Rahasia Ethan

929 Words
Tiga hari telah berlalu sejak pernikahan Rhea dan Ethan. Namun, selama tiga hari ini, Ethan jarang pulang. Palingan saat Ethan pulang saat Rhea sedang tidur lalu pergi entah ke mana. Masakan yang selalu Rhea masuk untuk Ethan sama sekali tak pernah tersentuh. Membuatnya mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya? Sebelum menikah, Ethan sangat ramah dan peduli padanya. Namun, setelah menikah, lelaki itu terus menghilang tanpa jejak. Bahkan, saat ia menghubungi suaminya, suaminya sama sekali tak ingin mengangkat panggilannya membuatnya semakin bertanya-tanya akan perubahan sikap suaminya. Walau pun begitu, Rhea tak ingin terlalu memikirkan sikap suaminya yang jarang pulang. Ia hanya fokus pada statusnya seorang istri. Karena tak memiliki pembantu, Rhea harus turun tangan untuk membersihkan rumah, lagian ia tak punya kerjaan lain selain sebagai seorang istri. Dan setiap malam, Rhea membuat hidangan untuk suaminya, berharap suaminya pulang dan memakan masakannya suatu hari nanti. Hingga dua minggu telah berlalu, akhirnya Ethan pulang ke rumah. Dengan senyum yang merekah di wajahnya Rhea menyambut sang suami dengan hangat. “Sayang, akhirnya kau pulang. Sebenarnya, proyek apa yang sedang kau kerjakan hingga baru pulang sekarang?” tanya Rhea masih dengan senyum merekah di wajahnya. Namun. “Bukan urusanmu.” Dua kata tersebut membuat senyum Rhea menghilang. Setelah dua minggu berlalu setelah pernikahan mereka, sikap Ethan benar-benar berubah. Masih berusaha untuk tenang, Rhea pun mengajak Ethan untuk makan malam bersama. Kebetulan ia baru saja memasak. “Ayo kita makan bersama.” “Aku sudah makan di luar,” jawab Ethan lalu naik ke lantai dua. Rhea pun mengikuti Ethan naik ke lantai dua. Namun, setibanya di kamar Ethan berbalik dan menatap Rhea. “Kenapa mengikuti ku masuk kamar?” “Bukankah kita suami istri? Jadi wajarkan jika aku ikut masuk ke dalam kamar,” jawab Rhea. Ethan pun menatap sekeliling kamarnya. Kamarnya sudah ditata rapi dengan bingkai foto pernikahan mereka. Tak hanya itu, beberapa perabotan milik Rhea sudah tersusun rapi di kamar tersebut. Ethan pun kembali menatap Rhea. “Mulai sekarang kita pisah ranjang.” “Tapi ...” “Kau tidur di kamar ini dan aku akan tidur di kamar lantai bawah. Aku akan minta Pak Roni untuk memindahkan baju-bujuku.” Rhea benar-benar syok dengan pernyataan suaminya untuk pisah kamar. “Kenapa tiba-tiba ingin pisah kamar? Apakah aku punya salah?” tanya Rhea bingung dengan perubahan sikap Ethan. Namun, bukannya menjawab suaminya malah meninggalkan kamar. Rhea mengejar suaminya turun ke lantai satu. Kemudian, ia melihat seorang lelaki yang jika diperkirakan seumuran dengan suaminya sedang menunggu di ruang tamu. “Ada apa memanggilku?” “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” jawab Ethan lalu meminta lelaki itu untuk mengikutinya ke salah satu kamar yang ada di lantai satu. Menyadari Rhea akan mengikutinya, Ethan pun menatap Rhea dengan tajam. “Jangan mengikutiku,” kata Ethan dengan nada dingin. Rhea hanya bisa pasrah dan membiarkan Ethan bicara dengan lelaki yang tak dikenalnya itu. Rhea pun kembali ke kamarnya dan sesekali menghela napas panjang. Ia benar-benar tak menyangka jika kehidupan rumah tangganya akan serumit ini. Ia pikir akan hidup bahagia dengan suaminya, tapi nyatanya suaminya berubah selah menikahinya. Di saat Rhea sedang termenung memikirkan kehidupan barunya, ia mendengar pintu tertutup. Rhea segera keluar dari kamar dan sekilas ia melihat suaminya sedang keluar bersama dengan lelaki yang ia lihat tadi. “Sebenarnya dia mau ke mana jam segini?” batinnya bertanya-tanya. Karena sudah jam sepuluh malam, Rhea memutuskan untuk kembali masuk ke kamarnya untuk tidur. *** Trak! Suara benda jatuh membuat Rhea terusik dari tidur nyenyak nya. Wanita itu pun melenguh pelan dan mencoba untuk kembali tidur. Namun, sekali lagi ia mendengar suara aneh dari lantai bawah. “Suara apa itu?” Karena penasaran, wanita itu segera turun ke lantai satu. Keadaan lantai satu agak gelap. Hanya satu lampu yang menyala di bagian ruang tamu. Rhea pun bergegas menyalakan semua lampu dan betapa kagetnya ia saat mendapati jejak darah di lantai rumahnya. Rhea segera menutup mulutnya agar tak memekik. “Apakah ada pembunuh di rumahku?” batinnya ketakutan. Namun, Rhea mencoba memberanikan diri untuk mengecek asal usul darah yang ia temui. Rhea pun memberanikan diri untuk mengikuti arah darah yang ia lihat di lantai rumahnya. Dan ia semakin panik saat darah itu mengarah pada kamar suaminya. Dengan gerakan cepat Rhea membuka pintu kamar suaminya. Saat itulah, ia menemukan suaminya bersimbah darah di lantai. “Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka!” pekik Rhea khawatir. Namun, Ethan tak menjawab, rasa sakit yang ia rasakan membuatnya tak bisa berkata-kata. “Aku ... aku akan membawamu ke rumah sakit!” pekik Rhea berdiri ingin memanggil seseorang. Namun, Ethan segera memegang tangannya dan menggelengkan kepala. “Kau terluka parah. Kau harus di bawah ke rumah sakit!” “Tidak ... jangan bawa aku ke rumah sakit,” jawab Ethan dengan susah payah. Kedua mata Rhea berkaca-kaca. “Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu ...” “Panggil ... Dr. Rangga,” jawab Ethan lalu mengeluarkan ponselnya agar Rhea bisa menghubungi dokter pribadinya. Rhea bergegas mencari kontak Dr. Rangga di ponsel Ethan. Setelah menemukan kontak Dokter Rangga, Rhea segera menghubungi dokter tersebut dan memintanya segera memeriksa keadaan suaminya. Tak membutuhkan waktu yang lama saat Dokter Rangga tiba dan segera memberikan pertolongan pada suaminya yang terluka parah. Rhea menunggu di luar kamar dengan perasaan cemas. Ia terus berdoa pada sang pencipta akan keselamatan suaminya. Namun, di sisi lain. Ia mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya suaminya lakukan selama ini? Dan kenapa suaminya bisa pulang dalam keadaan terluka parah? Rhea pun menatap pintu kamar suaminya yang masih tertutup rapat. “Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD