10. Perpindahan Jiwa

1163 Words
Janneta menelepon majikannya dan mengatakan kalau Clara sedang sakit. Di tempat kerjanya ayah Clara Lissa tampak khawatir, dan menyuruh asisten rumah tangganya terus memantau perkembangan anak semata wayangnya itu. Sampai saat jam makan siang, Tuan Lavolta memilih pulang untuk melihat anaknya. Tadi ia berangkat terlalu pagi hingga tidak tahu kalau anaknya sedang sakit. Sesampainya di rumah, George Lavolta segera masuk ke kamar anaknya untuk memastikan keadaan putrinya yang menurut Janneta tidak mau dibawa ke rumah sakit atau dipanggilkan dokter. “Clara, kata Jannet kau sakit dan tidak ke kampus hari ini. Kita ke dokter saja.” Ayah Clara Lissa langsung masuk ke kamar anaknya, ketika mengetahui anaknya sakit. Memang wajah anaknya sangat pucat. Lissa membuka lebar matanya, karena ia sedang berada pada posisi setengah tertidur, tapi masih dapat merasakan apa saja yang ada di sekitarnya. Termasuk kehadiran ayahnya yang tampak asing bagi Lissa. Bagi Clara mungkin dia adalah ayah kandungnya, tapi bagi Lissa semua yang ada di sekitarnya masihlah tampak baru. Gadis itu masih berpikir soal Janet. Apa itu adalah nama pelayan yang tadi menemuinya? Akan sangat konyol sekali jika Lissa menanyakan nama pengurus rumah yang seharusnya ia ketahui. Lissa memilih berpura-pura akrab dengan ayahnya. Jangan sampai dia tahu tahu kalau Lissa adalah orang lain yang tinggal di tubuh anaknya. “Ayah, aku hanya pusing dan akan sembuh ketika mendapatkan cukup istirahat.” George Lavolta menyentuh kening anaknya yang agak hangat. Ia melihat mata Clara yang bengkak. “Katakan saja apa yang kau inginkan, Nak. Aku akan mengikutinya. Kau tidak cocok untuk berpikir terlalu keras tentang suatu hal. Apa di kampus ada masalah?” Biasanya Clara akan sakit jika terlalu memikirkan sesuatu atau salah makan. “Tidak ada apa-apa, Ayah. Aku hanya sedang sakit. Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan kuliahku. Mungkin aku sedang dalam masa di mana aku harus sakit.” Lissa tidak mungkin mengatakan kepada ayah Clara kalau dia pusing setengah mati, karena berpikir perpindahan jiwanya yang sangat tidak masuk akal. Ia manusia normal yang tidak percaya dengan sesuatu seperti reinkarnasi atau perpindahan jiwa. Ini sangat membuatnya pusing. Lissa juga masih pusing soal Raven yang meninggal dan mengapa dia menyuruhnya untuk tidak kembali ke tim. “Aku sudah minum obat dan makan, aku yakin jika nanti juga sembuh.” Lissa meyakinkan pria tua yang tampak khawatir kepadanya. “Ayah bekerja saja, aku akan baik-baik saja. Kalau aku merasa sudah tidak kuat aku akan memanggil dokter. Aku sama sekali tidak butuh dokter untuk saat ini.” “Makan siang bersama ayah?” George ingin Clara makan siang. “Habis makan kau bisa tidur lagi.” “Aku baru saja makan, Ayah.” Lissa menolak. “Oke. Aku akan meminta Jannet dan Mila untuk menyiapkan camilan dan jus untukmu. Meskipun tidak makan, kau harus makan sesuatu agar perutmu tidak kosong.” “Iya.” Lissa menurut. Kepala Lissa semakin pening, ia belum mengenal wanita mana yang bernama Jannet, sekarang ada Mila yang sama-sama asing baginya. Dunia barunya begitu membuat sakit kepala. Lissa membanting kedua kakinya ke kasur berulang kali, tanda kesal kepada dirinya yang tidak menemukan apa-apa dalam pikirannya. Lalu bagaimana saat dirinya berada di kampus? Itu pasti akan menjadi bencana untuk dirinya. Lissa harus mencari beberapa informasi tentang gadis bernama lengkap Clara Lissa Lavolta, sebelum semuanya menjadi semakin rumit dan membuat curiga orang lain. Tidak berselang lama, seorang pelayan datang dan menaruh makanan ringan dan jus buah. Dia adalah pelayan yang tadi membantunya makan dan meminum obat. “Lissa, kau ingin makan sesuatu?” “Tidak.” Lissa menggeleng. “Nanti kau panggil aku atau Bibi Mila kalau kau butuh sesuatu. Aku akan datang lebih sering ke kamarmu.” “Tidak usah, Jannet. Aku akan memanggil jika butuh sesuatu.” Akhirnya Lissa yakin kalau di depannya sekarang adalah pelayannya yang bernama Jannet. Ia hanya perlu menunggu reaksi dari pelayan itu. Jika dia bukan Jannet, pasti dirinya akan memberikan respon. “Oke. Aku akan ke luar. Beristirahatlah.” “Terima kasih.” Ujar Lissa ragu. Akhirnya ia tahu kalau orang di depannya bernama Jannet. Ia masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengetahui kehidupan Clara Lissa yang sebenarnya. *** Lissa membuka laptop yang ada di tempat belajarnya dengan sangat cepat. untung laptop Lissa tanpa sandi, jadi ia tidak perlu pusing untuk mengetahui tentang kuliah gadis yang menjadi tempat tinggal baru bagi jiwanya. Tugas besarnya masih ada, yaitu menemukan sandi untuk membuka ponselnya yang terkunci. Tidak ada pengenalan wajah atau sidik jari di ponsel Clara, itu benar-benar berupa sandi angka yang terdiri dari 6 digit. Sepertinya Clara tidak mengaktifkan fasilitas itu di ponsel pintarnya. Gadis itu menemukan formulir identitas di dalam laptopnya yang merupakan data yang digunakan sebagai data ketika mendaftar di kampusnya. Iseng, Lissa memasukkan tanggal lahirnya ke dalam ponsel dan hasilnya tidak cocok. Ia memasukkan tanggal lahir Diana yang merupakan ibu dari Clara dan hasilnya tidak sesuai. Terakhir, ia memasukkan tanggal ulang tahun ayahnya dan hasilnya sama sekali tidak cocok. Sepertinya ia akan meminta ponsel baru, jika dirinya tidak bisa membuka ponselnya yang terlihat masih bagus itu. Ia bisa mencari alasan dengan mengatakan ponselnya hilang kepada ayahnya. Keluarga Clara tampak kaya. Tidak mungkin ayahnya tidak membelikannya ponsel baru. Lissa mematikan ponselnya. Ia sudah putus asa setelah cukup lama mencoba. Ia terlalu pusing untuk mencari sandi ponsel dengan meretasnya. Kepalanya rasanya sudah tidak bisa berpikir normal. Ia menyembunyikan ponselnya ke dalam lemari di bawah tumpukan baju-bajunya. Lalu ia memanggil Jannet untuk ke kamarnya. “Ada apa, Lissa?” Sepertinya Jannet langsung mematuhinya ketika ia meminta memanggilnya dengan sebutan Lissa daripada Clara. “Aku tidak bisa menemukan ponselku. Aku lupa menaruhnya. Aku lupa. Kalau jatuh di jalan kemarin bagaimana?” Lissa yang sudah pucat tambah menyedihkan dengan tampang bingungnya.  “Aku lupa menaruhnya di mana dan aku tidak menemukannya di mana-mana. Bagaimana, Jannet?” Jannet yang iba lalu membantu Lissa yang sedang mencari ponselnya. Hasilnya memang sesuai rencana Lissa. Mereka tidak bisa menemukan ponsel Lissa di mana pun. “Mungkin aku kemarin menjatuhkannya … aku lupa.” Lissa terlihat hampir menangis. “Jangan menangis, Lissa. Aku akan mencarinya lagi.” Jannet sepertinya tidak mau menyerah. “Aku sudah mencari di mana-mana. Di dalam tas yang kupakai kemarin juga tidak ada.” Lissa jelas tidak tahu tas yang mana yang dipakai oleh Clara. Ia hanya berpura-pura agar ada alasan untuk meminta ponsel baru. Lissa yang lelah, akhirnya memilih pura-pura tidur dan menghentikan pencarian ponselnya. Jannet pun yakin jika Lissa sudah menjatuhkan ponselnya. Kamar Lissa selalu rapi dan akan mudah menemukan benda sebesar ponsel milik Lissa. Sejak pagi Jannet tidak melihat Lissa mengotak-atik ponselnya. Keesokan paginya, Jannet melaporkan kasus kehilangan Lissa kepada Tuan Lavolta. Siangnya, ayah Clara segera membelikan yang baru. Meskipun Lissa masih sakit, ayahnya tidak mau memaksakan anaknya untuk datang ke sekolah sebelum benar-benar sembuh. Clara masih terlihat pucat dan terlihat seperti orang yang kurang tidur. Kenyataannya, semalaman gadis itu diam-diam mencari data tentang gadis bernama Clara Lissa lewat laptop yang ada di kamarnya. Cepat atau lambat, ia harus datang ke kampus. Ia tidak mau kalau teman-temannya mempermasalahkan dirinya yang terlihat aneh dan tidak seperti biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD