Pukul lima sore Rio tiba dirumah. Ia sangat letih, terutama pada bagian otaknya. Sebelas jam disuruh berpikir dan belajar. Ia sangat butuh tidur sekarang.
Saat memasuki rumah, tak ada tanda-tanda alyssa didalam. Rio mencari keberadaan nya di dapur tapi tak ada. Lalu ia mencari ke kamar.
Ketika membuka pintu kamar, ia melihat kamar mandi yang terbuka lebar dan disana ada alyssa terduduk di closet. Cepat-cepat ia menghampiri.
"Lyssa, kamu kenapa?". Wajah wanita itu pucat. Ia melihat bekas muntahan yang belum disiram.
"Ayo aku bantu, kamu harus istirahat!". Alyssa hanya bisa pasrah ketika Rio menggendongnya dan membawanya ke ranjang mereka.
"Sejak kapan kamu muntah?". Rio yakin sejak tadi karena Alyssa belum mengganti seragam nya.
"Belum lama--".
"Jangan bohong!". Bentaknya. Alyssa menutup matanya lantaran Rio terlalu berisik. Sedikit kaget tapi dia tidak mau menunjukkan nya. Takut di bilang lemah oleh Rio.
Hei! Padahal dia sudah lebih dari lemah sekarang.
Perlahan Rio melembut disertai sentuhan di pipinya "Jujur, Lyssa. Sejak kapan kamun muntah?". Tanya Rio baik-baik.
Mau tak mau Alyssa pun mengakuinya "sejak pulang sekolah. Maaf tidak mengabari mu".
"Kenapa? Aku berhak tau kan!".
"Kamu lagi belajar. Gak baik untuk diganggu". Hati Rio terhenyuh mendengar pembelaan tersebut. Praktis, ia memeluk Alyssa dengan erat.
"Kalau kamu muntah atau ingin sesuatu, kabari aku secepatnya. Akan aku usahakan untuk memenuhi nya. Apalagi kamu muntah begini, pantas saja pikiran ku tadi sudah tidak enak". Kata Rio panjang lebar.
Alyssa mengurai pelukan mereka. Tak ada senyum disana sedikit pun "Mandilah, biar aku siapkan makan malam untuk kamu". Tak ingin terlibat sentuhan sedekat itu lagi, Alyssa memilih untuk keluar menuju dapur.
"Kamu masih lemas! Jangan dipaksakan--".
Sayang ucapan Rio hanya angin lalu bagi Alyssa.
***
"Kamu pulang dengan siapa tadi?". Tanya Rio. Mereka makan malam berdua seperti biasa.
"Teman PL, Zaki". Baiklah, Alyssa masih jujur dengan jawaban nya.
"Namanya Zaki". Bathin Rio bersuara.
"Kalian dekat?". Alyssa meletakkan sendoknya segera. Ia malas ditanya ini itu oleh Rio. Entahlah, rasanya tak suka saja.
"Alyssa, aku bertanya". Diam, tak ada sahutan sama sekali.
"Lyssa--".
"Cukup! Jangan usik aku lagi! Jangan terlalu berlebihan dengan pernikahan ini Rio! Batasi kepedulian mu kepada ku! Jangan usik privasi ku, berhenti sampai disini!". Kata Alyssa. Baru kali ini dia berbicara dengan Rio dengan kalimat pedas. Dia melampiaskan apa yang ia rasakan selama seminggu ini.
Antara sedih dan lepas.
Rio hanya diam dan tak melawan. Dia mencoba memahami sikap Alyssa yang terbawa emosi juga hormon ibu hamil yang suka meledak-ledak.
"Aku mengerti". Sahut Rio dalam. Mungkin memang itu yang harus dia lakukan. Beranjak sejenak untuk Alyssa agar bisa menyelami hati nyanya sendiri.
***
Alyssa tak keluar kamar sejak insiden tadi. Ia masih mendekam di kamar tanpa mau repot-repot melihat bagaimana Rio di ruang makan.
"Maafin gue!". Lirih Alyssa. Sebenarnya ada rasa bersalah didalam hatinya ketika ia membentak Rio. Tak ada niatan nya untuk begitu, tapi rasanya sikap Rio terlalu berlebihan kepadanya.
Benarkah?
"Lo yang berlebihan!". Suara kontra di sebelah nya berbisik tajam.
"Lo tega bentak dia. Padahal dia gak salah apa-apa". Kembali suara itu menggema di dalam kepalanya.
"Benar, Alyssa. Rio gak tau apa-apa tapi kamu marahin. Kasian dia". Anehnya lagi suara pro harusnya ikut dengan dia. Tapi ini malah setuju dengan suara kontra atau iblis disebelah kirinya.
"Nanti kalau dia pergi, kamu akan menyesal. Ingat itu".
"Ahhhh! Peduli setan! Gak bakalan gue nyesel".
Kemudian Alyssa mengambil buku untuk mempersiapkan materi belajar besok.
***
Di tempat lain, Rio menyendiri di sudut bar yang masih buka saat hampir subuh menyambang. Ia sudah menghabiskan lima botol Vodka yang membuatnya kolaps.
Ananta masih setia menemani sahabatnya itu, ia juga lelah dan ingin mengistirahatkan diri.
"Lo pulang gak? Gue mau pulang nih!". Mata Rio mengerjap berat. Kepalanya pusing dan perutnya bergolak hebat.
"Temenin gue disini, Nan. Nanti aja pulang nya!". Ananta mendengus sebal.
"Kalau emang lo cemburu bilang aja terus terang ke dia! Jangan kabur dan malah nyakitin diri sendiri kayak gini". Kata Ananta.
"Lo gak akan tau gimana rasanya jadi gue! Menikah gak membuat gue benar-benar memilikinya. Dia hanya sekedar menerima bukan seutuhnya. Lo--". Rio berbicara saat mabuk, dan ananta tau kalau itu adalah ucapan jujur.
"Lo harus dirumah. Istri lo pasti nungguin".
Tanpa menunggu jawaban dari Rio, Ananta membawa nya pulang.
***
Alyssa tak bisa tidur hingga subuh. Dia memikirkan Rio yang tak kunjung pulang. Ia juga tak mempunyai kontak Rio. Hah, miris sekali. Sudah menikah dan tinggal seatap selama seminggu tapi tak menyimpan nomor Rio.
Helaan nafas pendek terus dilakukan oleh Alyssa. Ia tak suka seperti ini. Tidurnya tak senyenyak biasanya. Ia khawatir.
Ketukan beruntun terdengar dari pintu depan. Alyssa terkejut, tentu saja. Langsung saja ia membuka pintu dan ternyata ada Ananta yang membawa Rio dalam keadaan kacau.
"Selamat subuh Bu Alyssa!". Sapa nya polos. Pandangan Alyssa langsung jatuh pada Rio yang sudah tak berdaya.
"Boleh masuk gak Miss?". Alyssa mengangguk dan membuka lebar pintu.
"Saya tarok Rio dimana, Miss?".
"Dikamar saja".
"Kamar yang mana?". Alis Alyssa terangkat sebelah.
"Maksud kamu?".
"Kamar kalian pisah bukan? Kayak di w*****d gitu, kan kalian nikahnya terpaksa". Sahut Ananta tanpa rasa bersalah.
Alyssa tersenyum samar "kamar Rio kamar saya juga! Kami tidur satu kamar". Ananta langsung pucat karena mendapat jawaban demikian. Ia malu.
Lalu dengan sisa tenaganya, Ananta membawa Rio ke kamar.
"Kamu bisa istirahat di kamar lainnya. Saya yakin kamu sering menginap disini". Ananta kembali tersenyum malu kemudian ia bergegas ke kamar tamu.
Alyssa menghela nafas panjang melihat keadaan Rio. Pemuda itu benar-benar kacau. d**a nya sedikit sesak.
"Apa karena gue lo begini?". Alyssa mulai membuka baju Rio, membersihkan nya dengan hati-hati. Terlihat Rio tak terusik sedikitpun.
"Kalau iya, gue minta maaf". Lirih Alyssa.
Suhu tubuh Rio meningkat, Alyssa bisa merasakan panasnya tubuh Rio di kulit nya.
Setelah menukar baju Rio, ia pun mengambil air kompresan untuk mengompres pemuda itu.
***
Pagi nya Alyssa tak bisa izin karena Ibu Fahma masih belum pulang dari agenda nya. Terpaksa Alyssa harus masuk dan mungkin ia bisa meminta izin sebentar untuk memberi obat kepada Rio.
"Ananta". Sarapan pagi kini hanya ada dirinya dan ananta saja.
"Saya harus ke sekolah. Tolong titip Rio ya! Nanti saya balik lagi kalau sempat". Ananta mengangguk patuh.
"Oke Miss. Mau di anter?".
"Gak usah. Taksi online saya sudah dijalan--".
"Kalau kamu mau cemilan, di kulkas ada. Dan-- nanti kalau Rio sudah bangun, tolong berikan sarapan dan obat nya ya. Maaf merepotkan".
"Santai Miss! Btw, gak mau di panggil kakak gitu? Tua banget rasanya kalau saya manggil Miss". Alyssa tertawa singkat.
"Saya suka dipanggil Miss atau Ibu oleh siswa. Entahlah, mungkin bawaan bayi". Ananta mendengus tak kentara dan Alyssa tak mengambil pusing.
Sebelum berangkat sekolah, Alyssa menyempatkan melihat Rio terlebih dahulu. Suaminya itu belum bangun. Ya iyalah, kolaps gitu entah kapan bangun nya. Hm.
"Aku ke sekolah dulu". Bisiknya pelan di telinga Rio, berharap dia akan bangun meskipun nanti.
***
Sepanjang mengajar dari jam pertama hingga ke empat, Alyssa tidak begitu fokus. Ia masih teringat kepada Rio. Apakah dia sudah makan atau belum. Lagi-lagi, dirinya nya tak bisa melakukan komunikasi lantaran tak menyimpan nomor Rio ataupun Ananta.
"Miss--". Salah seorang siswa menyapanya saat istirahat. Alyssa yang baru keluar kelas menghentikan langkahnya.
"Iya Mayang. Ada apa?".
"Mayang mau tanya materi yang kurang paham tadi, Miss". Cicitnya pelan. Sebenarnya Alyssa geregetan sendiri melihat siswa seperti ini. Saat ditanya di kelas mereka bilang mengerti, saat sudah di luar, mereka malah bertanya karena tidak mengerti.
Meski demikian, Alyssa harus sabar. "Kalau besok Miss bantu menjelaskan gimana? Ibu mau pulang sebentar. Suami Miss sedang sakit".
Mayang tampak terkejut karena fakta yang baru ia dapatkan. Bisa jadi bahan cerita dikelas tentunya.
"Ooh-- iya gapapa Miss. Maaf ya Miss, hehehe". Katanya Canggung. Alyssa menepuk pelan pundak Mayang lalu pergi ke kantor.
"Gila! Udah taken aja. Bisa gak waras cowok-cowok satu kelas nih!". Gumamnya senang.
***
#SalamAnakRantau