Lissa berjalan dalam kegelapan dan menemukan sebuah rumah besar dengan cahaya temaram dan suara musik yang begitu bising. Lissa ingat kalau masih berada di Paris. Ia tidak tahu ketika ia membuka mata dirinya malah kembali ke negara asalnya, Jersoix. Lissa terus memasuki rumah itu, banyak mata memandangnya sekilas dan kemudian tidak peduli. Lissa tertarik untuk membuka sebuah pintu besar, karena ia mendengar ada teriakan gadis yang begitu memilukan hati.
Suara itu menuntun Lissa untuk mendekat dan memasuki ruangan yang tertutup itu. Ketika Lissa membuka pintu, ia melihat pemandangan yang sangat tidak manusiawi ada di sana. Lissa melihat bagaimana tubuhnya disentuh oleh pria-pria yang tampak sedang berusaha membuka bajunya yang sudah robek sebagian. Gadis itu adalah dirinya dalam versi yang lebih muda.
Lissa tidak mengerti dengan apa yang ada di depannya itu. Apakah dirinya sudah mati? Tubuh yang sedang dianiaya di depannya adalah gambaran sempurna dari dirinya. Samar-samar Lissa tahu kalau nama gadis itu adalah Clara. Lissa yang tidak terima segera menyingkirkan kelima pria bertubuh besar itu, agar gadis bernama Clara bisa selamat. Clara menjerit dan memohon agar mereka menghentikan aksinya. Lissa langsung tahu siapa mereka, karena Clara meneriakkannya dengan sangat jelas.
Lissa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kejamnya Cal, Davis, Trevor, Joan, dan Norman kepada gadis bernama Clara. Lissa ikut menangis ketika dirinya tidak bisa banyak membantu gadis yang ada di depannya yang sedang mengalami penderitaan yang disebabkan oleh kelima pemuda yang tidak memiliki rasa kemanusiaan itu. Lissa mencoba menarik mereka satu per satu tapi gagal. Lissa meraung dan ingin membantu Clara, tapi tidak bisa.
“Menyingkir! Kalian menyingkir!” Lissa yang putus asa hanya bisa melihat kelima orang itu menyentuh dan menyakiti Clara bergantian. Hatinya berdenyut menyakitkan, seperti dirinya sendiri yang mengalami penyiksaan itu.
“Tolong! Tolong!” Lissa berteriak sekuat tenaga. Tubuhnya sama sekali tidak bisa memukul dan mendorong mereka.
Lissa terjatuh dan menangis pilu, karena ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia tidak tahu mengapa ada gadis yang mirip sekali dengan dirinya yang sedang digilir oleh kelima pemuda kurang ajar di depannya. Lissa merasakan kalau tubuhnya tembus pandang. Apa dia sudah mati?
Lama-lama Lissa sadar jika seharusnya dia berada di Paris, ia baru saja tertembak dan kini jiwanya malah berkeliaran di tempat yang tidak asing baginya, ini adalah tempat di mana dia tinggal. Lissa kenal bagaimana bahasa yang digunakan sehari-hari oleh warga Jersoix. Lissa sadar jika berada di negaranya. Hanya saja … hanya saja ia tidak tahu sedang berada di mana, semuanya tampak tumpang tindih. Kenangan gadis bernama Clara Lissa dan kenangan dirinya membuat kepalanya pening.
“Tidak ….” Lissa menggelengkan kepala tidak terima. “Aku belum mati.” Lissa menangis bersama dengan Clara yang menangis karena dipukuli oleh pemuda-pemuda itu.
Lama-lama seperti ada kabut tebal yang menghalangi mata Lissa untuk melihat ke arah Clara, lalu semuanya menjadi gelap. Lissa masih menangis di tengah kegelapan. Ia bingung apa yang terjadi pada dirinya. Ia terisak-isak. Ia sedih karena tidak tidak bisa menolong gadis bernama Clara Lissa dan ia menangis karena tidak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya.
***
Sudah berjam-jam Lissa melihat pantulan dirinya dalam sebuah cermin besar di depannya. Matanya bengkak karena menangis berjam-jam, tapi ia tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Lissa berulang kali memukul kepalanya dan tidak menemukan sesuatu yang janggal dengan dirinya. Lissa masih memiliki wajah yang sama dengan wajahnya yang dulu, bedanya dia tampak lebih muda. Lissa seperti dilempar kembali ke masa dirinya remaja. Perbedaan yang sangat mencolok adalah rambutnya tampak panjang, karena Lissa ingat sudah memotong rambutnya menjadi lebih pendek agar tidak menjadi pengganggu ketika dirinya bertugas. Lissa adalah seorang agen rahasia yang mati karena dikhianati, tapi ia tidak mengerti bagaimana ceritanya ia bisa terdampar di tubuh yang sangat mirip dengan dirinya.
Lissa tidak tahu dirinya sekarang tinggal di mana, tapi beberapa potongan kenangan milik Clara Lissa begitu mengganggu dirinya, apalagi saat dirinya ditipu oleh kelima pemuda tidak bermoral itu. Lissa ingin menghancurkan wajah mereka, lalu membunuh mereka. Lissa terlalu jengkel, karena mereka begitu tega terhadap wanita lemah seperti Clara Lissa.
Lissa sejak tadi menatap bingkai-bingkai foto yang ada di nakasnya. Ada beberapa yang terpajang di meja riasnya. Ia melihat ke arah ponsel Lissa dan bingung bagaimana caranya membuka kunci ponsel itu. Ponsel pemilik tubuh menggunakan sandi berupa angka yang tidak ia ketahui. Lissa menghela napas berat, dan beranjak dari duduknya. Kepalanya masih pening, karena belum terbiasa dengan kehidupannya yang begitu … aneh. Lissa tidak percaya jika ada manusia yang bisa hidup kembali setelah kematiannya.
Wanita itu tidak terbiasa dengan tubuh barunya, meskipun dulu ia pernah tampil lebih muda seperti Clara Lissa. Apa karena sama-sama memiliki nama Lissa, sehingga dirinya masuk ke tubuh Clara Lissa? Bisa jadi ia masuk ke tubuh Clara Lissa karena memiliki wajah yang sama persis. Ini sangat tidak masuk akal bagi Lissa. Ia perlu mandi agar pikirannya lebih jernih lagi. Lissa masuk ke kamar mandi dan mencoba membasuh tubuhnya yang sangat lelah. Lissa tidak tidur semalaman karena menangis.
Ia begitu kasihan kepada Clara Lissa yang meninggal, karena ulah kelima pemuda yang merupakan teman satu kampusnya. Lissa juga pusing, karena ia terlempar beberapa minggu sebelum hari kematiannya di Paris. Lissa tidak tahu apa yang akan ia lakukan terhadap tubuh barunya itu. Lissa ingat kalau Clara Lissa memiliki seorang ayah yang begitu penyayang. Ibu Clara Lissa sudah meninggal. Lissa masih harus pergi ke kampus, karena dari kenangannya ia tampak sedang menyusun banyak tugas kampus di perpustakaan. Lissa tidak mengerti bagaimana dirinya harus menjalani harinya dengan identitas yang sangat membuatnya bingung.
Bagaimana tidak bingung?
Ketika kau mati dan malah bangun lagi di tubuh orang yang meninggal, karena menjadi korban pemerkosaan. Lissa masih sangat tidak terbiasa. Meskipun ia sangat terbiasa dengan wajahnya, ia tidak menyangka jika akan menjadi sangat muda. Clara Lissa masih berusia 21 tahun. Itu artinya ia harus kembali lebih muda 6 tahun. Lissa meninggal di usia 28 tahun. Lissa tidak tahu harus menyebut ini sebagai berkah atau musibah.
Selama mandi, Lissa lebih banyak melamun. Sewaktu hidup dulu ia sangat jarang merenung atau berdiam diri. Kali ini ia meluangkan banyak waktu untuk mencerna semuanya. Tiba-tiba ia masuk ke sebuah rumah dan menyaksikan bagaimana pemilih tubuh asli meninggal. Lalu dirinya dibawa ke sebuah ruangan gelap yang ternyata adalah kamarnya sendiri. Lissa baru mengerti ketika sinar matahari pelan-pelan menerpa jendela kamarnya. Semalaman Lissa menangis dan kebingungan. Akhirnya ia bisa menjawab sebagian pertanyaan yang ada di hatinya.
Lissa bangkit dari kematian dan hidup dalam tubuh Clara Lissa yang sangat mirip sekali dengan dirinya. Lissa menjadi lebih muda dan memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengan masa lalunya. Lissa berada di rumah Clara Lissa dan ia bingung bagaimana menghadapi orang-orang yang mengenal pemilik tubuh asli tanpa menimbulkan kecurigaan. Lissa berada di tahun yang sama dengan kematiannya, itu artinya waktu kematian Clara Lissa dan dirinya berada di tahun yang sama. Jika dilihat dari kalender yang ada di ponsel dan nakas seharusnya ia akan meninggal sebentar lagi.