14. Tidak Bisa Mengendalikan

1123 Words
Eros dengan wajah yang sangat lelah masih memaksakan diri untuk ikut mendorong brangkar di mana tubuh Lissa diam tidak bereaksi. Beberapa dokter dan perawat tampak sangat terburu-buru membawa Lissa ke ruangan untuk mendapatkan pertolongan. Salah satu dokter tampak bermuka muram. Dalam hatinya mengatakan kalau pasien yang baru saja masuk itu tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Sayangnya, ia bukan Tuhan. Dokter itu memilih bungkam dan terus mendorong brangkar sekuat mungkin. Berharap kalau prediksinya salah. Pria itu menghentikan langkahnya, ketika Lissa dibawa semakin dalam ke sebuah ruangan yang kemudian tertutup rapat. Sama sekali tidak mengizinkan Eros masuk. Dalam keputusasaan Eros hanya memandangi pintu itu dengan tatapan terluka. Hari ini, ia sama sekali tidak menduga jika Lissa akan terluka karena dirinya. Menunggu adalah waktu yang sangat menyiksa, apalagi ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kepada Lissa di dalam sana. Beberapa hari ini, ia berpikir jika Lissa bisa bersamanya sampai ke Jersoix. Mereka belum bisa meninggalkan Paris, lalu kemalangan itu tiba-tiba datang. Eros tidak mau mengakui, kalau selama beberapa hari ini ada sesuatu yang begitu menganggu hatinya. Dia menyukai Lissa. Dia tidak tahu mengapa dirinya bisa begitu menginginkan untuk terus berada di sekitar Lissa dan menjadikan wanita itu satu-satunya. Sepertinya takdir mengatakan hal lain kali ini. Ketika Eros menunggu sebuah harapan untuk perasaannya, dokter pun ke luar dan memberi kabar kalau Lissa sudah meninggal. Itu seperti pukulan yang membuat Eros yakin kalau kadang dunia bisa tidak adil kepadanya. “Kau berbohong!” Entah sudah berapa kali Eros menyangkal. Lissa tidak mungkin meninggal begitu saja. Wanita itu begitu kuat, Eros tahu itu. “Kalian harus menyelamatkannya!” Eros mendorong tubuh dokter untuk masuk ke dalam ruangan. “Tuan, maaf.” Dokter itu masih kukuh kalau mereka semua sudah tidak bisa menyelamatkan nyawa Lissa. “Tidak mungkin, kalian pasti sedang bergurau. Kalian belum berusaha.” Eros menerobos masuk dan menemukan tubuh Lissa yang masih mengenakan pakaian yang tadi ia kenakan. Hanya saja sudah ada penutup warna putih yang hendak ditutupkan ke tubuh Lissa oleh salah satu perawat di ruangan itu. “Tidak! Jangan lakukan itu! Lissa belum mati!” Eros menjerit pilu. Tidak mungkin orang yang beberapa hari ini selalu ada di pikirannya dan mengganggu hatinya pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Beberapa orang berpakaian gelap segera masuk ketika tuan mereka terlihat sangat frustasi di dalam sana hanya karena gadis yang baru saja meninggal. Mereka adalah orang-orang klan D’Angelo yang memang ditugaskan untuk menjaga Eros. Salah satu pengawal segera memberi tatapan dingin kepada salah satu dokter dan segera menyuruh mereka menyingkir dari ruangan itu. Tidak mau membuat suasana menjadi rumit, satu per satu tenaga medis pun meninggalkan ruangan. Menyisakan Eros dan tubuh Lissa yang sudah tidak bernyawa. Pria-pria berwajah sangar itu memilih menunggu dan menjaga di luar. Memberikan waktu kepada tuannya untuk meluapkan perasaannya. “Lissa! Lissa, bangun!” Eros mengguncang tubuh Lissa yang sama sekali tidak merespon apa-apa, ketika Eros terus mengerahkan semua tenaganya untuk membuat Lissa terbangun. Eros merasakan kesedihan, ketika hanya sepi yang menjadi jawaban atas segala perintah dan keinginannya. “Lissa, bangun.” Pada akhirnya Eros sadar jika memang sudah tidak ada lagi kehidupan di tubuh Lissa. Eros mendekap tubuh Lissa dan terisak di sana. Dari sekian banyak hal yang pernah ia alami, ia baru merasakan apa itu arti kehilangan yang sebenarnya. Ia begitu sangat sedih ketika tubuh Lissa tidak bernyawa lagi. Andai ia bisa lebih cepat datang ke rumah sakit. Andai ia bisa menyelamatkan Lissa. Andai …. Sayangnya, kali ini Eros tidak bisa mengendalikan semuanya sesuai dengan keinginannya. “Aku tidak percaya jika aku begitu menyukaimu. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini. Aku sakit … ketika kau seperti ini.” Eros membelai pipi Lissa yang terlihat sangat pucat dengan lembut. Akan tetapi, usapannya itu tidak akan pernah bisa membuat Lissa terbangun. Eros kembali mengingat bagaimana cara wanita itu menatapnya ketika masih hidup. Akan sangat bagus jika Lissa tetap hidup untuknya. “Lissa … aku masih tidak percaya jika kau pergi dengan cara seperti ini.” Eros terlihat begitu tertekan dengan perasaan yang begitu terasa semakin merobek dadanya. Ia ingin menangis, tapi tidak bisa. Eros merasa kalau ia adalah orang yang terlambat mengenal Lissa. Andai ia datang ke Paris lebih awal, mungkin dia bisa bertemu Lissa lebih cepat. Eros memang menunda pekerjaanya, ia tidak pernah tahu kalau di Paris adalah tempat di mana ia menemukan kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang hanya mampir sebentar dalam hidupnya. “Lissa … andai aku bisa membuatmu tetap bersamaku, aku rela kehilangan apa pun. Apa pun, asal kau tetap hidup.” Dalam pelukannya, Eros berharap kalau dia hanya mengalami mimpi buruk. Saat Eros memejamkan mata, air matanya menetes. Eros sudah tidak bisa menipu dirinya lagi kalau dirinya sanggup menahan perasaan nyeri di hatinya yang kian menjadi-jadi. Kesedihan itu meluap dan pria itu tidak bisa membendungnya lagi. “Lissa … aku mencintaimu … apa aku sudah sangat terlambat untuk mengatakannya?” Eros membuka kelopak matanya. Ada sorot suram di sana. “Sepertinya aku sudah terlambat, tapi kau pernah mengatakan tidak ada waktu terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik.” Eros menghirup udara yang semakin menyakiti dadanya. “Aku tidak pernah berbuat baik, apa ini adalah karma untukku?” Eros tersenyum dengan matanya yang mendung itu. Belum pernah Eros mengalami hal semenyedihkan ini dalam hidupnya. “Jika aku tidak mencintaimu, apa kau masih akan tetap hidup?” “Mengapa kau lakukan ini kepadaku? Kau pasti sedang menguji diriku.” Eros berbicara lirih. Jiwanya masih sangat tidak rela atas kematian Lissa yang begitu tiba-tiba. “Kalau kau tidak menolongku, kau pasti masih tetap hidup. Kau bodoh. Aku memiliki banyak nyawa, kau seharusnya mengetahui itu semua. Jika seperti ini, hidupku tidak ada artinya lagi. Setiap aku hidup, maka aku akan terus mengingat dirimu. Kenapa kau harus menyelamatkan aku? Kau harus bangun untuk menjelaskannya.” Bahu Eros bergetar dan isakan lolos dari bibirnya. Tidak ada yang menghiburnya ketika hari ini Eros mengalami rasa kehilangan yang begitu sangat mendalam. Eros cukup lama berada di ruangan itu, meratapi Lissa yang telah tiada. Eros berniat akan membawa tubuh Lissa ke Jersoix. Lissa pernah mengatakan kalau Jersoix adalah tempat di mana ia dilahirkan. Eros hanya ingin membuat Lissa beristirahat dengan tenang di tanah kelahirannya. *** Lissa melintasi taman kampus. Hari ini lumayan terik sehingga Lissa sampai menggunakan buku untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari. Tiba di sebuah tempat yang teduh, Lissa melihat ke arah langit biru yang terlihat bersih. Tidak ada awan yang menggantung. Lissa meraba dadanya yang tiba merasa sangat sedih. Entah apa yang tiba-tiba Lissa rasakan, ia hanya merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang hilang. Lissa ingin menangis entah karena apa. Benar saja, air matanya menetes. Lissa segera menyapu air mata di pipinya dengan telapak tangannya dan segera menuju ke pintu gerbang. Sopir keluarga Lavolta sudah menjemputnya untuk pulang hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD