Lissa menguap beberapa kali, lalu memilih menutup laptopnya dan tidur. Ia sudah cukup lelah karena seharian ia harus membuntuti orang yang tadi berhasil ia tangkap. Raven dan Dave tidak memberikan kabar apa-apa kepadanya. Mereka pasti sedang sibuk mengurus tangkapan mereka. Ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Ia memiliki beberapa hari untuk berkeliling Kota Paris dengan jaket anti airnya. Semoga besok pagi kabut tidak begitu tebal, sehingga Lissa bisa melihat pemandangan kota tanpa ada halangan. Tapi jelas kalau itu mustahil.
Sebelum tidur Lissa melihat perkiraan cuaca, besok masih ada kemungkinan untuk turun hujan. Ia berniat menghabiskan waktu menyusuri Champs-Elysees dan menemukan restoran yang cantik. Di sepanjang jalan itu Lissa akan menemukan banyak restoran, bar, bioskop, dan tempat-tempat belanja kelas atas. Andai Lissa datang saat musim panas ia akan memilih L’Orangerie untuk melihat pameran seni yang tidak dipungut bayaran. Tapi dirinya tidak bisa memilih, masih bagus kalau semua biaya akomodasi dan kehidupannya selama di Paris ditanggung oleh lembaga yang mempekerjakannya.
Lissa menguap lagi. Gadis bersurai hitam itu menarik selimutnya. Udara makin dingin meskipun penginapannya dilengkapi dengan penghangat ruangan yang bisa diatur suhunya. Terlalu lelah sudah beraktivitas seharian dan sepanjang malam, Lissa akhirnya memejamkan matanya.
Ketika bangun keesokan harinya, Lissa langsung memesan makanan untuk dirinya sendiri. Lissa tidak pandai memasak, jadi akan praktis kalau dirinya memesan makanan daripada harus seharian bereksperimen yang berujung kepada kegagalan. Itu sangat membuang waktunya.
Lissa tidak melupakan rencananya untuk pergi menikmati sisa harinya di Paris sebelum kembali ke Jersoix. Sebenarnya ia bisa kemana saja, kadang rencananya akan berubah ketika sudah berada di perjalanan. Pagi ini ia hanya perlu menunggu kabar dari teman-temannya soal kepulangan yang sudah sangat ia nanti-nantikan.
Tidak kunjung mendapatkan kabar dari Raven juga Dave, bukan berarti Lissa harus menghabiskan waktunya di penginapan. Seperti rencananya semalam ia akan menyusuri Champs Elysees sambil menunggu kabar kepulangannya.
Lissa mengambil jaket anti airnya yang semalam. Aromanya masih bagus untuk dipakai berjalan-jalan. Lissa langsung berjalan kaki karena penginapannya tidak begitu jauh dari jalan jalan yang katanya paling indah di Benua Eropa. Karena keindahannya sampai lapak pertokoan di jalur itu dihargai sampai 1,30 juta dollar pertahun untuk luas kurang lebih 100 meter persegi.
Mungkin Lissa tidak akan merasa lelah berjalan sejauh 2 kilometer dari Place de la Corcode hingga Place Charles de Gaulle yang pada jaman dahulu lebih terkenal dengan sebutan Place de I’Etoile. Alasannya karena jalan itu begitu indah dengan ragam bangunan klasik yang merupakan ciri khas negara tersebut.
Pagi ini berkabut sekali, seperti prediksi Lissa semalam. Ada banyak orang yang berlalu lalang sambil berjalan kaki. Motor dan mobil berseliweran di sepanjang jalan. Andai tidak ada mobil dan motor yang diparkirkan di pinggir jalan, pasti jalan selebar 70 meter itu akan semakin luas. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi, karena rata-rata kios-kios di sepanjang jalan tidak memiliki tempat parkir khusus, jadi para pengunjung menggunakan tepi jalan sebagai tempat parkirnya.
Sudah sering kali Lissa menemukan orang yang tidur di jalan. Mereka tampak nyenyak sekali meskipun di kanan dan kirinya digunakan untuk berjalan oleh banyak orang. Lissa yakin kalau sebenarnya mereka tidak ingin hidup seperti itu. Lissa tahu kalau biaya hidup di Paris sangatlah mahal, apalagi jika dibandingkan dengan upah minimum yang ditetapkan. Sangat mungkin seseorang harus berhutang sebelum akhir bulan hanya untuk mencukupi kehidupannya. Beruntung Lissa tidak sampai menjadi gelandangan.
Bukan hal baru jika biaya akomodasi, makan, dan pajak selalu naik. Akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan gaji dan upah pensiunan. Sehingga banyak orang memilih hidup di jalanan. Seperti saat ini, Lissa tergerak untuk membelikan selimut dan ia berikan kepada ibu-ibu yang terlihat menggigil kedinginan. Lissa tahu seberapa dingin Paris dikala musim gugur seperti sekarang ini.
Lissa benci ketika banyak orang seolah tidak peduli terhadap kaum yang terpinggirkan itu. Mereka kadang dicaci dan diusir karena mengganggu. Apakah mereka tidak berpikir kalau kehidupan seperti itu bukanlah keinginan mereka? Mereka hanya sekumpulan orang yang kurang beruntung.
Setelah memberikan selimut kepada gelandangan tadi, Lissa kembali melanjutkan perjalanan sambil menikmati pemandangan yang berasal dari bangunan-bangunan bergaya abad pertengahan yang masih terawat dengan baik. Di kota ini orang-orang sangat menghargai seni dan sejarah, sehingga pemerintahnya melarang keras setiap ada orang yang ingin merubah bentuk bangunan, bahkan hanya mengubah cat saja mereka bisa dikenai denda yang sangat besar. Awalnya Lissa berpikir kalau bangunan-bangunan seperti yang ia lihat adalah museum karena terlihat sangat kuno, tapi sesungguhnya itu adalah apartemen dan tempat belanja yang di dalamnya begitu modern.
Lissa terdorong ke depan saat orang menyenggol tubuhnya dengan kecepatan luar biasa.
“Hei!” Lissa berteriak kepada orang yang baru saja menyenggolnya, bukannya meminta maaf pria berjaket biru itu malah terus berlari.
“Pencuri!” Lissa menoleh ke belakang dan melihat orang itu sedang mengejar orang tadi yang dituduh sebagai pencuri.
Di jalanan kota, kadang ada pencuri yang nekat mengambil barang orang lain. Lissa yang sudah terbiasa memberantas kejahatan segera berlari untuk mengejar pencuri tadi. Alasannya karena orang yang mengejar pencuri tadi jaraknya terlalu jauh.
Pencuri itu berlari sangat cepat, Lissa kesulitan mengejar apalagi pria yang menjadi korbannya, masih ada di belakang Lissa. Lissa sudah terengah-engah dan tidak kuat berlari lagi, ia memilih memegang lututnya dan membungkuk. Lissa melihat pencuri yang sudah menghilang entah kemana. Kali ini gadis bersurai hitam itu gagal mengejar buruannya.
Korban pencuri tadi terlihat sangat lelah sekali, napasnya putus-putus dan dia memilih berhenti tidak mengejar lagi. Setelah mereka berdua mengumpulkan udara sebanyak-banyaknya dan bisa bernapas dengan benar, Lissa mengutarakan rasa bersalahnya karena tidak bisa membantu.
“Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha. Lariku begitu lambat sehingga dia kabur membawa dompetku.”
Lissa terpana melihat paras pria yang ada di sampingnya, pria bersurai cokelat itu terlihat tampan sekali. Rambutnya dipotong sangat rapi, tidak ada bulu-bulu halus di sekitar rahangnya yang kokoh. Hidungnya mancung dengan bibir tipis yang tampak kemerahan. Lissa yakin sekali jika pria di depannya tidak kecanduan dengan nikotin. Apakah dia seorang model? Lissa hanya membatin karena tubuhnya sangat atletis dan menggiurkan.
“Sepertinya kau cukup merendah, keringatmu banyak sekali. Aku punya tisu, semoga bisa membantu.” Lissa menarik tas kecilnya yang sempat diisi dengan tisu dan perlengkapan berdandannya.
“Terima kasih.” Pria berkaos hitam itu menerima bantuan Lissa dengan penuh suka cita.
Setelah gagal mengejar pencuri yang berhasil kabur membawa banyak uang yang dimiliki oleh si korban, mereka berdua memilih duduk di kursi yang disediakan tidak jauh dari mereka.
“Siapa namamu? Aku Eros.”
“Orang-orang memanggilku dengan nama Lissa.”
Lissa dan Eros saling tersenyum dan memandang satu sama lain. Mereka baru saja berkenalan, itu adalah awal takdir yang akan mengikat mereka untuk selamanya tanpa mereka sadari sebelumnya.