"Gimana Aruna?"
Riady bertanya demikian pada sang anak yang kini sedang berbaring di atas sofa ruangannya dengan tangan sibuk memainkan game yang ada di dalam ponsel.
"Gak gimana-mana," jawab anak itu dengan santai dan masih sibuk memainkan ponselnya, seolah tidak peduli dengan eksistensi sang ayah yang menatapnya garang.
Anak itu ... ya ampun. Jika dilihat dengan seksama, Bagas memang bertolak belakang sekali dengan Riady yang tegas dan berwibawa. Kalau orang lain yang tidak mengenal mereka mungkin menganggap Bagas bukanlah anak Riady.
"Gas!"
Bagas mendengkus, memutar kedua bola matanya malas. "Ya emang mau gimana sih, Pi? Tadi juga cuma ngobrol."
"Ngobrolin apa?"
"Banyak."
"Salah satunya?"
Heuh! Bagas berdecak dalam hati. Kalau tidak mengingat lelaki tua yang sedang menginterogasinya itu adalalah sumber kekayaannya, mungkin Bagas sudah meninggalkan ruangan ini sejak tadi.
"Ngomongin, mau malam pertama pake gaya apa," jawabnya nyeleneh.
Riady menghela dengan gelengan kepala pelan. Ia kemudian menutup dokumen yang ada di depannya seraya memangku tangan di depan bibir.
"Jadi kamu terima nikah sama Aruna?"
"Hem,"
"Kenapa?"
Anak laki-laki itu kembali mendengkus. "Kan Papi yang minta."
"Kamu gak lagi ngerencanain sesuatu, kan?" tanya Riady curiga. Ia cukup tahu seperti apa perangai sang anak. Sangat mencurigakan jika tiba-tiba saja Bagas menerima pernikahan itu sedangkan sejak awal ia menolaknya mentah-mentah. Atau setidaknya Riady kira Bagas tidak akan menyerah secepat ini.
"Apaan sih, Pi ... ya enggaklah," elaknya.
"Gas ... Papi kenal kamu, gak mungkin secepat itu kamu memutuskan untuk menikah sama Aruna. Apa yang kamu rencanain?"
Refleks tangan Bagas yang sedang aktif menekan layar ponsel mendadak berhenti. Ia memutar bola matanya untuk berpikir cepat. "Gak ngerencanain apa-apa, tadi aku cuma minta sama Aruna untuk kasih aku waktu, ya ... biar kita sama-sama cinta dulu."
Riady mengernyit tidak percaya. Lelaki tua itu masih memandangi anaknya dari meja kerjanya. Satu kesamaan yang mereka punya, yaitu sama-sama licik.
"Kamu gak akan keluyuran malam-malam lagi, kan?"
Sontak tubuh Bagas menegang kaku, napasnya mendadak tercekat. Ia tahu maksud sang ayah apa. Pasti kebiasaannya yang gemar keluar masuk kelab malam.
"Nggak, Pi," bohongnya. Astaga, bahkan semalam ia baru meminjam uang Cakra untuk bersenang-senang di sana.
"Beneran?"
"—ya bener lah, Pi."
"Inget ya, Gas, kamu nyakitin Aruna, gak akan sepeser pun harta Papi jatuh ke tangan kamu."
Detik itu juga Bagas membelalak. ia berjengit dari baringannya dan terduduk kaget. "Pi ... kok, gitu banget? Kenapa aku gak dapet harta Papi? Emangnya aku bukan anak Papi?"
Riady mengedik. "Bukan, Papi pungut kayaknya."
"Pi ... wah tega sih ini." Anak laki-lakinya itu berdiri, menghampiri dan berhenti tepat di depan meja kerjanya. "Kenapa harus gitu?"
"Biar kamu gak ngerencanain hal-hal aneh ... inget, Gas, Papi tahu semua gerak gerik kamu."
"Astaga ... Aku gak ngerencanain apa-apa, Pi. Kenapa Papi gak percayaan banget?!" dengus Bagas yang kesal. Bisa mampus ia kalau tidak mendapatkan harta Riady. Bukankah itu tujuannya mau menikahi Aruna.
"Papi akan percaya kalo kamu udah nikah sama Aruna, kalo sekarang Papi masih ragu."
"Ya elah, Pi ... Papi boleh gak percaya sama aku, tapi gak mungkin kan Papi gak percaya sama Aruna? Lagian cewek polos kayak Aruna mana mau sih aku ajakin macem-macem."
Riady menaikan pandangannya, menatap sang anak yang juga menatap ke arahnya dengan sorot mata memohon.
"Yaa ... lihat aja nanti, kalo Papi bisa lihat keseriusan kamu sama Aruna, Papi bakal pikir ulang."
Bagas menggeram dalam hati. Benarkan, Papinya itu memang bukan orang sembarangan. Ia bisa mengetahui dengan mudah apa yang ada di dalam kepalanya.
"Tapi hari ini aku udah bisa pulang ke apartemen, kan? Udah bisa bawa mobil juga?"
Riady tampak berpikir sebentar, melipat bibirnya untuk meledek sang anak. "Kalo kamu serius mau nikah sama Aruna, Papi izinin kamu bawa mobil."
Bagas membelalak lebar. "Astaga dragoooooonnnnnn ...."
***
Aruna memutuskan untuk datang ke rumah sakit setelah pertemuannya dengan Riady berjalan lancar, meski tadi ada beberapa kekacauan akibat Bagas yang masuk ke dalam ruangan secara mendadak, dan berakhir dengan mereka yang duduk berdua di dalam Coffee Shop.
Memikirkan percakapan mereka tadi membuat Aruna merinding. Astaga, perjanjian pernikahan? Aruna tidak pernah terpikir untuk melakukan itu. Benar-benar gila. Apa sih yang ada di dalam kepala Bagas sampai lelaki itu bisa memikirkan hal tersebut. Aruna rasanya masih sulit mencerna semuanya.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Aruna setelah masuk ke dalam ruang rawat inap Ibu, lalu menghambur memeluk Ibu yang sedang berbaring. "Gimana keadaan Ibu?" Kemudian mengambil duduk di sebelah ranjang.
"Sudah lebih baik," balas wanita itu. "Gimana kabar kamu seharian ini?"
Buruk.
Aruna langsung memaksakan senyumnya. "Baik, Bu," ujarnya, berusaha memulai kebohongan yang akan ia rangkai.
"Kata suster hari ini kamu udah lunasin biaya rumah sakit?"
Sontak wajah Aruna menegang. Senyuman yang tadi ia paksakan mendadak menjadi kaku. Astaga, ia lupa bagian ini. "Hm ... iya, hari ini aku dapet pinjaman, Bu."
Dahi Ibu sedikit mengernyit. "Pinjaman dari mana?"
"Dari teman Ayah. Katanya aku boleh nyicil bayarnya," kilah Aruna penuh kebohongan.
Ibu menatap wajah sang putri lekat-lekat. Bukannya merasa senang, Ibu malah memberikan respon tidak percaya.
"Ibu kok gitu mukanya?" tanya Aruna takut-takut.
Ibu masih terdiam, tidak menunjukan ekspresi apa pun.
"Ibu gak suka?"
"Bukan itu ... Ibu cuma nggak nyangka aja? Waktu itu kamu bilang temen Ayah gak ada yang mau bantu kita, tapi tiba-tiba kamu dapat pinjaman, terus boleh nyicil lagi bayarnya."
Aruna gelagapan. Ia mengerjap beberapa kali. "—yaaa, mungkin karena temen Ayah ini kasihan sama kita, Bu."
"Dengan meminjamkan uang sebanyak itu?" Ibu bertanya dengan alis terangkat.
Ya Tuhan, Aruna minta maaf kalau harus berbohong lagi hari ini, tapi ia benar-benar tidak punya pilihan lain.
"Run ... ada yang kamu sembunyiin dari Ibu?"
Lagi-lagi Aruna terhenyak dengan wajah gelagapan. Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya itu. "Nggak kok,"
"Jangan bohong," desak Ibu.
Tapi ia sudah terlanjur berbohong.
Bingung, itulah yang Aruna rasa saat ini. Mau bagaimana lagi, Ibu juga pasti akan tahu tentang hubungannya dengan Bagas nanti. Lebih baik Aruna katakan saja sekarang. Biarlah apa pun yang terjadi nantinya itu akan menjadi tanggung jawab Bagas.
"Bu ...."
"Hm?"
"Aku mau jujur."
Wajah Ibu mendadak kaku. Beliau menatap Aruna dengan ekspresi curiga dan seolah menyadari itu, Aruna kembali membuka suaranya.
"Sebenarnya .... sebenernya ini karena Bagas."
"Bagas?" Kening Ibu berkerut, tak paham. "Siapa Bagas?"
"Bagas ... anak temannya Ayah."
"Temen Ayah yang kasih kamu pinjaman uang?" Aruna mengangguk dua kali. Ia masih bungkam membuat Ibu semakin bingung. "Ada apa sih, Run?"
Menggigit bibir bawahnya gugup, Aruna kemudian berujar takut-takut. "Ibu ... aku sebenarnya pacaran sama Bagas dan yang bayarin semua biaya rumah sakit sebenarnya Bagas."
Kedua bola mata Ibu yang sudah terbuka kini semakin terbuka lebar bersama kedua alisnya yang terangkat ke atas. Wanita tua itu tercengang kaget. "Kamu pacaran?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, Bu."
"Beneran? Kenapa gak pernah cerita sama Ibu?" Masih tidak percaya, Ibu kembali melemparkan pertanyaan pada Aruna. "Run, gimana kamu bisa kenal Bagas? Dimana?"
Aduh, demi apa pun, Aruna terpaksa mengatakan itu. Bahkan Aruna belum membicarakan ini pada Bagas, dan mereka pun belum menentukan kesepakatan perjanjian pernikahan itu.
"Hm—aku ... aku," matanya berputar gugup. "Aku ketemu Bagas di-kampus."
"Kampus kamu?"
"Iya ..." terdiam untuk berpikir lagi. "Bagas pernah jadi narasumber di kampus aku."
Ibu tidak menyangka. Setahu beliau, Aruna jarang sekali keluar rumah, tidak pernah dekat dengan laki-laki. Tapi tiba-tiba saja Aruna membawa kabar kalau anak gadis itu memiliki kekasih. "Sejak kapan kalian pacaran?"
Sejak kapan? Duh ... otak Aruna mendadak konslet. Tidak mungkin kan ia mengatakan sejak hari ini? Oh, bahkan mereka tidak merencanakan itu.
"Satu bulan yang lalu."
"Satu bulan?" Ibu berseru kaget. "Udah selama itu dan kamu baru bilang sekarang sama Ibu?"
"Aku minta maaf, Bu. Tadinya aku mau kenalin Ibu sama Bagas, tapi kan keadaan kita lagi kayak gini, jadi aku pikir belum saatnya."
Ya Tuhan, sejak kapan Aruna jadi pintar berbohong? Apa mungkin berbicara dengan Bagas selama dua puluh menit di dalam Coffee Shop dapat membuatnya tertular virus berbohong?
"Run ...."
Ia terhenyak gelagapan. "—iya, Bu?"
"Kamu serius sama Bagas?"
"Hm ... ya," jawabnya ragu-ragu.
Ibu menghela napas pelan, meraih telapak tangan Aruna untuk ia genggam. "Anak gadis Ibu ternyata sudah besar, ya? sudah mengenal laki-laki," ujarnya dengan senyuman, ada binar bahagia yang terpancar dari sorot mata Ibu.
Melihat itu, malah membuat perasaan Aruna menjadi sangat buruk. Maafin aku ya, Bu.
"Bawa Bagas ketemu Ibu secepatnya ya, Run. Ibu harus kenal sama laki-laki yang anak Ibu cinta, Ibu juga harus berterima kasih sama Bagas secara langsung."
Terkutuklah segala kebohongan yang sudah ia lakukan. Aruna tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kebohongan ini benar-benar menjeratnya pada rasa bersalah yang besar. Aruna hanya berdoa semoga Tuhan tidak murka setelah ini.
"Iya, Bu."
****