Setelah makan siang, Ananta mengantarkan Alyssa selamat sampai dirumah wanita itu. Sedangkan pemuda itu kembali kerumah nya. Alyssa merasa sangat lelah, Kandungan muda nya sedikit demi sedikit mulai membuatnya kelelahan.
"Rio sibuk gak ya?". tanya nya pada desau angin yang meliukkan gorden kamar.
Tepat saat itu dering telfonnya meraung minta diangkat. Alyssa tersenyum sumringah saat tau nama Rio terpampang dilayar tersebut.
"Hallo, Rio!".
"Hallo, sayang! sudah pulang sekolah?". tanya Rio di seberang sana.
"Baru aja nyampe. tadi aku makan siang dulu dengan Ananta".
"Baguslah kalau dia jadi jemput kamu. Aku emang nyuruh dia jemput".
"Kok gak bilang ke aku dulu?"
"Emang kamu sempat lihat hape hari senin ini? bukannya kamu sibuk karena penuh ya?". Alyssa terkekeh, ia merasa tersentuh lantaran Rio masih mengingat jadwal mengajarnya.
"Gak sempat sama sekali". balasnya. diseberang sana Rio mendengus kecil tapi tak urung tersenyum jua.
Sepintas Alyssa ingin mengatakan kepada Rio perihal Rena yang sempat bertemu dengan nya tadi pagi, tapi mendengar suara ceria Rio ia pun mengurungkan niatnya.
"Besok aku pulang ya".
"Sudah selesai memangnya?". ada rasa bahagia yang melingkupi Alyssa ketika Rio menjanjikan besok kepulangannya. ia rindu, tentu saja.
"Sudah--".
"Aku jemput ke bandara, mau?".
"Kamu gak ngajar?".
"Aku bisa izin sebentar, gimana? mumpung aku lagi berbaik hati nih". Katanya sombong. Mau tak mau Rio terbahak mendengarnya.
"Tentu! Kapan lagi aku dijemput sama orang sok sibuk seperti kamu". Alyssa mencebikkan bibirnya tapib tersenyum setelah nya.
"Pesawat ku jam satu siang. mungkin sampai di Jakarta jam tiga sore". kebetulan sekali kan, Alyssa bisa menjemputnya sepulang sekolah kalau begitu.
"Oke! pulang sekolah aku kesana, jangan pergi sampai aku datang ya!".
"Aku selalu menunggu kamu, Lyssa". bisikan Rio selalu menusuk hati terdalam nya.
***
Malam hari nya, Via bertandang kerumah Alyssa setelah gadis itu mengabarinya lewat pesan w******p. Dia tak datang sendiri, melainkan bersama Alvin sang calon suami.
Alyssa membawakan nampan yang berisi teh hangat dan cemilan "Ayo dicicipi! maaf ya cuma ini doang--".
"Apaan sih, Lyss! gak perlu repot malah, kita jadi gak enak!". sahut Via. Alyssa hanya tersenyum kecil.
"Gimana kabar lo? Anak lo juga".
"Puji Tuhan, kami baik-baik aja, Via! Kalian berdua gimana? makin cemerlang nih kalau gue liat". Goda nya. Praktis Alvin dan Via menahan senyum mereka. malu-malu.
Alyssa melihat gurat kebahagiaan itu yang sedikit di tahan lantaran sikap malu-malu tersebut. "Kita ke sini mau ngantar undangan buat lo sama Rio! Semoga lo bisa datang ke hari bahagia gue, Lyss". Kata Via sembari menyerahkan benda persegi panjang yang didesain sangat menarik sekali, undangan tersebut bertuliskan nama Via dan Alvin dengan menggunakan tinta emas. Khas Via sekali yang melambangkan kesan glamour.
"Iya, Lyssa. Gue harap lo dan Rio gak sibuk akhir bulan ini". Tambah Alvin. Alyssa mengangguk.
"Thanks! gue pasti datang bareng Rio".
"Gue kesini juga mau ngasih kain untuk bridesmaid, Lo, Agni dan Asha jadi bridesmaid gue pokoknya!". Alyssa menggelengkan kepalanya heran melihat Via yang tak kunjung berubah, suka sekali menuntut. Tapi ia paham, Via ingin ketiga sahabatnya bisa menjadi saksi perjalanan hidup nya bersama Alvin ketika menikah nanti.
"Awalnya gue mau ngasih pas di kampus, tapi keburu inget kalau lo udah jarang ke kampus. makanya ngasih ke rumah aja". Jelas Via.
"Gapapa, Vi. gue ngerti kok. Semoga lancar dan kalian langgeng sampai maut memisahkan, ya!". Via dan Alvin pun kompak mengaminkan harapan tersebut.
setelah berbincang hingga pukul sepuluh malam, barulah kedua sejoli itu berpamitan. Dan Alyssa harus puas sampai disitu lantaran teman mengobrolnya kembali kerumah masing-masing.
****
Keesokan hari nya, Alyssa mengajar seperti biasa. tapi sebelum ke kelas, ia ingin berdiskusi dengan guru pamongnya terkait izin liburnya untuk seminar dua hari kedepan.
"Ibu Fahma". Panggilnya. Wanita berjilbab panjang itu mendongak dan menyuruhnya masuk.
"Kenapa Alyssa?".
"Saya mau izin dengan Ibu". Dahi renta Ibu Fahma berkerut tiga.
"Izin mau kemana?".
"Sebenarnya izin ini untuk dua hari lagi, tapi saya takut lupa--ehm,, saya mau seminar proposal hari kamis, Bu. dan jadwalnya itu pagi jam 8. Saya izin gak bisa mengajar di hari kamis saat jam pertama sampai jam empat, Bu". Ibu Fahma menorehkan senyum teduhnya.
"tentu boleh! Kenapa harus sampai jam keempat? Izin saja satu hari, Lyssa". Kata beliau. Tapi Alyssa menggeleng pelan, ia masih bertanggung jawab menyelesaikan kewajibannya sampai jam kelima hingga akhir.
"Gak capek? Kan habis itu revisian". Ibu Fahma terkekeh disambut senyuman kecil oleh Alyssa.
"Capek pasti, Bu! Tapi saya gak bisa ninggalin mereka gitu aja--". Ibu Fahma bisa mengerti kenapa anak didiknya ini bisa berpikiran seperti itu. Jujur ia salut, semenjak mendapatkan mahasiswa PL, ia memang melepaskan Alyssa mengajar di hari pertama perempuan itu datang. Ia tak ragu dan memberikan kepercayaan penuh. Wajar jika Alyssa merasa harus menyelesaikan tanggung jawabnya.
"Khusus hari Kamis, kamu boleh libur Lyssa. Gapapa, ibu izin kan kok! Jangan sungkan ya". Lanjut nya.
"Makasih banyak, Bu. Puji Tuhan kalau ibuk berkenan memberikan". Ibu Fahma sedikit terkejut mendengar apa yang Alyssa ucapkan.
Memang di sekolahh ini semua guru diperbolehkan tidak pakai jilbab, asalkan masih sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan di awal, ia tidak begitu memperhatikan Alyssa.
"Kamu--".
Alyssa tersenyum kecil "Ya, saya Kristiani Bu". Jawab Alyssa. Ibu Fahma mengangguk paham. Tak ada masalah baginya, karena setiap agama ada untuk satu kebaikan yakni menuju Pencipta yang Esa.
"Ah iya, gimana kandungan kamu? Sudah berapa bulan cucu ibu?". Praktis Alyssa mengelus perutnya dibalik long dress itu.
"Sudah empat bulan, dan dia sehat disini".
"Ibu senang mendengar nya. Jaga terus kesehatan kamu, ya! jangan terlalu capek". Kata nya.
"Baik bu. Ehmm,, kalau begitu Lyssa duluan ke kelas ya, Bu".
"Silahkan, Lyssa".
***
Saat berjalan menuju ke kelas, Alyssa dihampiri oleh beberapa siswa kelas 11 mipa 2, kelas yang akan ia ajar di pagi menjelang siang ini.
"Miss Lyssa mau kemana?".
"Ke kelas, kalian gak mau masuk kelas ya?". Tanya nya sembari menyipitkan pandangan ke arah mereka. Praktis, ketiga anak lelaki itu terkekeh malu.
"Masuk kok, Miss! Kan kita mau jemput Miss". Kata Yelfik, Salah satu diantara mereka.
"Miss udah makan? Bayi Miss apa kabar?". Mereka telah mengetahui jika guru muda mereka sedang mengandung.
Waktu mendapatkan berita bahwa Alyssa sudah menikah mereka para lelaki di tiga kelas yang ia ampu, seperti diguyur bara panas, tidak rela rasanya jika wanita itu sudah memiliki orang rumah dan terikat dunia akhirat. Begitulah pikir mereka. Ada-ada saja.
"Miss sudah makan, dan dia baik didalam sini". Jawab nya kalem.
Yelfik dan kedua temannya masih sibuk bertanya seputar ini dan itu hingga mereka sampai di depan kelas kelas.
"Ayo silahkan duduk, kita mulai belajar kimia hari ini!".
Di lain tempat, ada sepasang mata yang menatap nanar kearah nya kini. Mata itu menyiratkan rasa kasihan dan penuh permintaan maaf atas perlakuan yang didapatkan oleh wanita hamil itu.
"Maaf dan semoga kalian baik-baik saja".
***
Jam pelajaran di hari ini usai, Alyssa bergegas menyimpan buku-bukunya. Shilla dan Sasa yang memperhatikan sedari tadi hanya menggeleng heran.
"Lo mau kemana kok buru-buru gitu, Lyss?". Tanya Sasa.
"Gue mau ke bandara".
"Ngapain?".
"Suami gue pulang hari ini, pesawatnya mungkin lagi landing". Ia melirik jam yang tertera di layar ponsel nya. Pukul 14.50 dan sepertinya Rio sudah sampai. Pikir wanita itu.
"Hati-hati ya! Mau bareng gue aja? Kebetulan bawa mobil kok". Alyssa menggeleng pelan. Bisa gawat kalau Sasa yang mengantarkan nya. Seakan tau apa yang Alyssa pikir kan, Shilla hanya diam tak ingin ikut campur.
"Gak perlu, Sa. Kejauhan nanti kalau lo ngantar, rumah lo kan jauh juga". Kata nya meringis tak enak.
"Yakin gak nih?". Sekali lagi Alyssa menggeleng pertanda tidak.
"Ya udah kalau gitu. Gue sama Shilla duluan ya!". Mereka pun berpisah karena Shilla satu arah dengan Sasa.
Alyssa bingung harus karena pesanan taksi online nya sangat lama sekali, biasanya paling lama itu lima menit. Tapi mungkin sedang padat-padatnya pulang sekolah, jadi sedikit lebih lambat.
"Miss Alyssa?".
"Eh iya Vanya. Kenapa?".
"Miss mau pulang? Belum dijemput ya?".
"Miss mau ke bandara, suami Miss baru pulang". Vanya mengangguk paham.
"Sama Vanya aja Miss, kebetulan arah rumah Vanya sama dengan bandara. Jadi Miss hemat ongkos deh". Alyssa terkekeh mendengar penawaran itu. Ia jadi tergiur dan yah.. Melihat tatapan Vanya yang menunggu jawaban dari nya, membuat Alyssa tak mampu menolak. Lagipula jika menunggu taksi online terlalu lama rasanya.
"Vanya,,, gak dijemput? Biasanya Miss lihat kamu di jemput". Agak ragu Alyssa bertanya soal jemputan gadis itu karena ia melihat ada sosok Rena dibalik nya.
"Lagi pengen bawa mobil sendiri aja, Miss. Lagian kan aku udah pakai SIM".
"Oh ya? Cepat sekali dapat SIM nya ya!".
"Biasalah, umur kan bisa dituakan Miss". Benar juga. Apa yang tidak bisa ditukar didunia ini. Semuanya bisa, asalkan ada pelicin semua berjalan aman.
Vanya melirik Alyssa yang tengah fokus pada ponselnya.
"Suami Miss udah landing?". Tanya nya.
Alyssa pun menoleh kepada Vanya "udah, barusan katanya".
"Oowh, oh iya Miss! Tadi kan aku ulangan kimia tuh! Hasilnya udah keluar langsung, terus aku dapat 100 deh! Makasih ya, Miss! Semenjak aku les dirumah Miss, aku jadi makin paham sama kimia". Kata nya sembari terkekeh.
Alyssa juga ikut terkekeh "Ah kamu! Udah kayak iklan di tivi aja, berasa di kasih testimoni".
Mereka tertawa satu sama lain. Tapi karena satu dan lain hal Vanya tak melihat adanya mobil yang berlawanan arah dengan mereka sehingga ia terkejut dan membanting stir hingga mobil yang mereka kendarai berputar dan menabrak mobil lain.
Kejadiannya begitu cepat hingga tak bisa di hentikan lagi. Mobil tersebut berguling dan terbalik.
Alyssa terkejut dan melindungi perutnya, tentu saja. Ia bisa mendengarkan bisikan disebelahnya sebelum semua menjadi hitam tanpa warna dan cahaya sedikitpun.
"Maaf,,,,".
***