Di Balik Topeng CEO

1226 Words
Rhea menatapi bangunan tinggi di hadapannya. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada sebuah mobil yang terparkirtak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tak mungkin salah mengenali mobil suaminya sendiri. “Apa dia bekerja di sini yah?” Rhea pun menghela napas lalu melangkah ingin masuk. Namun, baru satu langka, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara yang amat sangat ia kenal. “Wahhh ... siapa ini. Berani sekali datang ke sini.” Rhea pun menatap si pemilik suara – Rini berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang melipat di d**a dan terlihat angkuh. “Bukan urusanmu,” jawab Rhea cepat dan kembali ingin memasuki bangunan megah di hadapannya. Namun, Rini sepertinya tak membiarkannya berlalu begitu saja. Rini dengan cepat menghentikan langkah Rhea dan menghadang langkahnya. “Kau orang luar tidak boleh masuk.” “Apa hakmu melarangku.” “Jelas aku punya hak melarangmu. Aku kan kerja di sini,” jawab Rini dengan bangga sambil memperlihatkan sebuah kartu pengenal yang mengalun di lehernya. “Aku harus mengelabuinya agar bisa masuk. Aku harus mencari suamiku di dalam,” batin Rhea sambil mencoba memikirkan cara untuk lepas dari Rini. Kemudian, Rhea pun menatap sebuah mobil yang baru saja tiba. “Rean!” pekik Rhea dan membuat Rini langsung menatap ke arah mobil yang baru datang. Saat itulah Rhea buru-buru masuk ke dalam perusahaan. Menyadari Rhea mengelabuinya membuat Rini kesal dan bergegas mengejar Rhea yang sudah masuk ke dalam perusahaan. Sayangnya, saat Rini masuk ia sudah tak menemukan Rhea. Tangan wanita itu mengepal marah. “Kau pikir bisa mengelabuiku,” batin Rini dan tersenyum menyeringai. Kemudian, ia pun bergegas mendekati seorang satpam yang bertugas. Rini pun menegur satpam tersebut karena membiarkan seorang masuk tanpa izinnya. “Cepat cari wanita itu dan bawa ke hadapanku!” pekik Rini dengan sejuta emosi. “Baik, Bu!” pekik satpam tersebut serentak dan bergegas mencari Rhea. *** Di sisi lain, Rhea terus menyusuri lorong perusahaan mencari suaminya dengan diam-diam dan segera bersembunyi saat melihat seseorang yang lewat. “Aku harus mencari ke mana yah?” batin Rhea sedikit bingung sebab baru pertama kalinya ia menginjakkan kakinya pada perusahaan tersebut. “Bu Rini sedang mencari seorang wanita.” Rhea segera membekap mulutnya agar tak bersuara. Ia bersembunyi di balik pintu salah satu ruangan untuk menghindari dua lelaki yang berpakaian satpam. “Sepertinya Rini telah mengerahkan satpam untuk mencariku,” batin Rhea. Setelah dua satpam itu pergi, Rhea segera keluar dari persembunyiannya dan bergegas kembali mencari suaminya. Ia pun membuka satu persatu ruangan untuk mencari suaminya yang mungkin berada di salah satu ruangan tersebut. Hingga tibalah ia di salah satu ruangan yang bertuliskan. “CEO ROOM” Rhea pun memegang knop pintu ruangan tersebut. Namun, gerakannya terhenti. “Dia tidak mungkin di sini. Mana mungkin dia seorang CEO,” batin Rhea dan tertawa kecil lalu mengurungkan niatnya untuk membuka ruangan CEO. “Ternyata kau di sini.” Seketika bulu kudung Rhea meremang saat mendengar suara lelaki di belakangnya. Saat ia membalik, kecemasannya semakin bertambah. Rhea tersenyum kaku dan mencoba untuk melarikan diri. Namun, ia tak akan bisa mengelabui dua satpam di hadapannya. Kedua tangannya pun dipegang dan memaksanya untuk mengikuti satpam tersebut. “Lepaskan aku! Aku mohon. Aku hanya ingin mencari suamiku. Dia ada di sini!” pekik Rhea memberontak berharap satpam itu akan melepaskannya. Tapi, sepertinya mereka tak akan mendengarkannya. “Lepaskan aku! Aku ingin mencari suamiku! Dia ada di sini!” Rhea masih terus memberontak. Sebisa mungkin berusaha agar bisa lepas dari dua satpam tersebut. Hingga akhirnya, pintu ruangan CEO terbuka. Seorang lelaki keluar dan menatap mereka dengan tatapan dingin. “Apa yang terjadi?” Rhea pun menatap lelaki yang baru keluar. Bukan suaminya, melainkan orang lain. Hanya namanya saja yang sama. Seketika, Rhea berhenti memberontak, ia merasa jika mungkin suaminya benar-benar tidak ada di perusahaan ini. “Maaf, Pak Ethan. Wanita ini berkeliaran di perusahaan. Dan diduga sebagai mata-mata.” Lelaki itu pun menatap Rhea dan merasa jika wanita itu sangat familiar. “Tidak mungkin wanita ini istrinya Tuan Ethan,” batinnya. “Lalu kalian mau bawa ke mana wanita ini?” “Kami akan membawanya pada Bu Rini.” “Baiklah. Bawa wanita itu.” Kedua satpam itu mengangguk patuh dan segera membawa Rhea yang saat ini mulai pasrah. Lelaki bernama Pak Ethan –Alias Jack itu segera kembali ke ruangan CEO. Di ruangan itu, Ethan yang asli sedang duduk di singgah sananya sambil membaca beberapa dokumen penting perusahaan. Ethan dan Jack bertukar identitas dan hanya mereka berdua yang tahu akan kebenaran itu. Sebab, Ethan – pemilik asli perusahaan memiliki pekerjaan lain yang mengharuskan seseorang untuk menggantikan posisinya jika ia tak ada. “Apa yang terjadi di luar?” “Tidak ada apa-apa, Tuan.” Ethan pun kembali membaca dokumen di hadapannya. Kemudian, menutupnya setelah semua dokumen telah ia periksa dengan baik. Ia kemudian menyerahkan dokumen tersebut pada Pak Jack – bawahannya. “Serahkan pada Bu Rini. Semuanya sudah bagus.” “Baik, Tuan.” Ethan pun berdiri dan segera mengambil sebuah masker dan ingin melepas jas yang sejak tadi ia kenakan. Namun, baru beberapa detik memakai masker rasa sakit mulai menyerangnya. “Akhh ...” “Tuan? Apakah anda baik-baik saja?” tanya Pak Jack panik dan membantu bosnya untuk kembali duduk di singgah sananya. Kemudian memberikan sebuah obat pereda sakit. Ethan dengan cepat memakan obat tersebut. “Sampai kapan anda akan melakukan pekerjaan kotor itu?” tanya Jack tiba-tiba membuat Ethan menatapnya dengan tajam. “Jangan mengungkit masalah itu di perusahaan,” kata Ethan dengan nada tegas. “Aku hanya menghawatirkan anda. Pekerjaan itu sangat berba-“ “Diam! Aku tidak ingin kau membicarakan itu lagi di hadapanku apa lagi jika berada di perusahaan!” pekik Ethan sedikit meninggikan suaranya. Pak Jack pun menghela napas dan hanya bisa mengangguk mengerti. “Baik, aku akan mengingatnya, Tuan.” Ethan mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Membuat Pak Jack sangat mencemaskannya, tapi ia tak punya pilihan. Ia hanyalah bawahan yang hanya bisa mematuhi perintah atasan. “Aku akan pulang, tetaplah bersandiwara seperti yang aku minta.” “Baik, Tuan,” kata Jack. Ethan pun kembali mengenakan masker hitamnya lalu melepas jasnya dan hanya mengenakan Hoodie hitam. Dengan melangkah pelan, Ethan keluar dari ruang CEO. Ia terlalu lemah saat ini, bahkan hanya untuk berjalan saja ia tak kuat. Hingga tibalah ia di lantai dasar. Tepatnya, saat di lobi. Ia melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Bagaimana tidak. Ia mendapati istrinya tengah dipegang oleh dua orang satpam. Lalu, seorang wanita bernama Rini dengan keras menampar istrinya hingga menyebabkan wajah Rhea memerah. “Kenapa dia bisa ada di sini?” batin Ethan. Ethan berdiri mematung dan hanya bisa menatap Rhea ditampar berkali-kali oleh Rini yang baru beberapa bulan ini kerja di perusahaannya. Hingga tiba-tiba, tatapan Rhea mengarah padanya membuat dadanya mendesir. Tatapan itu sangat sayu seakan memintanya untuk menolong Rhea. Ethan pun menghela napas. Ia sama sekali tak menyukai Rhea dan memutuskan untuk segera pergi. “Ayo ngaku. Kau pasti mata-mata kan!” pekik Rini membentak Rhea yang saat ini terlihat sangat lemas. Rhea menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak. Aku bukan mata-mata. Aku hanya ingin mencari suamiku.” “Dari tadi kau terus beralasan suamimu ada di sini. Masih saja belum mau mengaku,” desis Rini marah lalu kembali melayangkan sebuah tamparan di wajah Rhea. Namun, sebelum tangan Rini menyentuh wajah Rhea sebuah tangan seketika menangkap tangannya. “Hentikan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD