17. Melatih Tubuh

1154 Words
Mata Lissa berbinar ketika melihat segerombolan anak laki-laki yang sedang makan dan terlihat mengobrol bersama di kantin. Pantas saja dia tidak pernah menemukan mereka, karena mereka berada sangat jauh dari kelas sastra tempat di mana Clara Lissa menghabiskan waktunya belajar. Lissa masih hapal seperti apa wajah orang-orang yang sudah menyakiti Clara. Ia hanya perlu mencari lebih detail mengenai nama dan jurusan mereka. Ia masih perlu mempersiapkan banyak hal untuk menghabisi ke lima pria yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Ada tujuh orang di sana, dan Lissa tidak peduli dengan sisanya. Matanya hanya tertuju kepada lima orang yang ia kenali. Lissa mengaduk jus jeruknya sebelum menandaskan semuanya, lalu pergi ke kelasnya. Sebentar lagi kelasnya akan dimulai dan ia butuh waktu lumayan lama untuk menyeberangi beberapa gedung di kampus itu untuk sampai di kelasnya. Besok ia akan ke sini lagi, untuk mengintai mereka. Lissa tampak puas, karena pada akhirnya ia dipermudah untuk menemukan mereka. Dengan penuh tawa mereka mengobrol, tanpa berpikir kalau mereka pernah membunuh seorang gadis. Lissa sudah tidak peduli bagaimana takdir membuatnya bangun dalam tubuh Clara disaat gadis itu belum mengalami kejadian yang buruknya. Semua mimpi-mimpi Lissa terlihat sangat nyata. Clara mengatakan kalau ini adalah kesempatan yang diberikan untuknya agar tubuhnya tetap hidup. Lissa jadi lebih bersemangat untuk melatih kemampuan tubuhnya. Sudah cukup lama ia menempuh beberapa latihan di pusat kebugaran. Merasa tubuhnya sudah cukup mampu, Lissa mengikuti kelas bela diri agar dirinya bisa mendapatkan tempat untuk berlatih. Akan sangat mencengangkan jika ia melatih dirinya di rumah. mungkin ia akan bangun pagi-pagi untuk lari pagi, tapi tidak mungkin dia berlatih berkelahi dan menembak di rumahnya tanpa menimbulkan kecurigaan dari seluruh penghuni rumah. Lissa tidak mau mereka terlalu banyak mencampuri urusannya dalam hal melatih tubuhnya. Sehabis pulang kuliah, Lissa menyuruh sopirnya agar menjemputnya agak sore. Lissa akan kembali lagi ke kampusnya setelah mengunjungi tempat berlatihnya yang baru. Beberapa hari yang lalu ia baru mendaftar untuk menjadi anggota. Lissa sudah menyiapkan pakaian latihan di tasnya, lalu memilih menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke tempat latihan yang baru. Sebenarnya Lissa sangat ahli berkelahi dan menguasai beberapa seni bela diri, akan tetapi berlatih dengan pengajar yang ahli sama sekali tidak ada ruginya. Sudah lama sekali ia tidak berinteraksi dengan orang lain. Sangat membosankan ketika ia harus bergaul dengan anak-anak yang berusia di bawahnya. Meskipun tubuh Lissa masih 21 tahun, tapi jiwa Lissa adalah wanita berusia 28 tahun. Lissa beruntung karena tempat berlatihnya masih sepi. Lissa memilih tempat ini karena memiliki fasilitas yang bisa ia pilih sesuai dengan yang ia inginkan. Di kelas pertamanya, ia akan memulai dengan kelas tinju. Sudah lama ia tidak menghajar orang, sejak tinggal di tubuh Clara Lissa. Lissa sudah bersiap-siap dan cukup puas dengan pelatihnya yang terlihat seumuran dengan Lissa. Sayangnya, di mata pria itu Lissa adalah sosok gadis kecil yang nekat mengunjungi tempatnya bekerja untuk berlatih tinju. Sangat terlihat jelas kalau pria itu sedang meremehkannya, meskipun tidak ada kalimat yang ke luar dari bibirnya. Dari sorot matanya sudah sangat jelas, kalau pria itu hanya menganggapnya datang ke tempat itu hanya untuk bermain-main. Lissa melilitkan kain di tangannya agar tidak terluka, cara mengikatnya sangat cepat dan teliti. Pria itu tentu saja memperhatikannya. “Sudah sering melakukan tinju?” “Tidak juga. Aku sudah lama tidak berlatih.” “Bisa memukul?” Ujung alis pria itu terangkat sedikit. “Hmn … sedikit.” Jawab Lissa sambil mempersiapkan diri. “Kau bisa memukul tanganku, aku ingin tahu seberapa kekuatanmu. Sebelum kita memulai.” “Oke.” Lissa mengambil napas sebentar untuk memulai latihannya siang ini. Ia pun mulai memukul dan terbitlah senyum di wajah pelatihnya itu. “Tidak buruk. Sekali lagi.” Sang pelatih tampak sumringah mendapatkan murid yang memiliki niat untuk berlatih. Memang benar kalau awalnya dia berpikir kalau gadis kecil di depannya hanya sedang mencoba hal-hal baru, lalu akan pulang di hari pertama. Pria itu sudah sering mendapatkan murid yang seperti itu. “Oke, bagus. Pukulanmu cukup bertenaga.” Lissa terus memukul dan mengikuti setiap perintah yang diucapkan oleh pelatihnya. Sesi mereka sudah berlangsung sepuluh menit dan Lissa sama sekali belum merasa lelah, meskipun dia belum sempat makan siang. “Namaku Jonathan.” Pelatih itu memperkenalkan dirinya kepada Lissa yang tampak kelelahan setelah hampir setengah jam berlatih bersama. “Lissa … Clara Lissa.” Ucap Lissa terengah-engah. “Minum. Kau terlihat letih sekali.” Pelatih Lissa yang bernama Jonathan segera memberikan satu botol air mineral. “Terima kasih.” Lissa langsung meminumnya. “Aku sudah sangat lama tidak berlatih, karena sakit.” “Tapi gerakanmu terlihat sudah bagus.” “Aku mengambil banyak paket di sini. Jangan bosan melatihku.” Senyum Lissa tersungging manis dan itu cukup menarik di mata Jonathan. “Sebenarnya kau terlalu feminim untuk melakukan latihan-latihan seperti ini.” Jonathan ingat bagaimana penampilan Lissa saat masuk ke tempatnya. Mengenakan dress warna pink dan sepatu yang begitu cantik. “Menjadi kuat bukan hal yang hanya dikonsumsi oleh mereka yang tomboy.” “Ya, kau benar. Apa motivasimu datang ke tempat ini?” Lissa tampak berpikir, “Menjadi petinju?” Jonathan tertawa, “Oke, aku mengerti.” Jonathan tidak percaya kalau alasannya karena gadis di depannya ingin menjadi petinju. “Aku akan kasihan kepada lawanmu, karena wajahmu begitu mengganggu. Kau lebih cocok menjadi model daripada petinju.” “Terima kasih untuk pujiannya, karena mengatakan kalau aku cantik. Sayangnya, aku tidak suka dengan pekerjaan seperti itu. Menjadi pembunuh bayaran lebih asyik daripada menyusuri panggung hiburan.” “Oke, aku salah menilai tentang dirimu. Sepertinya kita bisa berteman dengan sangat baik. Kau memilih banyak paket latihan, kan?” Lissa begitu tidak terduga di mata Jonathan. “Ya, benar. sebelum aku memiliki tubuh yang bagus aku tidak akan ke luar dari sini. Apa kau keberatan?” “Tidak. Jarang-jarang ada gadis kecil yang datang ke sini.” Jonathan tersenyum sangat tulus. “Kita akan istirahat lima belas menit. Untuk informasi, aku tidak sering melatih di tempat ini. Aku memiliki jadwal di tempat lain. Akan tetapi, aku akan memberikan pelatih yang baik untukmu.” “Terima kasih, Jo.” Lissa memilih duduk dan meminum airnya hingga habis sebelum nanti memulai lagi. Ada dua orang yang menghampiri Jonathan. Lissa hanya mengamati dari jauh dan lebih tidak peduli dengan kegiatan mereka. Ia merenggangkan lehernya yang agak pegal. Belum apa-apa ia sudah merasa gerah. Tangannya agak sakit, ketika memukul lengan Jonathan yang telihat kuat itu. Pria itu sama sekali tidak menyiratkan reaksi apa-apa di wajahnya, ketika ia mengarahkan pukulan ke tangannya untuk mengecek batas kekuatannya. Pria itu terlihat sangat ahli dalam hal melatih orang. Lissa sepertinya sudah memilih tempat yang tepat. Gadis itu hanya perlu lebih bersungguh-sungguh dalam berlatih, agar tubuhnya bisa kembali kuat seperti tubuh yang pernah ia miliki dulu. Lissa segera mengelap keringatnya dan kembali berdiri untuk bersiap-siap lagi memberikan Jonathan beberapa pukulan. Sesinya kali ini tidaklah panjang. Ia akan menggunakannya dengan sebaik mungkin. Lissa semakin bersemangat, karena mengingat kalau tadi ia sudah menemukan laki-laki yang menjadi targetnya. Kali ini ia harus bisa mengembalikan kekuatannya seperti sediakala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD