7 Hampir Terbongkar

1128 Words
Aku menegaskan pada Tom, bahwa dia tidak mengenal siapa aku selama ini. Hal ini membuatku begitu kesal karena tidak sekalipun Tom menganggapku. Terlihat jelas setelah dia mengabaikanku demi wanita lain—Sarah—yang kini berada di sampingnya. Bahkan, Sarah lebih beruntung karena bisa diperkenalkan dalam keluarga besar Tom. Sayangnya, di sini Tom tidak bisa menilai seorang wanita dari hati. Dia dan keluarganya mementingkan harta dan kekuasaan untuk kelangsungan hidup. Pastinya Tom tidak akan memilihku dan memanfaatkanku yang begitu mudah ditipu dengan kata cinta. “Kau benar-benar tidak mengenal siapa aku, Tom. Sungguh selama bersama kau menganggap aku ini apa? Bahkan, kau memiliki pikiran pendek mengenai diriku dan pamanmu. Memangnya, kenapa jika aku berhubungan dengannya? Dia jauh lebih baik daripada dirimu.” Perkataan terakhirku tidak mengakhiri pertemuan kami. Tom masih ada di depanku saat ini. Bahkan, dia semakin terlihat marah setiap kali mendengarkanku berbicara menjawabnya. Mungkin saja dia terkejut karena selama ini aku selalu diam dan tidak melawannya. Tom kembali tersulut emosi, dia hendak berbicara, tetapi melihatku menghela napas membuatnya terhenti sejenak. Aku tidak mengizinkannya untuk kembali mengatakan kalimat pembelaan. Tidak hanya Tom saja yang di sini merasa tidak nyaman dengan kehadiran satu sama lain. Aku pun merasakannya rasa tidak nyaman, hingga kembali berkata kepada Tom. “Aku begitu bodoh karena dulu berpacaran denganmu. Seharusnya aku sadar dengan sikapmu selama ini.” Kalimat yang selama ini aku pendam, kini bisa kuucapkan. Tom memiringkan kepala mendengar ucapanku, lalu menyeringai seakan membenarkan kalimatku. Sungguh ekspresi yang tidak kuduga dari seorang Tom. Dia begitu senang bisa merendahkanku di hadapan keluarganya dan Tuan Devan. Bersama Sarah, Tom seperti memiliki tim yang mendukungnya untuk melakukan penekanan agar aku tidak bisa bertahan di sana. Sama halnya saat kami bersama dulu, Tom adalah pria yang kasar, dingin, dan suka memberikan perintah padaku. Aku tidak diperlakukan selayaknya seorang pasangan, bahkan aku berpikir selama bersamanya adalah kesalahan terbesar yang sudah kubuat. Seharusnya aku sadar sejak dulu telah dipermainkan oleh Tom. Tapi, pada kenyataannya, aku selalu dibutakan oleh perasaanku sendiri. Dalam pikiranku kini terlintas, bagaimana dulu aku begitu pasrah pada keadaan. Menuruti apa yang Tom inginkan, menjadi wanita yang sangat polos dan diam setiap kali diperlakukan kasar olehnya. Setelah mendengar ucapanku, Tom tampak tertawa kecil. “Seharusnya kau bangga karena pernah menjadi pasanganku.” Dia begitu percaya diri dengan kalimat itu, tanpa berpikir tentang perbuatannya sendiri dulu. Aku cukup tercengang dengan ucapan Tom yang begitu menggelikan. Bahkan, ucapan Tom membuatku muak, bangga karena menjadi pria yang selalu menginjak wanita adalah hal paling kubenci dari seorang Tom. Bahkan, aku tidak lagi menganggap masa lalu itu sebuah cerita yang perlu dikisahkan lagi kelak. Itu adalah luka yang akan kututup rapi dan kubuang jauh agar tidak lagi terbuka. Kulihat Tom mengambil langkah, dia memposisikan wajahnya tepat di telingaku dan kembali berkata, “Aku peringatkan kau, Reina. Jangan sampai ada yang tahu mengenai hubungan kita sebelumnya. Kau tahu kenapa? Hubungan itu begitu memalukan untukku.” Tubuhku membeku mendengar ucapannya, kalimat yang begitu menyayat hati dan menyakitkan untukku. Tetapi, aku tidak ingin perkataannya memprovokasiku untuk mundur begitu saja. Demi kelancaran kerjasama dengan Tuan Devan, aku tidak akan menyerah begitu saja hanya karena ucapan rendahan dari mulut Tom. “Tom begitu serius dengan kalimatnya. Hubungan itu hanya membuatnya malu. Dan baru kali ini dia mengatakannya secara terang-terangan di depanku. Begitukah seharusnya dia bersikap?” Batinku kembali berkecamuk setelah mendengar ucapan Tom yang terasa seperti tusukan benda tajam. Bibirku terasa bergetar ingin segera membalas ucapannya, tapi baru saja aku ingin berucap, Tom kembali bersuara. Dia terlihat tidak membiarkan aku untuk berbicara kali ini. Kemungkinan, Tom tahu jawaban apa yang akan kuberikan, sehingga menutup celah untukku berkata. “Ah … satu lagi, tawaranku belum berakhir. Jika kau memutuskan untuk meninggalkan pamanku, aku akan memberikan imbalan yang sepadan dengan hal itu. Dan satu lagi, aku akan menjamin keselamatan Paman Jeff.” Tom benar-benar memiliki mulut yang kejam, dia tidak tahu apa yang dikatakannya sangat mengesalkan untukku. Bahkan, kalimat itu terdengar seperti seorang psiko yang mengatakannya. Aku tidak ingin banyak berbicara padanya, hingga sebuah kalimat terucap dari bibirku, “Aku hanya berharap kau segera mendapatkan balasannya, Tom.” Pandanganku mengedar, berharap ada seseorang yang bisa membuat kami berhenti dan aku bisa pergi dari hadapannya. Namun, tidak satu pun orang yang melintas di sana. Tempat itu seperti ditutup dan hanya ada kami saja di sana. Yang lebih membuatku semakin emosi, Tom tidak memiliki rasa takut dengan semua yang sudah diucapkannya. Seakan dia bisa mengatur dan mengendalikan apa yang sudah direncanakannya. Itu sungguh membuatku ingin berteriak tepat di depannya, dan memaki Tom secara langsung. “Kau benar-benar tidak bisa melihat keberuntunganmu pernah bersamaku, Reina. Ingat dengan ucapanku, aku tidak akan main-main dengan semua ini.” Tom sudah banyak berbicara dan membuatku semakin tidak tahan berada di dekatnya. Kalimat yang keluar dari bibirnya kali ini benar-benar menunjukkan betapa kejamnya Tom. Taring yang disembunyikan, seakan ditunjukkan hanya di depanku, bukan orang lain. Aku begitu kesal padanya. Betapa teganya dia membawa nama Paman Jeff di antara perdebatan kami. Bahkan, tidak seharusnya dia mengancamku dengan nama pamanku itu. Tom bersikap seperti seorang kriminal dan maniak saat ini. Memperlihatkan betapa kejamnya seseorang yang tidak tahu untung dengan kekayaan dan kekuasaan yang didapatkannya dengan mudah. Setelah Tom mengatakan kalimatnya, aku menyentuh bahu Tom lalu menepuknya perlahan. “Bagiku, kau tidak lebih dari seorang pria pengecut.” Aku tersenyum miring lalu berlalu perlahan dari sisi Tom. Sungguh terasa begitu lega setelah mengatakan apa yang ingin kukatakan selama ini. Tom memang pantas mendapatkan sebutan itu, dia hanya berani denganku yang hanya seorang wanita. Baginya akan lebih mudah menyerangku daripada Tuan Devan yang tak lain adalah pamannya sendiri. Seketika aku bisa merasakan kemarahannya, dan Tom menarik tanganku dengan kasar. Satu tangannya terangkat, seperti ingin memukulku dengan keras. “Dasar kau ini memang wanita yang—“ Ucapan Tom terhenti, tapi pergerakannya tidak. Aku berharap ada yang melihat ini agar Tom mendapat balasannya saat ini juga. Saat ini, aku hanya ingin ada sebuah keajaiban yang bisa menyelamatkanku. Namun, meski tidak ada, setidaknya aku akan mendapatkan bukti kekerasan yang akan dilakukan Tom padaku. Seketika pikiranku pun melayang dan teringat dengan paman Jeff yang masih membutuhkanku. Tom tidak pernah main-main dengan sikapnya. Kurasa memang dia akan melakukannya, memukulku karena emosinya yang tak tertahan. Ucapanku sangat membuatnya kesal, hingga dia bertindak berani di umum seperti ini. Aku tidak bergerak, kedua mataku terpejam dan tiba-tiba saja aku mendengar seseorang berkata dari sampingku. “Apa yang akan kau lakukan pada kekasihku?” Kedua mataku terbuka lebar, kulihat seseorang di sampingku adalah Tuan Devan. Kehadirannya saat ini membuatku dan Tom sama-sama terdiam. Tidak ada dari kami yang menjawab pertanyaannya, bahkan Tom tampak membeku dengan keberadaan Tuan Devan di antara kami. Di antara kami bertiga, tidak ada yang berbicara. Bahkan, Tuan Devan terlihat menunggu jawaban dari Tom yang menjadi tujuannya. “Jadi, kapan kamu akan menjawabku?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD