Alyssa dan Rio sepakat untuk weekend ini berjalan-jalan santai di pusat perbelanjaan. Kesibukan kedua nya di sekolah membuat mereka kurang piknik dan harus segera di realisasikan.
Kini keduanya sudah berada di bagian distro. Rio ingin membeli baju baru.
"Kamu mau beli apa, Lyssa?". Tanya Rio saat mereka sedang memilih baju.
"Mau beli perlengkapan baju aja. Pasti gak lama lagi baju ku gak muat". Rio mengangguk paham. Benar juga, perut alyssa akan semakin membesar.
Puas memilih baju Rio, selanjutnya mereka mampir ke toko pakaian khusus wanita. Alyssa mengambil beberapa potong baju dan perlengkapan lainnya. Setelah itu mereka pun makan siang bersama.
"Hari minggu ternyata gak terlalu ramai ya!". Kata Rio.
"Begitulah. Karena wabah itu, semua orang jadi panik dan gak mau kemana-mana".
"Lah kita malah keluar". Sambung Rio. Alyssa tertawa pelan.
"Kan judulnya suntuk dan butuh refresing. Kamu juga harus rehat, jangan belajar terus". Kata Alyssa. Meskipun dia seorang guru, dia juga tau dan merasakan bagaimana bosannya jika terus belajar. Ingat, dia sudah kembali dari sana.
"Kamu benar. Terimakasih sudah mengingat kan". Alyssa tersenyum simpul.
Canda tawa bergulir satu sama lain, hingga sebuah suara menginterupsi mereka. Khususnya Alyssa.
"Alys!". Wanita itu menoleh dan mendapati sosok yang sudah lama tak ia jumpai.
"Via". Desisnya pelan. Rio melihat raut wajah Alyssa yang berubah muram.
Gadis itu menghampiri mereka dan memeluk Alyssa dengan erat "Al, maafin gue!".
"Lo gak bisa di hubungin semenjak kejadian itu. Gue jadi makin merasa bersalah. Maafin gue, Al!". Via menangis di pundak Alyssa. Wanita itu gak membalas pelukan via hanya diam tak menentu.
Rio menyentuh punggung tangan Alyssa agar istrinya itu bisa tersadar.
"Lepas, Vi!". Kata nya kemudian. Via pun menuruti.
"Al--".
"Lo ngapain nyari gue?". Via termangu. Alyssa mengalihkan pandangannya dari Via.
"Gue mau minta maaf atas kesalahan gue waktu itu. Gak seharusnya gue ninggalin lo sendirian, Al". Kata Via. Dia menatap Alyssa yang tak mau sedikit pun menatapnya. Hal itu membuat via dirundung sedih.
"Duduk dulu". Kata Rio menawarkan. Via mengangguk kecil lalu duduk disebelah Alyssa.
"Al, please--". Lirih nya. Via sudah putus asa mencari Alyssa kesana kemari. Terakhir dia mendapat kabar sahabat nya itu dari Shilla yang juga satu tempat PLK dengan Alyssa. Darisana lah ia tau bagaimana keadaan Alyssa.
"Izinkan gue untuk meminta maaf, Al. Gak seharusnya--".
"Iya Vi! Gak seharusnya lo dan yang lain ninggalin gue, ninggalin gue yang udah mabuk dan berakhir di ranjang seorang Laki-laki!".
"Gak seharusnya gue ada disini juga sekarang. Gak seharusnya gue mengandung dan gak seharusnya masa depan gue rusak!". Kata Alyssa tajam. Tanpa disadari nya, rio terluka dengan perkataan nya itu.
Via sudah menangis tergugu. Ia meratapi kesalahannya yang sudah hampir dua bulan lebih ini. Alyssa benar-benar marah tak mau memaafkan dirinya.
Alyssa menarik nafas nya perlahan. Hatinya juga sakit, tapi semua sudah berlalu. Apa yang harus disesalkan lagi. Pikirnya.
"Gue marah, Vi. Dan lo tau itu, tapi semua udah lewat. Gue gak bisa mengembalikan apa yang udah hilang, begitu juga dengan lo dan yang lain". Via menatap nya dengan berurai air mata.
"Lo bisa tenang, gue maafin lo kok!". Kata Alyssa akhirnya. Ia menarik Via ke dalam pelukannya. Ia juga rindu dengan Via, rindu sekali. Sahabat nya yang sejak tahun pertama kuliah selalu ada untuknya. Begitu juga dengan Agni dan Asha.
"Al, makasih-- makasih banyak". Via membalas pelukan Alyssa dengan erat. Menumpahkan rasa rindu dan leganya secara bersamaan.
Rio yang sedari tadi melihat adegan keduanya hanya diam. Dia tak ingin ikut campur, meskipun perkataan Alyssa tadi menggores ego nya.
"Gak seharusnya gue mengandung dan gak seharusnya masa depan gue rusak!"
"Dia tersiksa. Dan lo mendapatkan itu!". Bathin Rio menghujam. Ia menghela nafas pendek. Lalu menggeleng cepat.
"Alyssa hanya emosi". Lanjutnya lagi.
Ketika Via dan Alyssa mengurai pelukan mereka, Via menatap Rio yang setia disamping sahabat nya itu.
Seolah tau apa maksud Via, Alyssa menatap Rio "Dia Rio. Suami gue". Mata Via terbelalak tak percaya. Ternyata Alyssa sudah menikah.
"Gue Mario Josse. Suami Alyssa". Via menyambut jabat tangan Rio dengan gugup.
"Dia--".
"Ya. Dia yang ada di ranjang bersama gue pagi itu". Sekali lagi Via merasa bersalah. Tapi disatu sisi ia merasa lega karena Rio mau bertanggungjawab.
"Thanks karena tetap di samping Alyssa". Kata Via pelan namun terdengar tulus.
"Sama-sama". Balas Rio seadanya.
Alyssa tersenyum kecil. Semua sudah beres. Perihal urusannya dengan Via sudah tidak ada lagi. Ia bisa bernafas lega.
"Gimana kabar lo, Al? Gue dengar dari Shilla lo satu tempat PL dengan dia". Alyssa mengangguk
"Iya. Puji Tuhan keadaan gue baik".
"Anak lo--".
"Sama. Dia sehat juga. Lo sendiri? Masih dengan Alvin?". Tiba-tiba wajah via merona.
"Bulan depan gue menikah dengan Alvin, Al. Gue harap lo bisa datang ke acara bahagia gue". Harap nya. Alyssa mengangguk seraya tersenyum manis. Pasti dia akan datang.
"Undangannya gue antar nanti ya. Gue minta kontak lo".
Siang menjelang sore itu mereka habiskan bersama untuk bercerita. Dan dari sana Via tau kalau Rio masih bersekolah.
Terkejut, tentu saja.
***
Bulan selanjutnya, kehamilan empat bulan yang dijalani Alyssa. Perutnya sudah terlihat menonjol sedikit. Tapi masih bisa tertutupi. Kesibukan nya di sekolah bisa mengalihkan rasa mual yang ia alami selama ini.
Karena ada jam matrikulasi untuk anak-anak Olimpiade, Alyssa diminta untuk mengajar mereka. Khususnya kimia kelas 10.
Perihal Rio yang menghadapi ujian nasional pun sudah selesai. Kini siswa kelas 12 menanti hasil nya saja. Atau mungkin ada yang persiapan mengikuti SBMPTN. Tapi tidak dengan Rio.
"Miss Alyssa". Ia menoleh.
"Kenapa Vanya?".
"Kami boleh les dirumah Miss, gak?". Alyssa sedikit kaget lantaran permintaan tersebut mendadak.
"Kenapa mau les dengan Miss? Bukannya kalian udah les di tempat bimbel ya?". Vanya siswa kelas 10 yang merupakan anak olimpiade geografi yang lolos tingkat kota, akan berlaga dia bulan lagi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
"Vanya ga les, Miss. Tera yang les di bimbel. Kami kan udah lama gak masuk kelas, Miss. Ngikutin belajar dikelas juga rasanya lambat banget ngerti nya". Jelas anak itu. Alyssa memikirkan kemungkinan terjadi jika Vanya les dirumah mereka. Dia akan bertemu Rio dan bertanya siapakah Rio hingga ada di rumah nya.
"Hm, siapa aja Vanya?". Tampakah binar bahagia Vanya ketika Alyssa bertanya demikian.
"Maksimal berlima ya. Kalau udah pasti, nanti kabari Miss secepatnya". Vanya mengangguk antusias. Gadis remaja itu berterima kasih kepadanya.
Sebenarnya Alyssa tak ingin memenuhi permintaan tersebut, tapi karena ia kasihan melihat anak itu jadilah Alyssa mengalah dan mencoba berbicara nanti dengan Rio. Semoga saja Rio menerima keputusan nya.
Matrikulasi itu berjalan dengan lancar hingga pukul lima sore. Anak-anak Olimpiade yang belajar kimia bersama Alyssa sudah keluar. Tinggallah Alyssa dan Shilla yang juga mengajarkan matrikulasi fisika ke anak kelas 11.
"Al, gue mau tanya deh". Alyssa mengangguk mempersilahkan nya.
"Lo sama Zaki diem-diem gitu udah lama. Kenapa sih?". Alyssa juga tak tau, mungkin pemuda itu menjauhi dirinya lantaran kenyataan yang sudah ia Ketahui.
"Enggak tau, Shill. Kenapa gak lo tanya langsung ke zaki nya?". Ashilla mengedikkan bahu nya. Lalu membereskan alat tulis dan buku.
"Malas. Lo tau kan gue gak deket kayak lo dan dia. Jadi kalau mau nanya itu, rasanya segan dan canggung lah". Alyssa terkekeh melihat nya.
"Kenapa deh? Oh,, atau jangan-jangan lo suka dengan Zaki ya?". Ashilla mendelik kesal. Tapi jantungnya maraton tak jelas.
"Apasih! Ya enggak lah. Lo ngasih kesimpulan nya gak mutu. Kayaknya nilai laporan praktikum lo jelek semua". Sungutnya. Bukan nya marah, Alyssa justru tergelak mendengar hujatan tersebut.
"Mana tau. Dan satu lagi, itu hipotesis gue ya. Bukan kesimpulan". Balasnya tak mau kalah. Ashilla mendesis tak guna.
Satu pesan masuk ke ponsel Alyssa.
Rio Josse : aku di parkiran.
Memang sebelum jam makan siang Alyssa mengabarkan kepada Rio jika ia akan pulang sore. Dan Rio tanpa diminta pun akan menjemput sang istri. Romantis sekali kan?
"Kalau gitu gue pulang dulu ya, Shill. Udah dijemput soalnya". Ashilla tak banyak bertanya, ia hanya mengangguk patuh dan melihat Alyssa yang memasuki mobil.
"Gue masih penasaran. Karena lo terlalu banyak menyimpan sesuatu, Lyss". Kata shilla sembari menatap mobil Rio yang keluar dari pekarangan sekolah.
... ***...
#SalamAnakRantau