07 : Cemburu

1727 Words
Setelah mendapatkan izin dari sekolah, Alyssa bergegas pulang ke rumah. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di rumah. "Ananta!". Laki-laki itu menoleh dan tersenyum ramah. "Ehh Bu Alyssa. Kok udah pulang aja Bu?". "Saya khawatir dengan Rio. Gimana dia sekarang?". "Tadi udah bangun, udah minum obat juga. Tapi tidur lagi". Alyssa mengangguk paham lalu beranjak ke kamar. "Diam-diam tapi perhatian. Waw banget dah!". Pikir Ananta. ** Alyssa membuka pintu kamar dengan hati-hati, Rio masih terlelap dengan damai. Meskipun panas nya sudah turun tapi tetap saja wajah Rio masih pucat. "Gue lega lo udah baik kan". Rio menggeliat dalam tidurnya karena sentuhan di kening oleh Alyssa. Matanya terbuka dan mendapati sang istri di hadapan nya "kamu--". Dia ingin duduk tapi di tahan oleh Alyssa. "Kamu tidur saja. Kamu belum pulih--". "Kamu kenapa pulang cepat?". Tanya Rio dengan suara serak. "Aku izin. Sekarang udah siang dan kamu harus makan siang sebentar lagi". Kata Alyssa. Rio merasa tersentuh karena perlakuan Alyssa yang sangat perhatian padanya. Tiba-tiba rasa bersalah muncul di hatinya. "Maafkan aku karena bersikap bodoh". Alyssa tersenyum samar. "Aku gak tau apa masalah kamu selama seminggu setelah kita menikah, aku gak maksa untuk kamu bercerita,  aku--". "Aku mencintai kamu, Lyssa". Pandangan keduanya saling bertemu satu sama lain. Menggugah sesuatu di dalam hati Alyssa ketika Rio berucap demikian. d**a nya berdegup kencang. Meskipun sedang lemah Rio tetap berusaha menjelaskan "aku minta maaf karena seperti menghilang dan jauh dari kamu pasca kita menikah. Tapi itu karena aku sendiri merasa kamu--". "Kamu hanya menerima tanpa hati. Dan itu membuat ku sedikit sakit". Tambah Rio sedikit lirih di ujung ucapnya. "Hanya karena kamu bersikap tidak menerima, aku jadi lari ditambah lagi kamu pulang dengan orang lain yang notabene nya membuat aku cemburu". Alyssa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak menyangka jika pulang bersama dengan Zaki membuat suatu efek untuk Rio. "Jangan seperti ini lagi". Bisik Alyssa pelan. Ia juga merasa bersalah karena Rio menjadi mabuk. Rio langsung memeluk alyssa dengan erat tak peduli jika nanti dia akan mendapat penolakan. Surprise untuk Rio, ternyata Alyssa tak menolak sama sekali. Malahan wanita itu membalas pelukannya. Menyandarkan kepalanya di bahu rapuh miliknya. "Maafkan aku juga". Kata Alyssa. Setelah memikirkan dengan matang, ia mencoba untuk membuka diri untuk Rio. Entah itu dalam bentuk perlakuan ataupun cinta yang mapan. Alyssa melepas terlebih dahulu pelukan mereka, senyum tulus terbit begitu saja "aku juga minta maaf karena terlalu dingin. Aku menolak setiap apa yang kamu lakukan, karena aku mungkin belum bisa menerima sepenuhnya seperti apa yang kamu bilang. Itu benar. Tapi seharusnya aku bersyukur karena kamu mau bertanggungjawab atas ku, atas hidup ku kini--". "Tapi aku malah bersikap sebaliknya". Alyssa tersenyum kecut. Rio menguatkan genggamannya pada Alyssa, dia mencium tangan wanita itu dengan lembut " Aku memaafkan kamu. Kamu gak salah, aku yang salah. Kita mulai semuanya dari awal ya?". Alyssa mengangguk setuju. Lagi, mereka pun berpelukan. Menyalurkan rasa kasih sayang dan berharap ketersemogaan harmonis nya rumah tangga mereka bisa tercapai. *** Sepanjang setelah mereka berbaikan, Rio dan Alyssa semakin rukun saja. Tidak lagi menyembunyikan hubungan mereka, namun begitu mereka juga tidak mempublikasikan terang-terangan. Rio dengan kesibukannya mempersiapkan ujian nasional dan segala macam. Sedangkan Alyssa juga sibuk dengan tugas mengajarnya. "Nanti pulang sekolah jadi kontrol ke rumah sakit?". Alyssa mengangguk santai. Hari ini jadwal nya kontrol. Mengingat usia kandungannya sudah masuk dua bulan. Tepatnya ini kontrol kedua. "Aku tunggu di parkiran ya". "Iya. By the way, ujian nasional kamu akhir bulan ini. Setelah itu kamu mau ikut tes?". "Tes apa?". Pagi ini mereka sarapan bersama. seperti biasa, Alyssa tetap mempersiapkan sarapan untuk nya dan Rio. "Kamu gak niat untuk kuliah?". Meskipun Alyssa tau jika Rio sudah bisa bekerja di perusahaan keluarganya, tapi ia juga ingin tau apakah Rio akan kuliah atau tidak. "Sepertinya enggak. Kantor membutuh kan aku  Lyssa. Jadi, mungkin setelah ujian aku kembali ke kantor". Alyssa hanya diam, ia percaya Rio bisa bekerja dengan baik. Toh, Rio pernah bercerita jika sejak kecil ia didik oleh kedua orang tua nya untuk mempelajari dunia bisnis. "Nanti pulang sekolah kita pergi bersama". Alyssa hanya mengangguk patuh. Meskipun Rio lebih muda daripada dirinya, tapi Alyssa tetap menuruti perintah laki-laki itu. Bagaimana pun juga Rio adalah suaminya sekarang. Ah suami, terdengar romantis bukan? *** Jam istirahat telah usai, Alyssa tak ada mengajar di jam ke lima hingga terakhir, hanya piket  begitu lah kegiatannya. Tiba-tiba zaki datang bersama ashilla. "Hai Alyssa!". Sapanya. Shilla duduk di samping Alyssa sembari membuka salad buah yang ia beli tadi. "Hai! Kalian gak ngajar ya?". Tanya Alyssa sedikit berbasa-basi. Ia tak begitu tau jadwal mereka. "Kosong. Tapi nanti jam terakhir masuk". Kata zaki. "Lys, tadi malem Via nanyain elo tuh!". Tubuh Alyssa sedikit kaku mendengar nama sahabat nya itu. Terhitung semenjak PLK mereka tak pernah berkomunikasi lagi, Alyssa sengaja menukar nomor ponselnya karena tak ingin diganggu oleh mereka. "Apa katanya?". Tanya Alyssa. Ada setitik rindu untuk Via. "Dia nanyain elo, sehat gak. Terus PLK lo gimana. Udah itu aja, ending nya minta sampaikan salam. Dia pengen ketemu". Alyssa mengangguk paham. "Lo ganti nomor ya?". "Iya--". "Kenapa?". "Something happened waktu itu. Udah lama sih". "Gak coba diselesaikan baik-baik?". Imbuh Zaki. Alyssa menoleh padanya. "Belum, lebih tepatnya aku yang menghindar". Percakapan mereka terhenti ketika Ananta datang bersama Rio. "Ibu, minta surat izin keluar dong!". Kata Ananta santai. Alyssa mendelik melihat tingkah sahabat suaminya itu. "Mau kemana?". Tanya zaki. "Kami mau jemput kamera dirumah saya untuk foto buku tahunan. Kalau jemputnya pas jam terakhir kelamaan, Pak". Kata nya. Rio hanya diam melihat negosiasi yang dilakukan Ananta, ia lebih fokus kepada Alyssa yang sedari tadi acuh kepadanya. Sangat profesional sekali. Pikirnya. "Nih! Jangan lama dan harus kembali ya!". Pesan Alyssa. Mereka berdua mengangguk patuh. "Mereka kelas 12 kan ya?". "Iya! Aku ngajar di kelas mereka". Kata Alyssa. "Eh lanjut yang tadi dong, Lys. Gimana?". "Apanya?". "Lo sama temen-temen lo itu?". Praktis ia menghela nafas panjang. "Gak ada, gue juga belum bisa ketemuan karena sibuk. Mungkin next time. Kalau Via nanya lagi, bilang aja salam balik". Mau tak mau ashilla mengiyakan permintaan tersebut. "Lys, nanti pulang bareng yuk!". Ajak Zaki tiba-tiba. Shilla sudah melemparkan tatapan jail untuk mereka berdua. Sedangkan Alyssa menggeleng pelan. "Gak bisa, aku udah ada janji". Kata nya. "Sama siapa?". "Duhh posesif bener deh bang!". Gumam ashilla. Alyssa sudah memperingatkan gadis itu untuk berhenti menjahili dirinya. Tapi namanya juga Shilla, ia terus menjalankan aksinya. "Sama orang lah. Sorry gak bisa, Zaki. Kamu pulang dengan Shilla aja". Gantian Shilla yang melotot tak suka. "Kenapa aku di oper gini sih?". Keluh zaki  yang membuat kedua perempuan itu tertawa. "I didn't mean. Tapi ya memang aku gak bisa. Karena sudah ada janji". Zaki akhirnya mengalah karena ajakan nya ditolak. Ia masih terus berusaha agar dapat pergi bersama dengan Alyssa. Sungguh, perempuan itu sudah membuatnya penasaran. Ditambah lagi, sebuah cincin emas putih melingkar di jari manis nya. Banyak tanda tanya yang berkecamuk di pikiran Zaki. *** Pulang sekolah, Rio menunggu Alyssa di mobil. Ia sudah menyelesaikan foto untuk buku tahunan. Sekarang ia akan ke rumah sakit, mengecek keadaan calon anak mereka. "Maaf nunggu lama". Kata Alyssa saat masuk ke mobil. "Gapapa. Kita berangkat sekarang?". "Boleh!". Keheningan tercipta di antara mereka. Hanya suara lirih dari radio yang diperkecil volume nya. Sampai akhirnya, Rio membuka percakapan. "Pak Zaki itu guru apa?". "Sejarah. Kenapa?". "Aku lihat dia suka sama kamu". Alyssa malah terkekeh mendengar asumsi Rio. Tapi benarkah? "Ngaco kamu! Mana mungkin lah". Kolah nya. "Aku serius, Lyssa. Aku laki-laki dan dia pun begitu. Aku tau kapan seorang laki-laki jatuh cinta, apalagi tatapan nya begitu dalam ke kamu". Jelas Rio. Alyssa menipiskan bibirnya, tak tau harus bereaksi apa. "Kamu belum bilang kalau kamu sudah menikah?". "Sudah, tapi gak ke guru-guru PL, mereka belum ada yang tau". "Kamu masih menyembunyikan ya?". Alyssa menggeleng. "Enggak Rio. Aku hanya menjawab ketika mereka bertanya. Buat apa memberitahu kalau mereka gak meminta". Sebuah pembelaan untuk menutup perdebatan. "Kalau pun Zaki memang suka sama aku, ya udah hak dia kan sebagai manusia. Aku bisa apa? Menahan hak seseorang gitu? Enggak lah--". "Tapi kamu gak suka sama dia kan?". Lagi, Alyssa tertawa. Rio sedang cemburu. "Zaki menarik, siapa sih gak suka sama dia--". Cengkraman Rio menguat pada kemudi stir mobil nya. Terlihat sekali kalau Rio memang cemburu. Dan Alyssa menyukai itu. "Suka". Tiba-tiba Rio berhenti mendadak, membuat Alyssa terkejut karena kepalanya juga terbentur dasbor mobil. "Ahh shitt!!". Umpat Rio. Dia memeriksa keadaan Alyssa kalau-kalau ada yang luka. "Maaf! Kamu gak papa? Aku emosi jujur aja". Alyssa tersenyum dan meraih tangan Rio menuju perut ratanya. "Perut kamu kenapa? Sakit? Kasih tau aku, Lyss". "Aku emang suka sama Zaki, karena dia baik. Tapi bukan berarti suka yang aku punya jatuhnya sampai ke hati. Enggak. Gimana aku bisa berlaku demikian kalau aku udah terikat bersama kamu". Kata Alyssa sukses membuat Rio bernafas lega. Sungguh, ia tak rela jika wanita yang ia cintai diambil oleh orang lain. "Jangan terlalu cepat mengasumsikan sesuatu yang belum pasti, karena kamu gak akan tau akhirnya seperti apa. Tetaplah berpositif thinking". Rio tersenyum seraya mengangguk lalu menghadiahkan sebuah kecupan di bibir Alyssa. *** "Ada gejala mual Bu? Pusing nya masih ada?". Tanya dokter Wulan. Alyssa menggeleng pelan  "kalau pusing sih enggak ada, dok. Tapi kalau mual biasanya sore hari gitu. Gak enak banget rasanya". Keluh Alyssa. Tampak dokter wulan menuliskan sebuah resep dan catatan kecil di selembar kertas. Kemudian memberikannya kepada Alyssa. "Ini ada vitamin tambahan nya. Kalau mual itu udah biasa, soal waktu mual disore hari tergantung setiap orang hamil, Bu. Wajar kok". Jelas dokter wulan disertai senyum teduhnya. "Foto USG nya bisa diambil ya! Bulan depan jangan lupa datang bawa buku pemeriksaan nya ya, Bu". Alyssa mengangguk patuh lalu permisi bersama Rio. Saat diluar mereka sama-sama memperhatikan gumpalan foto hasil USG calon anak mereka. Ada rasa haru dan bahagia secara bersamaanbersamaan. Bagaimana tidak, sekarang mereka tidak akan kesepian lagi. Mereka akan kedatangan  anggota keluarga baru. "Anak mama". Kata Alyssa bangga. "Anak papa juga". Sahut Rio. Dia tersenyum dan merangkul Alyssa dengan erat. Menghujani nya dengan kecupan ringan di kepala wanita itu. "Pulang yuk! Aku lapar". Kata Alyssa. Dengan senang hati Rio menuruti permintaannya. ** Saat di koridor rumah sakit, Zaki melihat dua orang yang ia kenali. Ia ingin menjenguk kakak sepupunya yang baru saja melahirkan tadi malam. Tapi hari ini ia dikejutkan dengan Alyssa, salah satu orang yang ia lihat keluar dari ruang pemeriksaan kandungan. Zaki hapal betul ruangan tersebut lantaran ia sering mengantarkan sang kakak cek kandungan. "Alyssa ke ruangan dokter obigin? Ngapain?". "Tapi dia sama anak kelas 12 itu!". Semuanya berkecamuk di kepala Zaki. Ia harus menemui Alyssa setelah ini. *** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD