Kini aku tengah berada di dalam apartemen Prince karena aku menolak pulang ke mansionnya akibat tidak ingin bertemu dengan Rafael.
Saat aku merengek ingin pulang ke rumah, dia pun juga tidak memperbolehkanku. Katanya dia tidak ingin berpisah dariku sama sekali.
Sialnya, dia tidak bisa diajak negosiasi sama sekali. Dia terlampau keras kepala dan tidak bisa dibantah.
Alhasil, di sini lah kami.
Apartemen mewahnya.
Dia sedang sibuk mengompres pipiku yang mulai membengkak karena tamparan tidak main-main adik kembarannya.
Wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat tapi dia tetap saja mengompres pipiku dengan telaten.
Aku menikmati kompresannya sambil memejamkan mata.
"Oh ya, aku penasaran satu hal, honey."
Perkataan tiba-tibanya membuatku membuka mata dan menatapnya heran. "Penasaran tentang apa?"
Dia menunduk dan menatapku intens hingga hanya tersisa sedikit jarak di antara kami.
Nafas hangat dan wanginya menerpa wajahku. Segitu dekatnya wajah kami. Maju sedikit maka akan langsung berciuman.
"Kenapa warna matamu biru sedangkan mata anggota keluargamu tidak?"
Aku menghela nafas. "Tidak tahu juga kenapa warna mataku seperti ini."
Prince menjauhkan wajahnya lalu mengelus pipiku lembut. "Lalu, kenapa kau selalu memakai softlen kalau keluar dari rumah, honey?"
"Tidak nyaman saja ada orang asing yang melihat warna mata asliku."
Prince mengangguk mengerti lalu mengompres pipiku lagi.
"Sepertinya kita ditakdirkan menjadi pasangan sejak dulu, honey. Buktinya warna mata kita sama."
Ucapannya malah membuatku terkikik geli. "Hanya kesamaan warna mata, mana bisa membuktikan kita jodoh atau tidaknya."
Prince ikut terkekeh.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi, honey?"
Aku menatapnya curiga. "Kenapa tanya-tanya? Kau khawatir dengan Alya?"
Prince menggeleng geli. "Aku hanya penasaran."
Aku mengangguk mengerti lalu menceritakan semuanya. Tidak terkecuali bagian Rafael yang tiba-tiba menamparku.
"Mulai sekarang, aku tidak akan Sudi dekat-dekat dengan Rafael lagi." Cetusku kesal.
"Tenang saja, honey. Mulai sekarang kita tinggal di sini. Kau tidak akan bertemu dengannya."
"Eitss. Kata siapa aku ingin tinggal di sini bersamamu? Aku akan pulang ke rumahku!"
Prince menatapku marah. "Bukan kah sudah aku bilang?! Aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku!!"
"Tapi aku tidak ingin berpisah dari mommyku. Aku selalu ingin mencicipi makanan lezat mommyku." Decakku kesal.
"Nanti kita bisa membuat makanan lezat sendiri, honey."
Aku mendengus kesal. "Sayangnya aku tidak bisa memasak."
Prince tersenyum lembut seraya mengelus pipiku lagi. "Aku bisa memasak. Jadi, aku yang akan memasakkanmu makanan lezat setiap harinya."
Ucapannya sontak membuatku melotot tidak percaya. "Masa sih kau bisa memasak?"
"Memangnya kenapa kalau aku bisa memasak?"
"Kau kan laki-laki." Jawabku ragu.
Prince terkekeh geli. "Aku laki-laki yang serba bisa melakukan apa pun, honey."
"Sombong sekali." Decakku kesal.
"Bukan sombong, tapi kenyataan."
"Btw, memangnya mommy ku tahu aku tinggal di sini bersamamu? Mommy memperbolehkannya?" Tanyaku heran.
"Iya. Mommy dan daddymu memperbolehkan kita tinggal bersama asal tidak melakukan itu."
"Itu apaan?"
"Lupakan saja. Tidak penting." Kekehnya aneh.
"Trus pakaianku gimana? Buku dan alat-alat ku lainnya?"
"Nanti akan ada orang yang mengantarkannya ke sini."
Rupanya mommy sudah menyiapkan semua itu.
Tidak khawatir apa anak gadisnya tinggal bersama seorang pria?
Masa sih mommy tenang-tenang saja membiarkanku tinggal bersama Prince?
"Sekarang aku ingin membeli bahan makanan dulu untuk kita soalnya bahan makanan di kulkas ku habis."
"Ikutt!!" Rengekku.
Prince menggeleng kuat. "Kau di sini saja, honey."
"Yah, kenapa?" Tanyaku kecewa. Padahal kan aku ingin membeli cemilan juga.
"Kau masih sakit, honey. Jadi, kau istirahat saja di sini."
"Ikutt!!" Rengekku lagi tanpa mempedulikan ucapannya. "Pipiku sudah tidak sakit lagi kok." Imbuhku cepat.
"Jangan nakal, honey. Kau di sini saja. Kau ingin apa? Nanti aku belikan."
Hah, terpaksa deh menurut mendengar nada penuh peringatannya.
"Aku ingin cemilan serba coklat dan ice cream!!"
"Oke, nanti aku belikan."
"Jangan lupa ya! Awas aja kalau tidak membelinya sama sekali!" Ancamku.
"Iya, honey. Aku tidak akan melupakannya. Sekarang aku pergi dulu ya. Kau jangan kemana-mana."
Prince pergi setelah mengecup keningku sekilas.
Kok rasanya seperti sudah menjadi sepasang suami istri ya?
-Tbc-