16 : Kesalahan

1654 Words
Vanya pulang bersama kakaknya Rena, saat diparkiran wanita berusia 25 tahun itu menunggu di depan sekolahnya. Ia menghela nafas pendek, rena kakak tirinya pasti datang di suruh oleh papa nya. "Buruan masuk! Bikin nambah kerjaan aja". Vanya mencibir namun tak terlihat oleh Rena. Gadis manis itu pun duduk disebelah Rena, samping kemudi. "Lo tau ada guru yang lagi hamil di sekolah ini gak?". Seketika Vanya langsung tertuju kepada guru les nya. Ia mengangguk "ada. Tapi bukan guru tetap kak--". "Maksudnya?". "Beliau guru PL, cuma sementara gitu". Rena mengangguk paham, senyum kecil terukir di bibir filler nya. "Namanya siapa?". "Miss Alyssa. Kenapa?". "Lo tau dia udah nikah?". "Ya kan dia hamil, otomatis udah nikah lah". Sahut gadis itu santai. Rena malah menggeram kesal, adik tirinya berani berucap kasar padanya. "Maksud gue suami nya!". "Gue gak tau, belum pernah ketemu". "Emang kakak tau siapa suami nya?". "Tau, nama nya Rio. Dia relasi bisnis gue di kantor. Lo bener-bener gak tau sama suaminya?". Vanya menggeleng, pikiran tertuju kepada satu orang. Tapi gak mungkin kan, mereka terpaut jauh. Bisa juga nama nya sama. Pikir Vanya. "Kenapa sih kak? Kakak gak niat ngerebut suami Miss Alyssa kan?". Sejak Papa nya menikah dengan Ibu nya Rena, ia tak pernah berbicara sopan dengan Rena. Meskipun masih menggunakan panggilan 'Kak', tapi aksen berbicaranya jauh dari kata sopan. "Kalau iya kenapa?". Vanya terkejut, kakak tirinya itu sudah gila. "Sinting". Desisnya pelan. "Cari laki-laki lain lah, Kak! Dosa tau gak--". "Halah! Anak kecil tau apa sih tentang dosa! Masih bau kencur sok sok an ngajarin gue!". Vanya bungkam "Pokoknya lo harus bantuin gue! Apapun caranya--". "Gak mau! Licik dasar!". Seketika itu juga Rena menarik paksa rambut Vanya hingga membuat gadis itu mengerang kesakitan. Kepalanya serasa ingin tercabut lantaran Rena sangat kasar dan kuat menariknya. "Heh anjing! Lo harus ikutin apa kata gue, kalau mau hidup lo masih selamat terutama Papa tersayang lo itu!". Bisiknya tajam. Kemudian Rena melepaskan jambakan nya dan beralih ke jalan raya. Ya, dia mengemudi sembari menyiksa Vanya. Vanya, gadis itu meringis kesakitan. Ia tak boleh menangis di hadapan ular itu. Dia harus kuat. "Ngatain diri sendiri anjing. Lo lebih anjing dari pada gue tau gak!". Umpat nya didalam hati. Kepalanya pusing tak terkira. Ia hanya bisa terkulai lemah dan merapikan kembali rambut nya. Tapi saat akan mengikat rambut, banyak helaian rambutnya yang jatuh. Dan Vanya hanya bisa menahan rasa sakit di hatinya. *** Keesokan hari nya sebelum berangkat sekolah, Vanya akan diantar kembali oleh Rena. Atas perintah Papanya Vanya mau diantar oleh wanita ular itu. Intinya terpaksa. "Papa gak bisa antar kamu sayang, papa harus berangkat sekarang juga". Pukul enam pagi Damar, papa nya Vanya sudah bergegas menuju keluar rumah disusul Delina, Ibu nya Rena. "Kamu pergi sama Kak Rena saja ya, Nak". Bujuk Delina. Vanya menepis tangan Delina dan langsung masuk ke kamarnya. Ia kecewa karena sang ayah tidak seperhatian dulu lagi. Percuma rasanya ia menang olimpiade dan akan di kirim ke Lombok, tapi ayahnya tetap seperti itu. Tak menoleh. "Heh anak manja! Buruan siap-siapa, gue mau ke kantor!". Bentak Rena. Vanya mendesis tak suka, ia mengabaikan perintah tersebut. "Setan! Lo berani sama gue? Belum puas lo gue siksa ha?". Vanya diam, ia sudah sering di perlakukan tak layak oleh kakak tirinya ini. Wanita itu nekat menyiksanya dua hari setelah Delina dan Rena menginjak kan kaki dirumah ini. Alasan nya sepele, waktu itu Vanya tak sengaja merusak baju mahal Rena yang sedang di cuci di mesin cuci. Mana Vanya tau kalau baju tersebut luntur. Salah siapa yang meletakkan baju itu di mesin cuci. Rumah ini tak menyediakan jasa pembantu, jadi yang mengerjakan adalah pemilik rumah. Termasuk Vanya, karena Rena tak mau mencuci, jadilah ia menyuruh gadis itu yang mencuci. Rena pun tak memberi tau kalau ada baju nya yang mahal dan bisa luntur. Vanya diam saja, walhasil ketika baju itu sudah rusak Rena mengamuk dan menyiksa Vanya sampai gadis itu mendapatkan luka fisik dan bathin. Tentu kedua orang tua mereka tak tau, Vanya tak bisa berkutik ketika yang menjawab adalah Rena. Tentu saja, mulut wanita itu seperti ular dan penuh dengan bisa yang membuat lawan bicara nya mengikuti apa yang ia katakan. "Kali ini gue gak bisa diem aja ya kak! Lo mending jauhin suami nya Miss Alyssa! Demi Tuhan gak usah nambah pelakor di Indonesia kenapa sih? Lo masih perawan kan? Tinggal lo kasih aja lubang lo itu ke cowok yang single, kenapa harus batang laki orang yang lo embat. Anjing!". Maki Vanya tanpa takut akan terdengar oleh Delina. Rena murka di katakan seperti itu oleh Vanya, tanpa ampun ia menendang adik dirinya itu hingga tersungkur dan mengenai sudut meja rias nya. "b*****t! Lo musti ikutin apa kata gue! Lo bunuh guru lo itu, lo bunuh kandungan nya atau papa lo mati ditangan gue! Lakukan atau nyawa papa lo sebagai gantinya". Ia menarik rambut Vanya kemudian menampar nya kuat-kuat. Hingga sudut bibir gadis itu robek dan mengeluarkan banyak darah. "Astaga Rena! Kamu apain Vanya?!". Delina datang dan menarik wanita gila itu agar menjauh dari anak tirinya. "Lihat! Nyokap gue aja udah tunduk sama lo sekarang! Lo cuma  anak tiri nya dia, tapi lo sukses bikin dia deket sama lo. k*****t!". Maki Rena. Plakk Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Rena. Delina menamparnya. Tatapan nya nyalang dan tak percaya akan sikap anak satu-satunya ini. "Mama gak nyangka kamu bisa ngomong seperti ini! Kamu jahat sekarang! Kamu mau bunuh adik kamu sendiri? Iya?". "Dia bukan adik aku! Dia adik tiri aku, Ma! Hah, sudahlah. Urusan gue sama lo belum selesai, Vanya!". Lalu, Rena keluar dari kamar gadis itu. Vanya menghela nafas berat, semuan badan nya sakit sekali. Delina dengan sigap membantunya, membersihkan luka nya dan mengobati sudut bibir Vanya. "Gak usah, Tante! Saya mau pergi sekolah aja". Lagi lagi Vanya menepis tangan Delina, wanita paruh baya itu sedih melihat anak tiri nya yang disiksa oleh anak kandungnya sendiri. Dengan tertatih Vanya berganti baju menuju lemari pakaian, tadi subuh ia sudah mandi. "Sejak kapan kamu disiksa kakak kamu?". "Kenapa gak tante tanya aja ke dia". "Vanya,,, ". "Bukan urusan tante kan! Silahkan keluar, saya mau ganti baju!". Usirnya pelan. Delina hanya bisa menuruti kemauan gadis itu. Perlahan Vanya menekan dadanya, terasa sesak ketika perlakuan baik Delina ia tolak. Ia tau wanita itu tak sebejat anaknya, tapi ia masih susah untuk menerima Delina sebagai pengganti mama kandung nya sendiri. "Ma, aku belum siap! Dan aku gak akan siap sampai kapan pun!". Lirihnya sembari menatap foto almarhumah ibu nya. *** Pukul tujuh kurang, Vanya nekat kesekolah membawa mobil, ia tak memiliki surat menyurat. Ia tak memiliki SIM sama sekali. Sangat nekat. Tapi sebelum berangkat, Rena sudah melemparkan sebuah tab kepadanya. Berita yang mencengangkan membuat irisnya memproduksi cermin basah. "Ini--". "Iya! Papa lo bangkrut bentar lagi, rumah ini di jual dan yah bentar lagi papa lo mati secara perlahan!". Tab tersebut berisi berita posisi ekonomi perusahaan Damar yang terancam pailit. Vanya berulang kali membaca berita tersebut, dan hasilnya tetap sama. Pailit. Orang dalam. Korupsi milyaran. Vanya hampir gila, bagaimana papa nya? Damar memiliki riwayat sakit jantung. Jika Damar tau ini semua, maka habis lah sudah. "Papa--". "Gue harap sih bokap lo belum baca ya, secara berita itu baru dikeluarin pagi ini. Hot news!". Kata Rena sinis. Vanya melempar asal tab itu hingga pecah dan kembali membuat Rena mengamuk dan menarik kedua pipi Vanya. "Lakuin perintah gue atau bokap lo mati didepan lo hari ini juga!". Katanya tajam. "Lo pilih mana? Bokap lo mati aja? Kalau gitu sih, terserah lo!". Vanya menangis mengingat papa nya, orang yang selalu ada untuknya ketika mama nya sudah tiada. Orang yang selalu menjaganya tapi perlahan Damar sibuk kerja untuk melupakan mendiang istrinya. Dan Vanya mulai kesepian. Ia tak marah, tapi ia kecewa. Ia tak ingin Damar pergi juga meninggalkan nya. Tapi di satu sisi, ia kasihan kepada Alyssa karena suaminya direbut oleh Rena. Ia kasian kepada bayi yang ada dalam kandungan Alyssa. "Ahh! Kenapa serumit ini sih?!". Bathinnya bergejolak. "Segera Vanya! Bokap lo atau guru lo itu!". Vanya terus bergumam maaf dan mendesahkan kalimat ampun untuk dirinya dan juga orang-orang yang terlibat dengan nya. "Oke! Asalkan jangan lo kasih tau ke papa soal berita itu! Jangan sampai papa tau untuk sementara waktu!". Pinta nya. Rena tersenyum culas. Ia bahkan sudah memprediksikan ini sebelum nya. Adik tirinya itu akan menurut, tentu saja. "Lo kesekolah dan renggut hidup mereka!". Bisik Rena. *** Dan sepulang sekolah Vanya menawarkan tumpangan kepada Alyssa ketika wanita itu hendak pulang. Entah kebetulan atau apa, arah nya sama dengan Vanya. Karena wanita itu ingin kebandara menjemput sang suami. "Vanya,,, gak dijemput? Biasanya Miss lihat kamu di jemput". Vanya tersentak. "Apa Miss Alyssa tau ya?". Bisiknya "Lagi pengen bawa mobil sendiri aja, Miss. Lagian kan aku udah pakai SIM". "Oh ya? Cepat sekali dapat SIM nya ya!". "Biasalah, umur kan bisa dituakan Miss". "Termasuk keadaan saya sekarang, Miss". Tanpa Alyssa sadar, ponsel Vanya yang ada didekat gadis itu bergetar panjang ketika mereka sedang tertawa. Vanya mencoba mengabaikan panggilan Rena itu. Tapi ketika getar panjang sudah berhenti, berganti menjadi getar pendek. Sebuah pesan terlampir di pop up notifikasi nya. Rena : Tabrak sekarang atau bokap lo yang duluan! Vanya mendelik dan menggeleng pelan, tapi tepat pada saat itu sebuah mobil dengan arah berlawanan menabrak mereka. Vanya membanting stir untuk mengelak, namun sayang justru mobilnya nya berputar putar dan malah menabrak mobil lain hingga mereka berguling di dalamnya. Vanya tak sanggup melihat kedepan, ia menatap Alyssa yang sedang melindungi kandungannya. Setetes air mata jatuh di pelupuk gadis itu. "Maaf,,, Miss, maaf!". Mobil terpental jauh dan mengeluarkan api dari belakang. Posisi mereka terbalik saat ini. Dan Vanya dengan nyawa setengah sadar mencoba untuk mengeluarkan diri terlebih dahulu, tapi tak bisa. Ponselnya bergetar sedari tadi menampilkan id call Rena. Ia mengangkat nya meskipun dalam keadaan kacau. Bayangkan, kepalanya ada di bawah. "Great adik ku! Selamat merengang nyawa dengan guru yang lo kasihi itu!". "Aaaaaaaaaaa brengsekkkk!". Vanya menangis, ia tak kuat. Lalu masyarakat sekitar membantu nya dan Alyssa yang dalam posisi terjepit. Dengan sisa-sisa tenaga nya ia berkata. "Pak, tolong selamatkan guru saya duluan. Dia lagi hamil, tolong--". Sekitarnya menjadi buram, Vanya pusing dan ia ingin tertidur sejenak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD