Sekarang Jannet merasa bangga dengan dirinya sendiri, karena bisa membuat Lissa menjadi lebih cantik. Tidak sia-sia ia membeli banyak sekali pakaian untuk Lissa. Semuanya tampak bagus di tubuh Clara Lissa. Anak majikannya sekarang sudah banyak berubah. Lissa sekarang menjadi lebih dewasa dan lebih teliti. Jannet tahu dengan baik bagaimana Lissa yang selalu ceroboh dan pelupa. Kebiasaan buruk itu sedikit demi sedikit mulai hilang. Jannet pun merasa lega, karena ada suatu hal yang bisa membuat Lissa semakin menarik. Lissa memang baik, tapi sangat manja.
Kadang Jannet kurang suka dengan sikap manja Lissa dan sifat keras kepalanya. Akan tetapi, kali ini Jannet merasa kalau Lissa sudah tidak seperti Lissa yang dulu. Mungkin karena semakin hari Lissa semakin bertambah usia. Dulu Jannet sempat berpikir kalau Lissa tidak akan pernah berubah. Entah mengapa, faktanya apa yang dipikirkan Jannet sama sekali tidak benar. Jannet tidak tahu saja kalau Lissa yang ia kenal sudah tiada. Saat ini yang Jannet lihat adalah tubuh Lissa dengan jiwa yang berbeda.
Beberapa teman sekelasnya merasakan ada yang berbeda dari Lissa. Penampilannya perlahan berubah menjadi lebih enak dipandang dan dari wajahnya semakin terpancar kalau gadis itu lumayan cantik. Lissa memang masih si kutu buku yang suka menyendiri, tapi perlahan tapi pasti Lissa mulai akrab dengan beberapa orang dan lebih banyak tersenyum ramah. Perubahan pesat ini tentu membuat beberapa teman sekelasnya yang merupakan laki-laki langsung berlomba-lomba untuk mendekatinya. Meskipun ada beberapa gadis yang tidak suka, tapi Lissa terlihat berusaha untuk tidak menanggapi mereka yang secara terang-terangan menggodanya.
Lissa sudah terlalu tua untuk merasakan romansa. Masa remajanya sudah lewat sejak lama. Sejak bergabung dalam agen khusus, Lissa lebih senang berkutat dengan misi-misi penting dan melakukan aksi-aksi berbahaya. Mungkin Lissa tidak akan bisa masuk lagi ke sana dengan tubuh Clara. Ia masih mengingat Raven yang melarangnya untuk mencari dan menggali lebih jauh soal kasus yang menggantung di kepala Lissa. Lissa tidak tahu siapa yang dimaksud pengkhianat oleh Raven. Saat ditemukan, Raven sudah tidak bernyawa dengan luka di sekujur tubuhnya. Lalu semuanya menjadi berantakan dan dirinya harus kabur menyelamatkan diri bersama anak laki-laki tampan yang ia agak lupa siapa namanya.
Terlalu banyak nama yang ia hapal sejak mendiami tubuh Clara Lissa. Gadis itu masih memiliki misi untuk membuat tubuh Lissa lebih kuat. Ia sampai menjadi member di salah satu pusat kebugaran untuk melatih otot-otonya yang sangat kaku. Setiap pagi ia harus berlari untuk membuat kaki rampingnya bisa lebih kuat lagi. Tinggal di tubuh Clara sangat merepotkan, andai ia bisa memilih ia ingin tubuhnya kembali lagi. Akan tetapi, hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Lissa mungkin sudah mati, karena takdirnya adalah mati muda.
Sebelum Lissa membalaskan dendam kepada para pembunuh Clara, ia perlu melatih tubuhnya dengan baik. Mungkin ia akan beraksi sampai tubuhnya siap menjadi mesin pembunuh. Kebetulan ia masih mencari-cari keberadaan pria-pria tidak tahu diri itu. Tega sekali mereka menyakiti gadis sebaik Clara. Lissa yakin sekali jika Clara tidak mungkin menggoda mereka duluan. Lissa ingat kalau Clara dijebak. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menuntut balas. Semua itu agar arwah Clara Lissa bersemayam dengan tenang bersama dengan ibunya. Lalu ia hanya perlu menjaga ayahnya seperti keinginan Clara.
Di pusat kebugaran, Lissa sedang melakukan latihan angkat beban. Tubuh Clara begitu payah, karena baru mengangkat beban yang paling kecil beberapa kali tubuhnya sudah protes ingin berhenti. Sudah beberapa hari berlalu dan ia masih belum juga terbiasa. Lissa masih sabar berlatih. Tubuh Clara sudah terlalu banyak dimanja. Tidak seperti dirinya yang sejak kecil mengalami banyak penderitaan dalam hidupnya.
Lissa tidak membutuhkan pelatih dalam membentuk otot-ototnya. Ia bisa melakukannya sendiri. Lissa sudah sering melakukan beragam latihan dari rajin berolahraga, bela diri, dan latihan menggunakan senjata. Keahliannya sangat baik, karena ia sering melakukan misi berbahaya yang kadang bisa membuatnya celaka. Jika Lissa ingin selamat, ia harus bisa melindungi dirinya sendiri.
Ketika hari libur tiba seperti sekarang, biasanya Lissa akan segera pulang setelah dirasa cukup berlatih. Ia perlu melatih pernapasannya dengan berenang di rumahnya. Beruntung Clara memiliki kolam renang yang lumayan besar. Ia tentu saja sudah menyiapkan pakaian berenang yang akan digunakan untuk melakukan aktivitasnya yang kemungkinan akan sering ia lakukan.
Benar saja, sesampainya di rumah, Lissa langsung menuju ke kolam renang. Setelah dirasa letihnya menghilang ia memutuskan untuk berenang selama satu jam. Selain menyegarkan, berenang bisa membuat pikirannya menjadi tenang. Jannet yang jarang melihat Lissa berenang segera menghampiri dengan membawakan minuman juga cemilan.
“Sudah lama aku tidak melihatmu berenang.” Jannet mengeraskan suaranya agar Lissa memperhatikannya. “Aku membawa jus untukmu.” Jannet kembali mengatakan maksudnya.
Lissa yang mendengar suara seseorang segera berdiri dan mengusap mukanya yang penuh dengan air kolam. Rambutnya terlihat menyusut karena air kolam.
“Ayo, berenang bersama!” Lissa mengajak Jannet untuk berenang.
“Aku tidak suka berenang.” Jawab Jannet cepat.
Lissa segera naik ke atas dan duduk di dekat Jannet berada. “Terima kasih. Aku kebetulan haus sekali.”
“Kupikir kau sudah kenyang dengan air kolam.” Jannet mengejek Lissa.
“Hahaha … air kolam tidak seenak ini.” Lissa mengacungkan minumannya yang langsung diteguk habis oleh Lissa.
“Kau terlihat sangat haus.” Jannet mengamati kelakuan Lissa yang langsung menandaskan minuman buatannya. “Perlu kubuatkan lagi?”
“Tidak perlu. Ini sudah cukup. Terima kasih, ini enak sekali.” Lissa berkata tulus.
“Sama-sama.” Jannet teringat akan sesuatu, “Ayahmu menyuruhku menanyakan apa kau ingin datang bersamanya di acara penggalangan dana malam ini. Apa kau mau datang?”
“Acara seperti apa? Apa biasanya sangat membosankan?”
“Kau selalu suka mencari alasan. Ayahmu sudah sering mengajakmu, tapi kau selalu menolak dengan banyak alasan.”
“Hahaha … baik, aku akan pergi malam ini.”
“Benarkah?” Jannet tentu saja sangat senang. Jarang-jarang Lissa mau ke tempat yang ramai apalagi untuk pergi ke sebuah pesta penggalangan dana bersama dengan ayahnya itu. “Aku akan menyiapkan gaun untukmu.”
“Kau tidak ikut? Menemaniku … mungkin ….” Kata Lissa ragu.
“Tidak. Malam ini aku ada kencan dengan pacarku. Jangan merusak suasana bahagiaku.”
“Aih … hampir setiap hari kalian berkencan.” Lissa protes.
“Dulu kau tidak pernah keberatan.”
“Terserah kau saja, selama kau menyukainya. Asal kau tahu aku agak cemburu.” Lissa mengutarakan perasaannya. Di rumah ini hanya ayahnya dan Jannet yang banyak berinteraksi dengannya.
“Kapan-kapan aku akan mengajakmu, tapi kau harus memiliki kekasih dulu.” Jannet tersenyum puas setelah berhasil membuat wajah Lissa semakin masam.
“Aku tidak punya pacar.”
“Kau harus menyatakan cinta kepadanya.” Jannet memberi usul.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak akan bertingkah sampai sebodoh itu hanya karena cinta.”
“Bukannya setiap hari kau selalu bodoh jika sudah menyangkut soal anak laki-laki itu?” Jannet memancing keributan dengan menggoda Lissa.
Lissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Andai ia tahu siapa pria yang disukai oleh Clara … sayangnya ia tidak tahu sama sekali. Clara tidak memberikan petunjuk apa-apa. Lissa hanya ingat saat Clara mengatakan kalau ia harus membunuh orang yang sudah menyakitinya agar bisa bersemayam dengan tenang.
“Kau terlihat bodoh dengan tingkahmu itu. Aku akan membuatmu cantik malam ini. Aku yakin kau akan bisa mendapatkan kekasih.”
“Apa acara ini akan dihadiri oleh anak-anak bau kencur seperti diriku? Kau pasti tahu kalau acara seperti itu biasanya diikuti oleh orang tua.”
“Buktinya kau mau ikut? Siapa tahu ada orang tua yang mengajak anaknya. Ayolah, jangan berpikir buruk. Pasti ada pria tampan di sana.”
Lissa menghela napas, “Semoga acaranya hanya sebentar.”
“Ayahmu tidak akan berlama-lama, kau tenang saja.” Jannet tahu kalau ayah Lissa tidak pernah ke luar malam.