Dalam perjalanan kami bergeming, tidak ada suara selain mesin mobil yang sedang melaju. Aku yang sejak awal merasa bingung juga takut, tidak berani bertanya meski ke mana arah tujuannya membawaku.
Pada akhirnya aku hanya bisa menatap keluar jendela, menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi yang berjajar rapi. Sesekali aku memperhatikan para pengendara dan pejalan kaki yang sedang sibuk dengan urusan mereka.
Sampai mobil Tuan Devan memasuki area restoran mewah yang terkenal di kota ini. Sungguh tidak pernah kusangka akan makan di tempat ini. Meski dulu berpacaran dengan Tom, tidak sekali pun dia mengajakku makan di tempat mahal seperti ini. Sebenarnya, aku merasa gugup dan tidak nyaman. Di dalam sana pasti ada banyak orang-orang berkelas dan kaya tengah menikmati hidangan lezat.
“Apa seharusnya aku menolaknya saja?” Aku berpikir untuk menolak, tetapi melihat wajah Tuan Devan yang selalu dingin dan datar itu, membuatku takut akan terjadi masalah. Sungguh kali ini aku merasa aneh karena hubungan kami hanya pura-pura.
Tuan Devan melangkah masuk, begitu juga denganku yang berjalan di sampingnya. Seorang pelayan seperti sudah mengenalinya dan langsung mengantarkan kami ke sebuah meja. Pelayan itu menarik kursi untuk kami duduk, itu membuatku merasa tidak nyaman dan canggung. Tentu saja berbeda dengan Tuan Devan yang sudah terbiasa dengan keadaan ini.
“Kau harus terbiasa dengan hal ini, Nona Reina.” Ucapan Tuan Devan membuatku mendapat tekanan, dan itu juga menjadikan aku waspada. Jangan sampai aku membuat masalah kali ini.
Aku masih terdiam kaku, berusaha mengatur napas secara perlahan agar tidak terlihat rasa canggung dan takut yang muncul. Tetapi, sikapku ini justru seperti menarik perhatian Tuan Devan yang masih saja memberikan tatapan tajam ke arahku.
“Kenapa Tuan Devan menatapku seperti itu? Apa dia tidak sadar jika membuatku semakin takut dan ingin pergi?” Dalam hatiku terus gelisah, sikap dingin Tuan Devan seperti memberikan tekanan yang begitu hebat.
Aku mencoba mengalihkan pandangan dengan menatap ke sekitar. Ada banyak yang bersikap tenang dan menikmati hidangan. Ada juga yang sedang berbincang dengan suara pelan membahas pekerjaan. Sungguh sikap orang kaya yang terlihat begitu jelas, mereka memiliki sikap yang begitu tertata dan teratur.
“Kenapa kau hanya diam saja, Nona Reina? Apa kau tidak menginginkan hal ini? Kau ingin pergi dan membatalkan semua?” Pertanyaan Tuan Devan membuatku langsung menatapnya dengan terkejut. Pikiranku sepertinya sampai pada Tuan Devan, mungkin sangat terlihat di wajahku.
“Tidak, Tuan Devan.” Aku menjawab dengan terbata, berusaha menutupi dan menghindari apa yang tidak kuinginkan terjadi. Ya, untuk saat ini hanya ini yang bisa kulakukan demi menepati janjiku sendiri kepada Tuan Devan.
Tepat setelah aku menjawab, pelayan mulai menghidangkan makanan di meja kami. Kulihat di sana menu dengan harga yang pasti sangat mahal dihidangkan. Aroma makanan itu bisa tercium meski pelayan belum membuka penutupnya.
“Astaga. Makanan ini pasti seharga makanku dalam satu bulan. Orang kaya selalu membuang uang untuk makanan seperti ini, tentu saja itu adalah hal yang biasa. Tetapi, tidak denganku. Untuk memasukkannya ke mulut saja aku harus berpikir dulu karena sayang sekali.” Pikiranku sungguh tidak bisa tenang melihat hidangan dengan harga mahal di depan mataku. Tuan Devan tidak main-main dalam memilih menu yang diinginkannya.
“Makanlah. Bukankah aku sudah mengatakannya? Kau harus terbiasa dengan hal ini.” Tuan Devan mengulangi ucapannya, seperti tahu jika aku akan sulit untuk menerima keadaan seperti ini. Hal ini membuatku bingung dan tidak memberiku pilihan selain menerimanya.
Meski aku tidak pernah makan di tempat seperti ini, setidaknya aku tahu cara makan dengan sopan seperti orang kaya pada umumnya. Mereka selalu menggunakan alat makan yang berbeda di setiap hidangan. Tidak hanya itu, Tuan Devan juga menjadi acuanku saat makan. Ya, diam-diam aku memperhatikan caranya makan dan menikmati hidangannya.
Awalnya aku merasa cara makan mereka begitu rumit. Tetapi, setelah dilakukan, ada alasan kenapa tata cara makan begitu penting. Aku pun bergerak dengan hati-hati agar tidak melakukan kesalahan lagi. Makan siang kali ini benar-benar mengejutkanku karena baru kali pertama seorang CEO mengajakku.
Saat satu hidangan selesai, aku meraih gelas dan meminum air untuk mendorong makanan yang tersangkut di kerongkongan. Namun, di antara kegiatan itu aku mendengar Tuan Devan berbicara. “Hubungan kita akan diketahui oleh semua orang.” Sontak aku tersedak air dan terbatuk-batuk.
Aku meraih kain dan menutup mulutku, sementara pandanganku tertuju ke arah Tuan Devan yang kini masih tenang dengan gerakan makannya. “Apa maksud Tuan Devan? Aku sangat bingung dengan kalimat itu. Semua orang?” Pertanyaanku begitu banyak hingga aku perlu penjelasan darinya.
Tuan Devan bersikap begitu tenang, seolah hal ini adalah sesuatu yang biasa. Aku menunggu cukup lama hingga dia menyelesaikan kegiatan mengunyahnya itu. Tentunya ucapan Tuan Devan membuatku menghentikan kegiatan makan yang seharusnya berlanjut.
“Kenapa dia bisa setenang itu mengatakannya? Apa maksud dari ucapannya itu? Astaga, kenapa dia masih saja terdiam dan melanjutkan kegiatan makannya tanpa penjelasan?” Dalam hatiku berkecamuk, semua perasaan menjadi satu. Kegelisahan kini menyelimuti pikiranku yang beberapa saat lalu sedikit tenang.
Aku pun masih menunggu, hingga Tuan Devan kembali berbicara. “Aku akan membuat yang lain tahu mengenai hubungan kita.” Aku tidak percaya dengan ucapannya, ini seperti petir yang menyambar di siang hari, begitu mengejutkan dan menyengat seperti listrik.
Tuan Devan seperti tidak main-main dengan ucapannya. Wajahnya tampak begitu serius dengan kalimat yang baru saja terucapkan. Aku masih bingung dengan keinginannya, terutama dengan hubungan yang hanya pura-pura ini.
“Apa itu termasuk orang kantor?” Benar-benar ucapan Tuan Devan membuat seakan-akan duniaku runtuh dengan berita yang hendak dikatakannya pada umum. Jika itu benar, apa yang akan kukatakan pada mereka semua, pasti akan ada banyak perbincangan mengenai kami di kantor.
Berita miring tentang Tuan Devan belum selesai, lalu sekarang dia akan menyebarkan berita tentang hubungan yang kami jalin karena sebuah perjanjian. Aku tidak yakin mereka bisa menerima berita ini dengan baik, tentunya aku salah satu pendengar dari rumor yang disebarkan itu. Lalu, kini aku menjadi pembuktian untuk menutupi rumor yang ada.
“Rencana apa yang sebenarnya ada di pikiran Tuan Devan? Apa dia benar-benar bisa menerima jika banyak orang yang semakin membicarakannya di belakang?” Batinku begitu tersiksa dengan ucapan Tuan Devan yang mengejutkan ini.
Tuan Devan melirikku sekilas sebelum dia menikmati hidangan penutup yang kini ada di hadapannya. Aku merasa dia seperti tidak peduli dengan pertanyaanku, jika memang itu benar semua orang termasuk karyawan di kantor.
Tentunya, Tuan Devan sudah memikirkan banyak hal mengenai ini semua. Hanya saja, aku tidak bisa menerimanya, bahwa wanita yang didekatnya adalah aku. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Gina mengenai diriku. Pasalnya, selama ini Gina tidak pernah tahu mengenai siapa kekasihku dan bagaimana kami berhubungan.
“Tuan Devan—“ Aku mencoba untuk memanggilnya, berusaha untuk menarik perhatiannya. Jawabannya sangat kutunggu saat ini.
Sialnya, Tuan Devan justru mengacuhkanku dan menikmati hidangannya lagi. Dia benar-benar membuatku menunggu seperti orang bodoh. Bahkan, diamnya membuatku tidak lagi bernafsu untuk makan.
Sampai di mana Tuan Devan selesai dengan makan siangnya. Dia menatapku dengan tajam, sikapnya begitu dingin dan bisa kurasakan penuh tekanan. Dengan singkat dia menjawab, “Ya.”