Kecurigaan Rhea

1062 Words
Rhea memasuki kamar suaminya dengan langkah pelan setelah Dokter Rangga pulang. Ia pun segera duduk di sebuah kursi yang ada di kamar tersebut dan menatap suaminya yang sedang tertidur pulas. “Syukurlah kau baik-baik saja,” batin Rhea merasa lega. Dengan hati-hati, Rhea pun menutupi tubuh suaminya dengan selimut agar suaminya tidak akan kedinginan saat tengah malam nanti. Namun, saat ia tak sengaja menyentuh dahi Ethan, ia pun mulai panik. “Kenapa tiba-tiba bisa demam?” Rhea bergegas cepat mencari kotak P3K di kamar suaminya, namun ia tambah kaget saat menemukan banyak jenis obat-obatan di dalam lemari. Baik untuk luka ringan hingga luka dalam. “Apakah dia selalu pulang terluka?” batinnya semakin curiga tentang apa yang selama ini suaminya kerjakan. Tak ingin terlalu memikirkan kecurigaannya, Rhea bergegas mengambil kompres yang tersedia di dalam kotak P3K. Lalu ia kembali mendekati suaminya yang terlihat tidak tenang dalam tidurnya. Rhea segera menempelkan kompres di dahi Ethan dan berharap suaminya segera membaik. Namun, saat Rhea ingin menjauhkan tangannya, Ethan tiba-tiba memeganginya. “Ma ... jangan pergi ... hiskk.” Rhea kembali tertegun mendengar Ethan menangis. Rhea segera duduk dan membiarkan Ethan memegang tangannya. “Aku tidak akan pergi ...” jawab Rhea dan mengelus tangan Ethan dengan tangannya yang lain, mencoba memberikan ketenangan pada suaminya yang mungkin saat ini sedang bermimpi buruk. Rhea terus menjaga suaminya hingga tengah malam, dan rasa ngantuk yang sejak tadi ia tahan kini semakin membuatnya tersiksa. Walau begitu, ia merasa lega karena tubuh Ethan tidak panas lagi. “Syukurlah demamnya sudah turun,” kata Rhea dengan suara parau dan kedua matanya yang sayu. Rhea menggelengkan kepalanya, mencoba untuk tetap sadar. Akan tetapi rasa ngantuk itu semakin kuat. Hingga akhirnya, secara perlahan kedua matanya pun terpejam dan kepalanya jatuh di pinggir ranjang dengan posisi duduk. Tepat saat Rhea tertidur, perlahan kedua mata Ethan terbuka dan kaget mendapati Rhea tertidur di kamarnya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Rhea tidur di kamarnya malam ini. *** Jam telah menunjukkan pukul delapan pagi saat Rhea terbangun dari tidur panjangnya. Saat ia membuka kedua matanya, ia kaget tak menemukan Ethan di atas ranjang. Rhea mulai panik dan mengedarkan pandangannya di seluruh kamar suaminya. “Ke mana dia pergi?” batinnya semakin panik. Rhea bergegas keluar kamar mencari suaminya. Namun, saat di ambang pintu. Ia mendengar desiran air keran yang mengalir. Ia pun membalikkan tubuhnya dan menatap kamar mandi yang tak jauh dari pintu. “Mungkinkah dia di kamar mandi?” Rhea segera berjalan pelan mendekati kamar mandi. Tepat saat ia berada di depan pintu kamar mandi, saat itu juga pintu terbuka membuatnya semakin panik mendapati suaminya berdiri di hadapannya yang hanya mengenakan Wearable towel. Seketika tubuh Rhea membeku, apa lagi tatapan Ethan saat ini seakan ingin membunuhnya. “Ma ... maafkan aku. Aku hanya mengkhawatirkanmu ...” jawab Rhea gugup. Namun, Ethan tak menjawab, lelaki itu melangkah mendekati Rhea masih dengan aura yang ingin membunuh. Rhea memundurkan tubuhnya, merasa takut saat Ethan semakin dekat dengannya. Hingga, akhirnya langkahnya terjebak di antara dinding dan tubuh Ethan. “Apa yang ka_” perkataan Rhea terpotong saat satu jari Ethan tertempel di bibirnya seakan mengisyaratkannya untuk jangan bicara. “Kali ini aku biarkan kau di kamarku. Tapi, lain kali aku tidak ingin kau ada di kamarku mengerti!” Rhea pun mengangguk cepat. “Dan ingat, lupakan kejadian semalam. Anggap saja kau tidak pernah menemukanku dalam keadaan terluka,” kata Ethan, dan sekali lai Rhea hanya bisa mengangguk. “Sekarang ... keluar dari kamarku,” kata Ethan dengan nada yang sangat dingin. “Tapi ... aku hanya ingin menjagamu. Sebagai seorang istri, aku harus merawatmu,” jawab Rhea menolak walau jantungnya sangat berdebar kencang saking gugupnya berada di hadapan suaminya sendiri. “Aku sudah sembuh. Kau tidak perlu merawat ku,” jawab Ethan dengan nada dingin lalu kembali mengusir Rhea. Dengan terpaksa Rhea keluar dari kamar suaminya. Ethan pun kembali meringis kesakitan saat Rhea sudah keluar dari kamarnya. Ia berpura-pura baik-baik saja di hadapan Rhea. Ia tak ingin seseorang melihat kelemahannya apa lagi, pada seorang wanita seperti Rhea. “Jika saja dia tidak memergokiku waktu itu, aku tidak mungkin terjebak dalam pernikahan dengannya,” batin Ethan dengan perasaan kesal pada sosok Rhea. Dengan langkah tertatih, Ethan mendekati lemarinya dan mengambil beberapa jenis obat yang sudah terbiasa ia gunakan. Dengan hati-hati, Ethan melepaskan Wearable towel dan kembali meringis kesakitan saat menyadari luka yang sudah dijahit oleh Dokter Rangga semalam terbuka. Dengan gerakan cepat Ethan mengambil tali khusus dan sebuah jarum. Ia pun menjahit lukanya kembali dengan cukup lihai. Dari gerakan repleksnya, sudah dipastikan jika Ethan sudah terbiasa terluka dan mengobati lukanya sendiri. Setelah satu jam berlalu, Ethan sudah selesai mengurus lukanya, bahkan sudah membalutnya dengan perban. Kemudian, Ethan segera mengambil sebuah pil pereda sakit dan meminumnya. Dretttt! Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan wajah menahan sakit, Ethan segera mengangkat panggilan tersebut. “Ada apa?” “Baiklah, aku akan segera ke sana,” jawab Ethan lalu mematikan ponselnya. Ethan pun segera mengganti baju dengan setelan kantoran dan bergegas keluar dari kamarnya. Namun, ia kaget saat mendapati istrinya berdiri di hadapannya sambil memegang nampan makanan. “A ... aku buatkan sarapan untukmu. Aku harap kau mau memakannya ...” ucap Rhea sedikit gugup dan takut. “Tidak perlu. Aku tidak lapar. Kau makan sendiri saja,” jawab Ethan dengan nada dingin lalu berlalu begitu saja meninggalkan Rhea yang mematung mendengar perkataan Ethan yang sangat dingin. “Kenapa dia berubah sekali setelah menikah? Sebenarnya aku punya salah apa hingga ia memperlakukanku seperti ini?” batin Rhea. Rhea pun menghela napas, kemudian ia teringat pada luka Ethan semalam. “Aku harus mencari tahu sebenarnya apa yang dia lakukan selama ini?” Rhea bergegas mengambil tasnya di dalam kamar. Sebelum keluar dari kamarnya, Rhea mengintip sejenak untuk memastikan Ethan masih ada di garasi. Rhea pun bergegas keluar dari kamarnya dan keluar dari rumah tepat saat mobil yang dinaiki Ethan sudah keluar dari gerbang utama. Rhea melangkah cepat keluar dan mencari taksi. Tak membutuhkan waktu yang lama saat ia sudah mendapatkan sebuah taksi. “Ikuti mobil hitam itu,” kata Rhea sambil menunjuk sebuah mobil hitam yang melaju kencang di depannya. Sang supir pun mengangguk mengerti dan mengikuti jejak mobil hitam tersebut. Waktu terasa singkat, Rhea pun tiba di sebuah bangunan yang menjulang tinggi dan bertuliskan ‘START UP’ “Ini kan salah satu perusahaan ternama di Indonesia. Kenapa dia bisa ada di sini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD