08 : Kenyataan

679 Words
happy reading :) ***************** Zaki menjalankan mobil nya menuju rumah Alyssa. Sekali mengantarkan wanita itu pulang, ia sudah langsung hapal dimana jalan kerumah nya. Berkali-kali Zaki menghela nafas gusar lantaran apa yang ia lihat sangat mengusik hati dan pikirannya. "Alyssa hamil? Benarkah?". "Tapi kenapa dia gak pernah kasih tau?". Zaki tiba di rumah mewah itu dengan perasaan campur aduk, ia ingin turun tapi melihat ada sosok lelaki yang baru saja memasuki rumah itu ia sedikit menunda. "Apa itu suami nya?". Tanpa pikir panjang, Zaki turun dari mobil lalu mengetuk pintu rumah tersebut. *** Alysaa dan Rio menikmati waktu istirahat siang menjelang sore mereka. Setelah makan siang dirumah sepulang dari cek kandungan tadi,Rio memenuhi permintaan Alyssa yang ingin memakan gado-gado. "Enak nih! Kamu mau coba?". Rio menggeleng ketika sangat istri menawarkan makanan itu. Melihat Alyssa lahap dengan ngidam nya, membuat Rio bersyukur. Penuh syukur dengan semua yang ia dapatkan kini. Suara ketukan dari pintu depan menginterupsi keadaan mereka. "Aku buka dulu ya! Kamu tunggu disini". Alyssa mengangguk Patuh dan melanjutkan makannya. Dengan santai Rio membuka pintu dan melihat siapa tamu nya di sore ini. Betapa terkejut nya Rio ketika Zaki berdiri dengan sopan didepan rumahnya. "Pak,,, Zaki?". Katanya ragu-ragu. Laki-laki dihadapan nya itu mengangguk kaku "kamu--". "Saya Rio, ada perlu apa ya Pak?". Tanya Rio tanpa berbasa basi. "Saya mencari Alyssa. Ini rumah nya kan?". Rio menyadari betul sikap Zaki kini, dia benar-benar menyukai Alyssa. Dan Rio tak suka itu. "Kenapa? Benar ini rumah Alyssa kan?". Zaki masih saja ngotot bertanya. "Siapa sayang?". Suara lembut yang Zaki ketahui mengusik indera nya. Semua teka teki lolos begitu saja. Zaki mulai mengepalkan tangannya. Sedikit tak menerima mungkin. Lain halnya dengan Alyssa, wanita itu terpaku melihat sosok Zaki yang bertamu. Dia menghembuskan nafas panjang lalu menatap Rio. "Seperti nya harus--". Gumam nya. Rio hanya mengedikkan bahu tak acuh lalu mempersilahkan Zaki masuk. "Ayo masuk, Zaki". Ajak Alyssa kembali. Rio menggandeng tangan Alyssa menuju ruang tamu, diikuti Zaki yang mematri jelas adegan dihadapan kini. "Silahkan duduk! Aku ke dapur bentar ya!". "Gak usah repot-repot, Lyss. Aku hanya sebentar". Dia melirik dua sejoli itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu ada perlu apa sebenarnya?". Tanya Alyssa. "Aku tadi lihat kamu keluar dari dokter kandungan--". "Penguntit". Desis Rio tajam. Alyssa menatapnya tajam. Kode supaya diam dulu. Zaki mencoba acuh dengan ucapan Rio "awalnya aku lihat kamu disana karena gak Sengaja. Kakak ku baru selesai melahirkan, makanya aku berkunjung. Tapi ketika kamu keluar dari ruangan dokter obigin, aku kaget dan aku penasaran--". "Jadi kamu kesini untuk menuntaskan rasa penasaran kamu, begitu?". Zaki terdiam. Alyssa mengulas senyum kecil "aku memang dari dokter obigin. Aku memeriksa kandungan ku". Zaki tercekat mendengar penurutan wanita itu " Itu semua benar, Zaki. Aku sudah menikah--". "---dengan". "Dengan saya". Sahut Rio. Alyssa menipiskan bibirnya untuk melihat ekspresi Zaki. Tepat sasaran, lelaki itu terpaku dengan kenyataan yang sudah dilemparkan kepadanya. "Apa itu benar, Lyssa?". Alyssa mengangguk santai. Mereka tak ingin menutupi. Rio menggenggam tangan Alyssa, menguatkan nya untuk bercerita "Kami menikah satu dua minggu yang lalu. Aku, MBA". Aku nya tegas. "Urusan kamu untuk menghujat, urusan kamu untuk tidak percaya. Tapi aku mohon setelah ini, tolong jangan membuat ku dan Rio tidak nyaman, Zaki. Aku tau kamu orang baik, dan ku harap akan tetap begitu". Jelas Alyssa tenang. "Dan satu lagi, saya harap bapak gak terlalu mengumbar apa yang sebenarnya terjadi. Guru-guru hanya tau kalau Alyssa sudah menikah sejak November lalu dan mereka gak ada yang tau dia menikah dengan siapa". Jujur saja, sejak awal Zaki merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Rio. Pemuda yang lebih muda dibanding dirinya ini memiliki aura yang sangat dingin. Zaki membasahi tenggorokannya sepintas "Baiklah. Aku gak akan mengumbar apapun. Itu privasi kalian. Aku mengerti". Pupus sudah harapannya untuk mendampingi wanita itu dalam hidupnya. "Kamu sudah kalah telak, Zaki". Bathin nya bersabda. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Maaf menganggu waktu kalian". Alyssa tersenyum kecil. "Senang jika Pak Zaki tau yang sebenarnya". Ujar Rio. Zaki memaksa kan senyum nya lalu meninggalkan rumah mewah tersebut. Ketika cinta mu tak bersambut, jangan sampai bodoh menguasai diri. Bunga tak mekar hanya satu, maka berlindung lah dengan teduh mu sendiri. Percayalah, kamu akan mendapatkan harum nya. *** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD