18. Bahan Gosip

1218 Words
Tidak biasanya perpustakaan sangat sepi seperti hari ini. Lissa sudah satu jam menghabiskan waktunya di sana untuk mengumpulkan apa saja yang bisa ia gunakan untuk bahan tugas akhirnya. Lissa tahu kalau Clara memiliki satu tahun untuk menyelesaikan pendidikannya. Ia harus menyetorkan beberapa ide untuk calon tugas akhirnya itu. Oleh karena itu, Lissa memerlukan banyak sekali waktu untuk mengatur segalanya. Ia tidak begitu paham soal sastra, tapi ia lumayan pandai untuk beradaptasi dengan keadaannya. Lissa harus lulus tepat waktu. Ia tidak mau terjebak di bangku kuliah lagi. Belajar sebenarnya membosankan. Lissa lebih tertarik dengan sesuatu yang berbau petualangan. Lissa masih berpikir apa yang akan dilakukannya nanti selepas lulus kuliah. Mendaftar sebagai agen tidak mungkin ia lakukan. Raven sudah memberi peringatan kepadanya agar tidak pernah datang ke negaranya dan mencari informasi lebih lanjut. Lissa tentu saja masih bertanya-tanya, tapi ia tidak bisa gegabah. Dirinya belum siap muncul dengan identitas barunya. Clara Lissa adalah seorang anak yang manis, bukan seperti dirinya yang lebih senang menerjang bahaya. Lissa tidak tahu kalau ada dua mahasiswi yang melihatinya dari jauh. Mereka adalah Ana dan Devina. Mereka saling diam untuk beberapa saat dan kemudian saling menatap. “Bukannya itu si cupu dari fakultas sastra? Kenapa dia bisa begitu banyak … berubah?” Devina penasaran dan ingin tahu. “Sepertinya dia ingin menjadi ratu di kampus ini dengan wajah polosnya itu. Aku malah merasa muak dengan dirinya.” “Kita harus memanggil Clare, anak itu perlu kita beri pelajaran.” “Aku setuju.” Ana terlihat sangat bersemangat. Setelah selesai dengan kegiatannya di perpustakaan, Lissa memilih makan siang di kantin di mana ia bisa melihat orang yang ia buru jika sedang beruntung. Sayangnya, ketika sampai di sana Lissa tidak menemukan mereka. Kantin sangat sepi. Lissa bingung ada apa dengan hari ini, karena baik perpustakaan dan kantin sama sepinya, meskipun tidak bisa dikatakan sunyi. Lissa memesan burger dan jus apel, lalu menyantapnya perlahan. Lissa menikmati waktunya. Lissa tidak tahu, ketika ia duduk di belakangnya Clare sudah bersiap-siap untuk melemparkan minuman ke arah Lissa yang tampak tidak terganggu dengan apa pun. Ana begitu senang dan Devina sengaja mendorong Clare agar nampan yang dibawanya tumpah mengenai tubuh Lissa. Benar saja, dalam hitungan detik sebuah minuman langsung tumpah ke kepala Lissa yang sedang duduk. Minuman itu langsung mengotori baju Lissa. Cukup kaget, Lissa pun bangkit dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Rupanya ada seorang mahasiswi yang tidak ia kenali sedang membawa nampan berisi beberapa minuman. Lissa mengernyit, ia tidak mengenali gadis itu dan dua orang yang berada tidak jauh di belakangnya. “Aduh, maaf-maaf aku tidak sengaja.” Clare memainkan dramanya. Lissa menatap ke arah Ana dan Devina yang terlihat sangat puas sekali saat melihatnya basah dan kotor. “Kau sengaja melakukannya?” Lissa terlihat sedang menganalisa fakta yang ada di dekatnya. Kehadiran mereka sangat mencurigakan. “Tidak.” Jawab Clare cepat. Lissa langsung meraih minumannya dan langsung melemparkannya ke wajah Clare, “Maaf, aku tidak sengaja juga.” Lissa segera meninggalkan mereka, sayangnya ia dicegah oleh Ana. Devina ikut menahan Lissa yang menyakiti temannya. “Sepertinya kita impas.” Lissa menyeringai. “Sialan! Apa yang kau lakukan?” Ana berteriak. Lissa melihat Clare yang sedang menatapnya penuh amarah, “Aku hanya … membalas apa yang kalian lakukan. Kalian dulu yang menggangguku, kan?” Lissa terlihat santai. Tidak masalah, meskipun tubuhnya sudah sangat lengket dengan bermacam-macam cairan manis di tubuhnya. Clare ingin menampar Lissa, tapi gadis itu terlalu gesit sehingga gerakannya segera ia tangkis. Clare malah didorong oleh Lissa hingga jatuh ke lantai. Senyumnya pun terbit. “Aku tidak sengaja. Kau barusan ingin menamparku … aku hanya melindungi diri.” Lissa merubah wajahnya menjadi begitu pilu. Akan tetapi, mereka bertiga tahu kalau Lissa sedang berpura-pura. Tanpa banyak kata lagi, Lissa langsung menatap tajam ke arah mereka bertiga dan meninggalkan kantin dengan perasaan senang telah membalas perlakuan mereka. Meskipun tempat itu sepi, ada juga yang tampak berminat untuk menontonnya. Itu akan menjadi bahan gosip keesokan harinya. Memang benar jika pada akhirnya nama Clara Lissa menjadi topik terhangat, karena sudah membuat tiga gadis itu merasakan bagaimana rasanya dipermainkan. Walau Lissa harus mendapatkan sial, ketiga orang yang selalu menjadi tukang pembuat masalah di kampus akhirnya mendapatkan balasannya. Sampai kapan pun Lissa tidak akan membiarkan ada orang yang mencoba menyakitinya. Hidupnya begitu berharga. Ia tidak mau mati lagi. Dalam waktu yang sangat singkat, Clara Lissa menjadi terkenal. Lissa sudah berhasil membalas perlakukan Clare, Ana, juga Devina. Biasanya tidak akan ada mahasiswi yang berani melawan, meskipun selalu dijahili oleh mereka. Lissa tidak tahu siapa mereka, tapi karena orang-orang membicarakannya Lissa langsung paham. Lissa tidak peduli, ketika namanya menjadi terkenal. Ia paling benci jika ada orang yang mengusiknya. Setelah dari kampus, Lissa masih mengunjungi tempatnya berlatih. Jonathan begitu baik dan sering merekomendasikan orang-orang ahli yang bisa mengajarnya, saat dirinya tidak ada di sana. Lissa pun tampak akrab dengan Jonathan. Tidak ada hubungan yang manis di antara mereka. Jonathan begitu senang, ketika melihat Lissa berlatih begitu giat dan sangat cakap. Seperti kali ini, Jonathan melihat langsung bagaimana cara Lissa menembak. Gadis itu tidak main-main dengan ucapannya. Lissa memang memilih banyak sekali paket latihan. Secara tidak langsung itu sangat menguntungkan bagi Jonathan, tapi ia merasa senang atas kehadiran Lissa. Gadis itu sangat cepat beradaptasi. “Kau sangat mahir menembak. Kau ingin masuk kepolisian?” Tebak Jonathan yang sedang membawa senapan. Dor. Dor. Dor. Jonathan membidik tiga kali dan semuanya tepat sasaran. Tidak mau kalah Lissa pun mengikutinya. Sudah dua hari ini Lissa berlatih menembak dengan berbagai jarak. Sebenarnya Lissa pernah melakukan latihan bertahun-tahun di masa lalu, tapi tubuh Clara Lissa belum terbiasa mendengar suara keras dari moncong senapan yang ia bawa. Jantung Clara langsung berdetak cepat, ketika dirinya pertama kali membidik papan sasaran dan hasilnya meleset jauh sekali. “Aku tidak berminat. Aku hanya suka melakukannya, Jo. Kau harusnya senang karena aku adalah pelangganmu yang sangat ingin mencoba segalanya yang ada di sini.” Jonathan tertawa, “Aku seperti sedang berbicara dengan orang seusiaku dalam nadamu yang seperti itu. Sebenarnya berapa umurmu sesungguhnya?” “Bukannya sudah kukatakan kalau aku meninggalkan kartu identitas di depan. Kau bisa melihatnya.” Lissa memutar bola matanya malas, ia kembali membidik ke arah sasarannya. “Aku tahu kau masih begitu muda. Aku salut. Kau berlatih sebentar dan langsung mahir. Butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk menembak ke arah yang benar. kau hanya butuh beberapa hari dan kurang dari seminggu untuk melakukannya. Kalau aku tidak melihatnya sendiri pasti aku tidak akan percaya.” “Aku tidak menyuruhmu untuk percaya. Aku hanya suka dengan tantangan.” “Apakah sesederhana itu, Liss?” “Ya.” “Orang tuamu seorang angkatan bersenjata?” Jonathan bertanya lagi. “Aku sudah mengatakan kalau ayahku adalah seorang bankir yang lemah lembut. Kau sepertinya tidak percaya.” Kadang Jonathan bisa menjadi pribadi yang begitu cerewet dan Lissa tidak suka. Ia seperti sedang berbicara dengan Raven. Lissa semakin merasa bersalah, karena tidak bisa menyelamatkan nyawa temannya itu. “Tidak. Bagaimana aku bisa percaya jika aku melihat bocah yang begitu ahli memegang senjata dan berkelahi. Kau itu wanita. Hanya anak-anak yang berlatih dari kecil yang bisa memiliki keterampilan yang baik.” “Kalau aku wanita apakah aku harus selalu lemah?” Lissa meletakkan senjatanya dan menatap ke arah Jonathan yang berpikir kalau dia terlalu banyak berbicara kepada Lissa. Wanita memang perlu dilindungi, hanya saja Lissa ingin melindungi dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD