang ia temui hari ini. Setelah Papi, ternyata ada yang lebih menjengkelkan lagi. "Jawab aja sih apa susahnya!" Bagas kembali menegakkan tubuhnya, duduk dengan tangan terlipat di depan d**a. "Pasti bokap gue nyogok lo, kan?" Aruna menaikan kedua alisnya bersamaan. "Nyogok?" "Iya! Lo pasti mau dinikahin sama gue karena uang kan? Lo punya hutang kan?" tebak Bagas yang sontak membuat Aruna membelalak. "Kok kamu tahu?" Gotcha! Hanya dipancing sedikit saja Aruna sudah kena jebakannya. Padahal Bagas hanya berujar asal, karena seperti drama-drama pada umumnya, seorang gadis menerima dinikahkan karena uang. Ck, mudah sekali tertebak. "Kelihatan dari tampang lo," Bagas menatap Aruna dengan senyum meledek. "Bokap gue emang berengsek." "Jangan bilang seperti itu, Pak Riady itu ayah kamu." "Biarin, dia gak denger ini." Aruna menggeleng tidak habis pikir. Jadi ini yang Riady bilang menaklukan anaknya. Meski hidup selamanya dengan Bagas pun Aruna yakin tidak akan bisa menaklukan lelaki itu. "Jadi mau lo gimana?" "Menikah sama kamu," jawab Aruna cepat dan yakin. Biarlah, ia sudah terlajur tercebur sekalian saja main basah-basahan. "Lo yakin?" "Saya yakin karena saya harus membayar hutang Ayah." Bagas tertawa nyaring. "Sorry ya, tapi gue gak bisa nikah sama lo." "Kenapa?" "Kenapa gue harus nikah sama lo?" Aruna mulai hilang kesabaran, pantas Riady ingin menikahkan lelaki konyol dan tengil ini dengan dirinya. Ia yang memiliki kesabaran di atas rata-rata saja bisa merasa kesal, apalagi perempuan lain? "Saya tahu, kamu juga butuh fasilitas penunjang kehidupan kamu. Pekerjaan dan juga tempat tinggal. Kamu juga butuh bersenang-senang. Jadi tidak ada alasan untuk kamu menolak pernikahan ini." Benar. Kalimat Aruna tepat sasaran sekali. Ia butuh semua itu, ia butuh kekuasaan dan juga kebebasan. "Gimana?" tanya Aruna, sedikit mendesak. Bagas mengedik seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Gue butuh waktu buat berpikir." "Saya tunggu." Aruna melihat jam di tangannya. "Lima belas menit cukup?" Bagas langsung terhenyak dari sandaran kursinya dan mengerjap dengan kedipan mata cepat. Apa yang ada di pikiran wanita ini? Lima belas menit? "Maksud lo, gue harus jawab saat ini juga?" "Iya, semakin cepat semakin baik, bukan? Saya butuh persetujuan kamu untuk menikah agar hutang Ayah saya segera terbayarkan." "Busetttt ... ngebet banget lo mau nikah sama gue." "Kalo bukan karena keluarga saya, saya gak akan mau nikah sama kamu." Bagas terperangah dengan bibir terbuka lebar. "Lo pikir gue-" "Sepuluh menit lagi," potong Aruna. "Waktu kamu tinggal sepuluh menit lagi." "Gila lo, ya?" "Bagas, saya butuh kamu dan kamu juga butuh saya? Hanya sesimple itu. Jadi saya mohon, terima pernikahan ini." Bagas bergeming. Lelaki itu memandang lurus ke arah Aruna dengan raut wajah yang sulit ditebak. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja dan bibirnya terlipat ke dalam. "Gini deh ...," Aruna memfokuskan seluruh perhatiannya pada Bagas. "Kita kan saling membutuhkan, semacam ... simbiosis mutualisme. Nah, alangkah lebih baiknya kalo kita bekerja sama buat ngelawan si Riady." "Pak Riady ayah kamu, Bagas." "Iya, gue tahu. Satu Indonesia juga tahu dia bokap gue. Tapi yang jadi masalahnya, akhir-akhir ini dia kayak monster! Nyeremin, gue gak akan bisa ngelawan dia sendirian." "Saya serius!" Tuhan tolong berikan Aruna kesabaran ekstra dalam menghadapi lelaki di depannya ini. "Gue juga serius!" "Jadi apa pilihan kamu?" "Perjanjian." "Ya?" Kening Aruna refleks terlipat dalam. Ia mengerjap beberapa kali demi mencerna ucapan Bagas barusan. "Perjanjian apa maksudnya?" "Kita nikah, tapi dengan syarat dan ketentuan berlaku." "Maksud kamu??" Lagi-lagi Aruna dibuat tidak mengerti dengan lelaki di depannya ini. "Dengerin gue," Bagas melirik ke sekeliling mereka dengan was-was, sebelum kemudian memajukan tubuhnya dan meminta Aruna untuk melakukan hal yang sama. Bagas lalu berbisik, "kita nikah dengan batas waktu ... elo gak mau kan terjebak sama gue seumur hidup lo?" "Memang ... tapi saya gak ngerti maksud kamu." Bagas berdecak. Lemot sekali sih otaknya gadis ini. "Setahun, kita nikah selama setahun." Membelalak kaget, Aruna menegakan tubuhnya kembali. "Jadi maksud kamphmm-" "Ssttt ...." Bagas segera membekap bibirnya sebelum kalimat yang akan keluar nanti dapat menimbulkan masalah baru. "Jangan berisik, mata-mata bokap gue ada dimana-mana." Aruna seketika langsung terdiam. Matanya melirik ke segala arah dengan telapak tangan Bagas yang masih membekap bibirnya. "Hmpm..." bola mata Aruna turun menunjuk bibirnya. Seketika itu juga Bagas baru sadar kalau ia masih membekap bibir Aruna dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat. Mendadak ia menjadi salah tingkah. Bagas lantas berdehem untuk menyamarkan itu. "Jadi maksud kamu kita nikah kontrak?" Aruna bertanya setelah bekapan itu terlepas. "Kita gak beneran nikah?" "Ya beneran, tapi itu tadi, ada syarat dan ketentuannya." Aruna bergeming dengan kedua alis terangkat tinggi. Syarat dan ketentuan? "Kamu pikir pernikahan kita itu semacam gratis nelepon ke sesama operator?" *Syarat dan ketentuan berlaku. Kedua bola mata Bagas berputar jengah. ia menggeleng pelan dengan helaan napas kasar. Tumben sekali ia masih bisa menahan emosinya sampai saat ini, padahal sejak awal mereka berbicara, Aruna sudah melemparkan bendera perang padanya. "Siapa nama lo tadi?" tanya Bagas. "Aruna, kamu bisa panggil saya Runa." "Oke ... Aruna, dengerin gue." Lagi, Bagas memajukan tubuhnya, membuat Aruna mengambil jarak mundur. "Deketan sini!" Sebelum mendekat, Aruna sempat memicik dan mecebikan bibirnya, seolah Bagas adalah penjahat yang harus ia curigai. "Gue mau buat perjanjian sama lo, perjanjian pernikahan. Gue gak cinta sama lo, dan gue yakin lo juga gak cinta sama gue, kecuali kalo lo terbiasa jatuh cinta ...." "Saya gak cinta sama kamu." ".... pada pandangan pertama, jadi begitu tujuan kita udah sama-sama tercapai, gue mau kita berpisah." "Cerai?" "Nah, bener banget!" Bagas menjentikan jarinya seraya menegakan tubuh kembali. Begitu pun dengan Aruna. Gadis itu terlihat memainkan bibirnya sambil menggerak-gerakan kakinya di bawah meja, kebiasaannya ketika sedang berpikir keras. "Gimana?" "Kamu benar-benar tidak waras ya?" Bola mata Bagas berputar malas. "Iya ... tapi lebih gak waras elo! Udah tahu gue gak mau nikah malah dipaksa nikah." "Pernikahan kita juga buat keuntungan kamu." "Ya maka itu, ayo kita kerja sama." Ya Tuhan, Aruna minta maaf kalau ia semakin mempermainkan pernikahan ini. Tapi Aruna tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui usulan Bagas. "Tapi ... ini rahasia kan? Ibu saya gak akan tahu?" "Pastinya dong." Bagas bersidekap dengan santai, tidak lupa menambahkan seringai di wajahnya. "Bokap gue juga gak boleh tahu tentang perjanjian kita. Cuma ada lo sama gue, gak ada orang ketiga. Ngerti kan?" Aruna mengangguk. "Iya, saya ngerti." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD