Prince memutar film Psychopaths. Film yang sangat jauh dari bayanganku.
Di dalam bayanganku, Prince akan memilih film romantis bukan film yang penuh dengan adegan berdarah ini.
Memangnya dia tidak paham dengan kaum wanita ya?!
Gini-gini, aku suka banget loh nonton film romantis.
Kisah cinta si tokoh yang manis membuatku merasa sangat terhibur di tengah-tengah kejamnya realita kehidupa dan kisah manis si tokoh membuatku seolah merasakannya sendiri.
Prince memang aneh. Memilih film adegan berdarah. Tidak takut kah aku akan menjerit histeris dan menjadi trauma akibat adegan kekerasan itu?!
Anehnya lagi, Prince menonton film itu dengan sangat serius dan bersemangat seperti sedang mempelajari film tersebut untuk dipraktekkan.
"Pasti akan lebih seru kalau kuku korbannya diambil satu persatu."
Lirihannya yang dapat ku dengar mampu membuat bulu kudukku merinding.
Bayangkan saja kukumu dicabut satu persatu, pasti itu akan sangat sakit. Ah, jangankan di cabut, tersandung batu saja sudah sangat sakit.
"Kalau aku di sana, sudah pasti aku akan mencongkel matanya dan menjadikannya koleksi."
Prince seolah tidak menyadariku duduk di sampingnya dan terus menonton sambil mengucapkan kata-kata mengerikan. Apakah dia Psychopath juga?
Diam-diam aku bangkit dari sana, tidak berniat melanjutkan nonton film lagi karena lebih baik menonton drakor daripada itu. Pemainnya tampan-tampan dan mempesona daripada film psikopat yang penuh dengan adegan siksaan dan darah.
"Honey! Kau mau kemana?! Filmnya belum selesai."
Aku berbalik dan menatapnya sambil berkacak pinggang. "Aku tidak suka menonton film psikopat itu. Kalau kau suka, nonton saja sendirian."
"Padahal filmnya bagus, honey. Lihat lah itu, usus orangnya dikeluarkan dengan tangan secara langsung."
Mengibaskan tangan tak peduli dan kembali melanjutkan jalanku. "Aku tidak suka filmnya. Sekarang aku ingin menonton film kesukaanku sendiri."
Prince terdengar menghela nafas kasar, diiringi dengan televisi yang dimatikan. Lalu pria itu memelukku erat dari belakang. "Aku minta maaf. Kau pasti takut ya melihat filmnya?"
"Ya." Sahutku malas padahal aslinya tidak takut sama sekali. Aku hanya tidak suka melihat adegan berdarah karena melihat pria tampan lebih menarik daripada melihat adegan itu.
"Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mengajakmu menonton film itu lagi."
Tiba-tiba saja dia menggendong tubuhku ala bridal style ke dalam kamar. Aku tidak memberontak karena itu percuma. Ia menurunkanku dengan hati-hati di atas kasur lalu duduk di sampingku. Memeluk tubuhku erat seraya melayangkan kecupan-kecupan ringan di puncak kepalaku.
"Oh ya, honey. Aku keluar dulu ya? Tidak apa kan aku tinggal sendiri di sini?" Tanyanya begitu hati-hati, seolah takut aku sakit hati ditinggal sendirian di sini.
"Ngapain?"
"Membeli sepatu baru, honey."
"Oh. Pergi aja."
"Beneran? Tidak apa-apa kan aku tinggal sendirian di sini?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Prince melepaskan pelukannya dan mengecup pipiku sekilas sebelum pergi.
Tidak peduli sebenarnya dia ingin pergi kemana karena yang paling terpenting sekarang adalah menonton drakor terbaru, Mr Queen.
Akan sangat bagus kalau dia tidak ada di sini karena itu akan membuat ku lebih leluasa menonton tanpa gangguan siapa pun.
Hal yang paling menjengkelkan bagiku adalah diganggu saat menonton Drakor.
Namun sebelum menonton aku menyiapkan berbagai cemilan untuk menemaniku nantinya.
Semoga saja dia lama di luarnya sehingga tidak akan ada yang mengangguku.
-Tbc-