Bagas menekan passcode pada panel pintu apartemen itu dengan lincah, menunjukan kalau dirinya sudah sering sekali datang ke unit tersebut tanpa perlu menekan bel untuk membuka aksesnya.
Setelah pintu terbuka secara otomatis, Bagas menyusuri setiap sudut ruangan. Ia masuk ke dalam dengan langkah santai. Bibirnya seketika tertarik lebar membentuk sebuah senyuman saat matanya menangkap tubuh langsing yang sedang sibuk berdiri di balik kompor.
Apartemen yang teletak di kawasan elit dan sudah sering sekali Bagas datangi itu kebanyakan dihuni oleh artis dan model papan atas, pun beberapa penata rias dan desainer terkenal.
Salah satunya Jandira Salim, Desainer muda berumur 27 tahun yang terkenal dengan rancangan baju pernikahan dan juga baju-baju pesta lainnya.
Nama Dira melambung tinggi semenjak wanita itu memenangkan beberapa lomba besar untuk perancang busana tujuh tahun yang lalu. Tidak perlu diragukan lagi, sudah ada ratusan baju yang wanita itu rancang.
Dira bergerak dengan lincah kesana kemari, dan kedua tangannya sibuk membalik telur di atas penggorengan. Bagas mendekati wanita itu secara perlahan, lalu memeluk tubuhnya dari belakang.
"Bagas!" tegur Dira tanpa menoleh. Dari wanginya saja Dira sudah bisa menebak kalau yang sedang memeluknya saat ini adalah lelaki itu. "Elo ngagetin tahu gak!"
Bagas terkekeh, lalu mengecup pipi Dira sekilas sebelum kemudian berbalik dan menarik kursi meja makan untuk ia duduki.
"Sorry gue telat," ujarnya. "Lo tahu Bokap, kan?"
Dira berbalik dengan wajah merengut jengkel. Kompor telah ia matikan, pun dengan menaruh telur yang ia masak ke atas piring berisi nasi goreng. Dira lantas menatap Bagas dengan pelototan tajam. "Gue nungguin lo sampe bosen tahu gak!" kesalnya, lalu melipat kedua tangan di depan d**a. "Janji jam tujuh sampe sini."
"Sorry .... Bokap tuh ribet banget," jawab Bagas sekedarnya, lalu menunjuk nasi goreng di belakang Dira dengan dagu. "Lo udah makan?"
"Udah." Dira melepas lipatan tangannya hanya untuk berbalik mengambil sepiring nasi goreng yang tadi ia buat. Ia membuat itu karena permintaan Bagas. "Oh iya, Gas." Dira berbalik lagi. "Jadi kapan lo nikah?"
"Enam bulan lagi, sesuai kontrak Aruna sama perusahaannya kerja," jawab Bagas seraya mencomot nugget di atas meja yang langsung ia masukan ke dalam mulut.
"Jadi dia bakalan tetap kerja?"
Kepala Bagas mengangguk dengan mulut berdehem singkat. "Dia gak mau jadi pengangguran kalo udah cere dari gue."
"Bokap lo setuju?" Dira membawa nasi goreng itu, lalu meletakannya di depan Bagas.
"Setuju, tapi sempet gak setuju." Mata Bagas seketika berbinar saat melihat nasi goreng buatan Dira di depannya. "Masakan lo selalu buat gue tergiur."
Buru-buru ia mengambil sendok dan garpu dari tempatnya, lalu menyendokan nasi goreng itu ke dalam mulut. Sesaat Bagas mendesis saat merasakan hawa panas menerpa bibir dan juga lidahnya. Tapi itu tidak membuat Bagas berhenti menyuap.
Dira yang melihat itu malah tertawa geli. "Pelan-pelan, Gas," tegurnya, memperingati.
Bagas masih tetap mengunyah, tidak peduli pada rasa panas di mulut. "Serius, ini enak banget." Padahal mulutnya masih penuh dengan nasi.
Dira kembali tersenyum melihat itu. Bagas memang selalu menyukai masakan Dira. Sejak mereka sekolah, sampai sedewasa ini. Meski Dira sangat sibuk, tapi ia tidak lupa dengan kodratnya sebagai wanita. Bagas menyukai Dira yang mandiri dan seba bisa.
"Oh iya." Dira bersura memutus keheningan. "Seminggu lagi gue tebang ke Paris."
Mendengar informasi itu, membuat Bagas berhenti mengunyah dan mengangkat wajah untuk menatap Dira. "Mau fashion week?" tanyanya memastikan.
"Hn." Dira mengangguk. "Sebulan, karena ada pemotretan juga."
"Kok lama?"
"Cuma sebulan, Gas."
"Itu lama, gue di sini sama siapa?"
"Ya elah." Dira menggeser segelas air putih ke arah lelaki itu. "Lo juga biasanya ke kelab malam kan? Nyari cewek seksi," cibir Dira yang sontak membuat Bagas semakin merengutkan wajah. "Awas ya lupa diri!" ancamnya memperingati.
Bagas hanya mengangguk-anggukan kepala. Namun tak lama, bibirnya tertarik jahil dan tubuhnya condong ke depan. Ia lantas mencolek dagu Dira gemas. "Bilang aja lo cemburu."
Dira berdecak geli seraya merotasikan bola matanya. "Pede banget lo!"
"Iya, jujur aja deh lo."
"Nggak ya!"
"Iya," ledek Bagas lagi.
"Nggak, Bagas!"
Senyum jenaka itu tak juga hilang dari wajah tengil Bagas, membuat Dira semakin kesal.
"Ih, Bagas!"
"Iya-iya," cebik lelaki itu. "Yang jelas gue selalu tahu isi hati lo, kok." Nyatanya Bagas tidak benar-benar berhenti meledeknya.
Merasa kesal karena terus diejek, lantas Dira mencubit lengan Bagas dengan keras. "Ihh, ngeselin lo tuh ya!" rutuknya.
"Awww!" Bagas meringis konyol. Ia mengusap lengannya yang terasa sakit. "Gila, cubitan lo manteb banget sih."
Dira tergelak, merasa puas membalas Bagas. Hingga kemudian suasana kembali hening, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring saat Bagas mulai menghabiskan makanan malamnya dan Dira mengamati itu dalam diam.
Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu, hingga Dira kembali membuka suaranya. "Elo gak beneran nikahin gadis itu kan, Gas?"
Tersentak, Bagas perlahan mengangkat wajahnya. "Maksud lo?"
"Bukan untuk seumur hidup, kan?"
"Ya engga lah."
"Yakin?"
Kening Bagas mengernyit saat mendengar pertanyaan sangsi yang keluar dari bibir Dira. Ia kemudian meletakan sendoknya ke atas meja, lalu mendorong piring kosong itu mejauh. "Kenapa sih, Dir? Kita kan udah bahas ini."
"Gue gak percaya sama lo."
Tiba-tiba sekali Dira membahas hubungan Bagas dan Aruna. Padahal mereka sudah menyelesaikan perdebatan pada malam itu.
Bagas lantas menghela. "Gue bakalan nikahin Aruna selama satu tahun, abis itu kita bakalan cerai."
"Tetep gak percaya. Bisa aja kan cewek itu gak mau lo ceraiin? Bisa aja dia keenakan hidup sama lo, terus dia nolak untuk pisah."
"Gak mungkin."
"Gue masih gak percaya."
"Terus gue harus apa biar lo percaya?" tanya Bagas frustrasi. Ia menghela napas pelan, lalu mengusap wajah, memfokuskan perhatiannya pada wanita di depannya itu. "Lo mau gue ngapain?" ulangnya.
"Buat surat perjanjian."
"Apaan?"
"Kemarin itu lo cuma bilang kalo lo punya perjanjian pernikahan kan sama dia? Tapi lo gak pernah buat itu di atas kertas?"
Bagas mengangguk. Memang benar. Ia dan Aruna hanya memiliki kesepakatan, tidak terpikir akan memperkuat itu di atas kertas.
"Lo sama cewek itu harus buat surat perjanjian pernikahan, agar gak ada yang bisa ngelak setelah satu tahun menikah."
"Dir?"
"Lo bisa aja jatuh cinta sama dia dan gak mau pisah! Atau lo malah keenankan tidur sama dia terus lupa sama janji lo!"
Sampai sini Bagas mengerti. Dira masih takut kalau ia akan melupakan janjinya. Janji semasa mereka SMA dulu.
"Gue gak mungkin sejauh itu sama dia."
"Gas, apa pun bisa terjadi. Elo sama dia! Di satu atap yang sama."
"Dir ...." Menghela napasnya sejenak, Bagas lalu beranjak dari kursinya untuk mendekati Dira. Ia tidak menyangka Dira akan berpikir sejauh itu, Bagas saja tidak pernah terpikir sampai ke sana.
Ck, Bagas mana pernah berpikir sih?
Tiba di depan tubuh Dira, Bagas tarik tangan wanita itu untuk berdiri, lalu membawa tubuhnya masuk ke dalam pelukan Bagas.
"Gue gak akan lupa, gue gak akan lupain lo."
"Surat perjanjian memperkuat hubungan lo, Gas! Please."
Mengusap punggung belakang Dira, Bagas seolah merasakan ketakutan wanita itu. Ia pasti akan menepati janjinya, Dira tidak memiliki siapa pun di dunia ini selain dirinya.
"Lo tenang ya, gue bakalan buat surat itu."
***