Lissa masih diam membeku. Tubuhnya terlalu dekat dengan Eros hingga dia bisa mendengar setiap tarikan napas pria di depannya. Setelah diamati ternyata Eros memiliki mini spy earpiece di salah satu telinganya. Apa baru saja Eros membohonginya? Bisa jadi dia sama seperti dirinya? Seorang mata-mata. Kalau begitu Lissa berhasil ditipu oleh pemuda yang terlalu tampan itu. Bisa saja wajahnya juga tipuan. Meskipun itu baru prasangka Lissa, ia hanya butuh beberapa waktu untuk memecahkan kerumitan yang ada di sekitarnya.
“Apa yang terjadi?” Lissa berbisik.
“Serangan teroris. Kita harus segera keluar dari sini.” Eros mengamati sekitar dan tidak menemukan jalan keluar. Ia melihat ke arah Lissa yang tampak biasa saja. “Kau tidak takut?”
“Tidak. Jika hari ini aku harus mati selama itu bisa berguna untuk kebaikan aku tidak masalah.” Lissa menyeringai.
Eros tentu saja cukup terkejut dengan penuturan Lissa yang begitu tenang. Memang sedikit pun Lissa tidak terlihat gentar, meskipun suara disekitarnya semakin tidak bersahabat.
“Kau tidak akan mati hari ini, kau tenang saja.” Eros menghibur.
Prang.
“Cepat cari wanita itu!”
Prang.
Prang.
Pistol dengan peredam di arahkan ke botol-botol minuman keras, tentu saja hal itu membuat wanita yang ada di dalam tempat makan menjerit. Lissa masih tidak bersuara. Eros menemukan tempat yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri. Ia menarik tangan Lissa dan menyuruhnya berlari. Mereka melewati dapur yang sudah sepi, karena mereka yakin para petugas yang bekerja di dapur sudah kabur dari tadi.
Eros mengambil pisau dapur berukuran kecil lalu menyelinap dengan sangat cepat untuk ke luar dari situasi yang menurutnya aneh. Ia tidak mengerti mengapa ada penyerangan di tempat itu.
“Mereka mengejar kita, apa kau wanita yang sedang ditargetkan?” Eros melihat orang bersenjata yang mengarahkan pistol mereka ke dirinya yang sedang berlari dengan Lissa.
“Aku tidak mengenal mereka.” Lissa berteriak.
Mereka ditembaki oleh tiga orang yang mengejar mereka. Tidak memiliki waktu yang banyak, Eros segera mendorong pria yang kebetulan ada di depannya. Kebetulan dia baru saja memarkirkan sepeda motornya. Eros langsung mengambil alih motor yang baru diparkir dan menyuruh Lissa untuk naik.”
“Cepat! Cepat!”
Mereka bisa lolos dari kejaran orang-orang itu. Tentu saja hal ini membuat Eros bertanya-tanya tentang Lissa. Mereka masih terengah-engah, karena berhasil menyelamatkan nyawa mereka. Eros menghentikan motornya karena bensin yang sudah habis. Kini mereka berada di tempat asing dan tidak tahu akan ke mana.
“Sebenarnya siapa mereka? Mengapa mereka mencarimu?” Eros membentak Lissa.
“Aku tidak tahu, yang jelas semalam aku baru saja menangkap salah satu gembong narkoba. Mungkin mereka sedang mencariku untuk membalas dendam karena berhasil melumpuhkan boss-nya.” Kata Lissa dengan nada yang sangat ringan, tanpa beban. Lissa masih sempat-sempatnya menaikkan kedua pundaknya tanpa dosa. Sudah tidak berguna jika ia terus-terusan berbohong kepada Eros.
“Kau gila?” Eros masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Apa benar wanita yang terlihat lebih tua dari dirinya memiliki kemampuan seperti itu? “Kau tidak salah ucap?” Eros menanyakan lagi.
“Aku tidak masalah kalau kau tidak percaya.” Lissa menggedikkan bahu. Ia tidak butuh orang untuk mempercayainya.
“Gembong narkoba mana yang kau tangkap?” Eros langsung bertanya pada inti permasalahannya. Ada beberapa orang yang ia kenal di dunia gelap itu.
Sebenarnya Eros baru saja mendarat dan memang kecopetan. Ia tidak bisa menangkap pencuri dompetnya karena ada beberapa orang yang menurutnya mencurigakan. Ia pura-pura menjadi pria lemah, agar terlihat normal dan tidak menjadi pusat perhatian. Bertemu dengan Lissa membuat hidupnya semakin rumit, karena Lissa rupanya bukan wanita manis pada umumnya, yang memiliki kehidupan normal. Rupanya dia sama tidak normalnya dengan dirinya.
Lissa memang cantik. Sangat cantik. Di pertemuan pertama mereka, Eros begitu ingin memiliki Lissa untuk dirinya sendiri. Ada sesuatu di dalam diri Lissa yang begitu membuat jiwa Eros selalu ingin untuk mendekatinya. Eros tidak mengerti dengan perasaan itu, yang jelas ia hanya mengikuti apa yang ia rasakan.
“Venera.” Jawab Lissa dengan percaya diri dan itu membuat Eros tidak berkedip selama beberapa detik.
Venera memiliki jaringan lintas negara yang yang telah berpengalaman puluhan tahun. Bahkan umur Eros masih terlalu muda jika dibandingkan dengan keberadaan sindikat tersebut. Komoditas mereka adalah kokain, yang jelas mereka adalah pemasok narkoba kelas satu di benua Eropa dan Amerika. Jersoix tidak begitu menjadi target pemasaran, karena mereka tidak ingin bersinggungan dengan Klan D’Angelo, yang lebih dulu menguasai negara itu. Bedanya Klan D’Angelo tidak pernah terlibat dalam bisnis peredaran narkoba maupun perdagangan manusia. Mereka lebih suka menyelundupkan senjata dan mendukung para teroris.
“Kalau kau benar-benar berhasil menangkap pimpinannya, aku sangat yakin jika kita tidak akan bisa hidup sampai besok.” Eros menggelengkan kepala. Dia sangat takjub karena niatnya untuk menghindari orang jahat sudah gagal total. Dia malah mendekati wanita yang akan membawanya dalam masalah besar. Sudah pasti akan ada banyak sekali orang yang akan memburu nyawa mereka, lebih tepat nyawa Lissa.
“Kau kenal mereka?” Lissa sekadar bertanya.
“Meskipun Rusia adalah negara mereka berasal, beberapa negara seperti Perancis, Italia, dan Meksiko adalah tempat favorit mereka. Bahkan Venera memiliki jalur distribusi narkoba lintas negara yang begitu tersembunyi. Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi.” Eros berbicara antara perasaan kagum dan cemas. Kagum karena Lissa adalah wanita pemberani dan cemas dengan keutuhan kepalanya jika bersama dengan Lissa.
“Kau takut?”
“Umurku masih 25 tahun! Aku masih kuliah! Aku belum ingin mati muda! Aku masih ingin berbakti kepada orang tua!” Eros membentak Lissa.
“Kita hanya selisih tiga tahun. Aku tidak tahu kalau akan menyeretmu hingga seperti ini. Aku akan membuatmu kembali ke Jersoix dengan selamat.” Lissa tersenyum cerah. Ia sudah tidak memiliki orang tua. Temannya adalah orang-orang yang tergabung dalam pelatihan untuk menjadi mata-mata. Lissa akan berusaha agar pria yang memiliki orang tua di depannya selamat. Setidaknya jika Lissa mati itu masih bagus daripada harus Eros yang kenapa-napa. Anak seperti Eros pasti begitu dicintai oleh orang tuanya. Eros begitu tampan, Lissa mengakui itu.
“Ayo kita segera pergi. Berada di tempat umum jelas bukan ide yang baik.” Eros melihat ke sekitarnya yang begitu sepi.
Lissa sudah mematikan ponselnya. Ia tidak bisa kembali ke tempat menginapnya karena pasti sudah ada yang mendatangi tempat itu untuk menangkapnya. Lissa melihat ke arah Eros yang seperti kebingungan. Pasti Eros takut dengan kemungkinan yang akan terjadi kepadanya.
“Sial, kenapa aku harus kecopetan tadi.” Eros tidak memiliki apa-apa. Lalu bagaimana caranya pria itu bertahan. Ia memang bisa berkelahi, tapi jika lawanya sangat banyak dan membawa senjata tajam atau pistol, itu tidak mungkin bisa ditangani dengan baik oleh Eros.