8 Suasana Yang Didominasi

1140 Words
Kemunculan Tuan Devan di antara aku dan Tom memang mengejutkan. Mungkin aku terlalu lama berada di sini. Jika bukan karena Tom, Tuan Devan tentu saja tidak akan menyusulku kemari. Hanya saja, ada perasaan takut yang tiba-tiba muncul dalam diriku. Tuan Devan memang terlihat biasa saat ini, tetapi auranya sangat mendominasi. Bahkan, Tom tampak terdiam sejak Tuan Devan mengajukan pertanyaannya. Sementara aku sendiri takut jika ada dari sikap atau pergerakanku yang salah. Itu pasti akan membuat Tuan Devan bisa mengambil banyak keputusan yang tak terduga, seperti meminta kembali uang yang sudah kugunakan untuk Paman Jeff, mungkin. Aku berharap apa yang ada di pikiranku tidak benar-benar terjadi. Aku pasti akan merasa sangat menyesal karena sudah menghiraukan Tom beberapa saat lalu. Seharusnya aku pergi dari sini sejak tadi, dan tidak peduli dengan apa pun yang Tom katakan. Sampai akhirnya aku mendengar Tuan Devan kembali bertanya kepada Tom, “Apa kau tidak akan menjawab pertanyaanku?” Aku bisa melihat wajah tertekan yang Tom sembunyikan. Suasana yang didominasi oleh Tuan Devan memang membuat Tom seperti tak berdaya. Namun, aku tidak akan tertipu lagi oleh wajah itu. Tom pasti memiliki sesuatu untuk dikatakan, hanya saja dia masih menunggu waktu yang tepat saja. “Bukan begitu, Paman. Aku hanya ingin mengenal Reina saja. Seperti yang Paman tahu, orang-orang yang ada di bawah itu sering kali memanfaatkan orang kaya seperti kita.” Benar apa yang ada di pikiranku, Tom sudah mengatur kalimat itu dalam kepalanya. Dia masih saja menjatuhkan aku di depan pamannya. Apa yang Tom katakan, sepertinya sangat terbalik dari kenyataan. Pada realitanya, Tom yang memanfaatkanku selama kami bersama sebelumnya. Aku bahkan selalu menjadi orang pertama yang mengikuti setiap perintah dan keinginannya akan sesuatu. Mendengar ucapan Tom, aku penasaran dengan jawaban Tuan Devan yang masih menatap keponakannya itu. “Sebaiknya kau tidak ikut campur dalam hal ini. Atau jangan-jangan kau tertarik pada wanitaku, Tom?” Balasan yang dilontarkan Tuan Devan sungguh memukul Tom hingga tidak bisa berkata-kata lagi. Aku begitu puas melihat ekspresi Tom mendapat jawaban dan pertanyaan balik dari Tuan Devan. Tom tampak tidak bisa menjawab dan bergeming. Kupikir, Tuan Devan akan menunggu jawaban dari keponakannya itu, tetapi tidak. Tuan Devan membawaku pergi dari hadapan Tom. Tuan Devan meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia membawaku pergi dari suasana yang begitu tidak nyaman untukku. Meski aku sendiri tidak tahu Tuan Devan akan membawaku kembali masuk atau keluar, hingga kami sampai di pintu yang sama saat kami tiba beberapa jam lalu. “Apa Tuan Devan akan membawaku pergi dari sini? Apa dia marah padaku?” Batinku kembali bertanya-tanya mengenai sikap dingin Tuan Devan yang masih tidak berkata apa pun padaku. Saat kami keluar dari pintu gedung itu, mobil Tuan Devan sudah siap dengan pintu terbuka oleh sopirnya. Kami pun masuk ke mobil, dan di sana aku merasa ada tekanan yang membuatku takut untuk bergerak. “Kau hampir saja melakukan kesalahan. Jika kau ingin bertindak lakukan tanpa rasa ragu.” Tiba-tiba saja Tuan Devan berkata seperti itu padaku. Membuatku merasa bersalah karena memang terlihat lemah di depan Tom. Aku tidak ingin ada masalah lebih besar dari ini, aku pun segera menunduk dan berkata, “Maafkan aku, Tuan Devan. Aku memang ceroboh. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu di depan mereka.” Tuan Devan terdiam dan tidak menghiraukan aku. Dia sepertinya sedang kesal karena pertemuan dengan keluarga besarnya begitu rumit. Terlebih ibu Tom seperti memaksakan kehendak kepada Tuan Devan mengenai perjodohan dan pasangan yang harus sepadan dengan mereka. Tatapan mata Tuan Devan begitu tajam dan lurus ke depan. Lalu, aku bisa mendengar dering teleponnya yang menandakan adanya pesan masuk. Tuan Devan pun mulai berkutat dengan benda kecil itu di tangannya. Dia terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya, dan selalu terlihat serius saat memegang suatu pekerjaan. Mobil sudah berjalan sejak beberapa saat lalu. Kulihat arah yang dituju kebetulan searah dengan rumah Paman Jeff. Benar saja, sopir Tuan Devan bertanya ke mana tujuan mereka setelah ini. “Tuan, ke mana kita pergi?” Tuan Devan menjawab tanpa melihat ke depan, “Ke mana arahmu pulang?” Itu seperti pertanyaan yang ditujukan padaku. Butuh beberapa detik untukku sadar dan menjawab, “Oh, aku akan pulang ke rumah pamanku, Tuan Devan. Apa kau bisa menurunkanku di beberapa blok setelah ini? Aku akan sedikit berjalan kaki menuju rumah itu.” “Kau sudah mendengarnya, bukan?” Saat ini kalimat itu ditujukan kepada sopir yang ada di balik kemudi. Bahkan, tanpa menjawab sopir itu hanya mengangguk dan kembali fokus pada jalanan di depannya. “Tuan Devan sangat berbeda dari dirinya di dalam gedung itu. Saat di depan keluarganya, dia begitu pandai bersandiwara, sehingga aku dibuat takjub dan kagum. Bahkan, bisa dibilang aku hampir terbawa perasaan. Namun, saat ini justru dia membuatku enggan membawa perasaan, dia kembali menjadi pria yang dingin dan kaku.” Dalam hatiku masih tidak percaya dengan sikap Tuan Devan yang bisa berubah dengan drastis. Pada akhirnya, kami pun saling terdiam, hingga aku meminta sopir Tuan Devan menghentikan mobil di tepi jalan yang tidak jauh dari rumah paman Jeff. “Tuan Devan, aku permisi. Terima kasih atas bantuanmu.” Setelah mengatakan kalimat itu, aku menutup pintu dan berjalan menuju rumah paman Jeff. Beberapa saat kemudian, mobil Tuan Devan kembali melaju dan melewatiku begitu saja. Itu membuatku merutuki apa yang terjadi di acara pertemuan keluarga itu. “Hah! Kenapa aku sangat bodoh? Bisa-bisanya aku terpancing oleh Tom. Pria yang jelas-jelas sudah mengkhianatiku dan mempermainkan aku selama ini. Jika Tuan Devan membatalkan perjanjiannya denganku, aku akan membuat perhitungan dengan Tom. Bagaimanapun ini semua kesalahannya telah mengacau di sana.” Aku berjalan seraya menggerutu karena kesalahan yang terjadi di makan malam hari ini. Langkahku sampai di depan pintu rumah, tanpa mengetuk pintu aku masuk dan langsung menuju kamar yang sebelumnya menjadi kamarku. Aku meletakkan tas di atas meja, lalu melempar tubuh ke atas tempat tidur. Hari ini begitu melelahkan bagiku. Aku berharap besok akan menjadi hari baru dan tidak ada hal-hal tidak nyaman lagi di depanku. Sungguh aku inginkan hariku berjalan biasa tanpa adanya gangguan. Aku ingin sekali melakukan semua tanpa memikirkan apa pun yang membuatku kesal. Sebelum memutuskan untuk beristirahat, aku mengganti pakaian dengan piyama. Aku menghapus riasan terlebih dulu agar wajahku lebih segar saat kedua mataku terpejam. Seraya menghapus riasan, aku bersenandung, memikirkan apa saja yang sudah terjadi padaku beberapa hari ini. “Hah … sepertinya hari-hariku sangat melelahkan. Beberapa hari ini masalah bertubi-tubi menyerangku. Apa aku masih bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam menjalani hidup setelah pertemuan malam ini? Aku sungguh tidak yakin, terlebih besok aku harus berhadapan lagi dengan Tuan Devan. Entah apa yang akan kulakukan saat bertemu dengannya. Apa aku harus memulai dengan menyapanya? Tentu saja tidak, aku akan terlihat seperti wanita bodoh yang berusaha mencari perhatian.” Mulutku benar-benar tidak bisa diam saat ini, apalagi saat makan malam aku sangat menahan diri untuk tidak mengatakan kalimat yang salah. Setelah semua kegiatanku selesai, aku pun beranjak dari depan meja rias dan menuju tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD