Setelah rentetan kejadian sebelumnya, tubuhku mulai merasakan lelah. Meski terasa lemas dan tidak bertenaga, aku harus pergi bekerja untuk tetap mendapatkan pemasukan. Banyak sekali yang kupikirkan semalam, bahkan aku hampir saja tidak bisa tidur karena hal ini. Sungguh kehidupan yang begitu rumit dan penuh dengan rintangan.
Aku berangkat bekerja seperti biasa, menuju kantor di mana Tuan Devan adalah atasanku. Walaupun aku tidak secara langsung berada di bagian sekretaris, tetapi pekerjaanku ada di devisi yang berada langsung di bawah sekretaris CEO. Aku hanya berharap pekerjaanku akan baik-baik saja seperti dulu, di mana aku dan Tuan Devan belum berhubungan secara langsung.
Begitu tiba di kantor, kedua mataku mengedar. Aku berjaga-jaga agar tidak bertemu Tuan Devan terlebih dulu hari ini. Sampai aku dikejutkan oleh salah satu teman kerja yang menyapaku. Namanya Mina, dia memiliki rambut pendek sebahu, dan dia wanita yang cukup menarik. Oleh karena itu aku berteman dengan Gina. “Reina, apa kau sedang sakit? Kau terlihat lelah dan memiliki kantung mata.”
Gina selalu perhatian padaku, dia satu-satunya orang yang sadar dengan kondisiku ini. Selama bekerja di kantor ini, hanya Gina yang cukup dekat denganku daripada pegawai lainnya. Hanya saja, aku selalu tahu setiap perbincangan yang hangat di antara mereka semua, itu karena Gina pasti mendengar dari banyak pegawai. Aku tersenyum dan berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. “Hanya masalah kecil saja, Gina. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Gina mengangguk, “Apa ini berhubungan dengan kekasihmu? Kau bertengkar dengannya?” Gina memang tahu aku memiliki kekasih, mungkin ini bisa kujadikan alasan kenapa aku terlihat murung dari biasanya.
Selama ini, mereka hanya tahu jika aku memiliki kekasih, tetapi tidak ada yang tahu siapa pria itu. Bahkan, aku tidak pernah menjelaskan secara detail mengenai kekasihku. Kuharap mereka tidak mencari tahu sendiri, itu bisa saja menggangguku tentunya. Di kantor ini, aku cukup tertutup pada banyak orang mengenai statusku. Cukup tahu saja jika mereka pasti akan membicarakan orang lain di belakang, itu akan mengganggu kenyamananku saat bekerja.
“Ya, kau tahu sendiri bagaimana seseorang yang memiliki pasangan dan ada hal kecil yang terjadi. Kau tidak perlu khawatir, Gina.” Aku berusaha untuk menutupi masalah rumit yang kumiliki, tentunya aku juga tidak ingin ada orang tahu mengenai masalahku ini. Bahkan, Gina yang begitu dekat denganku pun tidak akan kuberitahu mengenai masalah hidup yang sedang kualami saat ini.
Gina tersenyum dan menepuk bahuku dengan perlahan. Aku yakin Gina adalah orang yang bisa memberikan energi baik untukku. “Tenang saja, aku mengerti apa yang sedang kalian alami. Semua akan baik-baik saja, masalah di antara kalian, aku yakin akan berlalu begitu saja setelah ini.” Beruntung Gina sangat pengertian untuk tidak mencari tahu lebih banyak.
Aku menanggapi ucapan Gina dengan mengangguk agar dia tidak tahu bahwa, masalah yang kupikirkan sangat rumit untuk dijelaskan. Setelah saling menyapa, kami pun pergi ke meja kerja masing-masing untuk memulai pekerjaan hari ini.
Sebelum aku duduk di kursi, tiba-tiba saja Gina kembali bersuara. “Ah, jangan lupa istirahat nanti kita makan bersama. Kebetulan aku membawa bekal banyak untuk dibagi denganmu, Reina.” Aku menengok dan mengacungkan ibu jari untuk menjawab tawaran Gina. Cukup menyenangkan karena Gina selalu baik padaku.
Kuletakkan tasku di atas meja, lalu kutatap beberapa berkas yang kini menumpuk dan harus diselesaikan. “Ayo semangat!” Aku memberi semangat pada diriku sendiri agar tidak terus terlihat lesu.
Saat aku baru memulai, sekretaris CEO menghampiriku untuk memberitahu tentang berkas yang harus diselesaikan terlebih dulu. “Reina, dahulukan berkas ini. Siang ini aku akan membutuhkannya untuk diserahkan pada CEO kita. Jadi, jangan sampai belum selesai saat jam istirahat.”
Aku tersenyum dan mengangguk, “Baiklah, akan segera kukerjakan.” Jawabanku membuatnya segera pergi dan kembali ke meja kerja. Kini aku pun mendahulukan berkas yang sudah dikatakan penting oleh sekretaris CEO.
Hari ini aku cukup beruntung, sampai saat ini aku belum melihat Tuan Devan. Tentu saja ini menjadi salah satu faktor kenyamanan yang bisa kudapatkan untuk bekerja dengan tenang. Meskipun saat kami bertemu Tuan Devan tidak akan peduli denganku, tetapi aku tidak bisa berpikir setenang itu. Keberadaannya akan membuatku canggung dan gugup saat mengingat kejadian semalam.
Sebelum mulai, aku perlu membaca berkas terlebih dulu sebelum benar-benar kukerjakan. Lalu, aku pun mulai menggerakkan jemariku di atas keyboard untuk segera diselesaikan. Pasalnya, jam istirahat kurang dua jam lagi, dan aku sudah berjanji dengan Gina untuk makan bersama di pantry.
Setelah berkutat dengan pekerjaan selama dua jam, aku pun menyelesaikannya tepat waktu dan segera mengirim ke sekretaris CEO. Aku bergegas pergi untuk menemui Mina, dan rupanya dia juga baru saja selesai dengan pekerjaannya.
“Rupanya kau juga baru selesai? Hari ini sungguh hari sibuk untukku. Ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa ulang, sehingga membuatku sedikit kesulitan.” Gina mengeluhkan pekerjaannya yang begitu banyak, aku hanya beruntung hari ini tidak memiliki dokumen sebanyak itu untuk dikerjakan.
Tiba-tiba, saat kami hendak masuk ke pantry, aku mendengar suara Tuan Devan memanggilku. “Nona Reina, kemarilah.” Sebuah panggilan yang tidak biasa dan menarik perhatian seluruh pegawai di sekitar tempat itu.
Semua mata akhirnya tertuju padaku dan Tuan Devan. Bagaimana tidak? Selama ini Tuan Devan tidak pernah memanggilku secara langsung seperti ini. Bahkan, biasanya sekretaris CEO lah yang memberikan pesan atau perintah dari Tuan Devan padaku. Gina pun menatapku penuh tanda tanya, aku tahu dia akan bertanya padaku mengenai hal ini setelah kami kembali bertemu.
“Saya? Tuan Devan memanggil saya?” Ucapanku sedikit terbata karena terlalu canggung dan takut. Selama ini, para pegawai selalu menyebar rumor tentang Tuan Devan. Lalu, aku yang menjadi salah satu pendengar rumor itu pun kini berhubungan langsung dengannya. Tentu saja ini akan menjadi perbincangan hangat bagi para pegawai.
“Kenapa Tuan Devan memanggilmu, Reina?” Gina pun bertanya padaku mengenai hal ini. Dengan cepat aku menggeleng perlahan dan berbisik, “Aku tidak tahu, Gina.”
Langkahku pun mendekati Tuan Devan dan saat tatapan mata kami bertemu, Tuan Devan berkata, “Ikuti aku.” Sontak kakiku pun mengikutinya tanpa bertanya lagi.
Langkahku begitu ragu saat mengikuti Tuan Devan, hingga kami sampai di basement dan di sana Tuan Devan masuk ke mobilnya. Entah kenapa aku pun ikut masuk ke sana tanpa diperintah, seperti secara otomatis tubuhku bergerak masuk.
“Kenapa kami masuk mobil? Ke mana Tuan Devan akan membawaku kali ini?” Sialnya pikiranku tidak bisa berhenti untuk bertanya-tanya. Itu karena Tuan Devan masih terdiam dan tidak berbicara apa pun padaku.
Aku cukup terkejut saat ini, belum habis pikiranku tentang kejadian semalam. Kini aku sudah berada di mobil yang sama dengan Tuan Devan. Hanya saja, suasananya membuatku tidak nyaman karena ada banyak pasang mata yang memperhatikan kami saat di dalam tadi.
Betapa kakunya bibirku meski hanya untuk bertanya tentang ke mana dia akan membawaku pergi. Bukan karena aku tidak ingin, tetapi ada rasa takut karena aku memiliki tanggungan yang harus diselesaikan dengan Tuan Devan.
“Apa jangan-jangan Tuan Devan masih marah mengenai sikapku kemarin? Atau … dia akan melakukan sesuatu, seperti menghukumku karena hampir membuat posisi kami ketahuan di makan malam itu?” Pikiranku begitu berkecamuk, aku bingung dan tidak tahu harus melakukan apa sekarang ini.