Rio terbangun dari tidurnya. Ternyata langit sudah berhenti bergemuruh dan berganti menjadi terang benderang. Pagi itu, untuk pertama kali nya Rio menghembuskan nafas lelah. Permaisurinya tak kunjung membuka mata, meskipun perut buncit itu masih senantiasa bergerak naik turun.
Pukul delapan pagi, beberapa dokter memasuki ruang rawat Alyssa. Termasuk dokter Wulan, dokter kandungan istrinya itu.
"Selamat Pagi, Rio!". Sapa dokter Wulan sembari tersenyum ramah.
"Pagi Dokter Wulan". Balas Rio sekenanya.
"Kita periksa Alyssa dulu, ya!". Praktis, Rio beranjak dari sebelah ranjang Alyssa agar para dokter itu leluasa memeriksanya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?".
"Kondisi kandungannya baik, janinnya bertahan dan lebih kuat. Ini suatu keajaiban Tuhan, Rio". Kata Dokter Wulan tersenyum senang.
Dada Rio terasa lega "Tapi Alyssa?".
"Kita hanya bisa menunggu. Jangan putuskan sebuah doa dan teruslah mengajaknya berbicara". Dokter lelaki itu menepuk pelan pundak Rio kemudian mereka pun keluar.
Sasa dan Shilla sudah bersiap untuk pulang ke rumah karena mereka harus membersihkan diri terlebih dahulu.
"Nanti kalau ada perkembangan Lyssa, kabari Miss ya Rio!". Rio mengangguk patuh.
"Kapan kamu sadar, Lyssa? Apa kamu gak rindu dengan ku?".
"Bayi kita baik-baik saja didalam sini. Dia tetap hidup, kamu harus tau itu".
Jiani menatap Rio dengan tatapan prihatin. Dia tak tega melihat pemuda itu begitu terpuruk.
Pintu kamar terbuka dan meraup Ananta kedalam nya.
"Ada informasi apa lagi?". Tanya Nanta.
"Rena mati karena di bunuh oleh lelaki yang bernama Fano". Dahi Ananta berkerut tiga mendengar nama tersebut.
"Lo kenal?". Rio menggeleng pelan.
"Mungkin gak kalau dia orang yang suka sama Miss Alyssa di kampus? Dan dia gak rela kalau Miss di celakai begini". Kata Ananta berspekulasi. Rio tercenung, jika memang benar. Dia harus waspada. Banyak kemungkinan bisa terjadi saat ini.
"Lo tenang aja! Kita hadapi sama-sama". Kata Ananta memberi kekuatan. Rio tersenyum tipis mendengarnya.
***
Ditempat lain, Via sudah tiba di kantor jurusan kimia untuk memberitahu pihak kaprodi. Untunglah pukul sepuluh pagi petinggi jurusan itu sudah terlihat di kursi kebesarannya.
"Selamat pagi Pak Faruk!". Sapa nya ramah. Pak Faruk tersenyum menyambut mahasiswa nya.
"Selamat pagi, ada keperluan apa Vianey?". Tanya beliau.
"Saya mau membatalkan seminar proposal Alyssa Gemintang, Pak". Dahi Pak Faruk jelas sekali menunjukkan rasa tidak percaya.
"Ada apa? Kenapa harus dibatalkan?". Nafas Via tercekat ketika ingin menceritakan kejadian yang menimpa sahabatnya.
"Alyssa kecelakaan, Pak. Kemarin sepulang sekolah, dia ingin menjemput suaminya di bandara". Terangnya. Pak Faruk menghela nafas panjang. Terkejut dan sedih mendengar berita tersebut.
"Lalu gimana dia sekarang?".
"Dirumah sakit, Pak. Masih belum sadar, Alyssa koma". Jawab Via dengan raut wajah lesu. Pak Faruk mengangguk paham.
"Ya sudah, nanti biar saya kabari kedua pembahasnya. Siapa dosennya?".
"Ibu Reni dan Pak Tobi, Pak". Jawab Via.
Setelah urusannya selesai, ia pun keluar dari ruangan tersebut sembari menunggu Asha dan Agni. Jujur saja, ia terpuruk mendengar kabar dari Shilla tadi malam.
Padahal baru beberapa hari yang lalu ia kerumah sahabatnya itu untuk mengantarkan undangan serta baju. Tapi sekarang? Takdir memang tidak ada yang bisa menyibaknya.
"Via". Panggil Asha yang tergesa-gesa bersama Agni. Wajah mereka pias dan cemas.
"Ayo ke rumah sakit!". Kata Agni yang diangguki kedua sahabatnya.
Tak butuh waktu yang lama, mereka bertiga telah sampai di rumah sakit. Via sudah diberitahu oleh Shilla kamar Alyssa. Kamar VVIP di rumah sakit ini.
Via membuka pintu dengan hati-hati, sosok Rio mengalihkan pandangan ke arah dirinya.
Senyum simpul dia torehkan sebagai sapaan awal "Maaf, Rio. Kami mau jenguk Alyssa". Kata Via.
"Masuk Kak!". Sejak bertemu sebulan lalu dengan Via, Rio memanggilnya dengan panggilan Kakak.
"Gimana keadannya?". Tanya Asha sembari mendekat ke ranjang Alyssa.
"Masih belum ada tanda-tanda mau bangun". Jawab Rio pelan. Lalu kembali mengalihkan netranya ke layar laptop. Rio harus tetap bekerja dan memantau perusahaannya meskipun tidak ke kantor.
Asha dan Agni kompak melirik satu sama lain. Bos besar itu begitu sibuk.
"Shilla ke sini?". Rio berdehem pertanda iya.
"Tadi malam dia nginap, tapi tadi pagi pulang".
Mereka duduk di sofa besar khusus tamu, masih menatap lurus ke arah wanita cantik dengan perut buncit itu. Terlelap damai dalam hening yang ia ciptakan.
Tiba-tiba jemari Alyssa bergerak, adalah Agni orang pertama yang menyadari hal tersebut.
Mereka berempat menjadi gaduh dan segera memanggil dokter lewat tombol yang ada di dinding.
Dokter lelaki bernama Yarsi itu memeriksa Alyssa yang perlahan membuka kelopak matanya. Suara desahan penuh kelegaan dari mereka memenuhi ruangan. Asha dan Agni kompak berucap hamdalah.
Hal pertama yang dilihat Alyssa ketika matanya terbuka adalah Rio. Satu-satunya lelaki yang berhasil menariknya melalui suara rintihan disetiap malamnya. Ya, Alyssa mendengar semua tanpa bisa berucap sedikit pun.
"Hallo, Alyssa! Apa yang kamu rasakan sekarang?". Tanya Dokter Yarsi.
Mata indah itu beralih kepada lelaki berjas putih di sampingnya.
"Badan saya sakit semua, dokter". Lirihnya. Dokter Yarsi mengangguk paham.
"Wajar, kamu harus menjalani masa pemulihan dulu ya! Oh iya, jangan terlalu memaksakan semuanya. Baik itu gerakan atau pikiran. Pelan-pelan saja". Kata beliau kepada Rio.
"Bayi ku--".
"Dia baik disini. Dia kuat". Alyssa berkaca-kaca mendengarnya.
Setelah mengucapkan terimakasih, Dokter Yarsi pun berpamitan keluar.
Rio tak bisa membendung rasa lega yang melingkupinya. Permaisurinya kembali dan bersamanya lagi.
"Alyssa--". Bisik Rio lirih. Wanita itu tersenyum lembut meskipun pucat dibibirnya masih kuat.
"Terimakasih sudah bertahan".
"Terimakasih sudah menunggu ku, memanggil ku kembali". Balas Alyssa.
Asha, Agni dan Via tersenyum haru. Airmata mereka merekah melihat adegan manis keduanya. Mereka tak ingin ikut campur, hanya membiarkan kedua sejoli itu menikmati waktu seharusnya.
"Aku disini sayang, aku disini".
Lalu rengkuhan mesra itulah yang menjadi pengganti ucapan tak berdaya diantara mereka. Menenggelamkan semua duka yang dua hari ini menjadi penghuni semesta diantaranya.
***