Tidak ada pilihan lain, Lissa terpaksa menampung Eros yang mendadak menjadi tunawisma gara-gara dompet dan ponselnya hilang. Lissa tidak tega melihat Eros yang tidak memiliki siapa-siapa di tempat sebesar Paris. Rumah Eros berada di Jersoix sama seperti dirinya, mungkin Eros akan ikut menumpang hidup di tempat Lissa sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lissa sendiri tidak tahu akan berapa lama lagi dirinya berada di Paris.
Eros berjanji akan membayar jasa Lissa ketika dirinya bisa pulang ke Jersoix dalam keadaan utuh. Lissa ingin sekali mengutuk pencuri yang tega sekali mencuri barang-barang Eros. Awalnya Eros berniat melakukan liburan, tapi ia malah kehilangan segalanya. Eros menanyakan bagaimana cara dirinya bisa keluar dari Paris, ia tidak memiliki paspor. Lissa mengatakan kalau hal itu bisa ia urus dengan mudah, asalkan Eros mampu membayarnya dengan harga yang sangat mahal. Eros yang tidak memiliki tujuan hanya setuju saja, bagi Eros uang bukanlah segalanya.
Lissa akhirnya memilih menghabiskan waktu sorenya bersama Eros berjalan-jalan di sepanjang jalan. Mereka sudah melewati toko Sephora, Galeries de Claride, Tissot, dan Levi’s yang saling berjajar rapi di sisi kanan mereka. Mereka baru berhenti di depan Café George yang memiliki ciri khas payung merah yang menjadi atapnya. Di jalan ini, ada beberapa Café George, tapi mereka memilih yang dekat dengan toko Milady dan le popstore sebagai tempat beristirahat mereka.
Mereka memesan makanan, karena mereka cukup lapar setelah menyusuri dan melihat-lihat bangunan bergaya kuno di sepanjang Champs Elysees. Kebetulan hujan turun setelah mereka memasuki café yang tampak sepi, hanya ada lima orang yang sedang menghabiskan waktu di sana. Seorang bapak tua terlihat serius sekali dengan buku yang dibaca sambil ditemani kopi yang masih mengepul.
Eros memilih duduk di dekat jendela sehingga mereka dapat melihat orang yang berjalan juga dapat leluasa melihat bigbus yang lewat. Di sepanjang jalan banyak terdapat pohon yang tingginya hampir sama. Musim gugur ternyata tidak menyebabkan pepohonan menggugurkan daunnya, karena di depannya pohon masih terlihat hijau. Mereka berdampingan dengan lampu jalan yang sangat antik.
Ketika musim dingin tiba, di sepanjang jalan itu akan dipasangi banyak lampu natal yang berkelip-kelip. Sayang sekali Lissa tidak bisa melihat keindahan itu, karena ketika musim dingin tiba dirinya mungkin saja mendapatkan misi lain.
Eros memandangi Lissa yang sedang makan. Diam-diam ia mengulum senyumnya yang menawan. Ada rasa tidak rela jika nantinya mereka akan berpisah setelah sampai di Jersoix. Eros memperhatikan gadis bersurai hitam itu dengan sungguh-sungguh. Lissa begitu cantik dengan caranya sendiri. Bibir yang merah karena perona tampak penuh di mata Eros. Pipinya tidak terlalu tirus dan ada lesung pipi di kedua sisi pipinya. Mata Lissa yang besar semakin menegaskan kalau wanita di depannya adalah boneka cantik yang hidup.
Kulit seputih porselin berharga mahal milik Lissa semakin membuat Eros terjerat ke dalam pesona Lissa yang berpakaian sederhana. Lissa hanya mengenakan jaket dan celana jeans. Daya tahan tubuh Lissa cukup baik, terbukti dia mampu berlari sekencang itu dan terlihat baik-baik saja. Perlahan tapi pasti, Eros sudah jatuh ke dalam kecantikan Lissa yang tidak disadari oleh sang pemilik kecantikan.
“Tidak makan?” Lissa bertanya karena Eros belum memulai acara makannya.
“Aku sedang melihatmu makan.” Eros berkata jujur, yang menyebabkan Lissa mengerutkan keningnya.
“Apa yang kau lihat?”
“Kecantikan seorang dewi.” Kata Eros spontan.
Perkataan Eros mampu membuat Lissa malu. Dengan cepat Lissa mengendalikan keadaan, ia bukan remaja berusia 17 tahun yang akan tersipu malu saat dipuji oleh seorang laki-laki. Ia adalah wanita dewasa berusia 28 tahun.
“Kau lebih baik makan. Aku tidak akan mengurangi biaya makanmu, meskipun kau memujiku.”
Eros menyerah dan memulai memakan makanannya. Awalnya Lissa tidak memperhatikan bagaimana cara Eros makan, tapi pemandangan di depannya begitu menggelitik matanya untuk melihat lebih serius. Jarang-jarang ada seorang pria yang makan begitu anggun. Eros seperti terlahir dan terbiasa menjadi seorang bangsawan.
“Ada apa?”
“Tidak. Lanjutkan.” Lissa kembali memakan makanannya.
“Ngomong-ngomong apa pekerjaanmu? Semoga kau tidak pulang ke Jersoix dalam waktu dekat ini.” Eros memandang Lissa penuh minat.
“Pemandu wisata, kebetulan beberapa hari ke depan aku boleh libur dan tidak ikut rombonganku.” Lissa mengarang cerita.
Di tempat yang berbeda, kening Raven mengeluarkan keringat dingin. Ia berusaha menghubungi Lissa tapi tidak diangkat. Pada percobaan ke dua akhirnya ia mendengar suara Lissa.
“Lissa cepat tinggalkan Paris. Dave berkhianat. Mereka memburu kita. Cepat pergi!”
“Apa yang terjadi?” Lissa di seberang sana terlihat panik.
“Lissa. Aku ingin meminta maaf jika selama ini sering membuat marah. Oke, itu hanya becanda. Kau selalu mengingatkanku kepada adikku. Jangan pernah kembali ke Jersoix, lupakan segala misi. Hiduplah dengan bebas. Aku belum tahu apa yang terjadi, aku takut jika diriku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Pemerintah Jersoix sedang memburumu. Aku ….”
Brak.
“Aaaaakh ….” Raven menjerit kesakitan karena tengkuknya ditusuk secara brutal “Pergi!!” Raven yang kehilangan kesadaran setelah berteriak begitu nyaring. Ponselnya tergeletak di lantai dan seorang pria bertubuh besar mengijaknya hingga hancur.
“Aaak ….” Raven mengerang kesakitan dan banyak darah mengalir dari pundaknya hingga menodai baju putihnya.
Tidak puas menusuk korbannya hingga berdarah, Raven ditendang berkali-kali hingga tewas. Raven sudah berhasil memberitahu Lissa. Dalam kematiannya, Raven berharap kalau Lissa akan baik-baik saja.
“Tidak berguna.” Umpat pria itu yang tidak lain adalah Dave. Kini fokusnya adalah mencari Lissa.
***
“Raven! Raven!” Lissa berteriak.
“Apa yang terjadi?” Eros bertanya-tanya, karena wajah Lissa langsung memucat setelah menerima telepon yang entah dari siapa, yang jelas orang itu bernapa Raven.
Suara kaca jendela yang pecah begitu terdengar nyaring. Eros segera mencari sumber suara dan langsung menarik Lissa untuk bersembunyi. Setengah berlari Eros mendorong tubuh Lissa agar bersembunyi di balik pilar. Orang-orang di tempat itu tentu saja panik dan berhamburan, karena setelahnya terdengar suara tembakan.
Degub jantung Lissa meningkat, ketika suara teriakan dan kegaduhan menjadi semakin meningkat hingga memekakkan telinganya. Ia belum pernah menghadapi penjahat yang berjumlah banyak dan menyerang di tempat umum seperti yang ia lihat. Ini termasuk sangat nekat. Sialnya Lissa tidak membawa senjata untuk melawan mereka yang mungkin saja bisa membahayakan nyawanya.