Rini penatap sosok lelaki yang dengan lancang melawannya. “Berani sekali kau menghentikanku!” pekik Rini marah.
“Emangnya kenapa kalau aku berani melawan. Kau hanyalah karyawan rendahan yang dengan mudah aku pecat,” kata Ethan membuat Rini tertawa terbahak-bahak mengejek.
“Kau tidak tahu siapa aku! Aku adalah Manager di Perusahaan ini!” kata Rini dengan bangga menyebut kata Manager. Ethan tersenyum menyeringai di balik masker yang ia kenakan.
“Hanya sekali perintah aku bisa membuatmu tak bisa keluar masuk di perusahaan ini,” kata Rini lagi dengan bangga membuat Ethan semakin tersenyum menyeringai di balik maskernya.
Rhea yang sejak tadi hanya diam segera melepaskan tangannya dari dua satpam yang sejak tadi memeganginya. Mendengar ancaman Rini membuatnya takut, ia tak ingin seseorang mejadi korban karenanya. Apalagi pada sosok lelaki bermasker yang sejak tadi membelanya.
“Kau ingin mendengar permintaan maafku kan? Baik lah aku minta maaf. Jadi lepaskan dia. Ini hanya masalah kita berdua,” kata Rhea tak ingin melibatkan orang lain dengan masalahnya.
Rini menatap Rhea dengan sinis. “Kata maaf sama sekali tak cukup. Aku minta kau berlutut di hadapanku.”
“Baiklah, jika itu maumu aku akan berlutut tapi lepaskan dia,” kata Rhea sambil menatap lelaki bermasker tersebut. Rini tersenyum tipis. “Baik, aku akan melepaskannya asal kau berlutut di hadapanku.”
Rhea pun menghela napas dan segera berlutut di hadapan Rini. Namun, sebelum lututnya menyentuh lantai Ethan dengan cepat menghentikan Rhea. “Jangan berlutut pada orang sepertinya.”
Perkataan Ethan membuat Rini semakin geram. “Sebenarnya kau siapa sih! Dari tadi menganggu sekali. Apa kau tidak tahu arti Manager? Aku di perusahaan ini memiliki posisi yang sangat penting. Jadi, apa pun yang aku perintahkan pasti akan dilakukan oleh anak buahku. Bahkan jika kedua semua satpam yang ada di perusahaan ini pun pasti akan melakukan apa yang aku perintahkan.”
“Kau tidak punya hak tahu siapa aku. Yang jelas, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa terhadapku,” jawab Ethan dengan percaya diri. Membuat Rini semakin kesal.
Rini pun menatap para satpam yang sejak tadi berjaga. “Pukul lelaki ini!” pekik Rini memberikan perintah.
Para satpam itu pun segera menyerang lelaki bermasker tersebut. Namun, Ethan yang sudah terbiasa dalam perkelahian dengan mudah mengalahkan kelima satpam tersebut. Kemudian, segera menarik tangan Rhea untuk menjauh dari perusahaan.
“KEJAR MEREKA!” Pekik Rini dengan marah. Dan kelima satpam yang dikalahkan lelaki bermasker itu kembali berdiri dan segera mengejar Rhea dan lelaki bermasker.
Ethan terus membawa Rhea lari menjauh dari kejaran para satpam. Hingga saat menemukan sebuah persimpangan, Rhea dan lelaki segera berbelok kemudian, bersembunyi di balik tembok yang besar. Kini posisi keduanya sangat intim. Rhea merasakan jantungnya berdebar sangat kencang saat ini. Bagaimana tidak, lelaki bermasker itu sangat dekat dengannya, bahkan ia bisa melihat jelas jangkung lelaki itu.
“Di mana mereka!” Saat mendengar suara satpam. Ethan dengan cepat membekap mulut Rhea, takut jika Rhea tiba-tiba berteriak. Hal itu membuat jantungnya berdebar sangat kencang dan keringat dingin mulai membanjiri dahinya.
Setelah lima menit berlalu, kelima satpam itu pun pergi. “Lain kali, kau harus hati-hati,” kata Ethan kemudian segera melepaskan tangannya dan membalikkan badannya ingin meninggalkan Rhea.
Namun, Rhea dengan cepat menangkap tangannya. “Tunggu.”
“Tidak usah berterima kasih,” jawab Ethan cuek lalu kembali ingin meninggalkan Rhea. Namun, Rhea kembali menangkap tangannya untuk menghentikannya.
Rhea pun merogoh kantong celananya dan menemukan beberapa permen. Kemudian menarik tangan lelaki itu dan memberikan beberapa permen. “Anggap saja ini adalah bentuk terima kasihku. Terima kasih untuk hari ini.”
“Baiklah, aku terima permen ini,” jawab lelaki bermasker itu lalu meninggalkan Rhea.
***
Jam telah menunjukkan pukul dua sore saat Rhea kembali ke rumahnya. Ia melangkah dengan langkah lelah setelah apa yang terjadi hari ini. Rhea pun segera mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa yang ada di ruang tamu. “Untungnya ada lelaki itu jika tidak, aku tidak akan bisa lepas dari Rini,” gumam Rhea dan menghela napas.
Trakk!
Rhea pun tersentak kaget saat mendengar suara di dalam kamar suaminya. “Apakah dia sudah kembali?” batin Rhea.
Rhea pun bergegas menuju kamar suaminya, dan mendapati pintu kamar suaminya terbuka. Rhea pun mengintip dari luar dan kedua matanya membulat kaget mendapati suaminya sedang kesulitan untuk menganti perban luka.
Rhea dengan cepat masuk dan ingin mengambil alih perban di tangan suaminya. Namun, Ethan menepis tangannya. “Apa yang kau lakukan di sini? Sudah aku bilang jangan pernah masuk ke sini,” kata Ethan dengan nada dingin.
“Aku ... aku hanya ingin membantumu. Sebagai seorang istri bukankah seharusnya aku merawatmu?”
“Tidak perlu,” jawab Ethan dingin dan kembali ingin membalut lukanya, namun ia meringis kesakitan saat rasa sakit itu menyerangnya.
“Tuh kan. Sini biar aku yang mengganti perbanmu. Kau cukup diam saja,” kata Rhea dan mengambil perban di tangan Ethan dan mulai membalut luka suaminya.
Ethan pun membeku dan membiarkan Rhea membantunya untuk mengobati lukanya. Kemudian tatapannya tertuju pada wajah Rhea yang masih memerah. Mengingat kejadian tadi membuatnya marah pada wanita yang telah menampar istrinya.
“Ada apa dengan wajahmu,” jawab Ethan berpura-pura tidak tahu.
“Hanya luka lecet. Tak sengaja kejedot pintu,” jawab Rhea berbohong.
“Sepertinya bukan karena kejedot pintu, sepertinya bekas tampa _ arkh.” Tepat saat Ethan ingin menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu meringis kesakitan saat Rhea tiba-tiba menindih lukanya.
“Maa ... maafkan aku.”
“Apa kau sengaja melakukannya?”
“Tidak ... aku.”
“Akrh.” Tiba-tiba Ethan kembali meringis kesakitan membuat Rhea semakin merasa bersalah.
“Sini biar aku yang melakukannya sendiri,” kata Ethan cepat dan mengambil alih pekerjaan Rhea. Sedangkan Rhea hanya bisa diam dan membiarkan Ethan membalut lukanya sendiri.
Dan ia terpaku dengan kehebatan Ethan yang begitu cepat membalut lukanya tanpa membuatnya meringis kesakitan.
Setelah selesai membalut lukanya, Ethan pun menatap Rhea yang saat ini masih menatap lukanya yang sudah ia balut dengan sempurna. “Apa yang kau lihat? Keluar dari kamarku.”
“Ba ... baik.” Rhea segera keluar dari kamar suaminya.
Rhea segera kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah itu segera ke dapur untuk memasak makan malam nanti.
Setelah jam menunjukkan pukul delapan malam, beberapa hidangan telah tersaji di atas meja. Rhea pun tersenyum menatap hasil masakannya dan berharap suaminya akan memakan masakannya kali ini.
Rhea segera melangkah menuju kamar suaminya dan masih mengenakan celemek. Saat tiba di pintu kamar suaminya, kebetulan suaminya juga keluar dengan pakaian biasa. “A ... ayo makan malam bersama. Aku sudah masak banyak hidangan untuk makan malam,” kata Rhea gugup dan penuh harap.
“Tidak perlu. Aku mau keluar,” jawab Ethan dingin dan segera meninggalkan Rhea yang hanya bisa menghela napas dengan sikap Ethan yang sangat berubah setelah menikah.
Rhea segera kembali ke ruang makan dan hanya bisa memakan makanannya sendiri. Tanpa sadar air matanya mengalir. Ia menangis dalam diam dan menganggap jika takdirnya sangat kejam padanya. Ia hanya bisa berharap suaminya dapat kembali seperti semula saat pertama kali mereka berkenalan.