bc

PSIKOPAT SADIS ITU TERNYATA ISTRIKU

book_age16+
34
FOLLOW
1K
READ
revenge
drama
tragedy
mystery
scary
ambitious
expert
crime
slice of life
weak to strong
like
intro-logo
Blurb

Daren Revano Alexander seorang perwira polisi yang sedang menangani kasus pembunuhan beruntun. Para korban di bunuh dengan sadis dan tanpa meninggalkan jejak.

Saat sedang berada di TKP, ia bertemu seorang wanita cantik sedang  meringkuk ketakutan di sebuah pohon tak jauh dari lokasi. Daren membawa gadis itu pulang ke rumah. Wajahnya yang jelita, tutur kata yang sopan serta kelembutannya membuat Daren jatuh cinta kepada Anindya Gabriela Sanders. Mereka menikah dan hidup bahagia.

Bertahun tahun sang pembunuh belum juga tertangkap, sementara korban terus berjatuhan. Daren bekerja siang malam untuk menyediliki siapa Psikopat kejam pembunuh berdarah dingin  yang sangat licin ini.

Di tengah kemelut yang di hadapi akhirnya kabar bahagia pun datang sang istri  hamil, dan jejak pembunuh mulai terkuak. Daren menyusun rencana dengan menyamar memancing sang psikopat, dan berhasil menjebak pembunuh berdarah dingin itu. Namun betapa terkejutnya Daren saat sorot lampu mengenai wajah si pembunuh. Ternyata dia......

chap-preview
Free preview
Maafkan aku
"Lepaskan dia Sayang! aku mohon! Alice tidak bersalah." bujuk Daren. Aku berusaha membujuk Anindya istriku yang kini telah berubah menjadi Anastasya. Sosok wanita yang kejam dan tak kenal ampun. " Aku tidak mau melepaskan nya! tentu saja ia bersalah! gadis ini harus mati ! Kesalahan nya adalah, ia sudah berani mengusik kebahagiaan kita !" pekik Anastasya dengan mata merah menahan amarah. Anastasya menyeret tubuh Iptu Alice menjauhiku menuju bibir pantai dengan pisau carter tepat berada di leher hadis itu. Tubuh Iptu Alice sudah di penuh dengan luka sayatan saat melakukan perlawanan. Anastasya yang pernah belajar ilmu bela diri dan memiliki sabuk hitam tentu saja tidak dengan mudah untuk bisa di taklukkan. Alice masih berusaha merontah untuk melepaskan diri dari cengkeraman Anastasya. Walaupun tubuh Alice lebih tinggi dan tegap sebagai anggota kepolisian, namun tidak mudah baginya untuk melepaskan diri dari Anastasya yang bertubuh mungil namun memiliki tenaga yang luar biasa. "Aku mohon sayang.... lepaskan lah Alice, biarkan ia pergi. Kau sudah berjanji padaku bukan ? Kalau kau tidak akan membunuh lagi. Ini semua demi Adam sayang" rengek ku dengan lembut serta berusaha mempengaruhi nya dengan menyebut nama Putra kami yang masih bayi. Aku terus merengek dan memohon sembari mengikutinya dari belakang, namun Anastasya tidak menghiraukan ku dan tetap menyeret tubuh Alice menjauh. " Kamu tidak perlu membela wanita ini Daren ! Kalau aku melepaskan nya, ia akan mengirim personilnya datang ke pulau ini untuk menangkapku! Aku tidak ingin berpisah darimu dan Adam Putra kita. Wanita ini tidak seharusnya mengusik kebahagiaanku. Ia seharus nya tidak pernah datang ke pulau ini, dan wanita ini tidak seharusnya berani mencintaimu. Karna hanya aku yang berhak atas diri dan cintamu!" pekik Anastasya dengan keras. Mata Anastasya berubah merah, sorot matanya begitu mengerikan, raut kemarahan terpancar dengan jelas terbias di wajahnya. Tangannya semakin kuat melekatkan pisau ke leher Alice hingga membuat lehernya menitikkan darah segar. Anindya gadis berwajah baby face dengan sorot mata sayu serta lesung pipit yang menawan, saat tersenyum akan semakin menanbah imut dan rasa gemes siapa pun orang yang melihatnya. Namun siapa sangka gadis imut yang menggemaskan itu kini telah berubah menjadi sosok Anastasya, kepribadian nya yang lain. Sosok dengan sorot mata tajam serta ganas penuh kebencian dan dendam, bahkan tidak pernah tersenyum walau sedikit pun. Ia juga tidak pernah memberi ampun kepada pàra korbannya. Jika ia menginginkan orang itu mati maka orang itu pasti akan mati ditangan nya tanpa belas kasihan "Aa-aku berjanji kepadamu Anindya, aku tti-tidak akan pernah memberi tahu siapa pun tentang keberadaan kalian di pulau ini. Let Kol Daren adalah sahabatku, aku tidak akan pernah bisa menyakiti ia dan keluarganya. Aaa...kuuu mohoon leepaskan Aku " rengek Alice dengan wajah memucat tidak berdaya. Alice berusaha membujuk Anastasya dengan suara tercekat akibat pisau yang melekat tepat diurat nadi lehernya. Darah mulai mengucur berlahan, sedikit saja Alice salah bertindak pisau itu benar - benar akan memutuskan urat nadinya tanpa ampun, dan sudah di pastikan nyawanya benar - benar akan melayang di tangan Psikopat yang terkenal berdarah dingin, pembunuh sadis yang di panggil dengan sebutan Psikopat mawar merah. Karna ia akan selalu meninggalkan setangkai mawar merah segar yang berlumuran darah di atas jasad para korbannya. "Ha..ha..ha...sayang sekali Iptu Alice yang cantik, aku tidak mempercayaimu. Apalagi aku sudah mengetahui kalau kau selama ini juga mencintai suamiku. Tadinya aku masih ingin melepaskan mu atas permintaan Daren ku, namun aku berubah pikiran saat kau mengatakan kepada Iptu Dani kalau kau masih mencintai Daren suamiku, maka aku tidak bisa membiarkanmu hidup untuk merampas kebahagiaanku!" tegas Anastasya dengan di iringi tawa sarkas. Alice tidak bisa lagi berkata - kata, nyawanya benar - benar berada di ujung tanduk. Ternyata Anastasya yang berada di dalam tubuh Anindya mendengar percakapan Iptu Alice dan Iptu Dani saat akan meninggalkan pulau ini. Alice sangat mencintai Daren sampai saat ini, mengetahui Daren masih hidup dan bahagia dengan keluarganya Alice tidak tega untuk merusak kebahagiaan lelaki yang masih di cintainya itu. Terlebih Anindya sudah tidak pernah membunuh lagi sejak keduanya di nyatakan telah tewas dalam kecelakaan tiga tahun lalu. Daren sengaja mengarang sebuah kecelakaan untuk mengelabui para polisi yang mengejar Anindya istri nya. Dengan itu Daren bisa leluasa pergi ke sebuah pulau terpencil bersama istrinya dengan merubah identitas mereka tanpa tercium oleh pihak kepolisian. Namun di luar dugaan, ternyata Iptu Alice beserta tim nya tetap melakukan pencarian. Ia curiga bahwa mayat yang di temukan di dalam mobil yang terbakar itu bukan lah aku dan Anindya Istriku, sebab sebagai mantan kekasihku sekaligus teman sejak dari kecil ia faham sekali bentuk dan lekuk tubuh ini. Iptu Alice tetap melanjutkan pencarian hingga ia berhasil menemukan kami di pulau kecil ini. Setelah menemukan kami dan melihat kehidupanku dengan Anindya yang bahagia Iptu Alice memutuskan menghentikan penyelidikan sampai di sini, namun Iptu Dani tidak setuju atas permintaan Iptu Alice agar membiarkan aku dan Anindya hidup tenang di pulau terpencil ini bersama bayi kami yang masih berumur enam bulan Adam Revano Alexander. Iptu Dani berkata dengan lantang kalau Anindya harus membayar perbuatan kejam yang telah ia lakukan selama ini. Mereka tidak tahu kalau Anindya ternyata memiliki kepribadian ganda yang bisa berubah setiap waktu tanpa terjadwal. Percakapan mereka tanpa sengaja terdengar oleh Anindya sendiri, yang tanpa mereka sadari sedang berada di tempat itu untuk memberikan bekal makan siang selama di perjalanan mengebrang pulau nanti. Mendengar kenyataan bahwa ternyata ia sendirilah Psikopat mawar merah yang terkenal kejam serta sadis dalam membantai para korban nya membuat Anindya Shok. Di tambah mendengar pengakuan dari mulut Alice sendiri yang mengatakan kalau ia masih mencintai Daren, membuat Anindya yang berhati halus serta perasa begitu terpukul. Belum lagi pernyataan Iptu Dani yang tidak akan mau melepaskan nya lepas begitu saja membuat jiwa Anastasya yang sedang tertidur di dalam diri Anindya marah dan ter bangun. Kesedihan yang dirasakan Anindya membuat Anastasya murka hingga memutuskan menghabisi nyawa mereka semua. Dan kejadian yang telah terkubur selama tiga tanun lamanya itu pun kembali terulang lagi. Anastasya kembali melakukan p*********n secara brutal terhadap Ibtu Dani dan para personil nya. Kini hanya tinggal Iptu Alice Aghata Briana mantan kekasih Letnan Kolonel AKBP Daren Revano Alexander yang tersisa. "Anastasya, aku sangat mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hatiku selain kalian berdua kau dan Anindya adik mu. Apalagi sekarang kita memiliki Adam buah cinta kita bertiga. Aku melepaskan pangkat dan keluargaku lebih memilih untuk hidup bersamamu di pulau terpencil ini. Itu semua ku lakukan karna aku sangat mencintai kalian sayang! Jangan kotori lagi tangan mu dengan darah dari orang yang tidak bersalah Ana. Ingat kita masih memiliki Adam dan Ani yang membutuhkan kita dan harus kita lindungi. Bagaimana perasaan Adam ketika dewasa nanti jika ia mengetahui ibunya seorang pembunuh berantai yang sudah menghabisi puluhan korban jiwa. Aku mohon padamu sayang lepaskan lah Alice, biarkan ia hidup. Ia tidak akan pernah mengganggu kita lagi setelah ini " bujuk ku lagi sekuat tenaga untuk melembutkan hati Anastasya yang keras membatu serta sangat sulit untuk di jinakkan. Namun yang ku lakukan ternyata tidak sia - sia. Anastasya tertegun saat mendengar ucapan ku, pikiran nya mulai terpengaruh dan sikapnya terlihat mulai melunak. Hanya aku lah yang bisa membuat nya menurut dan menenangkan nya. Ia mulai melonggarkan pisau di leher Alice. Kata kataku mulai menyentuh hatinya dan membuat ia terenyuh. Aku sedikit lega melihat raut wajah Anastasya mulai terlihat tenang. Kesempatan itu tidak di sia - siakan oleh Iptu Alice. Dengan sigap Ia bergerak cepat untuk meloloskan diri, Alice memelintir tangan Ana kebelakang dan menguncinya hingga membuat pisau di tangannya terjatuh. Alice merasa sudah berhasil melumpuhkan Ana. Namun ia salah, justru itu adalah awal malah petaka buatnya, ia tidak mengetahui kalau Anatasya adalah petarung yang handal. Perbuatannyan itu menimbulkan kembali kemarahan Anastasya. Sorot matanya kembali memerah, raut wajahnya juga berubah menjadi beringas. Jantungku berpacu sangat cepat di sertai rasa khawatir, instingku mengatakan akan terjadi musibah yang sangat besar. Aku sangat menyesalkan kecerobohan Alice. Tidak seharusnya ia berbuat seperti ini. Ana menatapku tajam penuh arti seakan semua kata - kata yang baru saja aku ucapkan tidak berpengaruh lagi buatnya. Tubuh ku gemetar sembari berjalan mendekat berusaha menenangkan Ana kembali. "Daren,cepat ambil borgol yang terselip di pinggang mayat Iptu Dani !! Cepaat !!!!" Perintah Alice. Aku menggelengkan kepala, itu tidak mungkin aku lakukan. Seandainya aku mengambil borgol itu, Ana akan semakin murka dan tidak akan mengampuni ku. Aku dan Alice pasti akan mati di tangannya. Dan jika itu terjadi bagaimana dengan masa depan putra semata wayangku jika di asuh oleh ibu dengan kepribadian ganda tanpa aku yang selalu mendampingi serta memberikan cinta serta kasih sayang kepada sosok Anastasya yang selalu di penuhi amarah dan dendam. Alice tidak tahu walau pun saat ini kondisi tubuh Ana sedang terkunci olehnya, namun akan dengan mudah bagi Ana untuk bisa melepaskan diri. Jalan satu - satunya yang harus aku lakukan adalah dengan kembali menbujuk dan menenangkan hati Ana yang keras dan pemarah serta penuh dengan dendam supaya tertidur dan mengembalikan sosok Ani yang lembut dan penyayang. Walau dengan keraguan aku harus berhasil melakukan nya demi keselamatan Alice sahabat sekaligus mantan kekasihku. "Ti...tidak Ana sayang, aku tidak akan melakukan itu. Alice tidak akan menyakitimu. Tenanglah ia akan melepaskanmu dan aku akan membawamu pergi dari sini. Percayalah padaku sayang" Aku mencoba menatap mata Ana yang merah menyalah dan meyakinkannya, raut wajahnya kini kembali berubah datar di sertai senyum sinis. Dengan perasaan cemas berharap ia bisa merasakan kesungguhanku. "Alice, cepat lepaskan istriku dan kamu pergilah dari sini. Jangan pernah kembali lagi. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Cepaaat lepaskan dia!!!" Bentakku berharap Alice faham bahaya yang sedang mengancamnya. "Apa kau gila Daren? Aku tidak akan melepaskannya ! Wanita psikopat ini telah membantai Iptu Dani dan anak buahku yang lain. Ia harus dihukum!! Cepaat ambil borgol itu " teriaknya Alice masih tidak mengerti dan tetap membangkang perintahku, ia merasa benar benar sudah melumpuhkan Ana. "Alice, aku mohon jangan keras kepala, ini semua demi kebaikanmu. Cepat lepaskan istriku sebelum semua terlambat" Aku memohon kepada Alice sembari terus mendekat dengan tangan terjulur supaya Alice melepaskan Ana dari pitingannya. Agar aku bisa membujuk Ana. Karna Ana hanya akan mendengar kata kataku saja. Alice masih tidak menyadari akibat kecerobohannya ini. "Tidak, aku tidak akan melepaskannya. Kalau kau tidak mau membantuku mengambil borgol itu, biar aku ambil sendiri" ucapnya memaksa. Alice tetap keras kepala dan bergerak dengan mendorong tubuh Ana mendekati mayat Iptu Dani yang tergeletak tak jauh dari tempat itu. Tampak Ana tersenyum menyeringai mengerihkan menatapku sembari melangkah mengikuti keinginan Alice. Aku benar benar khawatir saat ini. Aku takut kehilangan salah satu dari mereka. Ana adalah istri yang sangat aku cintai. Bahkan demi dia aku rela meninggalkan segalanya. Sedangkan Alice bukan cuma sahabat, namun ia pernah mengisi hari hariku dengan penuh cinta. "Jangan Ana, jangan lakukan itu!" Ucapku lirih Aku faham benar maksud senyuman Ana yang menakutkan, dengan menggelengkan kepala memohon kepada Ana. Karna aku tau apa yang akan di lalukan olehnya. "Maafkan aku Daren, ini semua bukan salahku. Wanita ini yang memaksaku!" tegas Ana. Ana menatapku tajam, aku terpaku seketika mendengar ucaoannya. Darahku terasa berhenti dan jantungku terasa tidak berdetak sama sekali. Dan benar saja, apa yang aku takutkan akhirnya terjadi. Ana menjegal kaki jenjang Alice secara tiba tiba membuatnya terhuyung ke depan dan kehilangan keseimbangan. Hal itu di mamfaatkan Ana untuk membantingnya ke tanah dan membenturkan kepala Alice dengan keras berulang kali. "Anaaa!!, hentikan!!hentikan kataku, Alice bisa matiiii!!!" Perintahku "Wanita ini pantas matiii !!" Ucapnya santai sembari terus membentuk benturkan kepala Alice yang sudah berlumuran darah. Ana sudah menjadi dirinya yang dulu. Pembunuh kejam yang tanpa ampun. Aku berteriak sekuatnya memerintahkan Ana untuk menghentikan aksinya. Namun Anatasya tidak memperdulikan sama sekali. Ia sangat menikmati aksinya dengan menyeringai puas. Darah segar mulai mengucur dari kepala Alice. Ana bangkit dan meraih pisau carter yang ia gunakan untuk menghabisi Iptu Dani dan rekan rekannya yang tergeletak tak jauh dari tempat itu. Kemudian ia kembali menghampiri Alice yang sudah tidak berdaya dengan kepala berlumuran darah. Tangannya bersiap menggorok leher Alice. "Jangan Ana!!! Aku mohooon jangan bunuh diaaa hentikaaaaan!!!!!!" Ana tIdak mendengarkan ku sama sekali dan pisau di tangannya melayang ke leher Alice. Tiba tiba... "Dooor...doorrr" Karna panik aku meraih pistol yang terselip di pinggang mayat Iptu Dani. Dua buah peluru terpaksa aku layangkan untuk menghentikan aksinya. Tembakan yang ku layangkan tepat mengenai punggung Ana dan salah satu peluru itu tembus kejantung nya. Sudah tiga tahun lamanya aku tidak pernah lagi menggunakan senjata. Bahkan aku lupa kalau aku adalah salah satu penembak jitu. Ana menoleh ke arahku dengan tatapan tajam penuh kekecewaan seraya tidak percaya dengan apa yang telah aku lakukan kepadanya. Tubuh Ana ambruk seketika ke tanah tepat di sebelah tubuh Alice yang tidak berdaya. Alice tampak mengerjap ngerjapkan matanya perlahan mendengar suara letusan peluru yang berdentum keras. . Dengan lemah ia menoleh ke samping menyaksikan tubuh Ana yang ambruk di sebelahnya. "Tidaak...tidaakkk... apa yang telah aku lakukan? Anaaaa...." Gumamku lirih. Aku terkesiap dan terpaku dengan apa yang baru saja aku lakukan. Mataku nanar penuh penyesalan menatap tubuh Ana yang tergeletak bersimbah darah. Melihat nyawa Alice terancam secara refpleks aku meraih pistol dari pinggang Iptu Dani dan mengarakan ke istriku sendiri. Pistol itu jatuh ke tanah, tubuhku bergetar hebat aku menggeleng gelengkan kepala dengan mata terbuka lebar, tidak percaya atas apa yang telah aku lakukan. Dengan langkah gontai tak bertenaga aku mendekati tubuh istriku yang bersimbah darah. Mata yang tadinya merah menyalah di penuhi api kebencian kini telah berubah sayu dan tidak berdaya menatapku penuh luka. "Maaas, sakit maas" ucapnya lirih saat melihatku mendekatinya. Wajahnya tampak memelas dan sendu. Matanya bening meneduhkan namun penuh ketidak berdayaan. Ya itu adalah Anindya istriku. Terlebih Anindya tidak pernah menyebut nama kepadaku berbeda dengan Anastasya. Ya tuhaan, apa yang telah aku lakukan. Aku telah mencelakai istriku sendiri wanita yang amat aku cintai. Aku memeluk tubuh mungilnya dengan erat. Mataku memanas, hatiku di penuhi kecemasan saat merasakan tubuh mungil istriku mulai menggigil. "Maas, dingin sekali" ucapnya lirih. " Ani, bertahanlah sayang, bertahanlah! Aku akan segera membawamu pulang, mengeluarkan peluru ini dan mengobatimu sampai sembuh, kau adalah wanita yang kuat. Bertahanlah Ani!" ucapku sembari menggenggam erat tangannya. Wajahnya memucat namun ia masih bisa tersenyum padaku. Aku membopong tubuh mungilnya dan bersiap bangkit membawanya pulang. "Tidak perlu mas, aku sudah tidak tahan lagi. " bisiknya lirih. "Tidak Ani. Jangan berkata begitu, kau harus bertahan demi aku dan Adam, ini semua salahku maafkan aku sayang hikss..hikss..hikss" air mataku tumpah berderai tak tertahankan sembari mendekap kuat tubuhnya yang terkulai tidak berdaya karna kehilangan banyak darah. Detak jantungnya berlahan mulai melemah. "Aniii, jangan Ani. Kau harus bertahan ini semua salahku. Maafkan aku sayang " ucapku memohon dengan penuh penyesalan sembari membelai wajahnya. Airmataku bercucuran membasahi wajah baby face yang memucat itu. "Iiii..iini ...buuu..kan salahmu mas, aku tau kaaaau terpaksa melakukannya. Ini semua akibat Aaana yang sangat keras kepala. Bahkan aku tidak bisa mengendalikannya. Jangan menyalahkan dirimu mas." Ucapnya terbata bata. "Hiduplah dengan baik dan bahagia mas setelah ini. Aku titip Adam, didiklah dia dengan baik penuhi hidupnya dengan cinta dan kasih sayang. Sehingga tidak sepertiku. Hhuuuueeeekkk..." ""Tidaaakkkk... aniiii!!" Darah segar mengucur dari mulut Ani. Aku berteriak panik penuh keputus asaan sembari terus memeluk tubuhnya, aku benar benar takut kehilangan istriku. "Dareeennnn... dareenn... kenapa tubuhku tidak bisa di gerakkan dan jantungku terasa sakit sekali. Nafasku juga terasa sesak dan sekelilingku mulai gelap. Kenapa kau melukaiku Daren" Suara itu, walaupun dengan sangat lirih namun intonasi suara yang tegas dan penuh tekanan itu adalah suara Anastasya. "Anaaa, maafkan aku sayang. Aku sangat terpaksa melakukannya. Maafkan aku Ana sayang..hikss..hikss" aku membelai kepalanya yang bersandar lemah di dadaku dengan penuh penyesalan dan deraian air mata. Ya tanpa sadar aku sangat mencintai kedua karakter ini. Anindya si pemalu dan lemah lembut yang membawa ketenangan dan keteduhan di hatiku. Anastasya yang tegas, keras, dan panas di ranjang. Membuatku terpesona dan mendapatkan tantangan tersendiri saat bersamanya. "Sudahlah ! Jangan cengeng Daren!. Jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Aku tidak menyalahkanmu dan memaafkanmu. Aku sudah tidak tahan Daren, aku dan Ani akan mati" Ucapnya sembari mulutnya kembali memuntahkan darah segar. Aku semakin khawatir dan ketakutan. " Dareeen, aku mohon, jaga dan rawatlah Adam baik baik. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku tau apa yang aku lakukan selama ini salah. Dan aku tau pasti akan mendapatkan balasan atas semua perbuatanku suatu saat nanti. Dan hari ini saat itu tiba. Tapi aku tidak menyesal atas apa yang telah aku lakukan sejauh ini, karna mereka semua pantas mati. Manusia yang tidak bisa menggargai dan menghormati wanita pantas lenyap dari muka bumi ini. Dan aku sangat bahagia bisa mati di tangan laki laki yang aku cintai. Ini adalah hukuman buatku" Walau dengan napas yang tersengal sengal dan tubuh yang lemah suara Ana terdengar dengan jelas dan terasa bagaikan belati yang menusuk jantungku. Yang aku sesali kenapa semua ini harus terjadi. Aku benar benar sangat hancur. Aku miliki banyak impian yang belum terwujud. Tapi semua harus hancur di tanganku sendiri. ****** "Anaa, aku mohoon bertahanlah Anaaa, bertahanlah sayaang" aku mencium dan membelai wajahnya yang sudah tampak pucat membiru. "Dareen, aku dan Ani titip Adam ya. Dareenn peluk tubuhku dengan kuat, rasanya dingin sekali" ucapnya lirih. "Iyaa, iya sayang. Aku akan memelukmu seperti ini" "Dareen cium bibirku untuk yang terakhir kali. Aku mohoon " Tangan Ana menggelayut di leherku. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya hingga bibirku dan bibirnya bersentuhan. Iya melumat bibirku dengan lembut aku pun membalasnya seperti yang sering kami lakukan saat berdua. Kami saling berpagutan beberapa detik hingga lumatannya berhenti. Dan aku sudah tidak merasakan hembusan nafasnya lagi. Tangan yang melingkar di leherku jatuh terkulai Airmataku terus mengalir namun aku tidak melepaskan bibirnya aku terus melumatnya dengan perasaan hancur lebur. Alice berusaha bangkit dengan tertatih tatih sembari memegang kepalanya yang berlumuran darah. Dengan terhuyung ia mencoba berdiri namun karna terlalu banyak memgeluarkan darah matanya berkunang kunang hingga membuat tubuhnya ambruk kembali. Aku masih tidak memperdulikannya. Semua ini adalah salahnya. Kenapa ia harus terus mengungkap kasus yang sudah ditutup tiga tahun yang lalu. Kenapa ia harus menemukan keberadaanku?. Kenapa ia bertindak ceroboh dan tidak mendengarkan ucapanku? Kenapa semua ini harus terjadi padaku ??. Aku mendekap kuat tubuh istriku yang sudah tidak bernyawa. Perasaanku terasa hambar. Dan jiwaku terasa ikut pergi bersamanya. Mataku menatap kosong ke depan tanpa suara. Aku sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup di dunia ini lagi. "Anindya bawa aku bersamamu. Aku tidak bisa hidup tanpamu" bisikku lirih. Alice beringsut menarik tubuhnya berlahan mendekatiku, dengan susah payah akhirnya ia sampai dan tangannya meraih pundakku. Aku masih tidak bergeming dan menghiraukannya sembari tetap memeluk erat tubuh Anindya. "Dareen, maafkan aaku. Tapi kita harus segera kembali membawa tubuh istrimu. Kasihan Adam kita tinggalkan sendirian dirumah" "Adaam" mendengar nama Adam menyadarkanku. Bayii mungil itu tengah tertidur saat aku tinggalkan menyusul Ani ke tempat ini. Alice tampak berusaha untuk tetap sadar. Dengan suara yang lemah ia terus berusaha mengingatkan aku tentang Adam yang sendirian di rumah tanpa pengasuh. Ya selama ini aku hanya tinggal berdua dan menetap di pulau ini. Beberapa pendatang datang dan pergi untuk menikmati keindahan pulau Berhala ini tanpa mencurigai identitas kami. "Adaamm....kenapa aku melupakan dia. Aku harus segera kembali. Aku harus tetap hidup demi Adam" ucapku lirih. Aku bangkit sembari membopong tubuh Anindya dengan perasaan terluka dan hancur. Airmata sudah tidak bisa lagi menetes namun batinku menjerit sekuat kuatnya tanpa ada yang mendengar. Alice menatap kepergianku dengan perasaan bersalah. Kepalanya terasa semakin berat dan matanya berkunang kunang. Namun ia masih tetap berusaha menguasai diri sekuat tenaga agar tidak pingsan. Sesaat ekor matanya menangkap alat Talkie Wakie yang tergeletak di bawah pohon beringin tak jauh dari tempatnya tergeletak saat ini. Dengan lemah ia meringsut menarik tubuhnya untuk meraih alat komunikasi yang selalu ia gunakan untuk melobby seluruh personilnya. Ia ingat saat ini dua personil masih ada yang selamat dan tidak mengetahui insiden yang terjadi di sini. Mereka sedang berjaga di kapal dan menunggu perintahku. Dengan susah payah Alice meraih alat itu dan mengaktifkannya. "Phonix memanggil gagak roger," "Gagak bersiap roger" "Datanglah ke kemari, terjadi incident disini. Lokasi 100 meter dari rumah target. Di bawah pohon beringin. Iptu Dani dan teman teman semua tewas. Hanya aku yang selamat. Cepatlah dataang" Suara Alice semakin melemah dan ia mulai kehilangan kesadaran karna kehilangan banyak darah. Akhirnya Alice tidak lagi bisa mempertahankan kesadarannya. Tubuhnya terkulai dan talkie walkie ditangan nya terjatuh. "Letnan...letnan Alice. Apakah Letnan masih di sana?" Aiptu Jonie dan Aiptu Albert saling berpandangan dan segera bergegas kelokasi yang di katakan Alice sembari menelpon markas untuk meminta mengirimkan bala bantuan dan mengevakuasi seluruh mayat serta mengobati yang terluka. Daren menatap tubuh istrinya yang terbujur kaku di atas ranjang sembari menggendong putranya. Wajah Anindya tampak bersih dan cantik sekali dengan mengenakan gaun putih pernikahan mereka sewaktu pemberkatan. Ramput panjangnya tergerai menutupi d**a dengan setangkai mawar merah terselip menghias di atas telinga. Benar benar seperti seorang putri yang sedang tertidur nyenyak. Aku menatap putra kecil di gendonganku. Di usianya yang baru enam bulan ia harus kehilangan ibu untuk selamanya dan mungkin ia juga akan kehilangan aku dalam waktu yang lama. Karna aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku, sebagai penegak hukum aku telah melindungi seorang buronan. Pembunuh berantai yang telah menghabisi puluhan nyawa. Dari kejauhan terdengar suara sirine mobil polisi yang semakin lama semakin mendekat. Suara itu berhenti tepat di depan rumahku. Beberapa orang terdengar masuk dengan leluasa karna aku sengaja tidak mengunci pintu rumah. Dalam sekejap aku sudah di kepung oleh lebih dari sepuluh personil penembak jitu. "Angkat tangan dan jangan bergerak!!!" Terdengar perintah dari arah belakang ku. Namun aku tetap diam tak bergerak dengan memeluk Adam. Beberapa dari mereka mendekat dan memeriksaku. Setelah tidak merasakan bahaya orang itu menganggukkan kepala memberi isyarat kepada pimpinanya. Terdengar langkah kaki mendekat ke arahku. Ekor mataku menangkap bayangan yang terpantul di lantai. Sesosok laki laki setengah baya menggunakan seragam dinas kepolisian lengkap dengan tiga melati emas dipundaknya.ia berhenti tepat di hadapanku. Jantungku tiba tiba berdesir teringat seseorang yang berarti dalam hidupku. Jangan jangan itu dia !. Dugaku. "Dareeen, AKBP Daren. Apakah ini kamu?. Benar, ternyata ini benar benar kamu. Kau masih hidup nak" ucapnya dengan mata berbinar binar antara percaya dan tidak percaya. Suara itu sangat tidak asing terdengar di telingaku. Suara itulah yang membesarkan dan mendidikku sampai menjadi seorang Perwira Polisi. Aku benar benar tidak berani untuk menatapnya. Aku sangat takut karena telah mengecewakan impian dan harapannya, hanya karna aku terlanjur terjerat cinta seorang psikopat cantik dan lugu. "Dareeen anakku " Aku menengadahkan kepala ke atas. Dan benar saja wajah yang sangat aku rindukan benar benar berdiri di hadalanku, dengan raut wajah yang sudah mulai muncul garis garis di kening dan sudut kelopak matanya. Laki laki itu menatapku dengan mata berkaca kaca. Ia sama sekali tidak menyangka aku masih hidup dan bertemu di saat seperti ini. Aku sudah di nyatakan tewas tiga tahun yang lalu terbakar menjadi abu saat kecelakaan bersama istriku. Aku kembali menundukkan kepala di penuhi rasa bersalah tidak berani menatap mata ayah yang di penuhi kerinduan. Tiga tahun lebih aku menipu Komisaris Adrian Jhonatan Alexander ayah angkat yang telah membesarkan dan merawatku seorang diri tanpa di dampingi seorang istri. Ibu angkatku meninggal karna sakit TBC saat aku berumur sepuluh tahun, lima tahun setelah aku di adopsi. Mereka tidak memiliki anak kandung. Àyah Adrian sangat mencintai ibu sehingga memutuskan tidak pernah menikah lagi dan membesarkan aku seorang diri. Darinyalah aku belajar arti sebuah kesetiaan terhadap pasamgan hidup. Tidak bisa ku bayangkan hancurnya hati ayah mendengar kabar kematianku saat itu. Kini aku hadir di hadapannya sebagai pesakitan, seorang penegak hukum yang melindungi penjahat besar. "Maafkan aku ayah" ucapku lirih dengan berlinangan air mata. "Ohhh Daren, ini benar kau anakku. Ternyata kau masih hidup nak. Apa yang terjadi denganmu?" Ayah memelukku dengan erat meluahkan kerinduannya. Di dunia ini hanya akulah satu satunya yang ia miliki. Aku masih belum berani menatapnya. Ayah masih belum mengetahui kalau psikopat mawar merah adalah menantunya yang penyayang dan lemah lembut. " Siapa bayi yang kau gendong ini nak? Dan Anindya dimana dia?, apakah Ani juga masih hidup? Dan wanita di ranjang ituuu...?" Tanyanya penuh rasa penasaran. "Ayah, ini adalah Adam cucumu, yang terbaring itu Ani menantu Ayah" ucapku memberanikan diri. "Cucuu !, ya tuhan aku sudah punya cucu. Dareen aku akan membuat perhitungan denganmu karna telah berbohong selama ini. Sehingga aku harus jauh dari cucuku. Tapi siapakah gadis yang berbaring seperti orang yang sudah.....?" Ayah tampak masih bingung dan tidak melanjutkan ucapannya. "Dan Iptu Alice melaporkan bahwa ia telah berhasil mengetahui persembunyian Psikopat mawar merah bahkan mengatakan bahwa pembunuh kejam itu sudah mati tertembak olehmu. Tapi mana mayatnya?. Tanya ayah lagi. Aku terdiam dan menarik napas panjang. Dengan segenap keberanian aku harus mengatakan sejujurnya kepada ayah. Seorang Perwira kepolisian tak sepatutnya lari dari kenyataan. Aku harus berani dan bertanggung atas semua yang telah aku lakukan. Aku berdiri dan memberanikan diri menatap ayah. "Ayah, yang berbaring di atas ranjang itu benar menantumu Anindya. Dan ia telah tiada" ucapku dengan suara tercekat. "Apaaaa!!!, Ani telah tewas ! Apakah ia juga di bunuh oleh psikopat itu nak?" Ayah sangat terkejut matanya mulai mengembun menatap menantu kesayangannya sembari berjalan mendekati jasad Ani yang tampàk cantik dan seperti sedang tertidur pulas. Ia duduk di tepi ranjang sembari membelai lembut rambut Ani. Dari d**a Ani yang tertutup dengan rambut tampak noda darah mewarnai gaun yang ia kenakan. "Malang sekali nasipmu Ani. Kau harus pergi di usia yang sangat mudah meninggalkan anak yang masih bayi. Di mana mayat pembunuh berdarah dingin itu berada nak?" Ayah bangkit menghampiriku dengan tatapan penuh kemarahan. Ia mengira Ani adalah korban dari psikopat itu. "Ayah mayat psikopat itu ada disini. Ia ada di hadapanmu"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.2K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K
bc

JANUARI

read
49.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook