Ketegangan macam apa yang kurasakan saat bersama keluarga ini. Sungguh seperti membelenggu diriku dan tidak membiarkan Tuan Devan bernapas lega selama berada di tempat ini. Baru kali pertama aku melihat keluarga kaya raya yang memaksakan kehidupan kepada keluarga lainnya, seakan mereka hanya menjunjung tinggi nilai martabat dan status sebagai konglomerat.
“Astaga, aku seperti sulit bernapas di sini. Apa mereka akan melanjutkan perdebatan mengenai kehidupan yang diambil Tuan Devan lagi?” Dalam hatiku begitu gelisah memikirkan kalimat apa lagi yang akan mereka katakan setelah ini.
Suasana begitu tegang beberapa menit lalu. Aku yang terdiam sejak mereka beradu kalimat, kini mulai merasa sesak dan ingin menghirup udara lain yang lebih segar. Aku pun berkata pada Tuan Devan, “Maaf, aku permisi ke toilet.”
Aku menatap Tuan Devan, sepertinya dia mengerti tentang kondisiku saat ini. Lalu, pandanganku mengedar ke arah keluarganya, dan ibu Tom menatapku dengan tajam. Begitu juga dengan Tom dan Emma yang tidak bisa menerima keberadaanku sejak awal di antara mereka.
“Baiklah, segera kembali jika selesai.” Tuan Devan tersenyum saat mengatakannya padaku, itu seperti sebuah penantian agar aku tidak meninggalkannya terlalu lama di sana.
Aku tentu saja merasakan bagaimana Tuan Devan bertahan dengan keluarganya. Jika itu adalah aku, mungkin aku akan gila dibuatnya. Bagaimana bisa keluarga menekan keluarga lainnya hanya untuk kehidupan yang belum tentu membuat bahagia.
Sebelum pergi aku mengangguk menjawab ucapan Tuan Devan dan tidak lupa membalas senyumannya. Aku berdiri dan sedikit membungkuk untuk menghormati mereka yang masih menatapku dengan tajam. Kulanjutkan langkah menuju pintu yang ada di salah satu sudut ruangan itu.
“Hah … akhirnya aku bisa bernapas lega. Untuk beberapa saat aku bisa menghirup udara segar. Suasana di sana begitu mendominasi. Terutama ibu Tom yang selalu saja menekan Tuan Devan.” Bibirku benar-benar tidak tahan untuk tidak bergumam sepanjang perjalanan menuju toilet.
Sampai berada di dalam, aku masih saja menyayangkan sikap Keluarga Solomon yang begitu aneh. Aku bahkan tidak bisa menyebut mereka sebagai keluarga. Meski aku hanya memiliki paman Jeff, tetapi aku beruntung dia tidak memiliki sikap seperti mereka.
Bahkan, keberadaan Tom di sana masih membuatku tidak percaya. Terlebih status ibunya sebagai saudara dari Tuan Devan, benar-benar sesuatu yang mengejutkan. Aku tahu jika Tom memiliki banyak uang. Namun, aku tidak tahu jika nama belakangnya adalah Solomon, salah satu keluarga kaya raya yang ada di kota ini. Sungguh keluarga dari Tuan Devan menurutku memang sangat rumit.
Kini aku berada di depan cermin, melihat pantulan diriku yang tampak berbeda. Penampilanku benar-benar diubah oleh Tuan Devan untuk bisa sepadan dengannya. Memang benar jika uang bisa mengubah segalanya, termasuk penampilanku ini.
Beberapa menit berada di toilet, aku sadar Tuan Devan pasti bertanya-tanya kenapa aku sangat lama perginya. Aku tidak ingin dia mencariku hingga kemari, sehingga aku menyudahi kegiatanku di toilet dan keluar.
Sebelumnya, aku mencuci tangan dan memperbaiki beberapa riasan di wajahku. Setelah itu, aku melangkah ke luar. Tapi, baru saja aku berada di luar toilet, sekali lagi perasaan tidak nyaman dan terkejut muncul saat Tom tiba-tiba ada di hadapanku dengan bersedekap.
Dia terlihat begitu sombong dengan penampilannya saat ini. Meski tubuhnya masih terlihat menggoda, tetapi aku selalu memikirkan keburukannya agar tidak lagi jatuh ke lubang yang sama. Tom menatapku dari ujung kepala hingga kaki, kaku tersenyum miring melihat penampilanku yang berbeda dari biasanya.
Apa yang kini muncul dalam pikirannya, aku sungguh tidak ingin tahu. Itu hanya akan membuatku kesal dan emosi saat teringat masa lalu.
Awalnya aku ingin mengacuhkan pria ini, tetapi satu tangannya menghalangi jalanku. “Tom? Apa yang kau lakukan?” Aku bertanya untuk memastikan, alih-alih agar hatiku bisa tenang menghadapinya secara langsung.
Tom benar-benar menunjukkan siapa dirinya saat ini. Dia menunjukkan kekuasaan yang dimiliki dan apa yang bisa dilakukannya padaku dengan mudah. Namun, aku yakin dia akan berpikir lebih jika ingin melakukannya, itu karena ada Tuan Devan di belakangku yang menjadi pertimbangan Tom untuk tidak berbuat ceroboh.
Belum terjawab pertanyaanku, Tom meraih tanganku dengan cepat dan menahanku agar tidak pergi dari sini. “w************n. Jika kau ingin uang, aku akan memberikannya padamu. Cepat! Berapa yang kau inginkan agar menjauh dari keluargaku?!”
Uang memang bisa digunakan untuk apa pun. Bahkan, Tom memiliki rencana untuk memisahkan aku dengan Tuan Devan menggunakan uangnya. Sungguh pemikiran yang picik dan tentu saja tidak akan mempengaruhiku. Tom tidak tahu apa yang terjadi padaku dan Tuan Devan sebelum ini, pastinya dia memiliki pikiran yang buruk setelah peristiwa kami di apartemen.
“Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan tawaranmu, Tom.” Jawabanku begitu tegas dan pasti agar Tom tidak meremehkanku lagi. Apalagi kejadian sebelum ini sangat membekas dan aku ingat bagaimana dia memperlakukanku saat paman Jeff sangat membutuhkan bantuan.
Aku menepis tangan Tom dengan sekali hempasan. Saat terlepas dari cengkeramannya, aku pun kembali melanjutkan langakahku. Sayang, Tom lagi-lagi membuatku menahan langkah saat suaranya terdengar berbicara. “Jauhi pamanku, Reina. Aku memperingatkanmu.”
Kalimat yang begitu klasik, aku pun sudah menduganya. Bahwa, Keluarga Solomon termasuk Tom tidak akan menerima kehadiranku di antara mereka. Terlihat jelas, Tom seperti ini untuk menjatuhkanku dan membuatku takut melangkah lebih maju bersama Tuan Devan.
Aku begitu kesal dengan ucapan Tom dan berbalik badan dengan membalasnya. “Aku sungguh tidak menyangka jika kau akan berkata seperti itu, Tom. Kau sama saja dengan keluargamu itu.”
Aku bisa melihat wajah marah Tom, emosinya terpancing. Aku melihat dia menggenggamkan tangan, berusaha menahan dirinya, tetapi dia bukan orang yang bisa menahan diri. “Aku tahu kau bersama pamanku hanya untuk uangnya, bukan? Jadi, tidak ada salahnya jika kau menerima tawaranku mengenai uang yang kau butuhkan. Bukankah itu sama saja?”
Semudah itu Tom berkata mengenai diriku. Sepertinya Tom akan berusaha lebih keras mengenai hubunganku dengan Tuan Devan setelah ini. Apalagi aku menolak tawarannya yang begitu menggiurkan.
Perasaanku bercampur aduk, baru saja aku mendapat ketenangan kini harus kembali tidak nyaman karena Tom. Pria ini hanya tahu jika aku memanfaatkan pamannya demi uang, sungguh pikiran yang picik. Melihat apa yang dialami Tuan Devan, aku lebih merasa bersimpati padanya daripada harus memikirkan tentang uang.
Hatiku yang merasakan sakit setelah perlakuan Tom selama bersama, kini kembali perih mendengar kalimat kasarnya padaku. Hanya saja, aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku pada Tom, aku berusaja agar Tom tidak semakin merendahkanku di sini.
“Benar-benar pria yang tidak punya hati. Dia berkata seperti itu di depanku tanpa memikirkan perasaanku.” Batinku begitu sakit hingga harus memendamnya dan menyimpan dalam agar tidak terlihat di mata Tom.
Aku bersikap tegas, kutegakkan tubuhku di depan Tom. Lalu, aku menatap tajam ke arah Tom, berpikir jika pria itu benar-benar tidak mengenal siapa aku selama ini. Padahal kami sudah tinggal bersama dalam beberapa waktu lalu, tapi dia seperti lupa tentang bagaimana diriku selama bersamanya.
“Kau benar-benar tidak mengenal siapa aku, Tom. Sungguh selama bersama kau menganggap aku ini apa? Bahkan, kau memiliki pikiran pendek mengenai diriku dan pamanmu. Memangnya, kenapa jika aku berhubungan dengannya? Dia jauh lebih baik daripada dirimu.” Emosi Tom terlihat begitu jelas, wajahnya memerah setelah mendengar ucapanku.