bc

Janji Balas Dendam Sang Penguasa Hati

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
age gap
goodgirl
mafia
gangster
blue collar
drama
sweet
bxg
bold
city
childhood crush
love at the first sight
addiction
like
intro-logo
Blurb

Dunia Anisa Larasati Dewi hancur seketika saat orang-orang yang ia percaya justru menghancurkan kehormatan dan keluarganya. Tanpa tempat berlindung dan tak berdaya, ia mengira hidupnya telah berakhir—sampai sosok yang selama ini ia kagumi dari jauh hadir di hadapannya. Daffa Rizky Alfarizqi, penguasa yang namanya disegani sekaligus ditakuti, kini berdiri tepat di depan Anisa. Jemarinya yang dingin menyentuh pipi gadis itu yang penuh luka, namun sentuhannya entah mengapa terasa begitu aman. "Menikahlah denganku," ucap Daffa pelan namun tegas. "Akan kubantu kau membalaskan semua perlakuan mereka padamu." Anisa terpaku. Menatap manik mata pria itu—satu penuh luka lama, satu penuh janji yang tak bisa diingkari. "Kenapa kau mau melakukan ini untukku?" bisiknya nyaris tak terdengar. Daffa tersenyum samar, menyembunyikan rasa yang selama ini ia pendam rapat-rapat. "Karena aku mencintaimu. Dan luka yang tak kau balas, akan tetap menyakitimu seumur hidup." Di antara janji balas dendam dan pernikahan yang tak terduga, mungkinkah cinta tumbuh di tengah dunia yang penuh bahaya dan dendam?

chap-preview
Free preview
Bab 1 - Di Balik Bayang-Bayang Hujan
Hujan turun sejak sore dan belum juga reda. Jalan kecil di belakang apartemen tua itu nyaris gelap, hanya disinari lampu kuning gang yang berkelap-kelip seolah kehabisan tenaga. Anisa memeluk jaket lusuhnya, tas belanja berisi roti dan teh hangat bergoyang di tangan. Ia baru saja pulang dari minimarket diskon — satu-satunya tempat yang masih buka malam begini. Saat hendak berbelok ke lorong belakang, langkahnya terhenti. Terdengar suara — derit sepatu tergesek dan napas berat yang memburu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dari balik bayang-bayang kontainer besi, muncul sesosok tubuh besar, berjalan terpincang. Pria itu mengenakan jas hitam mahal, kini basah kuyup dan robek. Darah mengalir deras dari sisi perutnya. Anisa mundur selangkah. "T-Tunggu... Anda baik-baik saja?" Pria itu menatapnya. Mata tajam seperti serigala, hitam pekat, penuh curiga dan... amarah yang tertahan. Namun kakinya mendadak goyah. Tubuh besar itu jatuh tepat di depan kaki Anisa. "T-Tuan! Hei!" Anisa menjatuhkan belanjaannya dan berlutut di aspal basah. Tangannya gemetar menyentuh wajah pria itu — kulitnya dingin, tapi ia masih bernapas. Dan terluka parah. "Jangan pingsan... Jangan pingsan!" desisnya panik. Ia bisa saja lari, meminta bantuan, atau menjauh. Tapi ia tidak melakukannya. Entah karena insting... atau karena sebelum kesadarannya hilang, mata pria itu seolah memohon tanpa suara. Anisa mengernyit melihat darah semakin membasahi pakaian pria asing itu. Dengan tangan masih gemetar, ia menghubungi kontak yang tersimpan di ponselnya. "Halo, Anisa? Sudah lewat tengah malam, kamu tahu itu?" suara dari seberang terdengar cemas. "Maaf, Lia. Tapi aku... aku butuh bantuanmu. Sekarang juga." Hening sesaat. "Apa yang terjadi?" "Ada seorang pria terluka cukup parah. Aku menemukannya di gang belakang dekat tempat tinggalku. Dia kehilangan banyak darah. Aku tidak tahu siapa dia..." "Luka biasa?" "Terlalu gelap untuk memastikannya." Hening kembali menyelimuti, sebelum akhirnya Lia menghela napas. "Tunggu di sana. Aku datang." Belasan menit kemudian, suara motor terdengar dari ujung gang. Anisa berdiri dan melambai saat melihat sosok Lia berhenti di bawah lampu jalan yang temaram. Tanpa banyak tanya, Lia mematikan mesin dan menghampiri tubuh yang tergeletak. "Astaga, Anisa..." Lia menatap pria itu lekat. "Ini bukan orang sembarangan. Lihat pakaiannya. Luka seperti ini tidak datang dari perkelahian biasa." "Aku tahu," jawab Anisa pelan. "Tapi kalau kita meninggalkannya di sini, dia mungkin tidak akan bertahan malam ini." Lia mengatupkan bibirnya, menatap sahabatnya tajam. "Baiklah. Bantu aku menopangnya. Kita bawa ke kamarmu." Dengan susah payah, mereka memapah tubuh pria itu menuju lift. Napas Anisa terengah, namun ia tidak berhenti. Setiap langkah terasa berat — ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya tak tega berpaling. Sesampainya di kamar, mereka meletakkannya perlahan di atas ranjang kecil Anisa. Darah segera merembes ke seprai putih, membuat hati Anisa mencelos. "Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lia, berdiri di sudut kamar dengan wajah cemas. "Aku akan mencoba menghentikan pendarahannya," jawab Anisa. "Aku masih punya peralatan medis sisa — setidaknya bisa menahannya sementara." "Anisa..." Lia menatapnya lekat. "Kamu sadar, kan? Pria ini bisa saja penjahat." Anisa memandangi wajah pria itu. Meski penuh luka, wajahnya tetap terlihat kokoh... dan tak biasa. "Aku tahu. Tapi malam ini, aku memilih untuk menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menilai dia sebagai apa pun." Tanpa membuang waktu, Anisa mengambil peralatan medis. Saat membuka kancing jas pria itu untuk memeriksa lukanya, matanya terpaku. Di bawah kemeja yang berlumuran darah, terpampang jelas tato naga hitam yang melingkari sebuah mahkota. Anisa mendesah pelan, tangannya tetap cekatan mengobati luka robek di d**a pria itu. "Aku tidak tahu siapa kamu... tapi aku hanya ingin menolongmu." Darah masih mengalir pelan, namun tekanan tangannya cukup kuat untuk menahannya. Meski tubuhnya mulai gemetar karena kelelahan, ia tetap fokus. Tak ada ruang untuk panik. Namun saat tangannya bergerak turun, matanya menangkap noda merah yang lebih gelap di bagian paha. Jantungnya nyaris berhenti. "Anisa..." Lia bergeser mendekat, ikut menatap bagian itu. "Itu..." "Luka tembak," bisik Anisa pelan. Ia menatap sahabatnya. "Pelurunya... masih tertanam." Lia mendekat. "Kita harus melapor. Ini bukan urusan biasa. Dia bisa jadi buronan." Anisa terdiam sejenak, lalu menatap sahabatnya lekat-lekat. "Kamu harus pergi." "Apa?" "Sekarang, Lia. Lebih baik kamu pergi. Kalau dia memang dicari orang, dan mereka tahu dia ada di sini, kamu bisa terseret." "Tapi bagaimana denganmu? Kamu juga bisa kena masalah!" "Aku tidak apa-apa," ucap Anisa cepat, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak punya keluarga. Kalau sesuatu terjadi padaku... tidak ada yang akan kehilangan aku." "Anisa—" "Maaf." Dengan cepat Anisa mendorong sahabatnya ke luar, menutup pintu rapat dan memutar kunci. Suara kunci itu terdengar begitu jelas, memutus segala kemungkinan. Ia bersandar di balik pintu, menarik napas panjang. Jantungnya berdebar begitu keras seakan hendak keluar dari rongga dadanya. Tapi ia tidak bisa berhenti sekarang. "Aku harus tenang." Anisa kembali ke sisi ranjang. Tangan gemetar merobek bagian celana pria itu, memperlihatkan luka tembak yang menganga di pahanya. Bau darah dan mesiu memenuhi kamar sempit itu. "Bertahanlah," bisiknya sambil menata alat. "Aku akan mengeluarkan pelurunya. Kamu tidak akan mati malam ini." Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, prosedur darurat pun dimulai. Malam itu berubah menjadi pertarungan diam antara hidup dan mati. Dua jam berlalu sejak Anisa menyelesaikan semuanya. Pria yang masih belum sadar itu terbaring lemah. d**a dan pahanya kini terbalut perban bersih, namun kulitnya pucat... dan panas. Anisa menyentuh dahinya. Panasnya menyengat. "Demam," gumamnya cemas. Ia segera merendam handuk kecil ke air dingin, memerasnya, lalu kembali ke ranjang. Kompres itu diletakkan di dahi pria itu, diganti berkala, sambil sesekali menyeka keringat dari pelipisnya. "Siapa kamu sebenarnya?" bisiknya lirih. Ia duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah tenang yang kini memerah karena demam. Tiba-tiba, tangan besar pria itu bergerak. Mencari sesuatu. Sebelum Anisa sempat mundur, jari-jarinya erat menggenggam pergelangan tangannya. "Jangan... tinggalkan aku..." gumamnya samar, di antara sadar dan tidak. Anisa membeku. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Sekitar empat jam kemudian... Napas pria itu mulai teratur. Kelopak matanya bergerak pelan, lalu terbuka sepenuhnya. Pandangannya masih kabur sesaat, namun naluri waspadanya langsung bekerja. Di mana ini? Langit-langit putih. Bau antiseptik samar. Detak jam dinding yang berdentang perlahan. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa berat. Lengan kirinya nyeri, d**a hingga paha terbalut rapi dengan perban medis. Sorot matanya langsung menyapu seluruh ruangan, menilai setiap sudut, mencari ancaman. Ia sudah terlalu sering berada di situasi seperti ini. Hingga pandangannya terhenti. Di sofa kecil, tak jauh dari ranjang, seorang gadis tertidur meringkuk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Pakaiannya terlihat kusut dan lelah. Siapa dia? Ia mengerutkan kening, menatap gadis itu lama. Lalu bisikan lirih lolos dari bibirnya yang kering. "Dia... menolongku?" * * Di Luar Apartemen Dua pria berjas gelap berjalan perlahan menyusuri lorong lantai delapan. Langkah mereka nyaris tak terdengar, seakan menyatu dengan kegelapan koridor yang temaram. Satu tangan mereka terselip di balik jaket, sementara mata tajam itu menatap lurus ke depan — tanpa ekspresi, tanpa keraguan. Mereka berhenti tepat di depan pintu bernomor 806. Tanpa suara, salah satu dari mereka mengeluarkan benda kecil dari saku dalam jasnya. Sebuah pengait logam ramping yang berkilat samar di bawah cahaya lampu lorong. "Cepat. Kita tidak punya banyak waktu," bisik yang lain, suaranya rendah dan tegas. Dengan gerakan terlatih, pria itu mulai memutar alat tersebut di lubang kunci. Hening. Hanya terdengar suara halus logam yang bergesekan — pelan, hati-hati, penuh ketepatan. Hingga akhirnya... Klik. Samar, namun jelas. Mekanisme pintu terbuka. Di Dalam Apartemen Daffa yang baru saja menghela napas lega, seketika kembali siaga. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu. Napasnya mendadak memburu — bukan karena luka di tubuhnya, melainkan karena naluri bertahan hidup yang langsung bangkit sepenuhnya. Suara itu... terlalu dikenalnya. "Bukan suara kunci biasa..." gumamnya lirih. Tubuhnya menegang meski rasa sakit masih mendera. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Sorot matanya menyapu ruangan dengan cepat, mencari sesuatu — apa pun yang bisa dijadikan pertahanan. Tidak ada pistol. Tidak ada pisau. Tidak ada senjata apa pun. "Sial." Ia mengepal erat kain selimut yang menutupi tubuhnya, seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa. "Apakah ini akhirnya?" pikirnya. "Aku akan mati di sini?" Detik demi detik berlalu, suara dari arah pintu semakin jelas. Seseorang sedang masuk. Perlahan. Hati-hati. Klik. Pintu terbuka. Dua pria bertubuh kekar melangkah masuk. Gerakan mereka lincah namun tenang — seperti bayangan yang menyelinap di tengah malam. Mata mereka menyapu setiap sudut ruangan, waspada, siap menghadapi apa pun. Daffa bersandar kuat ke dinding, kakinya terasa perih namun ia tak bergeming. Ia merangkak mundur sedikit, mencari posisi terbaik. Napasnya tertahan. Ia tahu — di dunia tempatnya berasal, keterlambatan sepersekian detik saja bisa berarti kematian. "Jangan bergerak," ucap Daffa tajam, penuh ancaman meski suaranya masih berat. Kedua pria itu sontak berhenti. Perlahan mereka mengangkat kedua tangan ke atas — menunjukkan bahwa mereka tidak berniat menyerang. "Tenang, Daffa. Ini aku, Farhan," jawab pria pertama dengan nada rendah, tenang namun penuh kelegaan. Daffa menyipitkan matanya, berusaha mengenali wajah itu di ruangan yang remang-remang. "Farhan...?" "Dan aku, Aldo," sambung pria kedua sambil menyunggingkan senyum tipis namun lega. "Masih keras kepala rupanya. Sampai-sampai belum mati juga, hah?" Daffa menghela napas panjang — napas yang berat, melepaskan ketegangan yang menyesakkan dadanya. Otot-otot yang sedari tadi menegang perlahan mengendur. "Sial..." gumamnya, sedikit tersenyum getir. "Aku nyaris saja melempar teko panas ke kepala kalian berdua." Ia duduk perlahan, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menatap keduanya — campuran rasa lega, lelah, dan pertanyaan yang tak kunjung usai. "Apa yang kalian lakukan di sini?" "Kami mencarimu, tentu saja," jawab Farhan pelan sambil melangkah masuk. "Berkat bantuan Bibi/Aunty, akhirnya kami menemukan keberadaanmu. Sejujurnya... kami pikir kami akan menemukanmu sudah tak bernyawa di selokan mana pun." Daffa menunduk sebentar, lalu kembali menatap mereka. "Ibu tahu?" "Menurutmu?" Aldo mengangkat bahu. "Kamu lupa siapa orang tuamu? Mereka pasti sudah gila cemas mencarimu." Pria itu melangkah lebih dalam, matanya meneliti ruangan sempit itu — hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sofa kecil di sudut kamar. Di sana, Anisa masih tertidur pulas, meringkuk dengan wajah yang tampak kelelahan luar biasa. Cahaya lampu meja yang redup menyinari separuh wajahnya. Aldo terdiam sesaat, tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Dan ternyata..." bisiknya pelan, "kamu diselamatkan oleh seorang wanita cantik." Daffa menoleh perlahan. Tatapannya jatuh pada sosok gadis itu — gadis yang tanpa tahu siapa dirinya, telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan nyawa seorang asing.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook