Rio setia menunggu Alyssa datang menjemput nya. Ia percaya wanita itu datang dan tadi dia mengabari sudah di jalan. Rio tersenyum sumringah. Sembari menunggu ia mengecek email yang dikirimkan oleh Jiani kepadanya. Ada beberapa dan bisa ia kerjakan besok.
Tapi sudah satu jam lamanya Alyssa juga tak kunjung datang. Rio dirundung kegusaran. Ia menelfon ponsel wanita itu tapi nomornya sibuk. Rio gusar, tentu saja.
Ia pun menghubungi Shilla, kalau kalau istrinya itu menjemput bersama Shilla.
"Hallo!". Sapa Shilla di ujung sana.
"Hallo, Miss. Ini Rio".
"Eh iya,, kenapa Rio?".
"Miss lagi sama Alyssa gak?".
"Enggak, Miss udah pulang tadi. Dia belum sampai bandara ya?". Rio mendadak panik.
"Belum, Miss--".
"Macet mungkin kali ya". Rio menghela nafas pendek.
"Tadi dia w******p kalau udah di jalan".
"Tunggu aja sebentar lagi, Rio. Miss coba hubungi dia juga ya!".
"Ponselnya gak aktif Miss".
"Atau mau kita susul ke Bandara aja?"
"Gak perlu Miss, eh sebentar Miss. Ini Alyssa nelfon saya!".
"Ahh, alhamdulillah kalau gitu".
"Thanks ya Miss". Tanpa pikir panjang, Rio mengalihkan panggilan nya untuk menjawab sang kekasih.
"Hallo sayang kamu dimana?".
"Benar ini Rio?". Jantung Rio berdetak tak karuan, suara asing yang menelfon nya.
"Iya saya Rio. Ini siapa? Dimana istri saya?".
"Istri ada dirumah sakit B sekarang, beliau mengalami kecelakaan. Kami mem---". Tanpa pikir panjang Rio menggeret koper kecilnya menuju rumah sakit yang di sebut kan oleh orang itu. Pikiran nya kalut.
Sejenak Rio memejam kan matanya, berusaha untuk tenang selama perjalanan ke sana.
"Tuhan ku, tolong selamatkan istri dan anak ku. Kembalikan mereka untuk ku, Tuhan". Pinta nya dalam hati.
Lalu dengan cepat Rio kembali menghubungi Shilla.
"Miss, Alyssa kecelakaan. Dia dirumah sakit B sekarang!".
***
Alyssa sudah ditangani oleh tim medis. Ada petugas kepolisian dan masih ada Vanya yang duduk di kursi tunggu. Ia tak mempedulikan penampilan nya kini, ia menolak di obati oleh dokter ataupun perawat. Ia memikirkan Alyssa dan bayi yang ada di dalam perut guru nya itu. Ia berdosa dan tak termaafkan.
"Dek, dimana wali mu?". Tanya pak polisi. Vanya masih bungkam, pandangannya lurus kearah ruang UGD tempat Alyssa di selamat kan.
"Dek--". Pak polisi kembali menyentak lamunannya.
"Wali saya--".
"Pak polisi--". Mereka menangkap sosok Rio yang terengah-engah, ditambah lagi Shilla dan Sasa yang menyusul dibelakang nya.
"Kak Rio--". Desis Vanya pelan. Rio belum menyadari sosok nya. Ia bisa melihat gurat lelah dan seperti....khawatir.
"Anda--".
"Saya Rio, suami Alyssa!". Vanya melotot tak percaya dengan fakta yang ia Terima. Bagaimana bisa? Ia mendadak pusing.
"Gimana bisa terjadi kecelakaan, Pak?". Tanya Rio.
"Kami masih menunggu wali dari anak ini, dia bersama istri anda saat kecelakaan". Rio terkejut melihat Vanya. Penampilan adik tingkat nya itu sangat prihatin.
Shilla dan Sasa langsung duduk di samping Vanya.
"Vanya--". Gadis itu memeluk Shilla dan menumpahkan tangisnya.
"Maafin saya, Miss. Maaf, hikss harusnya saya gak lakuin ini, hikss--". Shilla menatap mereka yang tak juga mengerti.
Rio berkilat amarah mendengar ucapan maaf itu. "Lo ngomong apa barusan?". Tanya nya.
Vanya melepaskan pelukan nya dan menatap takut ke arah Rio "Kak--".
"Ngomong Vanya! Lo bilang apa barusan?".
"Pak, anda harus sabar!". Cegah pak polisi. Rio menepis bapak tersebut.
"Lo mau bunuh istri gue? Apa salah dia Vanya? Demi Tuhan Yesus! Dia guru lo dan lagi hamil. Otak lo dimana, anjing!". Bentak Rio. Shilla dan Sasa sama-sama terkejut mendengar umpatan tersebut. Sedangkan Vanya menangis ketakutan.
"Maafin gue Kak! Harus nya gue, hikss. Hikss!".
"Miss, tolong hubungi orang tua Vanya sekarang!". Sasa mengangguk lalu mengambil ponsel gadis itu yang tergeletak begitu saja dan mencari nomor telepon keluarga nya.
Setelah menelpon mereka, Sasa pun ikut bersuara. Jujur ia masih kaget dengan banyaknya kenyataan yang ia dapatkan hari ini.
"Vanya, coba jelasin pelan-pelan ya!". Gadis itu mengangguk patuh.
"Gue gak mau ngelakuin ini, gue gak mau beneran. Tapi karena gue di paksa sama kakak gue, gue harus ngelakuin ini. Dia juga bakal ngebunuh papa gue kalau gue gak ikutin maunya dia, Kak". Jelas Vanya.
"Siapa kakak lo dan kenapa dia minta lo lakuin ini!".
Tiap semenit Rio terus memantau pintu ruangan yang menangani Alyssa, ia begitu takut .
"Namanya Rena, dan dia suka sama lo. Dia mau rebut lo dari Miss Alyssa-- gue udah bilang sama dia kalau gue gak mau. Tapi karena dia gunain berita yang tadi pagi turun tentang kebangkrutan perusahaan Papa dan akan bilang ke papa soal berita itu. Gue gak bisa cegah rencana dia untuk ngebunuh Miss Alyssa, Kak. Karena gue juga gak mau papa kena serangan jantung, hiks".
Rio mengepalkan tangannya sangat erat. Wanita setan itu sangat licik dan seenaknya saja. Dia gila. Pikir Rio.
"Maafin gue kak, maaf!".
"Vanya!". Damar dan Delina datang bersamaan. Mereka menatap miris Vanya.
"Kamu kenapa bisa kecelakaan, Nak?". Tanya Damar, kini Vanya sudah berada dipelukan ayahnya.
"Hikss, maafin aku Pa!".
"Pak polisi, kenapa sebenar nya ini?".
"Karena wali nya sudah datang, lebih baik sekarang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lanjut! Mari". Tanpa banyak membantah, para polisi itu membawa Vanya serta kedua orang tuanya kekantor polisi. Sementara Rio masih terpaku dengan kejadian hari ini.
"Shill--".
"Yang lo denger emang bener". Potong Shilla seakan tau apa yang ingin di tanya oleh Sasa. Nafas gadis itu tercekat, ia masih mencoba menahan semuanya.
"Rio--". Panggil shilla lembut.
"Alyssa, Miss--". Lirihnya.
"Duduk dan berdoa dulu. Berdoa supaya Alyssa dan anak kalian baik-baik saja--".
Pintu ruangan terbuka dan mendapati dokter yang keluar "keluarga pasien?".
"Saya!".
"Pasien sudah kami tangani, tapi saat ini pasien dalam masa koma. Dia mengalami benturan di bagian punggung dan kepala--".
"Bayi kami--". Rio seperti tak ingin mendengar berita ini.
"Alhamdulillah bayi nya bertahan. Sayang, kondisi nya lemah saat ini dikandung ibu nya". Nyawa Rio seakan melayang mendengar berita tersebut. Hati nya mencelos ketika tau bahwa orang yang dikasihi nya sedang terbaring koma.
"Lyssa--".
"Pasien akan dipindahkan ke ruang inap sebentar lagi--".
"Kapan dia akan sadar, dokter?".
"Kami juga belum tau. Berdoa, semoga keajaiban Tuhan akan datang".
Dokter itu menepuk pundak Rio memberikan sebuah kekuatan, tapi nyatanya ia tak kuat karena kekuatannya sudah habis. Habis untuk menangisi Alyssa dan anak mereka.
"Ya Tuhan, Alyssa!". Rio mengusap wajah lelahnya. Tepat saat itu, Ananta datang tergesa-gesa.
"Rio--".
"Jangan di ganggu dulu, ya! Biarkan dia tenang". Kata shilla pelan.
Kemudian shilla menceritakan masalah yang sudah terjadi kepadanya. Respon yang mereka dapat adalah, Ananta juga ikut emosi karena rencana licik dari Rena.
"Kurang ajar! Dia bosan hidup ternyata!". Gerutunya.
"Miss mau ke kantin sebentar, nitip?". Ananta menggleng pelan. Lalu Sasa dan shilla pun beranjak.
***
"Shilla, gue masih gak nyangka". Kata Sasa yang dari tadi menahan kekepoannya.
"Sama, gue juga gitu pas awal tau".
"Sejak kapan lo tau? Kok lo gak kasih tau gue?". Shilla mendelik.
"Udah hampir sebulan lah. Dan kenapa gak gue kasih tau, itu karena gue jaga privasi Alyssa. Dia yang minta--".
"Lagian kalau sampai semua orang tau, bisa gawat. Alyssa bisa gak selesai PL nya gara-gara skandal ini".
Setelah menceritakan apa yang dirinya ketahui, Sasa hanya bisa berjanji untuk tetap menjaga rahasia mereka. Ia juga turut kasihan dengan Alyssa, rekan sesama PLK nya.
"Setidaknya sampai kita selesai PL, dan gue mohon jangan sampai bocor". Pinta shilla
"Iya gue janji, janji gak bakalan kasih tau siapapun!". Tekad Sasa.
"Tapi ya, menurut gue Rio itu udah bertanggungjawab banget loh. Di usia dia yang masih remaja gitu, dia mau mengambil resiko".
"Bersyukur, karena dia gak ninggalin Alyssa waktu itu". Sasa mengangguk setuju.
Kemudian mereka kembali ke tempat Rio dan ananta. Ternyata Alyssa sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
"Kamu sudah bujuk dia untuk makan, Nan?".
"Udah, katanya udah makan pas di Batam tadi Miss". Jawab Ananta.
"Saya mau ke kantor polisi dulu, Miss. Tadi sekretaris Rio juga udah nelfon. Bentar lagi dia kesini kok".
"Oo gitu, yaudah. Kalau ada perkembangan kasusnya, kabari secepatnya ya!".
"Baik Miss, permisi!".
"Rio--".
"Iya Miss".
"Kamu yang sabar ya! Perbanyak doa semoga Alyssa segera sadar dan anak kalian baik-baik saja". Kata Sasa.
"Makasih Miss. Kalau miss capek, pulang duluan aja".
"Nanti malam saya dan Shilla kesini lagi". Rio mengangguk patuh.
Ketika pintu tertutup, Rio menumpahkan kesedihan nya. Ia menggenggam tangan rapuh itu. Wanita yang selalu mengurusnya kini terbaring lemah tak berdaya. Rio merasa gagal melindungi istri dan anaknya.
"Bangun, Lyssa. Setidaknya buka mata kamu sebentar. Kamu belum lihat aku udah pulang, kan?".
"Sekarang aku disini. Maafin aku gak bisa jaga kamu dengan baik, maaf sayang,,". Ia mencium tangan Alyssa, memberikan kehangatan akan sentuhan yang ia punya. Berharap kalau pendar ceria itu terbuka sedikit.
"Tolong jangan pergi dan tinggalin aku sendiri. Aku gak punya siapapun lagi didunia ini. Kamu tau kita sama-sama yatim piatu, Lyssa. Kamu tau itu--".
"Harus nya aku gak nerima kalau kamu jemput aku. Harusnya aku tolak aja biar kamu gak kecelakaan dengan Vanya".
"Anak itu, dia siswa kamu". Rintih Rio. Ia sakit melihat penderitaan didepan mata kini.
Rio menghela nafas panjang, mengisi kekosongan pundi pernafasan nya. Terasa berat, meskipun ia bernafas.
"Kamu tenang aja! Rena akan dapat balasan yang setimpal". Kata Rio pasti.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi orang kepercayaan nya. Hanya sekali perintah, semua terkendali. Karena Rena salah bermain-main dengan Mario Josse.
***