Pagi harinya, Zen dan Zahra masih setia bergelung di dalam selimut tebalnya. Mereka bahkan kembali tidur usai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Mungkin mereka satu ranjang, tapi mereka tidak melakukan hal lebih untuk semalam ini. Entah besok malamnya lagi atau kapan-kapan, yang pasti kewajibannya sebagai suami istri belum mereka lakukan. Zahra sendiri berada dalam dekapan suaminya. Rasanya, ini pertama kalinya dia merasa tidur sangat nyenyak. Entah karena dipeluk Zen, atau nyaman dengan d**a bidang Zen. Intinya, Zahra enggan untuk membuka mata. “Enghh--” Suara erangan itu terdengar saat Zen semakin mengeratkan pelukannya. Hawa dingin puncak menjadi faktor utama mereka masih betah, berlama-lama dalam posisi ini. “Aduh, jangan kencang-kencang kalau meluk, gak bisa napas mas.” lirih

