Damar memenuhi panggilan penyidik atas kasus kematian Rena. Ia begitu terkejut lantaran mendapatkan laporan dari pihak berwajib. Delina sudah tak berdaya hingga pingsan beberapa kali mendengar hal tersebut. Wajar, orang tua mana yang tidak histeris mendengar kabar kematian anak nya.
Sama hal nya dengan Rio, laki-laki itu bergerak langsung ke kantor polisi untuk memastikan apakah benar atau tidak. Ia juga sudah menghubungi pengacara keluarganya.
"Hasil otopsi menunjukkan bekas tusukan dan beberapa memar di sekujur tubuhnya, terlebih pada bagian intim Rena". Kata Ananta. Pemuda itu juga ikut bersama Rio.
Rio menghela nafas panjang. Setidaknya tangannya tidak kotor untuk menghalau wanita ular itu. Secara tidak langsung ada yang membantu nya meskipun entah siapa.
"Pelaku nya?".
"Gue curiga sih pacar dia atau simpanan lah gitu". Kata Nanta. Rio baru saja tiba di kantor polisi setelah otopsi selesai dan berkas dilimpahkan ke penyidik.
Tampak pak Damar beserta orang-orang nya berjalan keluar dan Rio tak ingin repot-repot menyapanya.
Tapi siapa sangka Pak Darma menyapa dirinya "Mario!". Lelaki itu hanya menatap datar.
"Saya minta maaf atas nama Rena. Atas semua yang terjadi pada keluarga kamu--".
"Sudah berlalu dan Rena belum bersujud dihadapan saya untuk meminta ampun! Tapi dia udah pergi duluan!". Kata Rio dingin. Ananta menghela nafas panjang, Rio tetaplah Rio dengan arogansi tinggi. Ia tak pernah pandang bulu jika ada yang menyakiti keluarganya. Terlebih itu Alyssa.
"Saya harus apa agar kamu mau memaafkan anak saya, Rio?". Tanya Pak Darma pelan. Rencananya ia akan meminta maaf dan meminta keringanan hukuman untuk Rena. Tapi wanita itu sudah tiada.
Rio masih terdiam, dia melanggang pergi tanpa mau menjawab pertanyaan lawan bicaranya.
Darma menatap lirih punggung tegap itu. Ia di rundung gelisah.
"Pak, nyonya sudah sadar!". Kata salah satu orang kepercayaan beliau. Pak Darma mengangguk paham lalu kembali ke rumah dimana ada Delina dan Vanya.
***
Ananta mengikuti jejak Rio yang kembali ke rumah sakit. Ia tau Rio pusing akan masalah yang menimpa nya. Sebagai seorang sahabat, ananta tau kapan harus bertindak. Ia tak ingin mengusik apa yang menjadi urusan Rio, jika bukan lelaki itu yang meminta bantuannya.
"Gue balik dulu gapapa kan? Mama gue sendiri dirumah". Pamit nya. Rio berdehem pertanda silahkan. Ia ingin sendiri sembari menghisap tembakau yang sudah lama tidak menemaninya.
"Jangan banyak-banyak!". Pesan ananta sebelum pergi.
Rio menghidupkan tembakau yang menjadi candu untuknya. setelah sekian lama berhenti dengan nikotin, ia menjalani hidup baik-baik saja.
Tapi dengan segala kepenatan, Rio juga seorang manusia yang butuh pelampiasan hidup. Dan disinilah ia berada. Di atap gedung rumah sakit miliknya. Ya, rumah sakit tempat Alyssa dirawat adalah salah satu rumah sakit milik keluarganya. Sahamnya cukup banyak disini.
Rio mengisi rongga d**a nya dengan udara yang sehat setelah dua batang rokok ia hisap.
"Kenapa begitu sulit untuk membentuk sebuah keluarga, Ma?".
"Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia tanpa rekayasa, Pa?".
"Ketika kalian meninggalkan Rio dulu, juga begitu. Rasanya sesak dan capek! Rio mau ikut kalian, tapi kalian menolak keinginan Rio waktu itu".
Ia menghempaskan atmosfer yang menyulitkan dirinya bernafas dengan baik.
"Tapi sekarang, ketika aku udah bisa berdiri sendiri. Bertumpu pada peninggalan kalian, aku mendapatkan keluarga baru". Rio tersenyum kecil mengingat awal pertemuan nya dengan Alyssa yang tanpa pernah tau akan begini jadinya.
"Ketika Rio udah menemukan keluarga. Tapi kenapa susah sekali menjaganya? Apa dia juga berencana untuk pergi? Menyusul kedua orang tuanya?". Rio mengadah ke langit yang bergemurruh. Pekatnya gulita angkasa menandakan pasukan air langit akan segera menjumpai bumi.
"Tolong biarkan aku bahagia disini. Membalas dan menebus kebahagiaan ku yang dulu gak pernah sampai untuk kalian berdua". Bisiknya pelan.
Lalu, tanpa permisi hujan menemani kesedihan nya malam itu. Merangkulnya dan menyelimuti pundak rapuh itu dengan dinginnya hantaran dari langit. Dan sungguh, Rio menyukai itu.
"Kalian jangan ikut bersedih diatas sana. Aku janji akan menjaga nya. Seperti Papa yang menjaga Mama sampai kalian dikembali ke rumah yang kekal bersama". Kata Rio pasti.
***
Rio memasuki ruang rawat Alyssa. Sasa dan Shilla terkejut begitu pula dengan Jaini. Wanita beranak dua itu langsung menghampiri nya dengan khawatir.
"Kamu kenapa sampai basah kuyup gini, Nak?". Shilla memberikan handuk kepadanya yang di hadiahi tatapan sendu darinya.
Rio tak menjawab, ia melangkah ke kamar mandi untuk berganti baju. Ketiga wanita disana menatap satu sama lain lalu menghela nafas panjang.
Rio keluar dari kamar mandi dan berjalan ke sofa. Ia mengambil tablet dan memeriksa email yang dikirimkan oleh orang kepercayaan nya.
Rio sempat mendelik membaca berita yang baru saja sampai kepadanya.
"Rena meninggal karena seorang lelaki bernama Fano. Sekarang pemuda itu sedang diburu polisi. Kabar terakhir kalau Fano bersama Rena karena Fano tidak terima Alyssa di celakai oleh nya".
Dahi Rio berkerut tiga. Siapa Fano? Apa hubungan Fano dengan Alyssa? Dan kenapa pula Fano kenal dengan Rena? Apa Fano teman satu kampus Alyssa? Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya saat ini.
"Ada apa Rio?". Tanya Jiani hati-hati. Rio menggeleng pelan.
"Bagaimana soal Rena?".
"Dia meninggal karena dibunuh, Tante. Orang yang membunuhnya sedang dalam pengejaran polisi". Jiani mengangguk paham.
Shilla dan Sasa masih dalam posisi menyimak. Tidak ingin ikut campur karena mereka paham posisi masing-masing.
"Lalu bagaimana kedepannya?". Praktis Rio melirik wanitanya yang belum juga sadar.
"Kamu menuntut keluarga wanita itu?".
Jujur, Rio sudah tidak perlu menuntut lagi. Isi otak yang menyebabkan kecelakaan ini sudah memenuhi panggilan mereka untuk bergabung dengan sesama nya. Tangan Rio 'bersih'.
"Aku ingin fokus untuk kesembuhan Alyssa, Tante".
"Aku gak menuntut apapun. Dia sudah mendapatkan balasan setimpal atas kejadian ini. Selebihnya biar pengacara ku yang mengurus". Sambungnya.
Shilla sempat tercekat mendengar pertanyaan Jiani soal menuntut. Ia takut jika Vanya ikut terseret dan mendekam di jeruji besi. Kasian anak itu. Ia hanya korban kebejatan Rena.
Syukurlah Rio tidak menuntut. Dan Shilla sedikit lega.
Jiani tersenyum menanggapi jawaban Rio "Tante tau kamu memilih pilihan yang bijak, Rio! Sama seperti Papa mu, Trian. Dia pasti bangga dengan langkah yang kamu ambil". Puji nya. Rio tersenyum tipis dan beralih duduk di kursi dekat ranjang Alyssa. Menunggu wanitanya sadar adalah hal yang paling dia benci.
"Kami ke keluar sebentar ya, ada yang mau dititip?". Tanya Sasa. Rio menggeleng pertanda tidak sedangkan Jiani menitip minyak kayu putih karena merasa perutnya sedikit kembung.
***
Sasa dan Shilla pergi ke sebuah tempat makan yang masih buka. Untunglah sasa tetap membawa mobil, jadi mereka tidak kehujanan.
"Lo udah kabarin temennya Alyssa, Shill? Dia bukannya mau seminar lusa ya?". Shilla menepuk dahi nya, lupa akan hal itu.
Ia pun mencari kontak Via dan menelepon nya.
"Hallo, Via".
"Iya, Shilla. Ada apa malam-malam nelepon gue? Tumben?".
"Hehe, maaf ya gue nelepon lo jam segini. Tapi ada hal penting yang mau gue sampai kan". Kata nya.
"Soal apa?".
"Alyssa, dia kecelakaan tadi pas pulang sekolah".
"Sumpah lo demi apa?!". Pekik Via di seberang sana.
"Demi Allah, Vi! Dia kecelakaan karena di tabrak orang. Dia mau jemput Rio ke bandara awalnya". Via sudah terisak mendengar kabar dari shilla. Hal itu membuat Shilla tidak enak pada teman sebelah jurusan nya itu.
"Maaf, Vi. Gue baru ngabarin. Karena tadi suasananya juga lagi gak kondusif banget". Kata Shilla pelan.
"It's oke. Gue ngerti kok. Thanks ya udah ngabarin. Besok gue ke rumah sakit, dimana alamat nya?".
"Rumah sakit B. Hmm, oh ya Vi. Boleh gue minta tolong gak?".
"Apa?".
"Gue tau kalau Alyssa mau seminar hari Kamis. Dengan keadaan yang seperti ini, tolong bilangin ke pihak jurusan untuk seminar nya Alyssa di tunda dulu ya. Bisa Vi?". Tanya shilla hati-hati.
"Oh iya, gue lupa dia mau seminar. Oke Shill, besok sebelum kerumah sakit gue ke kampus dulu. Thanks again, beb!".
Shilla pun menutup sambungannya dan mengangguk kepada Sasa.
"Alhamdulillah, semoga Alyssa lekas sadar ya! Kasian juga lihat Rio yang kayak gitu". Kata Sasa.
"Iya. Tapi ya, perjuangan nya itu bikin gue baper sendiri. Kapan ya ada yang mau memperjuangkan gue sedemikian dalam? Gue jadi iri". Sahut Shilla. Sasa menghadiahkan sebuah toyoran untuk temannya itu. Terlalu banyak menonton drama Korea jadi suka halu sendiri. Pikir Sasa.
"Buruan makan! Udah malem!". Balas Sasa sengit. Dan Shilla menuruti perintah tersebut.
***
Siapa sangka ketika Sasa dan Shilla kembali ke rumah sakit, tangan Alyssa bergerak perlahan. Namun, mereka semua tidak ada yang sadar akan hal itu.
***