18 : Koma 2

1584 Words
Damar menapar Rena begitu kuat, tidak peduli meskipun anak tirinya itu masih ia sayangi. Ia kecewa dan marah. "Kamu perempuan gila! Dimana otak kamu!". Bentak Damar. Rena malah tertawa sinis. Pulang pulang Damar langsung menikam nya. "Aku emang gila! Salah kalau aku mau sama suami orang?". Tanya nya santai. Damar tak habis pikir dengan jalan pikirannya. "Kamu gunain berita bohong itu untuk menjatuhkan perusaan papa, sebenarnya apa mau kamu? Kamu mau perusahaan itu, iya?!". Tanya Damar tepat sasaran. Lagi, Rena tersenyum culas "Iya! Aku ingin semuanya! Meskipun aku tau aku cuma dapat separuh dari perusahaan itu, tapi aku gak mau!". "Mama gak pernah ngajarin kamu tamak seperti ini, Rena!". Kata Delina. Rena melirik ibu nya itu. "Apa sih yang mama bisa kasih ke aku selama ini? Cuma kemelaratan aja! Kalau bukan karena mama ketemu sama tua bangka ini, kita gak akan kembali kaya, Ma!". Ujar nya. Delina terkejut begitu juga dengan Damar. "Astaga! Kamu--". "Pergi kamu dari rumah ini! Jangan harap bisa kembali ketika polisi mencari mu". "Polisi gak akan mencari aku, Pa! Yang ada di kecelakaan itu Vanya, bukan aku! Jadi, aku bersih". Kemudian dia melenggang keluar dari rumah. Delina menangis memohon maaf kepada Damar atas ulah putri nya. Ia tak menyangka jika perbuatan Rena sangat menusuk hingga mengoyak kan luka mendalam untuk keluarga ini. "Sudahlah, lagi pula Rena tidak akan berani berbuat lebih jauh lagi setelah ini". Gumam Damar. Setelah penyelesaian kasus di kantor polisi tadi, yang menyebabkan Vanya terseret kedalam nya. Karena anak itu masih dibawah umur jadi dia bebas dari kurungan penjara. Dan dari pihak Rio juga memaafkan hal tersebut. Hanya karena otak dari segala masalah ini bukan lah Vanya, melainkan Rena. Sehingga Rio mau memberi keringanan untuk anak itu. Tadi saat di kantor polisi, Ananta datang bersama kuasa hukum keluarga Rio. Yang mengatakan akan menuntut Rena jika satu kali dua puluh empat jam tidak melapor dan menyerahkan diri maka dia akan diamankan oleh polisi. Sayang, tante girang itu hanya melenggang tanpa pikir panjang. "Dia salah berurusan dengan Keluarga Samudera". Kata Damar kepada Delina. Saat ini mereka sedang di kamar Vanya. Gadis cantik itu tertidur sepulang dari kantor polisi. "Maksud kamu apa, Mas?". "Rio, dia anak dari Trian Samudera. Perusahaan nya sangat besar dan dia orang berpengaruh di bidang ekonomi Asia. Tidak main-main, siapa yang berurusan kotor dengan mereka pilihannya mati atau membusuk di penjara". Jelas Damar. Delina sudah menangis mengingat bagaimana nasib anak tertua nya, Rena. Sungguh, Rena begitu b***t. "Apa yang harus aku lakukan untuk Rena, Mas? Aku gak mau dia di penjara apalagi di bunuh". Kata Delina sesak. Damar menghela nafas pendek. Kekuasaan Rio sangat besar. "Semoga Rio bisa mengubah hati nya menjadi lunak. Aku akan coba berbicara dengan nya besok". Putus nya. Siapa sangka Vanya yang berada di tengah-tengah mereka mendengar kan pembicaraan itu. Hatinya sedikit tercubit akan hal itu. Setelah sentuhan lembut Delina di pelipisnya melemah, mereka pun keluar. Dan Vanya membuka matanya. "Maafkan Vanya, Miss". Bisiknya pelan. Ia belum berganti pakaian sejak pulang dari kantor polisi. Padahal hari sudah malam, waktu menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit. Ia memikirkan Alyssa dan kandungan wanita itu. Rasa bersalah nya terus saja menggunung. Tanpa pikir panjang, ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Shilla, guru fisika nya. Vanya Oudrile : Maaf, Miss Shilla. Vanya mau tanya sedikit. Ashilla Farista : tanya apa, Vanya? Oh iya, gimana keadaan kamu? Vanya tersenyum ketika guru nya itu menanyakan keadaan nya. Vanya Oudrile : sudah lebih baik, Miss. Vanya mau tanya, gimana keadaan Miss Alyssa? Ashilla Farista : belum sadar juga. Vanya menghela nafas panjang, ia ingin kesana. Vanya Oudrile : Miss disana ya? Dirumah sakit? Vanya pengen ketemu :( Ashilla Farista : iya Miss di rumah sakit. Besok saja. Pulihkan keadaan kamu dulu, ya! Vanya tak ingin menunggu lama, ia mengabaikan pesan tersebut dan membersihkan dirinya agar terlihat layak jika keluar rumah. Tak mempedulikan bagaimana nanti Damar dan Delina akan melarangnya. Setelah sepuluh menit bersih-bersih, Vanya pun keluar dari kamar. Bertepatan ketika kedua orang tua nya menatap dirinya. "Vanya mau kemana Nak?". Delina bertanya lebih dahulu. "Kerumah sakit!". "Jangan kesana! Kamu bisa mati di tangan Rio!". Kata Damar melarang. Vanya mendengus. "Biarin aja! Aku gak peduli!". "Vanya!!". Bentak Damar. Namun, lagi lagi Vanya menulikan pendengaran nya. "Vanya dengerin papa dulu!". "Apalagi Pa? Vanya terus keinget sama Miss Alyssa! Vanya gak bisa mikir tenang sekarang". Kata nya terisak pilu. Damar langsung memeluk anak satu-satunya. Anak yang sudah lama ia kecewakan. Vanya menangis tergugu dipelukan ayah nya "Maafin Vanya karena udah bertindak ceroboh, Pa! Vanya gak teliti dulu dengan berita itu". Lirih nya pelan. Ia mendadak ingin menguliti Rena yang sedang berpesta -mungkin- karena berita bodoh itu. "Maaf Pa". "Sudahlah, semua sudah terjadi. Sekarang kamu masuk ya!". Dirinya menggeleng tegas. "Vanya mau lihat Miss Alyssa, Pa!". Pinta nya memelas. Akhirnya Damar menyetujui permintaan nya. Dengan syarat dia harus diantar ke rumah sakit. *** Dirumah sakit, Rio masih setia ditemani oleh Ananta, Jiani, Shilla dan Sasa. lelaki itu belum makan sejak sore tadi. Dan sekarang sudah hampir larut jam makan malam. Satu bungkus nasi yang dibelikan oleh Ananta saja tidak dilirik nya sama sekali. "Nak, kamu makan ya! Kasian boru kita kalau kamu gak makan". Kata Jiani berusaha membujuk. Rio menghela nafas panjang, d**a nya sesak. Airmatanya mengering karena tak mampu lagi memproduksi air bening itu. "Rio mau makan, tante. Tapi Alyssa saja gak mau bangun dari tadi! Aku  mau makan bareng dia". Kata Rio lirih. Shilla dan Sasa bisa merasakan bagaimana pedihnya arti dari kalimat tersebut. Kehilangan orang yang dicintai bukan lah hal yang baik. Semua nya ikut terkubur dalam kesakitan yang penuh luka. "Vanya mau kesini". Bisik Shilla ke Sasa. Gadis itu mengintip sedikit isi chat mereka. "Gak usah, bilang gitu! Nanti Rio ngamuk, kan bahaya". Balas Sasa tak kalah berbisik. Shilla mengangguk patuh. Tapi chatnya hanya centang dua biru setelah itu. "Kalau lo terus-terusan gini, Miss Alyssa juga bakalan sedih Yo! Yang harus lo lakuin adalah bangkit dari kesedihan ini, biar Miss Alyssa bisa semangat untuk sadar dari koma nya. Lo percaya kan suara orang-orang terdekat bisa menjadi jembatan untuk kembali nya kesadaran orang yang koma?". Rio mengangguk lesu. "Nah itu! Lo harus semangat, lo harus  kuat dan terus ajak Miss Alyssa bicara. Kalau lo gak ada tenaga gimana mau cerita?". Ananta dengan segala Kecerewetan nya namun mampu membuat Rio bergeming. Hal itu membuat Jiani, Shilla dan Sasa tersenyum sumringah. "Makan ya, Nak!". Bujuk Jiani lagi. Akhirnya Rio pun mau. "Miss Shilla dan Miss Sasa". Kedua perempuan itu menoleh. "Kami mau menginap disini saja--". Sahut Shilla. "Jangan, Miss. Maksud saya, besok kalian sekolah. Saya gak mau membenani Miss berdua--". Shilla tersenyum maklum, begitu juga dengan Sasa. "Gak papa, kalau kamu capek ada kita berdua yang bisa gantiin. Soal sekolah, kebetulan besok saya libur". "Saya juga". Sambung Sasa. Rio berterima kasih sekali kepada teman-teman Alyssa ini. Mereka begitu baik. "Terimakasih banyak, Miss". Shilla dan Sasa kompak mengangguk. Rio menghabiskan makan malamnya dalam diam, ia terus memperhatikan Alyssa. Berharap kelopak indah itu terbuka dan menatap dirinya. Hati nya mencelos dan basah secara bersamaan. Rindu dengan pujaan nya. Tapi pintu kamar di ketuk dari luar, membuat penghuni kamar VVIP itu menoleh. "Permisi!". Cicit Vanya seorang diri. Gadis itu menyuruh ayah nya pulang karena tak ingin membuang waktu berdebat. "Vanya--". Kata Shilla tak percaya. "Mau ngapain lo kesini?". Tanya Rio dingin. Gadis itu berusaha tak gentar dengan tatapan mematikan Rio. Demi Tuhan, ia bersalah disini. "Gue,, gue pengen ketemu Miss Alyssa!". "Lo gak liat dia masih tidur gitu?!". Vanya mengigit bibir nya, bentakan Rio sukses merubah nya menjadi kucing yang disediakan lidi. "Pulang lo!". Usir Rio. Ananta bergerak, membawa Vanya keluar, menghindari percekcokan. "Kak, please!". Vanya membujuk Ananta agar melepaskan dirinya. "Lo udah tau Rio sekarang belum stabil emosi nya! Dia bisa bunuh lo kalau dia mau". Kata ananta santai. "Gue tau, gue mau minta maaf sama Miss Alyssa". "Dia belum bangun". "Setidaknya gue minta maaf biar beban gue terangkat, besok,, besok gue mau ke Lombok". Gumam nya. Ananta ingat, adik tingkat nya ini akan mewakili sekolah ke tingkat nasional untuk mengikuti Olimpiade. "Sebentar, abis itu gue antar lo pulang". Mau tak mau Vanya mengangguk patuh. Hanya sebentar. ** "Sorry, biar kan Vanya ngomong ke Miss Alyssa sebentar, Yo!". Pemuda itu melewati Rio sembari menggandeng Vanya ke ranjang Alyssa. Gadis itu menitikkan air mata melihat kondisi Alyssa "Miss, maafin Vanya ya! Vanya emang jahat, mau mau aja disuruh sama Kak Rena. Vanya sebenernya gak mau, Miss". Ia mengusap pipi nya yang basah "Vanya takut kalau papa juga di celakai, Miss. Tapi ternyata ancaman itu cuma bohongan. Dia mau rebut perusahaan papa dan rebut Kak Rio dari Miss Alyssa". Jelasnya. "Harusnya Vanya selidiki dulu berita itu, benar kata papa. Tapi,, tapi,,". Isak nya tersengal-sengal. Praktis Shilla langsung mendekap nya "Miss bangun, ya! Biar Miss bisa lihat Vanya tuntas ujian kimia lagi. Biar Vanya bisa les dirumah Miss lagi". Lanjut nya terisak. "Besok Vanya ke Lombok, Miss. Vanya harap, pas udah balik, Miss bisa lihat medali emas yang Vanya bawa pulang. Vanya janji akan menang! Miss harus lihat ya!". Sebelum pulang gadis itu menyempatkan mencium tangan Alyssa yang terbebas dari infus. "Thanks udah ngijinin, Kak!". Rio tak menanggapi ucapannya. Vanya tau ia akan mendapatkan hal itu. "Goodluck ya, Vanya! Miss yakin kamu menang disana". Shilla dan Sasa memberikan semangat untuk gadis itu. "Makasih Miss". Lalu Vanya pun diantar pulang oleh Ananta. Rio melepaskan sesak rasa yang membelenggu dirinya. Menanti sebuah keajaiban Tuhan, karena ia yakin semua akan baik-baik saja meksipun separuh hati nya menyangsikan hal tersebut. Pintu kamar kembali terbuka, kali ini lebih tergesa dari biasanya. Ananta muncul dengan nafas memburu. "Yo, Rena mati di salah satu kamar hotel!". ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD