Tak Mungkin Menyukainya

1256 Words
Jam telah menunjukkan pukul delapan pagi saat Rhea selesai memasak di dapur. Ia segera menuju kamar suaminya untuk mengajaknya sarapan bersama. Namun, seperti biasa, suaminya akan menolak. “Aku sibuk, aku harus pergi kerja.” Rhea hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk. “Baiklah, hati-hati di jalan,” kata Rhea pelan sambil menatap punggung suaminya yang mulai menjauh. Di saat Ethan sudah keluar dari rumah, Rhea bergerak cepat untuk mengambil dompet dan segera mengikuti ke mana suaminya pergi. Ada banyak hal yang membuatnya semakin penasaran tentang identitas Ethan yang sebenarnya. Mulai dari luka di tubuh suaminya hingga kekayaan suaminya yang entah dari mana. Rhea segera memasuki sebuah taksi dan meminta supir untuk mengikuti mobil yang dikendarai suaminya. Hingga akhirnya, mobil suaminya berhenti di perusahaan besar yang ia lihat dua hari yang lalu. “Start up’. “Perusahaan ini lagi. Apakah suamiku benar-benar kerja di sini? Tapi kenapa orang-orang di sana tak mengenalinya?” batin Rhea bingung. Hingga akhirnya, ia melihat suaminya keluar dari mobil dengan mengenakan masker. Seketika Rhea mengingat kejadian dua hari yang lalu di mana ia diselamatkan oleh seorang lelaki bermasker. “Mungkinkah lelaki yang menolongku tempo hari adalah suamiku?” batin Rhea semakin curiga. Rhea bergegas memasuki perusahaan itu saat melihat suaminya sudah masuk. Ia mengikuti suaminya diam-diam, dan semakin mengerutkan dahinya saat melihat suaminya masuk tanpa ada yang melarangnya. Seakan suaminya sudah terbiasa bolak balik perusahaan ini. “Lagi-lagi kau kemari.” Seketika langkah Rhea terhenti saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Rini berdiri di hadapannya dengan angkuh sambil melipat kedua tangan di d**a. Lalu di belakang Rini dua satpam berdiri sambil menatapnya dengan dingin. “Tangkap dia.” Kedua satpam itu pun segera memegangi Rhea. “Ikut aku. Kita harus melaporkannya ke pimpinan.” Rini pun berjalan menaiki anak tangga lalu diikuti oleh dua satpam di belakangnya yang membawa Rhea dengan paksa. Tak membutuhkan waktu yang lama saat mereka tiba di ruang CEO. “Cepat masuk!” pekik Rini dengan suara yang keras sambil menatap tajam Rhea. Di ruangan itu, Rhea bisa melihat sosok lelaki yang tak dikenal duduk di kursi CEO. Namun, tatapannya tertuju pada papan nama yang ada di atas meja lelaki itu yang bertuliskan ‘Ethan Wijaya’ yang benar-benar sama dengan nama suaminya. “Apa yang kalian lakukan?” “Maaf, Tuan. Aku membawa mata-mata ke sini untuk diberikan hukuman. Dua hari yang lalu dia juga kedapatan memata-matai perusahaan,” jelas Rini yang menuduh Rhea sebagai mata-mata perusahaan. “Tidak. Aku bukan mata-mata. Aku hanya kesini untuk mencari suamiku,” jelas Rhea membela diri. “Dua hari yang lalu juga dia berlasan seperti itu. Dan setelah diselidiki suaminya tidak kerja di sini. Jadi dugaan yang pasi dia ke perusahaan ini untuk memata-matai perusahaan, Tuan.” Rhea pun menatap Rini dengan tajam. “Rini ... kau jangan menfitnahku. Aku benar-benar ke sini untuk mencari suamiku,” kata Rhea. “Lalu di mana suamimu? Jika memang suamimu kerja di sini, seharus ia sudah menolongmu dari tadi,” kata Rini dan membuat Rhea terdiam. Rini pun menatap sosok lelaki yang duduk di kursi CEO. “Tuan, sepertinya kita harus melaporkan ini ke polisi. Wanita ini sudah dua kali kedapatan memata-matai perusahaan.” Lelaki itu menatap Rhea dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Lepaskan dia.” “APA! Tidak bisa begitu, Tuan. Jika kita melepaskannya begitu saja dia akan terus mencoba membocorkan rahasia perusahaan,” kata Rini marah tak terima jika Rhea dilepaskan begitu saja. Lelaki itu pun menatap Rini. “Lalu kau punya bukti dia mata-mata? Dan kerugaian apa yang telah wanita ini lakukan pada perusahaan?” Seketika Rini bungkam tak bisa berkata apa-apa. “Sudahlah, lepaskan wanita ini dan kembali pada pekerjaanmu.” “Tapi ...” “Apa kau tak ingin mendengarkan perkataanku?” Rini pun menghela napas sebelum akhirnya ia menjawab, “Baik, Tuan.” Rini dan dua satpam pun segera keluar meninggalkan Rhea yang tampak senang karena diselamatkan oleh lelaki yang ada di hadapannya. “Terima kasih, Tuan.” “Sama-sama. Sekarang kau boleh pergi.” Rhea mengangguk dan segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, saat ia memegang kenop pintu ia merasa ragu untuk segera pergi. Masih ada sesuatu yang ingin ia pertanyaan pada CEO perusahaan ini. Rhea pun segera berbalik dan menatap lelaki itu. “Maaf, Tuan. Aku mau tanya. Benarkah nama anda Ethan Wijaya?” tanya Rhea mamastikan. “Tentu saja. Emangnya kenapa kalau namaku Ethan Wijaya?” Rhea tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Hanya saja nama anda sama persis dengan nama suamiku,” jawab Rhea sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan CEO. Tepat saat Rhea keluar, Ethan yang asil pun keluar dari persembunyiannya. Ia bersembunyi di sebuah ruangan rahasia yang hanya dia dan Pak Jack yang tahu akan ruangan tersebut. Ruang itu adalah khusus untuk Ethan saat ingin menganti pakaiannya. “Kerja bagus, Jack,” kata Ethan memuji membuat Jack tersenyum. “Aku senang bisa membantu anda. Tapi ... sampai kapan anda akan menyembunyikan pekerjaan anda pada istri anda? Aku rasa lambat laun dia akan tahu.” “Selama tak ada yang memberitahukannya, dia tak akan tahu,” jawab Ethan lalu kembali mengenakan maskernya lalu keluar dari ruang CEO. *** Rhea tak langsung pulang ke rumah. Ia masih harus mencari tahu apa dan di mana Ethan kerja. Satu-satunya petunjuk yang ia punya adalah perusahaan START-UP. Ia sudah dua kali memergoki suaminya masuk ke perusahaan itu, tapi saat ia mengecek ke dalam ia tak menemukan suaminya bahkan tak ada yang menegenali suaminya. Tak ingin putus asa. Rhea pun segera berdiam diri di salah satu restoran yang letaknya di depan perusahaan start-up. Sambil memesan cemilan ia ingin mengawasi siapa saja yang keluar masuk di perusahaan itu. Di saat Rhea fokus mengawasi perusahaan di depannya. Tiba-tiba, seorang lelaki mendekat sambil membawa nampan makanan. “Bolehkan aku duduk di sini?” tanya lelaki itu dan membuat Rhea mengalihkan pandangannya ke arah lelaki tersebut. Rhea menatap sekelilingnya sejenak, semua meja sudah penuh dan hanya mejanya yang masih kosong di restoran itu. Dengan terpaksa ia mengangguk setuju. “Silahkan.” “Terima kasih.” Lelaki itu tersenyum dan duduk di hadapan Rhea. Rhea pun kembali mengawasi perusahaan start-up tanpa sadar jika lelaki yang baru saja duduk di hadapannya diam-diam mengambil gambarnya. Kemudian mengirimkannya pada seorang kenalannya. “Apa yang kau perhatikan?” tanya lelaki itu. “Tidak ada,” jawab Rhea tanpa menatap lelaki itu. “Kau seperti sedang mengawasi perusahaan itu. Apa kau sedang mencari seseorang?” Seketika Rhea menatap lelaki itu. “Bagaimana kau tahu?” Lelaki itu tersenyum tipis. “Terlihat jelas dari wajahmu.” Rhea menghela napas lalu menjelaskan jika ia sedang mencari suaminya. “Dia sama sekali tak pernah jujur dan menceritakan segalanya padaku. Bahkan pekerjaannya pun aku tidak tahu,” kata Rhea dengan raut wajah sedih. “Apa mau aku bantu?” “Emangnya kau bisa? Kau bahkan tak kenal suamiku.” “Aku bisa loh ...” “Mana mungkin,” kata Rhea tak percaya. Lelaki itu tersenyum tipis. “Dalam hitungan lima menit seseorang yang kau kenal akan mendatangimu,” jawab lelaki yang tak dikenal itu lalu segera mengambil minumannya dan keluar dari restoran. Rhea pun kembali mengawasi perusahaan. Hingga sepuluh menit berlalu tak ada tanda-tanda seseorang akan mendatanginya. “Sudah aku duga, lelaki tadi hanya membual,” kata Rhea merutuk. Karena kesal, Rhea pun memutuskan untuk meninggalkan restoran dan kembali ke rumah. Namun, tepat saat Rhea pergi. Seorang lelaki bermasker kini menatap punggungnya yang meninggalkan restoran. Lelaki itu pun melepas maskernya. “Tidak mungkin aku menyukainya,” batinnya yang tak lain adalah Ethan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD