Possesive Prince || 15

537 Words
Mendengar pintu apartemen terbuka, aku langsung berlari ke sana dengan penuh semangat lantaran sudah tidak sabar untuk memakan cemilan pesananku. Prince tersenyum ke arah ku lalu menatapku dengan tatapan menggoda. "Sepertinya ada yang merindukanku sampai menyusulku ke sini." Perkataan penuh percaya dirinya membuatku menjitak keningnya kesal. "Aku ke sini bukan karena merindukanmu tapi untuk menagih pesananku." Wajah tampannya tampak cemberut. Seolah sedih mendengar Omelan ku. Dasar Prince! Langsung saja ku ambil alih kantong plastik di tangannya. Ia menatapku protes. "Biar aku saja yang membawanya ke dalam, honey. Aku tidak ingin membuatmu kelelahan." Ungkapnya seraya berusaha merebut plastik yang berada di dalam genggamanku tapi aku segera menghindar. "Jangan berlebihan. Aku tidak akan kelelahan hanya karena membawa ini. Lebih baik kita sekarang masuk ke dalam dan menonton film bersama. Bagaimana?" Prince tampak menatapku sebentar lalu mengangguk dan merangkulku. "Tapi sebelum makan bersama lebih baik kita mandi dulu." "Baju ku tidak ada di sini." "Pakai bajuku saja, honey." Aku berpikir sejenak. Tubuhku terasa gerah sih karena belum mandi sejak tadi. Belum lagi cuaca hari ini cukup panas, membuatku semakin banyak berkeringat. "Oke, kalau gitu aku mandi dulu deh. Selagi aku mandi, kau siapin film dan cemilannya dulu ya." Kekehku. Prince mengecup pelipisku sekilas. "Tenang saja, honey. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu." Melepaskan pelukannya lalu mengusap puncak kepalaku lembut. Prince ini memang jago sekali membuatku berdebar dengan tingkah manisnya. Lama-lama aku bisa saja terperangkap dalam pesonanya itu. Namun sepertinya itu tidak buruk karena Prince tidak seperti lelaki kebanyakan. Dia paket komplit. Tampan, kaya, dan setia. Tidak rugi jika jatuh hati padanya. Ups, apakah ini berarti aku mulai jatuh cinta padanya? Sebab, secara perlahan aku sudah mulai kehadirannya dan menikmati segala perlakuannya dengan senang hati. Bukan kah ini terlalu cepat untuk jatuh hati padanya? Bahkan aku belum mengenalnya selama seminggu. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Sebelumnya butuh waktu lama untuk melupakan sosok mantan kampretku itu karena dia terlalu menyebalkan. Tindakannya selalu saja membayangiku tiap kali dekat dengan pria lain. Sosok mantan ku itu lah yang membuatku menjadi malas untuk menjalin hubungan kasih dengan pria lain. Aku takut pria yang menjalin hubungan denganku nanti juga sama halnya seperti dia tetapi semua itu tidak berlaku pada Prince. Sejak pertama bertemu dengannya dan mengclaim diriku begitu saja, aku tidak merasa was-was lagi. Entahlah, aku hanya merasa dia dapat diandalkan dan ternyata benar saja. Sampai sekarang dia sosok yang sangat bisa diandalkan meskipun terlalu posesif. Dia tidak suka melihatku berinteraksi bersama pria lain, dia tidak suka melihatku mengepoi akun i********: para cogan, dia tidak suka melihatku makan banyak ice cream, dan masih banyak lagi namun meskipun begitu aku merasa tidak terlalu keberatan walau kadang hati mengumpat kesal. "Hei, kau melamunkan apa? Kenapa diam saja? Apa ada yang menganggu pikiranmu, honey?" Ah, sialan. Lupa aku kalau masih berada di dekatnya. "Aku mandi dulu deh. Jangan lupa beresin semuanya." Kikikku lalu mencium pipinya sekilas sebelum berlari ke dalam kamar. Untuk sekarang, aku hanya ingin mengikuti alur. Jika dia mencintaiku setulus itu maka aku juga akan mencintainya dengan tulus namun jika dia hanya mempermainkanku, aku tidak masalah karena sudah menyiapkan diri untuk bersikap bodo amat. Kali ini aku tidak ingin menjadi bodoh karena cinta lagi. Cukup sekali aku melakukan hal itu karena itu semua sangat memalukan untuk diingat. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD