Terpaksa Menerima Takdir

1132 Words
“Aku tidak mau!” pekik Rhea menolak keras perjodohan yang telah ayahnya atur dengan seorang lelaki asing bernama Ethan. “Ethan adalah lelaki yang baik. Selain itu, dia kaya dan akan memberikanmu kehidupan yang nyaman. Ayah yakin kau pasti bisa bahagia bersamanya,” jawab sang ayah mencoba membujuk Rhea untuk menerima perjodohan. “Aku tidak mau, Yah. Aku sama sekali tak mengenalnya. Wajahnya saja pun aku tidak tahu.” Rhea memelas agar ayahnya merubah keputusannya untuk menjodohkannya. Namun, sepertinya sang ayah sama sekali tak mendengarkannya. “Ayah tidak mau tahu. Pokoknya kau dan Ethan harus menikah dua minggu setelah pernikahan Rini dan Rean.” Mendengar nama Rean membuatnya langsung terdiam, dan raut wajah Rhea terlihat sedih. Ia tak punya pilihan lain, keputusan ayahnya sudah bulat untuk menjodohkannya dengan Ethan. Rhea hanya bisa diam dan meratapi takdirnya yang begitu kejam. *** Setelah pekenalan singkat melalui Whatsupp. Rhea dan Ethan memutuskan untuk bertemu di sebuah butik ternama yang ada di Jakarta. Rhea tiba di butik tepat saat jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Saat ia keluar dari mobil taxi yang ia pesan, seorang lelaki tiba-tiba mendekat dan tersenyum ke arahnya. “Dia tampan sekali,” batin Rhea saat menatap wajah tampan lelaki yang ada di hadapannya. “Kau pasti Rhea yah?” Seketika lamunan Rhea buyar mendengar perkataan lelaki tersebut. “Ka ... kau Ethan?” tanya Rhea memastikan. “Iya. Aku Ethan,” jawab lelaki tersebut dengan ramah. Rhea sama sekali tak mengenali wajah calon suaminya, sebab saat ia berkenalan melalui ponsel, Rhea sama sekali tak pernah meminta foto Ethan, bahkan foto profil lelaki itu pun hanya gambar kartoon. Setelah berkenalan untuk yang kedua kalinya, keduanya segera masuk ke butik untuk mencari baju pengantin yang cocok untuk hari pernikahan mereka. Dan saat mereka tiba di dalam butik, pandangan Rhea tertuju pada Rean – mantan kekasihnya yang tega selingkuh dengan saudara tirinya sendiri. Tatapan Rhea pun menjadi sedih melihat pemandangan di depannya, ia tak menyangka mantan kekasihnya juga akan mencari baju pengantin di butik yang sama. “Ada apa, Rhea? Apa kau mengenalnya?” tanya Ethan mengalihkan pandangan Rhea pada sosok lelaki yang masih ia cintai. Rhea pun menatap Ethan lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak aku tidak mengenalnya,” jawab Rhea lalu menarik tangan Ethan untuk mencari baju pengantin. Selama memilih gaun yang cocok, Ethan selalu mengikuti Rhea dari belakang dan menyerahkan pilihan pada Rhea. Namun, Rhea sama sekali tak bisa fokus mencari gaun pengantin, tatapannya terus tertuju pada Rean dan Rini yang tampak mesra mencari gaun pengantin. Hingga akhirnya, Rhea tak sadar jika di depannya ada seorang pelanggang butik yang juga sedang mencari gaun pengantin. Keduanya pun bertabrakan, membuat minuman yang pelanggang tersebut pegang tumpah di salah satu gaun mewah yang memiliki harga yang sangat mahal. “APA YANG KAU LAKUKAN! LIHAT GAUN INI JADI KOTOR KARENA ULAHMU!” Pekik pelanggang tersebut dengan wajah yang merah padam. Rhea merasa sangat menyesal dan segera meminta maaf. Namun, sepertinya wanita tersebut sama sekali tak ingin memaafkan Rhea. “KAU HARUS MENGGANTI RUGI GAUN INI!” pekik wanita tersebut sekali lagi dengan suara yang cukup kencang, membuat Rean dan Rini menatapa ke arah mereka. Rean dan Rini segera mendekati Rhea, begitu pun dengan beberapa staf butik yang mendengar teriakan pelanggan wanita tersebut untuk melihat apa yang terjadi. Rhea berusaha untuk tetap tenang, namun saat melihat harga yang tertera di gaun tersebut membuatnya semakin panik. “1 M? Di mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?” batin Rhea khawatir. “Apa yang terjadi di sini?” tanya salah seorang staf. “Dia menabrakku dan membuat minumanku tumpah ke gaun ini. Dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya!” pekik pelanggang tersebut sambil menunjuk-nunjuk Rhea sebagai pelaku. Rini yang berdiri tak jauh dari tempat Rhea berdiri tersenyum mengejek. “Dia mana mungkin bisa menganti gaun tersebut. Lihat saja penampilannya yang sederhana. Aku sangat mengenalnya dan aku yakin sekali di tak punya uang banyak untuk mengganti rugi gaun yang ia rusak,” kata Rini sengaja memperkeruh keadaan. “Untung kita sudah pisah, jika tidak kau pasti memintaku untuk membantumu membayarnya,” tambah Rean membuat Rhea semakin terpuruk dalam situasi tersebut. Ethan yang sejak tadi hanya diam, segera berdiri di samping Rhea dan memegang tangannya. “Mengenai ganti rugi gaun yang kotor ini. Aku yang akan membayarnya,” kata Ethan penuh percaya diri sambil menyerahkan sebuah kartu pada staf butik untuk membayar tagihan. Seketika wajah Rini tampak cemberut kesal. Ia tak menyangka jika lelaki yang dijodohkan untuk Rhea lumayan kaya. Rini dan Rean segera pergi dari butik dengan wajah kesal. Setelah membayar selurut tagihan, Rhea dan Ethan segera keluar dari butik sambil memegang tas berisi gaun pengantin mereka. “Mengani tagihan gaun yang kotor tadi, nanti aku bayar.” “Kau tidak perlu membayarnya. Lagian kau akan menjadi istriku. Jadi, masalah uang kau tidak perlu khawatir.” Mendengar jawaban Ethan membuat d**a Rhea mendesir. Ia merasakan rasa nyaman pada Ethan. Seketika, keraguannya untuk menikah dengan Ethan sirna. Ia merasa, Ethan adalah lelaki yang baik, hangat dan sopan. *** Dua bulan kemudian, Rhea dan Ethan menikah setelah pernikahan dadakan Rini dan Rean. Rhea sangat bahagia dengan penikahannya dan berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Ethan. Kini Rhea menunggu di ruang tunggu. Ia telah menganti gaunnya dengan baju biasa setelah respsi pernikahan usai. “Dia ke mana yah?” batin Rhea sambil sesekali mengecek jam di ponselnya. Ia sedang menunggu Ethan menjemputnya menuju rumah baru mereka. Namun, sudah satu jam ia menunggu tapi suaminya belum menapakkan batang hidungnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang mengetuk pintu ruang tunggu, Rhea tersenyum dan menganggap jika yang mengetuk pintu pasti suaminya, namun senyumnya pun sirna saat mendapi lelaki asing di depannya. “Ada apa?” “Tuan muda Ethan lagi sibuk, jadi tidak bisa menemani anda ke rumah baru. Jadi, aku yang akan mengantar anda ke rumah baru anda.” Rhea mengangguk dan mengikuti lelaki paruh baya tersebut. *** Tak membutuhkan waktu yang lama saat Rhea tiba di rumah barunya, senyum merekah di wajahnya saat melihat bagunan megah di depannya. Rumah barunya sangat luas dan elegan. Lebih besar tiga kali lipat dari rumahnya. Setibanya di dalam rumah, ia sama sekali tak menemukan suaminya. Ia pikir, saat ia masuk ia akan disambut hangat oleh suaminya. Nyatanya, suaminya tidak ada. Kata lelaki paruh baya yang mengantarnya, Ethan lagi ada urusan jadi tak bisa menemaninya saat ini. Rhea segera masuk menyusuri rumah barunya. Dari pengamatannya, rumah tersebut bertingkat dua, ada kolam luas di lantai bawah dan terdapat beberapa kamar di lantai bawah. Namun, satu hal yang sedikit mengganjal di hati Rhea. Rumah tersebut sama sekali tak memiliki pelayan. Tak ingin berprasangka, Rhea memilih merapikan baju-bajunya yang ia bawah dari rumah. Kemudian ia memasak sedikit hidangan untuk menyambut suaminya jika sudah pulang. Namun, hingga tengah malam. Suami yang ia tunggu tak kunjung datang. “Kenapa dia belum pulang?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD