Clara agak ragu ketika melihat tempat yang diberikan oleh Trevor. Tidak ada yang salah dengan rumah besar di depannya. Hanya saja ada beberapa orang yang sedang berpelukan di pelataran parkir dan tempat itu begitu suram karena minim cahaya. Clara Lissa seperti sedang terdampar di club malam. Bedanya di depannya banyak anak-anak muda seusianya yang sedang bersantai.
Mata Clara tidak terbiasa dengan cahaya yang temaram dan musik yang begitu keras. Clara belum pernah pergi ke tempat teman-temannya biasa datang untuk bersenang-senang. Clara jadi ingat dengan ayahnya di rumah, ia ingin pulang, tapi ia ingin mencoba peruntungannya untuk bertemu dengan Eros. Kapan lagi ia memiliki kesempatan. Mungkin ini adalah jalan satu-satunya agar Clara bisa berbicara dengan Eros dari hati ke hati.
Kata Trevor dan Davis, akan ada Eros di sana. Ia hanya perlu memastikan jika Eros ada. Clara akan pulang jika Eros tidak ada di sana. Keberadaannya di tempat yang seperti itu, tentu mengundang rasa ingin tahu dari beberapa anak yang sudah sering mengadakan pesta sejenis. Wajah-wajah baru tentu akan segera dikenal dengan mudah. Clara pun merasakan bagaimana beberapa pasang mata itu menatapnya. Ia seperti kehilangan pijakannya. Clara jadi takut untuk masuk ke dalam.
“Kau datang?” Cal menghampiri. Ia tidak tahu dari mana teman Eros itu muncul, dia sudah ada di sampingnya dan menariknya ke dalam rumah.
“Apa Eros sudah datang?” Dengan rasa takut, Clara bertanya.
“Belum. Mungkin sebentar lagi. Kau tunggu saja di dalam.”
Tanpa rasa curiga Clara mengikuti Cal yang tampak tersenyum bahagia. Davis segera menghampiri, ketika Clara masuk bersama Cal. Clara dibawa ke sebuah ruangan yang lebih sepi orang. Clara memang mendengar suara musik, meskipun pintu ruangan itu ditutup rapat. Sudah ada Trevor dan Joan yang lebih dulu berada di sana. Mereka berdua sedang merokok sambil berbincang. Clara tampak tidak senang, ketika mencium aroma rokok di tempat berpendingin udara. Akan tetapi, Clara tidak banyak mengeluh dan langsung duduk ke tempat duduk yang ada di ruangan itu setelah Cal menyuruhnya.
Clara tidak menemukan Eros di ruangan itu. Sebuah ruangan dengan banyak sofa di tengahnya. Ada sebuah televisi layar datar yang begitu besar sebagai penghias, karena tidak dihidupkan. Clara merasa kalau ruangan itu adalah tempat yang paling rapi daripada tempat lain yang ia lihat sebelum masuk ke sana.
Pintu terbuka dan di sana berdiri Norman yang datang membawa sebotol anggur. “Dia sudah datang?” Norman melihat Clara dari ujung kaki hingga kepala dan tampak puas.
Clara merasakan sesuatu yang tidak benar, ia harus ke luar dari tempat ini. Kemunculan Norman membuatnya merasakan kalau ada yang janggal dari tatapan matanya serta raut wajahnya. Norman seperti melihatnya sebagai seekor buruan. Apa Cal berbohong kepadanya soal Eros yang akan datang ke tempat itu? Eros mungkin akan datang, karena mereka selalu bersama untuk menghabiskan waktu.
“Apa Eros sudah datang? Aku ingin menemuinya.” Clara mencari alasan agar bisa ke luar dari ruangan itu. Ini mungkin hanya perasaan Clara, tapi ia begitu takut dengan tatapan aneh Norman dan fakta bahwa dirinya adalah satu-satunya wanita di tempat itu. Ada lima orang pria yang sedang memandanginya dengan tatapan aneh. Cal dan Davis yang ramah kini berubah dan menatapnya dengan seringai jahat.
“Eros tidak akan datang.” Sahut Joan memberi tahu.
Clara menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. “Kalau begitu aku akan pulang.” Clara bangkit dari duduknya, tapi Trevor menahannya.
“Mau ke mana? Bukannya kau begitu ingin bersama Eros?” Trevor tertawa penuh ejekan ke arah Clara. Trevor sempat mendorong tubuh Clara hingga kembali duduk ke sofa yang ia duduki.
“Kau ….” Ucapan Clara tertahan, karena mendadak di dorong oleh Joan hingga tubuhnya terbaring ke sofa.
“Apa yang kalian lakukan?” Clara tidak terima mencoba memberontak dan menendang Joan juga Trevor.
Clara ketakutan karena Cal yang tadi tampak ramah kepadanya berubah menjadi orang yang tanpa perasaan. Clara memandangi Davis dan pria itu malah tersenyum bangga.
“Jo, kau bisa mulai duluan. Sepertinya kau begitu menginginkannya.” Davis meneguk anggur dari botol yang dibawa oleh Norman.
“Lepaskan!” Clara memberontak dan tangannya dicengkeram oleh Trevor yang tidak jauh dari Joan.
“Ayolah, Manis. Kau tidak usah malu-malu. Bukannya kau selalu melihat kami dari jauh?” Trevor tertawa bahagia di saat Clara begitu ketakutan dan berteriak meminta tolong.
“Lepaskan! Tolong, lepaskan! Biarkan aku pulang!” Clara yang panik segera mencakar Joan dan Trevor yang terlalu dekat dengan dirinya. Clara tidak mau dijadikan wanita penghibur oleh mereka berlima. Clara tidak mau disakiti oleh mereka. Bagaimanapun juga Clara harus kuat dan mulai melawan mereka.
“Teriakanmu tidak akan membuatmu ke luar dari ruangan ini, sebelum kau membuat kami senang.” Cal yang ramah berubah menjadi begitu kejam dan mulai memegang kaki Clara yang dari tadi tidak bisa diam, Clara menendang apa pun yang ada di dekatnya.
“Tolong, hentikan!” Clara berteriak sambil menangis. Berharap mereka mau menghentikan aksi mereka yang sangat menakutkan. Bagi Clara ini adalah pelecehan. Clara menyesal datang ke tempat itu. Pada akhirnya Clara hanya bisa meratapi nasibnya dan terus berjuang untuk kabur dari lubang neraka yang diciptakan oleh Cal dan Davis. Andai ia tidak pernah tergoda, sayangnya Clara sudah terlanjur berada di tempat itu.
“Tolong!” Clara menggigit tangan Trevor.
“Sialan!” Trevor mengerang kesakitan.
Plak.
Trevor langsung menampar Clara hingga bibirnya berdarah. Tangis Clara pecah. Ia tidak seharusnya datang ke tempat yang sangat mengerikan bagi dirinya. Clara yang ketakutan menangis sejadi-jadinya. Bukannya merasa iba, mereka malah berusaha melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Clara. Gadis itu memohon kepada mereka berlima, tapi hati mereka begitu kejam untuk mau mendengarkan jeritan Clara yang menyayat hati.
“Jangan! Kumohon, jangan lakukan itu!” Clara terus bertahan dan mencoba melawan mereka sebisanya, meskipun setiap kali melawan mereka akan menghadiahi pukulan dan tamparan ke tubuhnya. Clara tidak akan menyerah demi dirinya sendiri.
“Aku tidak akan mengikuti kalian lagi.” Clara menangis sambil menghempaskan tangan-tangan yang berusaha mengoyak pakaiannya.
“Kau pikir kami akan menghentikannya? Kau perlu diberi pelajaran. Kau pikir Eros cocok denganmu?” Cal berkata sinis ke arah Clara.
“Aku berjanji tidak akan mengejar Eros. Tolong, bebaskan aku. Aku berjanji.” Clara memohon dan terus berjuang untuk berbicara, meskipun bibirnya sangat sakit dan berdarah karena beberapa kali ditampar.
“Tidak semudah itu, Manis.” Joan menyeringai.
Dalam keputusasaannya, Clara tetap kalah melawan lima orang pria yang ada di ruangan itu. Clara merasakan sakit bertubi-tubi yang mendera tubuhnya. Mereka tanpa ampun menyiksa Clara dan menyentuh tubuh suci Clara yang seharusnya ia jaga. Harga diri Clara langsung terjun bebas. Dalam tangisannya, Clara berharap dirinya mati saja. Ia tidak mau menanggung beban, karena kebiadaban kelima teman Eros yang sudah menipunya dan memanfaatkan tubuhnya untuk kesenangan mereka.
“Tubuhnya lumayan seksi.” Trevor berkomentar.
“Kau harus bersabar, teman kita belum selesai.” Davis mengetuk-ngetuk lengan sofa sambil melihat adegan vulgar di depannya.
Joan tampak puas, karena menjadi yang pertama menyentuh tubuh Clara. Meskipun pada awalnya mereka harus membantu Joan, tapi mereka sama sekali tidak keberatan. Clara sangat senang memberontak, paling tidak mereka puas karena malam ini Clara akan menemani mereka hingga pagi tiba.