Sudah tiga minggu Aruna mengabdikan diri sebagai seorang asisten pribadi dari seorang Direktur PT. Bangun Negara, segala seluk beluk perusahaan itu dan semua tentang Danish sudah ia pelajari. Beberapa hal yang tidak Danish suka, apa yang ia suka, lalu kebiasaan lelaki itu saat pagi hari, Aruna sudah hafal di luar kepala.
Menjadi asisten pribadi lelaki itu sebenarnya tidak susah, Aruna beruntung karena Shafa membantunya, pun Danish yang tidak terlalu menyusahkannya dalam meminta apa pun.
Meski terkesan dingin dan galak, tapi Danish adalah tipe atasan yang selalu menghargai karyawannya. Kesalahan besar yang Aruna lakukan pun Danish tidak pernah sampai membentaknya. Seperti halnya saat Aruna salah memesan makan siang untuk lelaki itu, Danish tidak masalah dan tetap memakan makan siang yang telah ia siapkan.
Berbeda sekali dengan Bagas yang selalu semena-mena pada bawahan, selalu kasar dan menyebalkan. Coba kalau lelaki itu yang Aruna layani, mungkin ia sudah mengundurkan diri.
Ngomong-ngomong tentang Bagas, tiga minggu ini mereka bertemu hanya sekali, itu pun saat Ibu keluar dari rumah sakit. Entah bagaimana bisa, tiba-tiba saja Bagas ada di sana, ia dengan lantang mengatakan ingin menjemput Ibu pulang.
Tentu Ibu sangat tersanjung, sangat tersentuh dengan perlakuan lelaki itu, tanpa tahu kalau Bagas melakukannya karena sesuatu. Bagas memang pintar sekali berbicara, mirip seperti tukang obat. Menggombal dan merayu sepertinya sudah menjadi keahlian lelaki itu.
Duh, kenapa Aruna harus mengingat Bagas sih?
Ck, buang-buang waktu saja.
Sudahlah, lupakan Bagas. Sekarang Aruna harusnya bersyukur karena memiliki atasan seperti Danish yang baik dan menghargainya, pun dengan karyawan yang lain.
Tiga minggu bekerja di sana membuat Aruna cepat akrab dengan karyawan yang lain. Di lantai sepuluh tempat ia bekerja, memang tidak banyak karyawan yang beroperasional, hanya beberapa Asisten Pribadi dan Sekertaris dari petinggi perusahaan lainnya, begitu juga dengan petugas kebersihan. Karena tidak terlalu banyak jadi Aruna mudah beradaptasi.
"Run." Aruna menoleh saat Shafa memanggilnya dari meja kerja wanita itu.
"Iya, Mbak?"
"Ini jadwal Bapak buat besok ya. Kamu pelajari jangan sampe salah. Kalo ada pertemuan yang Bapak gak bisa hadirin, kamu harus langsung konfirmasi, kalo masih bingung tanya saya aja."
Aruna mengangguk paham, beranjak sedikit untuk menerima uluran kertas dari tangan Shafa. "Iya, Mbak. Semoga gak ada salah lagi, Mbak," jawabnya.
Shafa menanggapi dengan anggukan kepala. "Kamu nanti makan siang dimana, Run?"
"Di sini aja, Mbak, saya bawa bekel," jawab Aruna seraya duduk kembali ke kursinya. Diletakan kertas itu ke atas meja, lalu membuka notebook untuk menyalinnya.
"Kayaknya kamu sekarang bawa bekel terus ya, Run?" Shafa bertanya seraya mengotak atik ponselnya. "Enak kalo bisa masak. Bisa bawa makan sendiri, gak harus ke bawah. Belum lagi harus antri."
Ya, benar. Beruntung Aruna bisa memasak meski tidak begitu hebat. Hitung-hitung mengirit uang untuk makan. Kantin di gedung ini harganya lumayan mahal karena mereka menarik harga kantoran. Di banding jajan di luar, Aruna lebih memilih untuk memasak.
"Hm, ya lumayan juga, Mbak, kalo bawa makan, bisa irit," jawabnya tersenyum.
Shafa menyetujui itu. Mereka lantas kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga Shafa teringat sesuatu. "Kamu udah pesan makan siang buat Bapak, Run?"
"Belom, Mbak. Nanti saya tanya sekalian bawa berkas meeting ke ruangannya."
"Ohh ...." Shafa membalas dengan anggukan kepala, sebelum kemudian kembali pada layar laptop di depannya.
Sesaat Aruna sedang sibuk membaca jadwal yang Shafa berikan tadi, tiba-tiba telepon intercom di depannya berdering. Aruna tahu telepon itu berdering hanya saat Direktur memanggilnya. Jadi, sudah dipastikan itu adalah panggilan dari Danish yang berada di dalam ruangan lelaki itu.
"Iya, Pak," jawab Aruna sopan setelah panggilan itu terangkat olehnya.
"Ke ruangan saya." titah Danish.
Aruna mengangguk tanpa sadar. "Baik, Pak."
Dan begitu terputus, Aruna bergegas masuk ke dalam ruangan Danish. Dilihatnya lelaki itu yang sedang tampak serius membaca beberapa dokumen di atas meja.
"Ada apa, Pak?"
Danish mengangkat kepalanya, mengamati Aruna dari atas sampai bawah dan tanpa ekspresi yang berarti. Pakaian gadis itu sudah berubah, bukan lagi yang kemarin. "Temani saya makan siang hari ini," ujarnya.
Aruna segera menyanggupi. "Mau saya reservasi, Pak? Bapak mau makan dimana? Untuk berapa orang?"
"Dua saja, saya sama kamu."
"Ya?"
Sontak Aruna tersentak, ia tentu kaget. Matanya melebar dengan wajah bingung. Hal itu justru diamati oleh Danish. Tiga minggu bekerja dan dilayani oleh Aruna membuat Danish sangat hafal kebiasaan gadis itu.
Aruna akan memekik dengan raut kaget setiap ia mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti. Lalu gadis itu akan menggigit bibirnya saat melakukan kesalahan, dan akan menggerakan kaki saat sedang gelisah.
Persis seperti saat ini.
Danish tebak, Aruna pasti akan gelagapan dengan wajah memerah, lalu bibirnya akan digigit gelisah. Ia sudah hafal dengan gerak gerik gadis itu, menggemaskan dan lucu.
"Kenapa?"
"Ga—gak, Pak," jawab Aruna terbata, lalu menggigit bibirnya—Danish tersenyum diam-diam. "Em ... ini kita berdua aja, Pak? Bapak gak sama temen atau siapa gitu?"
"Nggak. Kenapa? Kamu gak mau?"
"Gak, Pak, gak gitu." Aruna langsung menjawab cepat. Matanya bergerak ke segala arah. Ia gugup. Kalau boleh jujur, Aruna terlalu bingung menggambarkan perasaannya saat ini, ia sangat terkejut.
"Jadi?"
"Baik, Pak, saya mau."
Daripada dipecat, kan?
Danish yang sudah menebak gelagat Aruna lantas tekekeh, ia menyamarkan itu dengan kembali menundukan wajah dan menatap berkas-berkas di atas meja. "Kalau gitu sekarang kamu reservasi meja di restoran OKKI, untuk dua orang."
"Ba—baik, Pak."
Setelahnya Aruna keluar dari ruangan itu—dengan wajah yang masih terkejut. Shafa yang melihat itu bertanya bingung. "Dipanggil kenapa?"
Lalu ia terkesiap, mengerjap gugup dan menatap Shafa dengan bingung. "O—oh, itu ... Bapak minta ditemenin nanti."
"Ada janji dia sama temennya?"
"Ka—yaknya gitu, Mbak." Dan Aruna kembali berbohong. Semua ia lakukan agar tidak ada omongan tidak enak perihal dirinya dan sang atasan.
"Tumben, dadakan banget. Untung gak ada jadwal meeting saka klien," gumam Shafa.
Aruna menelan salivanya kelat, menggerakan matanya ke segala arah. "Mungkin udah janjian dari kemarin, Mbak, cuma Bapak aja yang gak bilang."
Oh, hebat sekali ia merangkai kebohongan. Apa Aruna mulai handal melakukan itu? Dan satu lagi, sebelumnya Aruna tidak pernah berhasil saat berbohong, tapi entah mengapa saat ini rasanya kebohongannya itu berjalan sangat lancar.
Oke, bolehkah ia menyalahkan Bagas saat ini? Karena mungkin lelaki itu yang sudah terlalu banyak mengajarinya berbohong.
Aruna jadi terbiasa berbohong karena Bagas!
Ck, menyebalkan.
****
follow ig ku yuk, @anna.nanana_